SIMANJUNTAK NOT FOR SALE!

1
411

oleh : Prof. DR. Bugaran Antonius Simanjuntak, MA (Mardaup No. 14) 

Guru Besar Sosiologi dan Antropologi di Universitas Negeri Medan.

JuntakNews (Medan),

FILOSOFI MARGA BATAK :

Membangun persaudaraan marga Batak. Ini penting dilakukan oleh orang yang mengaku Batak. Membangun persaudaraan marga Batak arti memakai marga sebagai jalur membangun persaudaraan ke dalam marga dan juga ke luar marga. Melalui marga orang Batak bisa membangun bangsa Indonesia.

Orang Batak membangun Indonesia bermodalkan marga. Tentunya harus diketahui apa filososfi dasar marga Batak. Artinya marga itu muncul dari nenek moyang yang namanya dijadikan marga. Nama nenek moyang itu menjadi cikal bakal marga Batak. Dan nama nenek moyang itu mengandung nilai cultural dan genealogical yang sungguh dalam. Makna terdalam dari nama itu ialah persatuan dan kesatuan.

AMSAL MARGA SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA :

Penyandangan nama nenek moyang adalah penyandangan kesatuan dan persatuan keturunan. Dan persatuan itu adalah essensi marga yang terdalam. Sama seperti Pancasila yang juga mengandung nilai persatuan Indonesia, maka persatuan atas nama nenek moyang yang disandang marga adalah persatuan keturunan.

Artinya membangun damai dan persaudaraan. Oleh karena itu setiap penyimpangan dari nilai essensi marga dianggap pemecah belahan dan mengandung destructive effect yang dalam. Di kalangan marga Simanjuntak ada filosofi social kultural berbunyi :

Sisadlulu, si sada lungun, si sada las ni roha
Si sada anak, sisada boru

Artinya harafiahnya :

Satu kesedihan, satu kegembiraan
Sepemilikan anak sepemilikan boru

Arti bebasnya ialah semua penyandang marga Simanjuntak keturunan Raja Simanjuntak bersama istrinya Sobosihon boru Sihotang adalah seperasaan dalam kesedihan maupun kegembiraan. Bila salah satu anggota bersedih hati maka yang lain akan bersedih hati juga. Memiliki anak juga demikian. Anak saudara semarga kita, juga kita anggap anak kita juga demikian juga boru saudara kita perlakukan boru kita juga. Sebenarnya nilai kulturalnya ialah seperasaan, sepenanggungan, sepemilikan.

Kalau di bahasa Batak menjadi: si sada panghilalaan, si sada boban, sisada ugasan. Inilah inti dasar filsafat hidup yang diwariskan oleh ibu moyang Simanjuntak Sobosihon boru Sihotang. Seluruh keturunannya mengakui dan menjalankan filosfi itu di dalam kehidupannya. Bila ada salah satu warga marga Simanjuntak menyimpang dari itu, maka kewajiban marga Simanjuntak yang lain untuk memperingatkannya, secara prinsip bersaudara, yang tertuang dalam filosofi pardongan tubuan, manat mardongan tubu.

Ada kemelut dalam marga ini yang disebabkan adanya keinginan sekelompok orang untuk menyelengarakan ‘’mubes’’, musyawarah besar marga Simanjuntak tgl 2-3 September 2011. Tadinya diputuskan untuk diselenggarakan di Jakarta. Tetapi oleh sekelompok orang dipindahkan ke Medan tanpa prosedur demokratis. Akhirnya Jakarta menolak penyelenggaraan itu, demikian juga Medan dll.

Cara tak etis dan demokratis ini bukanlah cara yang diajarkan agama, adat dan tona boru Sihotang. Cara licik dan pemaksaan diri demikian ini tentunya dilakukan dengan sadar oleh karena adanya kepentingan pribadi dan kelompok kecil yang bernilai bisnis dan politis.

Tetapi kekerasan hati untuk tetap menyelenggarakan keinginan pribadi pribadi tertentu itu, akan membuahkan hasil perpecahan sosial. Juga pelanggaran filosofi hidup yang ditonahon ompu boru Hotang yang essensinya, sisada panghilalan, si sada boban dan si sada ugasan. Terutama si sada lungun, si sada las ni roha.

Karena sebahagian besar warga Simanjuntak, menjadi sangat sedih dan tidak bergembira, mendengar dan melihat pemaksaan kehendak untuk melakukan mubes yang mengandung kelicikan bisnis dan politis itu .

Saya tuangkan dalam sajak pendek ini :

Hati mengandung segumpal karakter
Mungkin bawaan keturunan darah
Karena kerukunan bersaudara payah dibangun di dalam rumahnya
Konon membangun kerukunan se marga
Tentu sulit karena bukan karakter bawaannya.

Hati mengandung segumpal keinginan
Mungkin suara dari hati
Atau ajaran teman-teman seprofesi
Atau pengajaran yang didapat dari pengalaman tokoh lain
Yang sukses meraih kekayaan

Dengan gampang,
Mereka ini ingin meniru dengan memakai nama keturunan Sobosihon
Tanpa ijin roh nenek moyang
Anak-anak menolak dan tetap menolak

Ompung!

Selamatkan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan boru
Dari prahara yang dibuat segelintir keturunanmu
Yang memperalat kumpulan darahmu ini
Untuk keuntungan pribadi
Ompung Sobosihon mau dibisniskan
Ompung mau dijual ke Negara demi uang dan kami tidak mau! Tidak mau!

______________________________________________________________

[1] Hubungkan dengan bagian 10 di atas, menyangkut kepemimpinan. Pelaku mubes itu memaksakan kehendak, dengan dalih undangan sudah beredar, hotel tempat penyelengaraan sudah dipesan, dana sudah ke luar. Namun salah satu sub-marga Simanjuntak (Hutabulu) di Jakarta tetap mengatakan itu risiko panitia. Tetapi mubes harus dimundurkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Kepemimpinan apakah namanya konseptor mubes itu sesuai dengan item 10? Diktatorkah? Otoriterkah? Licikkah? Atau kepemimpinan hitam alias black leadership? Seperti banyak bergentayangan merampok bantuan asing dengan restu sang presiden di jaman Orde Baru?

[1] Sengaja saya tuliskan naskah kemelut ini untuk kenangan historis keturunan seperti kata hati pahompuku Rudyard Simanjuntak, yang juga menuliskan kata hatinya dalam rangka menolak mubes dan hendak mensomasi kata-kata tuduhan tak bijak yang dilakukan (yang mengaku-ngaku) ketua DPW organisasi Simanjuntak (yang juga tidak kuakui), Ir Hiskia Simajuntak merangkap panitia Mubes kepada anakanda Poltak Simanjuntak. Bila damai tak mampu dibangun, maka bui menjadi rumah sang pengaku ketua, karena proses  hukum akan dilanjutkan Poltak cs.

1 COMMENT

  1. Horas ma di hita sudena pinomparni Raja Marsundung Simanjuntak / Sobosihon boru Sihotang, Pangidoan sian iba, sotung manian gabe adong perpecahan di hita, marsipaturean ma dibagasan holong nasian Tuhan ta Yesus Kristus.

    Horas, Horas, Horas.

LEAVE A REPLY