SAYA MENGGUGAT PENGURUS PSSSI/B KOTA MEDAN

6
532

Setelah pertemuan yang menamakan diri “Mubes PSSSI/B se Indonesia” yang diselenggarakan oleh beberapa anggota bermarga Simanjuntak a.l. : Ir Bona Simanjuntak (Ketum PSSSI&B Jakarta dsk), Ir Hiskia Simanjuntak, Gito Simanjuntak, Raymond Simanjuntak (Anggota PSSSI/B Kota Medan) dll, yang berakhir  tanggal 3 September yang lalu. Dan setelah melihat sejak selesainya “mubes” tersebut reaksi pengurus PSSSI/B kota Medan, sampai hari ini tanggal 14 September 2011, tidak terdengar ada, maka saya menggugat pengurus itu agar membuat reaksi.

Karena pernyataan sikap yang pernah dibuat secara tertulis oleh Pengurus PSSSI/B Kota Medan, adalah reaksi menolak “mubes” itu dan meminta ditunda. Reaksi itupun tidak dipublikasikan agar seluruh anggota PSSSI/B di semua sektor-sektor Kota Medan mengetahui, karena iklan yang pernah dijanjikan akan dibuat dan ditegaskan pada hari Sabtu, 27 Augustus 2011, akan disiarkan di surat kabar a.l. :  Harian SIB, 29 Augustus Hari Senin, ternyata tidak ada.

Saya langsung menanya kepada Ketua PSSSI&B Kota Medan, Ir.  Alidin Simanjuntak, “mana kontra iklannya?” di SIB seperti yang dijanjikan, ternyata sang ketua hanya menjawab “saya sudah bercakap-cakap/manghatai dohot pengurus dan semua tidak setuju buat iklan di Koran”. Saya menjadi sangat jengkel. Karena tanggal 27 Augustus 2011, dikatakan akan terbit di SIB, Hari Senin, 29 ternyata bohong.

Katanya “manghatai dohot pengurus”, ternyata juga tidak benar. Karena “manghatai” dengan pengurus berbeda sekali dengan “rapat” dengan pengurus. Kapan mereka rapat memutuskan tidak jadi membuat iklan? Sungguh mengecewakan. Ternyata sekarang PSSSI/B se Jakarta Raya dan sekitarnya telah menindak Ir Bona sebagai Ketua Umum di kota itu dengan mosi tidak Percaya sebagai Ketua Umum. Bagaimana dengan Medan? Apakah pengurus kota Medan tidak akan menindak anggotanya yang ikut dalam “Mubes” itu yang tidak punya “mandat PSSSI/B Kota Medan” sebagai utusan? Kan, mereka anggota sektor-sektor PSSSI&B Kota Medan? Kok didiamkan saja?

Kalau tidak ditindak berarti Ketum PSSSI/B Kota Medan tidak berwibawa, karena anggotanya tidak minta izin dan restu untuk mengikuti mubes itu kepadanya. Yang paling menyedihkan, sudah 10 hari “Mubes” itu ditutup oleh Bona cs, tetapi reaksi penolakan hasil Mubes tidak ada dari Pengurus kota Medan. Sementara PSSSI Jakarta dsk sudah memosi tidak percayakan Ketua Umumnya Ir. Bona Simanjuntak.  Lalu Medan sebagai “bolahan amak” diam-diam saja tanpa reaksi keras. Padahal  hampir 90% “panitia mubes” itu adalah anggota PSSSI/B kota Medan. Dimana kewibawaan Pengurus? Apakah akan terus diam sementara anggota sudah banyak yang resah dan gelisah akibat ulah segelintir saudara semarga itu?

Saya sebagai anggota penasihat (kalau masih diakui) menggugat pengurus kenapa diam dan tak bereaksi? Ataukah sang Ketua Umum Ir. Alidin Simanjuntak, akan mengatakan “Nunga manghata-hatai ahu dohot dongan pengurus, dang adong na setuju bahenon reaksi?” Atau “Setuju do hami pengurus tu  hasil ni mubes i!”.

Kalau pengurus diam terus maka kedua dugaan tersebut di atas akan muncul dan berkembang. Jangan-jangan kita anggota-anggota PSSSI/B Medan akan melakukan aksi meniru seperti memosi tidak percayakan Ir. Bona sebagai Ketum Jkt dsk. Saya anjurkan tolong bereaksi keraslah. Buatlah gerakan mengundang semua Pengurus Sektor, semua Korwil, semua Penasehat untuk rapat membuat perlawanan kepada “Hasil Mubes” itu. Dan, publikasikan di Media Pers supaya seluruh anggota PSSSI/B mengetahui. Buatlah juga pemberitahuan kepada Gubernur Sumut dan seluruh instansi bahwa pengurus yang dihasilkan mubes itu tidak diakui dan tidak syah dan supaya tidak dilayani sebagai organisasi.

Karena marga Simanjuntak tidak mengenal struktur kepengurusan yang hierarkhisnya persis seperti Partai Politik atau setidaknya seperti Ormas. Organisasi marga Simanjuntak adalah organisasi kekeluargaan berdasar hubungan darah bukan ideologi politik. Saya harap pengurus terutama Ketum, memperhatikan seruan ini, kalau masih berkeinginan diakui kepengurusannya. Terimakasih.

Saya yang menggugat,

 Prof. DR. Bugaran Antonius Simanjuntak, MA (Mardaup No. 14)

6 COMMENTS

  1. Nunga lamu maol huroha konsistensi, komitmen dohot integritas nuaeng on tutu.

  2. Menjadi seorang Ketua haruslah memiliki kriteria-kriteria. Sebegitu banyak kriteria, minimal seorang “Ketua” haruslah Figur yang punya wibawa, jujur, berkharisma dan layak untuk diteladani….
    Jika seorang ketua tidak dapat melakukan fungsinya berarti ada sesuatu yang salah didalam kriteria-kriteria tersebut.
    Seorang ketua didalam AD/ART biasanya tidak berfungsi apabila ; Sakit atau Berhalangan tetap.
    Jadi kita sudah bisa membuat pertanyaan dan sudah bisa menjawabnya sendiri….. Horas.

  3. Yah seperti itulah, ketika ruang keluarga sudah memasuki lingkup organisasi maka politik yang digunankan mulai terprosedur, dan mengerucut dalam orientasi kekuasaan… Sudah terkotak dengan abang kita Parsuratan makin terkotak lagi dalam lingkungan Sitolu Sada Ina….ckckck… Heran saya, sudah sejarah banyak difiktifkan, makin fiktif lagi kepentingan keluarga Simanjuntak.

  4. jago nai hita simanjuntak on ate….alani jagota dongan tubuta pe tagugat….goarna pe songon tappulon aek ate….anggo sian ahu do….BALITTANG MA PAGABE TUMUNDALHON SIDOLOAN, ARITA MA GABE MOLO HITA MARSIPAOLOOLOAN….

  5. kenapa bapa prof menggugat, pasti ada dasarnya. kenapa mubes psssi/b dilaksanakan, pasti ada dasarnya (maunya). kalau ingin tuntas, mari kita buka-bukaan asa unang talak songon indahan di balanga. kalau sudah talak, anda bisa menentukan mau dimakan atau ditumpahkan manang na dilehon gabe indahan ni pinahan lobu, monggo.
    yang pasti, pinompar ni boru hotang tetap marsada jala sioloi poda ni inong na (SIBOSIHON).

LEAVE A REPLY