Stop Dulu Nyanyi Lagu O.. Tano Batak

6
734

Oleh: Suhunan Situmorang

SAYA kira, kita tak usah dulu nyanyi lagu O Tano Batak ciptaan Siddik Sitompul yang sudah dianggap macam ‘lagu kebangsaan’ Bangso Batak itu. Juga berhenti dulu mendendang O Tao Toba dan Pulo Samosir gubahan Nahum Situmorang yang legendaris itu. Bila perlu, segala tembang yang berkisah tentang alam Tano Batak, disisih dulu untuk sementara waktu.

Ketimbang menimbulkan suara sumbang yang menghamburkan ironi, daripada jadi lagu pengiring untuk sejumlah tragedi, juga supaya tak semakin mempertegas tuduhan bahwa orang Batak itu penuh kontradiksi, alangkah baiknya dihindari dulu.

Mari pula berjiwa besar mengakui bahwa kita orang Batak, tertinggal jauh dari saudara kita orang Minang dalam hal kepedulian pada tanah leluhur atawa kampung halaman. Sejauh-jauh mereka merantau tiada akan lupa pada kampung asal, sementara yang berdiam di ranah Minang berusaha merawat alam, tradisi, adat-istiadat, rumah gadang, dan surau. Meski “hanya” tukang jahit di pasar Blok M atau pedagang nasi di tepi jalan Tanah Abang, mereka setia menyisihkan rupiah yang susah-payah dicari demi membangun kampung atau membantu sanak-saudara di tanah asal. Mereka tetap menjalin komunikasi dan akan sigap manakala dimintai bantuan dan tak cuma senang menembangkan Kampuang Nan Jauh di Mato, tapi berupaya agar tak jadi si Malin Kundang.

Kita, orang Batak? Entah kenapa, kian memprihatinkan dalam banyak hal. Bila tak tercerabut dari akar budaya, enggan disebut Batak, mereka yang masih kuat kebatakannya malah semakin miskin kepedulian pada Bona Pasogit. Berbagai persoalan di seantero wilayah Tano Batak dianggap sepi oleh para perantau. Parahnya lagi, “penyakit” tak peduli, egoisme, ‘imbalanisme’, sudah menjalar hingga masyarakat yang tinggal di huta. Perkumpulan marga atau huta di perantauan pun lebih berupa wadah untuk mengurusi kepentingan adat belaka dan nostalgia.

Sangat jarang terdengar ada persatuan marga atau huta yang peduli memikirkan dan lalu melakukan suatu tindakan yang berarti untuk membantu warga di kampung. Belum pernah kita dengar tokoh-tokoh marga di parserahan menggalang anggota untuk menyikapi problema yang menimpa masyarakat di Tano Batak akibat dekadensi moral dan semakin terkikisnya nilai-nilai luhur dan kearifan lokal. Belum pernah terdengar sikap tegas paguyuban marga atau huta menyikapi kehancuran alam akibat pembabatan hutan yang dilakukan perusahaan pulp (dan rayon), yang selain merusak alam, juga telah memenderitakan saudara-saudara kita yang tinggal di Tobasa, Humbang, Samosir, Taput, Tapsel.

Orang-orang Batak yang berdiam di perantauan seperti tak ada kaitan dengan bumi Tano Batak yang sudah porakporanda karena ulah korporasi raksasa dan juga para pembalak hutan yang didukung pejabat dan aparat penegak hukum di kabupaten dan provinsi. Emosi kita pun datar saja saat menyaksikan berita di tv ratusan ibu petani haminjon (kemenyan) Humbang Hasundutan meraung-raung karena buldozer perusahaan pulp itu membabati hutan Pandumaan, yang selama ratusan tahun jadi sumber utama nafkah orang sana. Selama belasan tahun rakyat Porsea dan sekitarnya yang menolak pabrik pulp (dan rayon) itu dibiarkan menderita, tak menggugah nurani para Batak perantau yang jumlahnya jutaan orang.

Tragisnya, yang terjadi malah konflik horisontal antara orang Batak yang menentang dan mendukung, yang dengan licik dimanfaatkan pemegang saham dan eksekutif perusahaan tersebut. Kenapa bisa demikian?

Mereka, para penghancur hutan yang sudah dirasuki semangat kapitalisme tanpa kendali itu, paham betul karakter dan sifat orang Batak sekarang yang bukan lagi macam yang dulu. Mereka tahu persis, sekarang ini kebanyakan orang Batak lebih terpesona pada harta dan kuasa, dan puncak pencarian hanya sebatas bagaimana mengamankan keluarga dan keturunan, seraya membangun modal agar kelak turut menghuni sorga hingga masih taat beribadah.

Tak masuk akal mereka membangun solidaritas, tak terpikirkan mereka memikirkan derita warga dan alam Bonapasogit, apalagi untuk mengecam pejabat yang terindikasi korup dan perusak alam karena alasan: masih ada hubungan marga atau kekerabatan.

