• Home
  • Sian Ahu
  • Petunjuk penulis
    • Alamat Punguan
    • Perkenalan
  • Email
  • Gallery
    • Koparsibo-Medan
    • Amandemen AD/ART PSSSI&B Medan 1996
    • PEMBENTUKAN GM-PSSSI&BB SE-DUNIA
    • PSSSI&B Sektor 31 Medan
    • Bona Taon 2008 PSSSI Bandung
    • Pesta Bona Taon 2009 PSSSI&B Palembang 28/02/2009

Ketika Sinamot Jadi Momok

Ditulis oleh: Bungaran Simanjuntak (M14) 10/05/2010 – 21:452 komentar
Ketika Sinamot Jadi Momok

Oleh Suhunan Situmorang

CUKUP banyak saya dengar kasus gagal nikah disebabkan sinamot. Pekan lalu kembali saya tahu dari satu teman dekat, yang terjadi pada kerabat dekatnya. Antara pihak laki-laki (paranak) dengan pihak perempuan (parboru) tak berhasil menyepakati sinamot. Impian sepasang anak manusia untuk mengarung bahtera rumahtangga pun kandas sebelum layar mengembang.

Boleh jadi, anda pun sudah pernah dengar kasus semacam, dan saya yakin reaksi anda saat itu sama seperti saya: mengecam seraya menyayangkan. Tetapi saya pun yakin, kita kemudian tak melakukan apa-apa atawa hanya diam saja, dan bila terulang lagi akan kembali mengecam dan menyayangkan.

Kita tak juga berani mengambil sikap dan mencerahkan lingkungan terdekat: perkawinan putra-putri tak boleh gagal hanya disebabkan ketidakcocokan sinamot. Semua itu karena kita, disadari atau tidak, telah ikut jadi tawanan gengsi. Kita lebih mendahulukan puja-puji ketimbang harmoni.

Karena orang-orang memestakan pernikahan anak mereka di gedung besar dan mengundang banyak orang, kita pun ingin demikian. Tak terlalu kita pedulikan kemampuan finansial putra-putri, calon besan, bahkan diri kita, yang sebenarnya mungkin hanya pas-pasan. Tak kita khawatirkan proses ‘tawar-menawar’ dan bentuk ulaon (hajatan) bisa memicu keretakan rumahtangga anak yang baru mau dibangun. Kita lebih terpesona pada kemasan dan tak peduli bahwa di pihak sana harus ngos-ngosan untuk mewujudkan.

Belum lama ini di Jakarta ada orangtua pengantin perempuan yang selama pesta jadi bahan gunjingan karena katanya ngotot minta banyak sinamot supaya bisa berpesta di sebuah gedung di bilangan Kebon Nanas yang disebut paling mahal. Padahal, ditilik dari kemampuan uang kedua belah pihak, belum sepantasnya mereka buat pesta semahal itu.

Kita pun tak lagi peka menanggapi keluhan kaum muda, khususnya kalangan pria, yang memilih menunda atau belum berani menikah disebabkan sinamot. Sangat mungkin pula kita tak mau tahu efek buruk ketegangan saat memutuskan jumlah sinamot, bentuk ulaon, pada rumahtangga putri atau putra kita kelak. Sikap kita yang tak simpatik atau terkesan materialistis akan membuat menantu dan besan mengurangi rasa hormat pada diri kita, yang dampaknya mengimbas pada putri kita.

Kengototan menentukan jumlah sinamot akan pula memberi kesan bahwa kita telah ‘menjual’ anak perempuan kita dengan sejumlah uang, yang kemudian banyak disalahpahami kaum pria hingga memperlakukan istri semena-mena. Pemberontakan umumnya perempuan Batak modern (yang mandiri dari aspek finansial) terhadap adat Batak pun acap dipicu ketidakterimaan atas konsep ‘jual-beli’ itu. Mereka menolak diperlakukan layaknya ‘komoditi’.

Padahal, para orangtualah yang salah—termasuk parsinabul, parhata, atau juru bicara marga. Mereka terbiasa menggunakan istilah ‘tuhorni boru’ (harafiahnya: harga jual anak perempuan). Konotasi tuhor ini tak manusiawi, melecehkan, melabrak kaedah-kaedah HAM. Ini pula dasar dan ‘senjata’ para agamawan fundamentalis mengobrak-abrik adat, apalagi banyak di antara mereka non-Batak, yang tak paham makna sinamot.

Esensi sinamot itu wujud penghormatan orangtua dan (calon) pengantin pria kepada pihak orangtua perempuan karena putri mereka akan dijadikan istri, menantu, dan ibu bagi keluarga batih serta marga. Meski berkedudukan sebagai orangtua kandung, mereka tak boleh begitu saja mengiyakan permintaan pihak pria yang disampaikan keluarga dekat bapaknya.

