CORNEL SIMANJUNTAK : SENIMAN DAN PRAJURIT

1
721

WACANA MEMBANGUN MONUMENNYA DI PEMATANG SIANTAR

JuntakNews – Medan

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat dan mau belajar dari sejarahnya. Ungkapan bijak ini pula yang menginspirasi keluarga dekat Cornel Simanjuntak itu untuk memulai suatu upaya mulia mengenang Sang Komponis dan Prajurit kelahiran Pematang Siantar tahun 1921 ini lewat wacana mendirikan tugu peringatannya di Pematang Siantar.
Mangara Simanjuntak, salah seorang saudara kandung Cornel, menggagasi pertemuan keluarga besar Cornel untuk membicarakan dan merencanakan langkah-langkah mengenang 66 tahun gugurnya Sang Pejuang yang gugur pada tanggal 15 September 1946 di usianya yang ke-25 tahun di Sanatorium Pakem, Yogya, dalam status perjaka. Ia dimakamkan di Pemakaman Kerkop Yogyakarta.

Gayung bersambut, seluruh anggota keluarga yang ikut dalam pertemuan keluarga sepakat untuk memulai langkah-langkah yang diperlukan hingga Tugu Peringatan Cornel dapat berdiri di Kota Kelahirannya Pematang Siantar. Untuk merealisasikan maksud tersebut, Mangara Simanjuntak, mewakili keluarga meminta dukungan berbagai pihak yang mendapat sambutan dari seorang seniman Batak Augusto Simanjuntak.

Kepada JuntakNews (1/3), Agusto Simanjuntak yang lebih dikenal sebagai personil Trio S’Tak Brothers ini membenarkan bahwa dirinya diminta oleh keluarga Cornel untuk menggagasi pendirian Tugu Peringatan Cornel di Pematang Siantar. “Perwakilan keluarga Cornel telah menyerahkan mandat kepada saya untuk merencanakan dan melaksanakan langkah-langkah untuk pendirian Tugu Peringatan Cornel di tanah kelahirannya Pematang Siantara”, jelas Agusto.

Secara lengkap Agusto bagai memutar ulang pejalanan hidup Cornel menuturkan bahwa Cornel sebagai seniman berhasil mencipta lebih dari 50 lagu-lagu perjuangan. Salah satu lagu yang sangat terkenal diantaranya lagu “Maju Tak Gentar”. Lewat lagu-lagu ciptaanya, Cornel berhasil membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajah yang kala itu hanya dapat diciptakan oleh seniman yang berjiwa pejuang sekelas Cornel.

“Cornel dilahirkan di Pematang Siantar tahun 1921 dari keluarga pensiunan Polri. Beliau tematan HIS St. Fransiscus Medan tahun 1937 dan HIK Xaverius College Muntilan Tahun 1942. Sebagai orang terpelajar Cornel mengawali karirnya sebagai Guru di Magelang dan beberapa bulan kemudian pindah ke Jakarta. Jiwa seninya yang tinggi dan berani akhirnya beralih profesi ke Kantor Kebudayaan Jepang Keimin Bunka Shidosho dan di tempat pekerjaan baru inilah Cornel mengekspresikan hati juangnya dengan menciptakan lagu Propaganda Jepang, seperti Menanam Kapas, Bikin Kapal, Menabung dan Hancurkanlah Musuh Kita”, papar Agusto.

Tidak saja mencipta lagu perjuangan, Cornel secara langsung turut terjun melakukan perlawanan bersenjatan terhadap tentara Gurkha pasukan Inggris. Dalam sebuah pertempuran di daerah Senen – Tangsi Penggorengan Jakarta pulalah, paha Cornel tersarang peluru. Menghindari pembersihan yang dilakukan oleh tentara Gurkha, Cornel yang awalnya dirawat di di RSUP, terpaksa harus diselundupkan ke Karawang dan akhirnya dikirim ke Jogjakarta. Masa perawatannya di di kotaJogja inilah kemudian diciptakannya lagu-lagu yang heroik dan patriotik, seperti Tanah Tumpah Darah, Maju Tak Gentar, Pada Pahlawan, Teguh Kukuh Berlapis Baja, Indonesia Tetap Merdeka, dan lain-lainnya.

Lewat perjuangan para seniman yang tergabung dalam ‘Sasana Vocalia Yogya’ pimpinan Suyudono Hr, KSAD Jenderal Widodo memberikan persetujuannya memindahkan jasad Cornel ke Taman Makam Pahlawan Semaki Yogjakarta pada 10 Nopember 1978, dengan tulisan “Gugur sebagai seniman dan prajurit tanah air di nisannya, sebagai bukti bahwa Cornel adalah seorang pelaku sejarah di Indonesia.

“Jika seniman di Jogja dengan penuh dedikasi memperjuangkan pemindahan makam Cornel ke Makam Pahlawan, maka waktunya sekarang bagi kita untuk bersama-sama memberikan dukungan mendirikan monumen Cornel di tanah kelahirannya di Pematang Siantar. Sebagai langkah awal, saya sudah membicarakan wacana ini kepada tokoh-tokoh Batak di Jakarta dan sudah membentuk panitia. Dalam beberapa minggu ke depan, saya akan ke Medan dan Siantar untuk memperluas sosialisasi dan jika mendapat respon akan membentuk panitia lokal di Medan dan Siantar”, kata Augusto yang juga dipercaya sebagai ketua panitia ini.

Cornel Simanjuntak, sang seniman dan prajurit telah mengukir sejarah. Dan, Soekarna berpesan “JAS MERAH”. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Dan, kita sebagai Bangso Batak Na Bolon, tentu setuju mengabadikan nama Cornel Simanjuntak yang monumental itu.

1 COMMENT

  1. Semoga dari Wacana menjadi terwujudkan!
    dan menjadi moment dalam mempererat kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, Bangso Batak khususnya Simanjuntak.Mauliate ma amang Poltak…. Salam.

LEAVE A REPLY