Ketika Sinamot Jadi Momok

13
2583

Oleh Suhunan Situmorang

CUKUP banyak saya dengar kasus gagal nikah disebabkan sinamot. Pekan lalu kembali saya tahu dari satu teman dekat, yang terjadi pada kerabat dekatnya. Antara pihak laki-laki (paranak) dengan pihak perempuan (parboru) tak berhasil menyepakati sinamot. Impian sepasang anak manusia untuk mengarung bahtera rumahtangga pun kandas sebelum layar mengembang.

Boleh jadi, anda pun sudah pernah dengar kasus semacam, dan saya yakin reaksi anda saat itu sama seperti saya: mengecam seraya menyayangkan. Tetapi saya pun yakin, kita kemudian tak melakukan apa-apa atawa hanya diam saja, dan bila terulang lagi akan kembali mengecam dan menyayangkan.

Kita tak juga berani mengambil sikap dan mencerahkan lingkungan terdekat: perkawinan putra-putri tak boleh gagal hanya disebabkan ketidakcocokan sinamot. Semua itu karena kita, disadari atau tidak, telah ikut jadi tawanan gengsi. Kita lebih mendahulukan puja-puji ketimbang harmoni.

Karena orang-orang memestakan pernikahan anak mereka di gedung besar dan mengundang banyak orang, kita pun ingin demikian. Tak terlalu kita pedulikan kemampuan finansial putra-putri, calon besan, bahkan diri kita, yang sebenarnya mungkin hanya pas-pasan. Tak kita khawatirkan proses ‘tawar-menawar’ dan bentuk ulaon (hajatan) bisa memicu keretakan rumahtangga anak yang baru mau dibangun. Kita lebih terpesona pada kemasan dan tak peduli bahwa di pihak sana harus ngos-ngosan untuk mewujudkan.

Belum lama ini di Jakarta ada orangtua pengantin perempuan yang selama pesta jadi bahan gunjingan karena katanya ngotot minta banyak sinamot supaya bisa berpesta di sebuah gedung di bilangan Kebon Nanas yang disebut paling mahal. Padahal, ditilik dari kemampuan uang kedua belah pihak, belum sepantasnya mereka buat pesta semahal itu.

Kita pun tak lagi peka menanggapi keluhan kaum muda, khususnya kalangan pria, yang memilih menunda atau belum berani menikah disebabkan sinamot. Sangat mungkin pula kita tak mau tahu efek buruk ketegangan saat memutuskan jumlah sinamot, bentuk ulaon, pada rumahtangga putri atau putra kita kelak. Sikap kita yang tak simpatik atau terkesan materialistis akan membuat menantu dan besan mengurangi rasa hormat pada diri kita, yang dampaknya mengimbas pada putri kita.

Kengototan menentukan jumlah sinamot akan pula memberi kesan bahwa kita telah ‘menjual’ anak perempuan kita dengan sejumlah uang, yang kemudian banyak disalahpahami kaum pria hingga memperlakukan istri semena-mena. Pemberontakan umumnya perempuan Batak modern (yang mandiri dari aspek finansial) terhadap adat Batak pun acap dipicu ketidakterimaan atas konsep ‘jual-beli’ itu. Mereka menolak diperlakukan layaknya ‘komoditi’.

Padahal, para orangtualah yang salah—termasuk parsinabul, parhata, atau juru bicara marga. Mereka terbiasa menggunakan istilah ‘tuhorni boru’ (harafiahnya: harga jual anak perempuan). Konotasi tuhor ini tak manusiawi, melecehkan, melabrak kaedah-kaedah HAM. Ini pula dasar dan ‘senjata’ para agamawan fundamentalis mengobrak-abrik adat, apalagi banyak di antara mereka non-Batak, yang tak paham makna sinamot.

Esensi sinamot itu wujud penghormatan orangtua dan (calon) pengantin pria kepada pihak orangtua perempuan karena putri mereka akan dijadikan istri, menantu, dan ibu bagi keluarga batih serta marga. Meski berkedudukan sebagai orangtua kandung, mereka tak boleh begitu saja mengiyakan permintaan pihak pria yang disampaikan keluarga dekat bapaknya.

Saking tak sembarangan memberi izin, sebenarnya, selain persetujuan orangtua kandung, saudara lelaki, paman kandung dari ayah calon pengantin perempuan (amangtua, amanguda), harus ada pula restu dari tulang (saudara lelaki ibu). Itu sebabnya ‘suhini ampang naopat’ (elemen utama dalam hajatan adat perkawinan) menyertakan tulang. Sayangnya, syarat penting ini sudah banyak yang tak menaati; tulang seolah diperlukan saat pesta unjuk saja (saat acara adat pernikahan).

Panjangnya tahapan menuju perkawinan itu (kini disederhanakan dengan: hori-hori dinding-patua hata, marhusip-pudun saut, mandapothon tulang, tonggo raja) membuktikan bahwa pernikahan dalam masyarakat adat Batak bukan soal kawin semata. Ada kesesuaian, kesepakatan, konsekwensi hukum (adat), dan ikatan yang tercapai, terjalin dan berlaku sepanjang masa bagi kedua belah pihak—dan kemudian mengimbas pada kerabat.