Saking tak sembarangan memberi izin, sebenarnya, selain persetujuan orangtua kandung, saudara lelaki, paman kandung dari ayah calon pengantin perempuan (amangtua, amanguda), harus ada pula restu dari tulang (saudara lelaki ibu). Itu sebabnya ‘suhini ampang naopat’ (elemen utama dalam hajatan adat perkawinan) menyertakan tulang. Sayangnya, syarat penting ini sudah banyak yang tak menaati; tulang seolah diperlukan saat pesta unjuk saja (saat acara adat pernikahan).

Panjangnya tahapan menuju perkawinan itu (kini disederhanakan dengan: hori-hori dinding-patua hata, marhusip-pudun saut, mandapothon tulang, tonggo raja) membuktikan bahwa pernikahan dalam masyarakat adat Batak bukan soal kawin semata. Ada kesesuaian, kesepakatan, konsekwensi hukum (adat), dan ikatan yang tercapai, terjalin dan berlaku sepanjang masa bagi kedua belah pihak—dan kemudian mengimbas pada kerabat.

Mestinya, makna penting berpindahnya anak gadis mengikuti klan suami (jadi istri atau parsonduk bolon, parumaen, yang juga berposisi jadi ibu bagi keluarga batih) dan persetujuan dari tulang dengan simbol pemberian sinamot sebagai wujud penghormatan itulah yang lebih ditonjolkan. Bukan dimensi transaksi hingga terkesan melecehkan wanita.

Bila makna dan filosofi penghormatan dikedepankan, tak sepatutnya lagi menonjol pembahasan nilai sinamot, namun lebih pada kesungguhan pihak lelaki untuk menyunting gadis pujaan hatinya untuk dijadikan teman hidup hingga saur-matua, seiring sejalan ke berbagai arah (tu dolok tu toruan). Meriahnya pesta pun hanya aksesori atau pelengkap. Maka bila memang tak cukup mampu merayakan secara besar-besaran, kenapa pula harus dipaksakan. Bukankah yang terutama adalah kebahagiaan dan kesejahteraan anak sesudah menikah?

Nampaknya kita sudah dicengkeram gengsi sedemikian kuat, ditindas perasaan tak enak pada kerabat dan kawan bila undangan tak meluas, namun jadi mengorbankan anak. Marilah kita dahulukan kebahagiaan dan kesejahteraan anak, yang penting tetap terjaga martabat, yang tercermin dari sikap, perilaku, cara bicara.

Adat kian dibenci kaum muda, terutama akibat ulah para orangtua yang tak cukup paham makna dan filosofinya. Saatnya kita ubah cara pandang yang tak benar itu, mengenyah anggapan-anggapan keliru yang akhirnya bikin susah, agar sinamot tak lagi momok dan penghalang impian setiap anak.***

Telah dimuat di: Batak Pos, Sabtu 8 Mei 2010

Share on FacebookBagikan Ke Facebook

2 Komentar »

  • Juned Juntak says:
    05/08/2010 at 13:06

    Ingat, setiap pasangan yang ingin berumahtangga harus dilatari rasa saling sayang dan membutuhkan satu sama lain. Lalu mereka mengikat janji terhadap pasangannya dalam pernikahan berdasarkan agama yang diyakini. Kemudian mereka mencatatkan pernikahan secara syah dalam administrasi negara ke badan yang berwenang. Untuk memudahkan administrasi kependudukan mereka ke depannya. Ini saja sudah cukup dan bermartabat.
    Adat lebih banyak unsur gengsi dan pesta yang memerlukan banyak uang. Apa yang disampaikan dalam pesta adat tak lebih dari kata-kata yang selalu diulang-ulang saja. Coba kita pikirkan ada seorang bapak tukang parkir ( maaf bukan melecehkan ) bisa membuat pesta berbiaya sampai Rp 100 juta. Sementara berapalah penghasilan tukang parkir, tentunya ada sumber-sumber keuangan yang luar biasa yang didapat bapak ini. Hal paling mudah adalah menjual tanah warisan, mengutang sana-sini. Yang tentunya harus dilunasi setelah pesta

    Klik disini untuk memberi komentar

    pangasian Reply:
    August 22nd, 2010 at 08:58

    Saya setuju dengan pendapat ini.

    Adat batak dalam hal ini menjadi cemoohan dan menjadi batu sandungan; bukti kegagalan iman kristen.

    tulisan dan analisa seperti ini patut menjadi buah pikir yang baru bagi Orang Batak.

    salam hormat,

    Klik disini untuk memberi komentar



Tinggallkan komentar anda!

