Borjun, Borjuis atau Juleha???

5
2863

 

Mamaku Boru Simanjuntak
Mamaku Boru Simanjuntak

Kita pasti ingat ungkapan bijak Shakespeare, “What’s in a name? That which we call a rose By any other name would smell as sweet.” Menurutnya “nama” merupakan hasil konvensi buatan dan tak berarti. Ungkapan ini saya kira banyak benarnya, sebab seseorang pada umumnya diberi nama, bukan memilih sendiri.

Maklum, nama diperoleh ketika masih bayi. Bagi orang Batak, nama sering dikaitkan dengan harapan terhadap si anak yang diberi nama. Sedikit berbeda dengan Batak Karo masa dulu, sering memberi nama anaknya sesuai dengan kejadian yang paling menarik perhatian si pemberi nama. Ayah, ibu, kakek, nenek dan paman si anak.

Shakespeare, jika masih hidup masa sekarang, tentu akan berusaha mencari ungkapan bijak lain, jika mengetahui bahwa ungkapan yang dibuatnya, khususnya untuk kalangan marga Simanjuntak, tidak selalu benar. Sebutan “Simanjuntak Ri“, bukan tanpa arti. Pengakuan terhadap sebutan “Ri” juga sudah datang dari luar marga Simanjuntak, sebagai bentuk kesaksian bahwa Simanjuntak selalu ada dan dijumpai dimana-mana. Bagai “Ri” atau lalang, bisa tumbuh dan berkembang dimana saja.

Bagi Marga Simanjuntak seperti saya, menerima nama ini kadangkala bisa menimbulkan kebanggaan, tetapi kadangkala bisa menjadi ejekan halus, bahwa marga saya ini basalemak–terlalu gampang ditemui di semua tempat, di semua kondisi dan di semua kejadian baik dan kejadian buruk.

Nah, khusus untuk kalangan Simanjuntak–kaum perempuan, dalam suasana tertentu ketika terjadi perdebatan dan kebetulan terlalu mendominasi, pasti akan mendapat nama atau panggilan dari lawan debatnya “Tanda ma ho borjun…!”. Sebutan “Borjun“, seolah merepresentasi “kejugulan”, dan sifat mau menang sendiri dan keras kepalanya Boru Simanjuntak–bukan sekedar abreviasi semata. Respon Boru Simanjuntak terhadap sebutan itupun beragam, tetapi lebih banyak seperti menunjukkan kebanggaan. Wah!

Belakangan, secara alamiah atau memang mengandung unsur kesengajaan, entah dari pihak Boru Simanjuntak, atau datang dari saudaranya laki-laki yang bermarga Simanjuntak, mulai dimunculkan thesis baru “Kalau beristrikan Boru Simanjuntak, maka suaminya harus “tunduk”, jika keluarga itu mau maju, bla-bla-bla…”. Sejauh mana kebenaran thesis ini tentu masih membutuhkan penelitian psiko-sosial. Tapi yang pasti, Boru Simanjuntak, banyak yang meyakini thesis ini yang akhirnya diikuti oleh keyakinan suaminya.

Jika dalam kasus tertentu, Boru Simanjuntak mendapat perlawanan sengit, baik dari suami, maupun dari teman-temannya, sering meluncur kata-kata “Kau lawan pulak Borjun…!”, dengan bangganya.

Entah karena gambaran umum ini, akhirnya bermunculanlah penamaan baru terhadap Boru Simanjuntak. Ada yang mulai menggunakan Borjuis, menggambarkan keberanian Boru Simanjuntak. Berani memberi pendapat di depan umum, berani mendebat hula-hula, berani (bahkan) jika diajak berantam. Sifat-sifat ideal yang seyogianya hanya dimiliki oleh laki-laki, justru sering dipertontonkan Boru Simanjuntak, sehingga sebutan Boru Juntak Berkumis mengemuka.

Sebutan lain yang tidak kalah trendnya belakangan ini, adalah Juleha (Juntak Lenong Habiaran). Sebutan ini sepertinya mewakili sifat dan sikap umum yang banyak dipertontonkan atau diperankan oleh Borjun dalam keseharian, terutama kepada keluarga dekatnya. Ketika permintaanya ditolak, maka yang terjadi (katanya), si Borjun akan memperagakan gerakan Lenong yang meliukkan badan  pertanda protes, hingga pihak yang menolak permintaan menjadi ketakutan (mabiar) dan memenuhi permintaan. Borjun, jadi habiaran (ditakuti).

Kalau sudah begini ceritanya, maka bagi Boru Simanjuntak, harus berani memilih penamaan apa yang paling cocok untuk dirinya… Atau, hanya menjawab “Apalah arti sebuah nama…?”, sebuah pembenaran diri dan Shakespeare…

5 COMMENTS

  1. Tapi tidak dapat dipungkiri kalo Borjun penuh perhatian walau rada jingar. Hehehehe

  2. tapi disatu sisi walaupun dibilang borjun, borjuis, atau juleha..
    boru juntak terkenal dengan orang yang baik hati…

  3. kebetulan lg ga sibuk buka laman ini. meski dah lama, berita ini menarik n update. istilah “juleha” br tau dari tulisan ini. “borjuis” tdnya pikir krn ada lagu aja tnpa makna yg bhubungan dgn boru juntak. jd dapat wawasan baru, pung.
    lari dr topik di atas, stlh sy perhatiin, kaos tu desainernya siapa ya. lucu banget. tp lom ada yg prnh sy lht pake kaos yg ada gambar pinahannya tu. ada yg berani pake ga ya? lucu sekali.

  4. tidak semua kali ya boru juntak spt sifat2 yg diats, byk yg kalem n baik hati jg loh bp. uda….:)

LEAVE A REPLY