Sikap tak peduli macam itulah yang menimbulkan bencana Kamis malam lalu ketika air bah yang menggelindingkan batu-batu besar dan sisa gelondongan pohon, menerjang warga Sabulan-Rassang Bosi, dengan korban lima jiwa. Perusahaan bernisial TPL itu dibiarkan terus menggunduli hutan Register 41 Huta Galung di atas kampung-kampung yang kena bencana tersebut, yang sebenarnya masuk area hutan lindung. Diperkirakan, sekitar 26.752 Ha sudah habis digunduli, juga oleh pembalak liar yang ditengarai dibeking penguasa dan aparat hukum kabupaten Samosir.

Pembabatan hutan alam sepanjang Tele-Humbang yang amat khas alam Tano Batak itu sudah lama dicemaskan ahli lingkungan akan menerjang wilayah-wilayah sepanjang Tipang-Janji Raja-Sabulan-Tamba-Sihotang-Harianboho-Sianjurmulamula. Tak mustahil desa-desa di tepian Danau Toba itu akan lenyap suatu saat, menyeret ribuan warga ke danau.

Bisa saja memang kita tak peduli karena tak berada di area tersebut, namun sebaiknya tak usah lagilah ikut-ikutan nyanyi lagu O Tano Batak, O Tao Toba, Pulo Samosir, untuk sementara waktu. Bukan apa-apa, malu pada alam dan para leluhur kita.***

* Dimuat di koran Batak Pos, Sabtu 1 Mei 2010
* Photo by: Kompas.com

Untuk membantu korban di Samosir dapat mengirimkan bantuan melalui :
Komunitas Toba Lover

BCA KCP Bursa Efek Jakarta
No. Rekening: 4580321751
a/n Goklas AR Tambunan SE dan Natal Yanti Aruan.

Atau

MANDIRI KCP Bursa Efek Jakarta
No. Rekening : 104-00-0410409-2
a/n Goklas AR Tambunan, SE / Natal Yanti Aruan

6 COMMENTS

  1. Menarik tulisan ini. Perlawana Kaum Batak, bisa dimulai dengan gerakan non violence, contohnya “puasa” menyanyikan lagu-lagu legendaris sebab tidak sesuai lagi dengan realita.

    Ketika kaum menjadi lemah, maka senjata yang paling mungkin digunakan adalah “Perlawanan dengan Diam”. Pertanyaan saya, apakah Kaum Batak sudah begitu lemahnya? Atau, kita sudah menjadi kaum pesismistik sebab terlalu sering kalah?

    Bencana di Samosir, langkah awal mengatakan “Tidak bagi semua bentuk perusakan lingkungan di Tanah Batak”. Caranya? Daftar saja dulu tokoh-tokoh Batak yang aktif mendulang keuntungan dari perusakan lingkungan. Mereka menjadi bagian kapitalis dan industrialis perusak lingkungan yang hadir di Tanah Batak, semisal lewat TPL.

  2. Terimakasih bang, sudah menyadarkan saya sebagai salah satu perantau Batak yang tinggal di daerah Jawa ini.
    Semoga kami bisa berkontribusi untuk Tanah Batak.
    Horas !!

  3. Horas ma dihita saluhutna.
    Menanggapi tulisan diatas, saya pikir untuk warga batak yang di perantauan sangat rindu akan lagu tersebut.Mengingat akan perjuangan seorang ayah dan ibu yang mengasuh, mendidik anak-anaknya agar kehidupannya jauh lebih baik dari orang tuanya.
    Kebetulan saya saat ini bekerja di lingkungan birokrasi, jujur dengan adanya otonomi daerah pemerintah daerah kabupaten bertindak seperti raja-raja kecil. Mereka tidak melakukan koordinasi dan konsultasi dengan pemerintah daerah propinsi. Kalo ada masalah baru minta bantuan, kemudian pertanggung jawaban pelaporan dan evaluasi ga jelas.
    Apalagi dengan bencana di Samosir notabene berada di wilayah kabupaten Toba Samosir, saya pikir saatnya untuk sadar dan merenung.
    Melalui tulisan ini tolong disampaikan kepada Bupati/Wakil Bupati untuk membina pegawai pemda bekerja secara jujur, ikhlas dan cermat.
    Aplikasinya pernah saya kunjungi dinas pertanian kab. dimaksud, pejabat lingkup eselon III-a (Kabid atau Kabag) belum memiliki kesamaan visi dan misi dalam suatu program. Bagaimana dengan level di bawahnya, akan bekerja bukan berdasar pada perencanaan atau program.
    Yang lebih ironisnya saya pikir ada 2 opsi : 1) Bersikap idealis (jaman skrg ibaratnya 1 diantara 1000), 2) Bersikap cari amannya (ga mau tau, 3) Bersikap memiliki kepentingan (kenyataannya antara penguasa dan aparat hukum sudah saling sejoli)