Click here to cancel reply »

CAPTCHA Image
CAPTCHA Audio
Refresh Image

Klik disini untuk untuk menghapus komentar anda

Pesan Sekarang


info lengkap: klik di sini >>


Langganan Artikel

Masukkan alamat email anda untuk menerima
berita dan artikel terbaru dari simanjuntak.or.id

Bergabung di Mailing List

Masukkan alamat email anda

Powered by www.groups.yahoo.com

Bonapasogit »

Marbinda

Marbinda

Beragam cara orang Batak menggalang kebersamaan. Melalui perkumpulan marga misalnya, yang diimplementasikan dengan partangiangan (doa syukuran bersama) sekali sebulan. Dengan membentuk arisan,dalam ruang lingkup marga, lingkungan …

Share on FacebookBagikan Ke Facebook

Baca artikel lainnya »

GM-PSSSI&BBI »

Dompet Peduli untuk Istri Brigadir (Anumerta) Manuel Simanjuntak Diserahkan

Dompet Peduli untuk Istri Brigadir (Anumerta) Manuel Simanjuntak Diserahkan

Meninggalnya Bigadir (Anumerta) Manuel Simanjuntak (28) menyisakan duka yang mendalam bagi istrinya Pristy Marta Ulina br. Hasibuan (24). Walau sudah 2 (dua) minggu kejadian ini berlalu, namun Pristy masih terlihat murung, bahkan kesehatannya terganggu. Rona …

Share on FacebookBagikan Ke Facebook

Baca artikel lainnya »

Punguan »

JP Simanjuntak Menggantikan Jongkas Simanjuntak sebagai Ketua PSSSI&BBI Sidikalang

JuntakNews (Sidikalang),
Pesta perayaan Ulang Tahun PSSSI dan BBI Sidikalang dan Periodisasi Pengurus 2009 – 2013 dilaksanakan hari ini Minggu (30/08) bertempat di Gedung Olah Raga Jalan RSU Sidikalang Kabupaten Dairi.
Dengan thema “Idama denggan nai …

Share on FacebookBagikan Ke Facebook

Baca artikel lainnya »

Simanjuntak »

Tarombo Online Simanjuntak Sitolu Sada Ina

Tarombo Online Simanjuntak Sitolu Sada Ina

Tarombo Online Simanjuntak Sitolu Sada Ina ini di prakarsai oleh beberapa orang keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina, yang peduli terhadap kelangsungan silsilah Sitolu Sada Ina. Prakarsa ini merupakan bentuk penghormatan yang tulus atas kesungguhan dan …

Share on FacebookBagikan Ke Facebook

Baca artikel lainnya »

Pengunjung

Kunjungan hari ini : 225
Pengunjung Yang Online : 0
Member online: 0
IP anda : 38.107.191.112

Member

  • Register
  • Log in
  • Entries RSS
  • Comments RSS
  • WordPress.org

Blogroll

  • Tarombo Online
  • Simanjuntak
  • Bungaran Simanjuntak
  • Radio Komunikasi
  • LSPL
  • Poltak Simanjuntak
  • Boru Simanjuntak
  • Pasar Souvenir
  • Matasaya Photography

Komentar Terbaru

  • ivan palar sihotang on Raja Sihotang
  • kuat ku on Lirik Lagu Didia Ho
  • Nurman Jaman on KEKERASAN OKNUM ANGGOTA TNI TERHADAP TIGA ORANG MASYARAKAT SIPIL
  • samuel siregar on Asal-usul Batak
  • darwin wislan simanjuntak on Tarombo Online Simanjuntak Sitolu Sada Ina
  • Icha on Asal-usul Batak
  • ganda putra simangunsong on Letkol Cba Ganda Simanjuntak SSos Kabekangdam I/BB yang Baru
  • Juliansen Simanjuntak on Sejarah Simanjuntak
  • Man Manal on Asal-usul Batak
  • Louren Simanjuntak on Pola Unik Hubungan Simanjuntak – Sihotang

 

sektor31member.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 makan.jpg 1-peserta-bonataon.jpg rapat-koordinasi2.jpg survey-tempat1.jpg lombalukis.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008

 

ketuapanitia.jpg 2.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 18.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 21-korwil-1-ir-j-simjtk-sdg-mangolopi.jpg gm-psssibb.jpg

 

Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 karaokeama.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 13-tor-tor-paniroi-dipimpin-l-simjtk.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 17-mantan-ketum-l-simjtk-saat-mangolopi.jpg swandi.jpg parhobas.jpg tingkapopen.jpg
Powered by WordPress | Log in | Entries (RSS) | Comments (RSS) | theme by Bungaran Simanjuntak