Tonni Simanjuntak, Pemuda Pande Gorga dari Balige

4
570

JuntakNews (Medan),

Bagi orang yang pernah melihat dari dekat bangunan Gereja HKBP Parapat yang baru diresmikan itu, akan mengagumi Gorga Batak yang menghiasi gereja itu. Tentu pertanyaan atau rasa ingin tahu siapa ahlinya atau “pandenya“, sering terlupakan. Saya sendiri, tidak terlalu mengambil pusing dengan siapa yang membuatnya. Pokoknya, secara visual, gereja itu menarik, apalagi menempati lokasi yang mudah untuk dipandang.

“Saya, dan 2 (dua) orang saudara kandung saya bersama ayah kami, selama berbulan-bulan menyelesaikan pekerjaan Gorga Batak Gereja HKBP di Parapat”, kata Tonni Simanjuntak (29). Pernyataan Tonni ini juga yang diakui oleh Sahala Simanjuntak yang diminta oleh Panitia Pembangunan Gereja HKBP Parapat mengarsiteki,  kepada Pengurus GM-SSSI&BBI di Medan baru-baru ini Sabtu (02/10).

“Saya melihat talenta yang dimiliki Tonni dan keluarganya dan mengajak mereka untuk mengerjakan gereja HKBP itu”, jelas Sahala. “Tak hanya bagian luar gereja saja yang mereka kerjakan, tetapi bagian dalam, sehingga seluruh urusan lukisan dan ukiran di luar dan di dalam gedung gereja”, tambah Sahala meyakinkan.

Talenta yang dimiliki Tonni, walau masih tergolong pemuda termasuk unik. Menurutnya, konon keahlian ini menurun dari ayah kandungnya yang sejak kecil sudah melibatkan Tonni membantu penyelesaian pekerjaan Gorga. Tak hanya ahli menggoreskan pisau ukirnya jika mengerjakan pekerjaan kayu atau semen, ternyata Tonni sangat paham dengan phylosophy setiap karya Gorga yang dikerjakannya.

“Ini bentuk kecil dari Santung, dan ini Ulu Paung, yang biasanya menjadi perlengkapan di setiap Ruma Batak“, katanya sambil menyodorkan 4 (empat) gantungan kunci yang sudah siap untuk dipasarkan. Keempat gantungan kunci yang ditunjukkannya, terlihat apik dan menarik. Selain bernilai tradisi Batak, terlihat kesungguhan dan kehalusan sentuhan yang mengerjakannya.

“Setamat dari STM, saya tidak melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Selain alasan kesulitan biaya, saya berfikir lebih baik langsung terjun mengerjakan pekerjaan Gorga, yang dulu masih dikerjakan orang tua saya”, katanya. “Bagi saya pekerjaan ini sudah menjadi bagian hidup saya, dan berharap ada pihak-pihak yang bersedia mendukung saya agar pekerjaan yang kugeluti sekarang ini, mampu memberi saya nafkah”, jelas pemuda yang masih melajang ini.

Merespon keinginan Tonni, aktifis GM-SSSI&BBI Rudyard Simanjuntak mengatakan bahwa keahlian saja tidaklah cukup. Harus ada penopang lain, sehingga hasil karya seseorang diketahui dan diminati banyak orang. “Promosi dan kualitas karya harus tetap ditingkatkan, sehingga memiliki daya saing di pasar”, jelas Rudyard.

Sahala Simanjuntak, yang menaruh perhatian tinggi terhadap pengembangan Generasi Muda Simanjuntak dan tinggal di Bona Pasogit — Balige, secara eksplisit meminta GM-SSSI&BBI, agar Tonni diberi peluang untuk meningkatkan keahliannya serta membuka informasi ke ruang publik terutama kalangan Simanjuntak, agar hasil karya Tonni dapat diterima menjadi sesuatu yang menarik untuk dimiliki.

Keinginan sudah disampaikan, tentu tinggal menunggu respon Pengurus GM-SSSI&BBI menyikapi keinginan Tonni Simanjuntak, si Pande Gorga yang tinggal di Balige ini.

4 COMMENTS

  1. Bravo buat Tonni Simanjuntak,
    saya ingin membantu untuk memasarkan hasil karyanya seperti gantungan kunci sbg souvenir pesta kawin.
    btw : mohon disampaikan alamat beliau atau nomor telepon yg bisa dihubungi.
    tks.

  2. bisa diberikan nomor yang bisa dihubungi. saya mau coba pasarkan untuk daerah jabotabek.

  3. songonnon manian akka anak muda saonari, unang dilupahon akka seni batak na uli i..
    Ise be na patorushon molo so hita halak batak??

LEAVE A REPLY