  4. aneh sekali ajakan ini…kok menghakimi para perantau seakan-akan tidak peduli dengan kampung halaman…justeru kami yang prihatin dengan sikap dan moral saudara2ku yang di huta…semuanya kalian ukur dengan uang…itulah yang menyebabkan sebagian dari kalian parhuta yang memuluskan keberadaan perusahaan2 itu bisa tegak berdiri…demi uang mereka siap berhadapan dengan Saudara2 lainnya…kalian sudah diadu domba karena uang…Btw program apa yang kalian buat yang tidak didukung perantau…lihat gereja HKBP Sipahutar…berapa rupanya modal kalian yang dikampung??…Lihat Danau Toba…jangankan turis asing…kami yang orang batak perantauan-pun kalian”MAKAN” klo wisata kesana…
    Bercerminlah kalian saudara2ku yang ada di kampung…

  5. Amang tahe hansit nai par-Bona Pasogit on! Pangaranto do na mambeta-beta “na so toho” gabe na di huta hona neng-nengan. On ma ra sada “singkam ma barbar” umbaen na so piga be halak na olo tinggal di huta soala ni “tarpaksa”. Ai isema na rade rohana sai gabe “sitaon na dokdok”?

    Nian toho do holso dohot “concern” ni angka “na maloi” (pangaranto). Nunga lam sega jala habis tutu tombak ni Bona Pasogit i. Songon ni haulion ni Tao Toba i, nunga lam soding dibahen angka karamba dohot enceng gondok i; aekna pe nunga “litok”. Didok angka na malo, ndang tio be aek ni Tao Toba i ai nunga digimbori angka “bahan kimia”, “kuman” dohot “angka na rotak” naasing. Na deba mandok, pangisi ni pe Bona Pasogit i pe ndang be angka nauli lagu. Alai angka “sigogo soara” nama, “sibalga butuha” dohot “siruak aru-aru”.

    Alai angka dongan, sala ni na di huta do sude nai? Jamot jo hita angka dongan marpandohan.

    Ise do na mambaen haputusan asa boi jongjong angka “industri” na balga na dihitaan? Ise do na mangalean ijin ni karamba na godang i? Ise do na mangharuarhon “HPH” na “Daerah Tangkapan Air” Danau Toba i? (Dohot godang sungkun-sungkun na sahorong).

    Angka na tua-tua na di huta i do? Kapala Desa do? Amanta Samat do manang amanta Bupati? Amanta Gubernur do? (Ingat kasus Asahan III).

    Ra satolop do hita, ia “pusuk jambu” ni angka namasa i ndang di hitaan alai di “aduan” (pusat) do. Ndang na mandok na ias angka na dihuta sian hagimboron i. Molo pandapothu, “dampak turunan” do i; songon nidok ni sijolo-jolo tubu i di na masa on : “Molo gimbor aek di jae, tu julu tingkoran! Unang gabe na gimbor na i pinaheba-heba!

    Ala ni i angka dongan, jamot-jamot ma hita marhata manat-manat mangalangka. Dipasingot ompunta sijolo-jolo tubu do hita marhite pandohan “Jamot unang tarjollung, manat unat tarrobung”.

    Ia adong na tading dohot na sega, nanget ma ta paune-une songon hata umpasa: “Pauk-pauk hudali, pago-pago tarugi. Na tading taulahi, na sega tapauli”. Ia tading pe angka na di huta – dihamajoun, dihaboion, dohot di angka na asing – nanget-nanget ma ta-“ajari”. Ia “mumpat pe angka talutuk sega gadu-gadu”, sada-sada ma tapauli.

    Ia taringot tu angka nauli dohot na denggan na binahen ni godang pangaranto, sidok mauliate do na di huta. Lobi sian i, dipasahat nasida do tangiang tu Tuhanta asa ditumpahi luhut gulmit ni ngolu muna.

    Rap martangiang ma hita angka Amang/Inang dohot hahanggi nang pinaribot asa lam diajari jala dipargogoi Debata hita mangkatahon na polin dohot mangulahon na tingkos. Tujoloan ni ari on, lam marbisuk ma hita mangaradoti dohot mangaromoti angka nauli na denggan na pinasahat ni Debata tu hita marhite Bona Basogit. Sai saut ma nian songon nidok ni umpasa “Tu sanggar ma amporik, tu lubang ma satua” na marlapatan, sai uang madong di hita “siallang na so sinuanna, sisegai na so pinaulina”. Horas.

    Mangonar Lumbantoruan
    (“Marhuta” di Tarutung, “mangarimba” di Medan)

  6. menyimak tulisan diatas kita harus tetap bangga jadi bagian bangso batak na nunga marserak di saluhut piortibion, yg jadi momok,bukan kita gak mau membantu setiap ada perlu sumbangan buat majuin tanah batak. tapi kalau kita sumbang untuk apa-apa saja dana itu di gunakan disitu nya yg gak jelas jadi malas untuk menumbang jadi gak tepat sasaran songon mambolongkon sira tu laut gabe marisuang na uli na denggan jdi tetaplah bangga jadi suku batak & orang, kami di rantau akan selalu ingat lagu”tersebut di atasdan akan terus menyayikan nya di setiap kesempatan jgn lupa negara ini ada juga tidak terlepas dari suku batak yg memberi kemampuan & pikirannya

LEAVE A REPLY