Mestinya, makna penting berpindahnya anak gadis mengikuti klan suami (jadi istri atau parsonduk bolon, parumaen, yang juga berposisi jadi ibu bagi keluarga batih) dan persetujuan dari tulang dengan simbol pemberian sinamot sebagai wujud penghormatan itulah yang lebih ditonjolkan. Bukan dimensi transaksi hingga terkesan melecehkan wanita.

Bila makna dan filosofi penghormatan dikedepankan, tak sepatutnya lagi menonjol pembahasan nilai sinamot, namun lebih pada kesungguhan pihak lelaki untuk menyunting gadis pujaan hatinya untuk dijadikan teman hidup hingga saur-matua, seiring sejalan ke berbagai arah (tu dolok tu toruan). Meriahnya pesta pun hanya aksesori atau pelengkap. Maka bila memang tak cukup mampu merayakan secara besar-besaran, kenapa pula harus dipaksakan. Bukankah yang terutama adalah kebahagiaan dan kesejahteraan anak sesudah menikah?

Nampaknya kita sudah dicengkeram gengsi sedemikian kuat, ditindas perasaan tak enak pada kerabat dan kawan bila undangan tak meluas, namun jadi mengorbankan anak. Marilah kita dahulukan kebahagiaan dan kesejahteraan anak, yang penting tetap terjaga martabat, yang tercermin dari sikap, perilaku, cara bicara.

Adat kian dibenci kaum muda, terutama akibat ulah para orangtua yang tak cukup paham makna dan filosofinya. Saatnya kita ubah cara pandang yang tak benar itu, mengenyah anggapan-anggapan keliru yang akhirnya bikin susah, agar sinamot tak lagi momok dan penghalang impian setiap anak.***

Telah dimuat di: Batak Pos, Sabtu 8 Mei 2010

13 COMMENTS

  1. Ingat, setiap pasangan yang ingin berumahtangga harus dilatari rasa saling sayang dan membutuhkan satu sama lain. Lalu mereka mengikat janji terhadap pasangannya dalam pernikahan berdasarkan agama yang diyakini. Kemudian mereka mencatatkan pernikahan secara syah dalam administrasi negara ke badan yang berwenang. Untuk memudahkan administrasi kependudukan mereka ke depannya. Ini saja sudah cukup dan bermartabat.
    Adat lebih banyak unsur gengsi dan pesta yang memerlukan banyak uang. Apa yang disampaikan dalam pesta adat tak lebih dari kata-kata yang selalu diulang-ulang saja. Coba kita pikirkan ada seorang bapak tukang parkir ( maaf bukan melecehkan ) bisa membuat pesta berbiaya sampai Rp 100 juta. Sementara berapalah penghasilan tukang parkir, tentunya ada sumber-sumber keuangan yang luar biasa yang didapat bapak ini. Hal paling mudah adalah menjual tanah warisan, mengutang sana-sini. Yang tentunya harus dilunasi setelah pesta

  2. Saya setuju dengan pendapat ini.

    Adat batak dalam hal ini menjadi cemoohan dan menjadi batu sandungan; bukti kegagalan iman kristen.

    tulisan dan analisa seperti ini patut menjadi buah pikir yang baru bagi Orang Batak.

    salam hormat,

  3. Dua hal yang saya sayangkan:
    1) Masih banyak orang tua yang lebih mementingkan gengsinya daripada kepentingan cinta kasih anak-anaknya yang mau berumah tangga.
    2) Perlawanan kaum muda Batak dengan cara meninggalkan adat Batak misalnya tak mau beristrikan boru Batak, tak mau berpesta dalam adat Batak dll. Sehingga kecintaan terhadap adat Batak menjadi semu, pupus dan lambat laun lenyap. Mungkin memakai marga pun sudah tak mau lagi.

  4. horas, lae..

    saya marga sihombing karena pengangkatan anak.

    memang sangat disayangkan, bila masalah sinamot menjadi momok. banyak cerita dari kalangan keluarga non batak yang mundur teratur hanya dikarenakan masalah sinamot yang sangat luarbiasa besarnya.

    saya juga pernah mengalami dimana keluarga saya sempat stress karena memikirkan masalah ini (keluarga dari jawa). memang akahirnya pernikahan dapat berlangsung tanpa masalah.

    tetapi, apakah tidak ada jalan keluar dari masalah biaya yang sangat tinggi itu, seperti digantikannya beberapa simbol dan hal – hal yang lainnya.

    terusterang, saya masih dalam taraf belajar dalam adat batak, tetapi tetap satu hal ini yang membuat masalah ini perlu ditindak lanjuti oleh kaum muda batak, agar adat batak yg sedemikina tinggi falsafahnya tidak dipandang sebelah mata hanya karena masalah sinamot.

    mohon maaf, bila ada tulisan yg tidak berkenan…

  5. tolong kepada pengetua adat batak agar proses adat batak disederhanakan lagi dengan tidak mengurangi nilainya jangan sampai gara gara mengikuti adat batak waktu dan tenaga tersita (time is money)

  6. Penjelasan atas judul malah muter2, tidak ada yg dapat ditangkap dari penjelasan. Tulisan ini telah mendorong mereka yg kurang faham adat, semakin jauh dari penerahan tentang sakralnya adat bagi struktur budaya batak.

