Drh. Lucia Monia Simanjuntak Adukan Suami Pelaku KDRT

1
628

JuntakNews – Surakarta

Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dialami oleh Drh. Lucia Monia Simanjuntak (29) yang dilakukan oleh suami dan mertuanya sendiri sudah berulang-ulang hingga Lucia meminta perlindungan hukum ke Unit PPA Polres Surakarta sesuai Laporan Polisi No. B/LP/170/II/2012/Jateng/Resta SKA, tertanggal 19 Pebruari 2012 dan Surat Nomor :  SP2HP/19/II/2012/Reskrim.

Baik Lucia maupun ayah kandungnya Mayor. Inf. M. Simanjuntak kepada JuntakNews (16/3) mengungkapkan kronologi kasus KDRT dan menyesalkan penanganan Polres Surakarta yang tidak kunjung menahan pelaku KDRT Kris Hariyanto, ST, MT (36), suami korban dan ibu mertuanya  sendiri.

“Anak saya sekarang dalam kondisi ketakutan dan trauma di Jawa sana, sebab sudah berulangkali menjadi korban kekerasan dari suaminya yang dibantu oleh mertuanya tanpa ada yang melindunginya”, keluh Mayor Jhon Simanjuntak yang saat ini bertugas di Minvetcad Pematang Siantar.

Ungkapan kekercewaan ini bukan tanpa alasan sebab walau sudah dilaporkan ke Polres Surakarta, tetapi pelaku yang juga menentu Jhon belum juga ditahan sehingga Lucia merasa terus menerus di bawah ancaman. “Saya selalu merasa ketakutan sebab suami saya yang sudah saya lapor ke Polres juga masih bebas berkeliaran. Saya takut apabila dia kalut bisa mengancam keselamatan jiwa saya. Dia itu tempramental”, kisah Lucia, ibu dari Geraldo Armayudha ini.

Selain melaporkan ke Polres Surakarta, Lucia juga mengaku telah melaporkannya ke Pengurus Simanjuntak di Surakarta agar melindunginya dari ancaman kekerasan yang mungkin dilakukan suaminya terhadapnya dan terhadap anaknya semata wayang. Kepada polisi dan pengurus Simanjuntak Surakarta, Lucia membeberkan KDRT yang dialaminya.

“Kejadian terakhir hingga memaksa saya melaporkan ke polisi terjadi pada Minggu/19 Februari 2012. Di rumah mertua Jl. Merpati  I No. 38, RT 006/RW 009, Cinderejo Kidul, Gilingan, Surakarta.  Saat itu, sekitar pukul 17.00 WIB, saya mengajak suami  mendiskusikan tentang kepindahan sekolah anak kami  Geraldo Armayudha (6)  dari Surakarta ke Semarang tempat dimana saya bekerja sebagai Sales Executive sebuah Perusahaan Obat Hewan. Di tengah pembicaraan, terjadi pertengkaran, suami saya merasa keberatan. Dengan emosi yang tidak terkendali, suami saya melemparkan bantal ke saya. Merasa belum cukup, suami saya kembali melemparkan mainan mobil-mobilan (terbuat dari plastik) dan mengenai siku sebelah kiri dan berdarah, saya menangis dan berupaya menghindar”, kisah Lucia.

Mertua Lucia yang mengetahui kejadian ini selanjutnya  mengajak Lucia untuk berbicara di ruang tamu dan Lucia pun menceritakan tentang pertengkaran tersebut ke ayah mertua. Namun dari hasil pembicaraan, justru tidak ada nasehat atau solusi yang ditawarkan, malah ibu mertua menyalahkan dan menyudutkan korban.

“Melihat gelagat yang tidak baik dari mertua, saya akhirnya berpikir dan memutuskan untuk mengambil secara diam-diam akte lahir dan KK yang diperlukan untuk proses pendaftaran SD anak kami Geraldo yang tersimpan di dalam lemari di kamar. Ibu mertua menghalangi dan mendorong-dorong saya hingga terjatuh. Dalam kondisi seperti itu, saya dibentak dan dimaki-maki suami dengan nada suara yang tinggi dan keras. Saat itu saya dengan tenaga yang tersisa, saya berusaha keluar rumah untuk minta pertolongan, namun ibu mertua menarik-narik tangan saya dan mengunci pintu rumah dari dalam”, kata Lucia.

Disaksikan anaknya sendiri, Lucia tidak berdaya untuk menjelaskan apa yang terjadi, dan anaknya sendiri tidak bisa memberi pertolongan kepada ibu kandungnya yang diperlakukan secara kasar dan tidak manusiawi oleh ayahnya dan neneknya sendiri.

“Saya tak sempat lagi pamit sama anak saya, dengan uraian air mata dan jeritan minta tolong, akhirnya saya berhasil lolos dari rumah dan mendapat pertolongan dari tetangga Bapak Sriyono yang menyuruh korban untuk pergi melapor ke Kantor Polisi. Sesampai di Polresta Surakarta, saya menceritakan kasus KDRT yang baru saja saya alami. Oleh petuga, saya disarankan ke RSU. Brayat Minulya, Surakarta untuk visum. Dokter jaga di bagian IGD dr. Dewi Utami, memvisum saya dan memberikan beberapa jenis obat, kemudian saya kembali ke ke Polresta Surakarta. Di sana, saya menceritakan kronologis kejadian KDRT  di hadapan polisi. Setelah pembuatan laporan awal, kemudian korban menunggu beberapa saat untuk kemudian dilanjutkan dengan pembuatan BAP di bagian PPA”, jelas Lucia.

Ketika saya  mengkonfirmasi Polresta Surakarta, AKP. Sri Wahyuni mengatakan bahwa pihaknya sedang melakukan pemberkasan dan sudah memeriksa saksi, yaitu ibu mertua korban. “Kami sedang melakukan pemberkasan dan sudah memeriksa ibu mertua korban yang disebut-sebut juga ikut dalam perkara ini. Untuk menjaga P-19 dari Kejaksaan, maka kami memeriksa ibu mertua korban, walaupun menurut UU KDRT, kesaksian saksi korban cukup ditambah 1 (satu) alat bukti yang sah. Kami tidak melakukan penahanan kepada pelaku sebab korban hanya mengalami luka ringan, sehingga yang dikenakan adalah pasal 44 UU KDRT”, jelasnya.

Pasal 44 ayat 4 UU KDRT Nomor 23 Tahun 2004 menyebutkan “Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencarian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,- (lima juta) rupiah. 

1 COMMENT

  1. semoga bisa diselesaikan dengan bijaksana dan baik bagi semua!

LEAVE A REPLY