  7. Memang sebaiknya urutan rangkaian pernikahan adat Batak ditinjau lagi, bagaimana supaya lebih singkat dan efisien dan tentu lebih murah. Sayang kalau karena biaya, pernikahan tidak bisa terlaksana. Sudah harus ada terobosan. Banyak orang bilang: orang Batak dari lahir sampai mati membutuhkan biaya yg besar.. Lalu darimana kita bisa menyiapkan biaya yang besar itu? Silakan para natua-tua untuk mulai berpikir akan hal ini agar kelestarian budaya Batak dapat terus terjaga. Horas.

  8. Adat tidak pernah memberatkan,,,!! Tp individunya lah yg membuat dirinya nya susah,,krn adat Batak tidak pernah mematok nilai,,! Dlm falsafah Batak ada istilah “”Adat do Nagelleng, adat Nang Nabalga,,! Jd silahkan Kita memilih dan menempatkan adat sesuai dgn kemampuan Kita Masing2,,!! Jgn Ikut2an jd Individu yg bodoh yg merasa diberatkan oleh Adat,,,,,!!!

  9. orangtua saya mematik harga sinamot untuk calon suami saya, mungkin itu ujian untuk cinta dan hubungan kami sebelum kami menikah, tapi.. kita orang batak umumnya terlahir dengan darah ke-panggaron’an yang tinggi, menjunjung tinggi gengsi mengenyampingkan nilai adat itu sendiri..
    maaf sebelumnya untuk kata-kata yang tidak berkenan, amang dan inang,
    Horas!

  10. Sinamot bikin masalah aja coi! Coba lu pikirin aja,. kalau adek laki gw atau anak gw mau nikah, ya gw harus minta sinamot yang sekecil – kecil ny kepada keluarga si perembuan supaya ga terlalu banyak pengeluaran…Sebaliknya kalau adik perempuan gw (ito) gw mau nikah gw, so pasti gw harus minta sinamot ke pihak keluarga laki yang sebesar besarnya, karena gw ga mau rugi banyak juga….Ga salah dong…!!! itu manusiawi aja…

    Kalau boleh jujur, bagi gw sekarang, sistem sinamot kayaknya sudah ga cocok dengan zaman sekarang coi, karena system sinamot lebih banyak buat masalah dari pada faedahnya …!!!
    Perhatiin aja sistem sinamot ga dapat dipisahkan dengan semua aturan main prosesi adat (si ampang na opat) …Menurut gw, sudah saatnya zaman sekarang, pemuda – pemudi Batak sudah ga perlu pake prosesi acara adat adatan yang bikin rebet dan bikin pusing yang terkadang jadi ajang keributan keluarga (ga ada faedahnya, lebih banyak cuma umbar gengsi status sosial, pamer harta kekayaan,derajat, dan harga diri saja….!!!! ) Menurut gw sudah saatnya generasi muda Batak bereformasi….Saatnya pesta pernikahan dilakukan seperti di tempat lain, seperti biasa saja. Sehabis pemberkatan dari gereja, acara pernikahan resepsi : acara kebaktian, berdoa, makan minum sewajarnya ga perlu mewah – mewah banget, salam salaman, ngobrol ngobrol, photo-photo, beri salam selamat ke kedua pengantin, selanjutnya pulang ga perlu repot….!!! Dan jangan lupa…soal biaya, harus dirembukin, ditanggung oleh kedua belah pihak…Jangan ada yang dirugikan…

    ER.Sihombing (Hutagurgur-Tuan Hinalang)

    Pengamat Adat Batak (sering mengikuti ulaon).

  11. Tulisan di atas sangat menyesatkan…. Terlalu berlebihan soal sinamot… Aku juga tinggal di Sumatera Utara, tapi nyaris tak pernah dengar kegagalan pernikahan karena sinamot. Kita harus pakai logika. Kalau saat masa berpacaran si calon hela dekat dengan calon mertua, dan bisa mengambil simpati, apakah tega si acalon mertua tadi menggagalkan pernikahan hanya karena uang…? Kalaupun ada kejadian seperti itu, kita juga harus menilik latar belakangnya… Bisa jadi ada hal lain yang membuat itu terjadi. Soal harga diri, saya kira juga tidak ada yang menjadikan itu masalah.Karena sudah banyak terjadi, agar parboru terlihat sangap, disepakati membuat harga sinamot mahal, tapi hanya di permukaan. Faktanya ada kesepakatan pribadi antara parboru dengan paranak soal berapa sinamot sebenarnya. Bahkan ada yang nggak pakai sinamot. Jadi jangan membuat tulisan provokatif kalau belum tau banyak fakta di lapangan… Segengsi-gengsinya orangtua, pasti mereka masih memikirkan anak-anak mereka. KECUALI MEMANG KELUARGA ITU BERMASALAH. Jadi bukan adatnya yang bermasalah… Horas…!!

LEAVE A REPLY