|

Mengenang Kepahlawanan Kapten H.S. Simanjuntak & Lettu Liberty Simanjuntak

Perjuangan  Putra Tampahan -  Balige di Bumi  Sriwijaya

Pendahuluan

Dalam rangka menelusuri hari lahir Punguan Simanjuntak Sitolu Sada Ina & Boruna (PSSSI-B) Kota Palembang – Sekitarnya, yang diperkirakan sudah berdiri Tahun 1957, dipandang perlu mengenang Kapten H. S. Simanjuntak (1925 – 1952) dan Letnan Satu Liberty Simanjuntak (1925 – 1949).

Sejarah perjuangan mereka di Bumi Sriwijaya, menjadi suatu bukti bahwa jauh sebelum tahun 1957 ternyata keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina sudah demikian menyebar hingga ke Kota Palembang ini. Kiprah putra-putra Tampahan Balige ini, tercatat dalam tinta emas sejarah perjuangan rakyat Sumatera Selatan yang heroik dan patriotik pada masa Revolusi Fisik mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Berkat kepahlawanannya, nama Kapten H.S. Simanjuntak diabadikan sebagai nama ruas jalan di Kota Baturaja – Ibukota Kabupaten OKU. Demikian pula nama Letnan Liberty Simanjuntak diabadikan sebagai nama ruas jalan di kota Palembang. Namun, karena minimnya catatan sejarah, banyak yang belum mengetahui kiprah mereka. Siapa mereka dan bagaimanakah peranan mereka dalam perjuangan rakyat Sumatera Selatan?

Kalau masyarakat dan Pemerintah Sumatera Selatan begitu bangga dan menghargai perjuangan mereka, bagaimana dengan kita yang masih satu garis keturunan? Sebagai keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina, apalagi berdomisili di Palembang sekitarnya, sudah saatnya kita menggali sejarah untuk mengenal dan mengetahui kiprah mereka lebih dekat.

Letnan Satu Liberty Simanjuntak : Gugur di Tanjung Agung Liberty Simanjuntak, lahir tahun 1925 di Tampahan Balige. Anak kedua dari delapan bersaudara, putra dari Karmidin Simanjuntak br Gultom, yang berdomisili di Tampahan Balige – Sumatera Utara. Liberty, adalah saudara kandung dari H. Pahala Simanjuntak, S.E., M.M., mantan Dirut Bank Sumsel (H. Pahala adalah anak keempat).

Masa kecilnya dijalani Liberty di Tampahan, dengan menyelesaikan Pendidikan SR di Tampahan dan SMP di Soposurung Balige. Diperkirakan awal 1940-an, Liberty meninggalkan tanah kelahirannya menuju Palembang. Memulai karier militernya dengan mengikuti Pendidikan Opsir Muda (POM) di Pebem, Palembang dari tanggal 15 Pebruari – 21 Juni 1946. POM adalah lembaga pendidikan perwira Tentara Rakyat Indonesia di bawah Komando Panglima Divisi II (Kolonel Hasan Kasim).

Pada waktu masih Taruna POM, beliau bersama Taruna lainnya sudah terlibat kontak senjata melawan pasukan Sekutu (Inggris dan NICA) sebanyak dua kali, yaitu akhir Maret 1946 dan April 1946. Dalam pertempuran itu, tempat pendidikan POM rusak berat sehingga harus dipindahkan. Selesai pendidikan, beliau bertugas di Sektor Tengah Sub Teritorial Palembang Sektor Tengah Sub Teritorial Palembang bertanggungjawab atas wilayah sepanjang Sungai Lematang, Sungai Komering, Sungai Ogan dan Sungai Enim.

Pernah bertugas di Batalyon 16 dengan Jabatan Komandan Seksi II di bawah pimpinan Komandan Kompi VI HS Simanjuntak dan Komandan Batalyon Kapten Rasyad Nawawi (dan masih satu Batalyon dengan Letnan Satu Yahya Bahar). Sejak itu, Liberty gigih berjuang menghadapi militer Belanda bersama kesatuannya di daerah Muara Enim, Semendo, Muara Dua, Lahat dan Pagar Alam dengan mengembangkan taktik Perang Gerilya.

Dalam perkembangan di wilayah perjuangan, terakhir beliau menjadi Komandan Batalyon Gagak Hitam. Pertempuran yang paling berkesan bagi kesatuannya adalah pertempuran di Tanjung Agung pada tahun 1949, karena berlangsung cukup lama dari pukul 04.00 hingga pukul 20.00. Namun, dalam pertempuran tersebutlah gugur Letnan Satu Liberty Simanjuntak. Beliau gugur sebagai kesuma bangsa. Kini di lokasi pertempuran itu, didirikan Tugu Peringatan Gugurnya Liberty Simanjuntak.

Pada tahun 1950, Pemerintah memindahkan tulang belulang almarhum dari Tanjung Agung ke Taman Makam Pahlawan Ksatria Seta Siguntang di Palembang. Orangtua almarhum, Karmidin Simanjuntak, diundang hadir. Almarhum dianugrahi Tanda Jasa Bintang Gerilya. Kini nama almarhum diabadikan sebagai nama Jalan persis di samping TMP Kstaria Seta Siguntang Palembang. Kapten HS Simanjuntak : Si Harimau Malaya Nama lengkapnya Hasudungan Sopar Simanjuntak, lahir tahun 1925 di Tampahan Balige. Adik kandung dari Johanes Simanjuntak br Sibarani (Tokoh Pendiri PSSSI-B Palembang).

Karier militernya dimulai dengan mengikuti Pendidikan Opsir Muda (POM) di Pebem, Palembang dari tanggal 15 Pebruari – 21 Juni 1946, satu angkatan dengan adiknya, Liberty Simanjuntak. Tugas militer yang dijabatnya adalah Komandan Kompi VI Batalyon 16 / Sub Teritorial Palembang di bawah pimpinan Komandan Batalyon Kapten Rasyad Nawawi (pada waktu itu Letnan Satu Yahya Bahar adalah Komandan Kompi III), yang bertanggungjawab atas wilayah sepanjang Sungai Lematang, Sungai Komering, Sungai Ogan dan Sungai Enim. Selanjutnya menjadi Komandan Batalyon Patriot Indonesia, dengan Wakil Komandan BT Tobing.

Di medan perjuangan, beliau dikenal sebagai Si Harimau Malaya. Gelar ini muncul karena kegigihannya mengusir Militer Belanda, tegas dan tidak mau kompromi dengan musuh untuk menegakkan kedaulatan Republik Indonesia. Almarhum HS Simanjuntak sangat berperan dalam operasi pertempuran menghalau Agresi I dan II Belanda, terutama di Ogan Komering Area, Gunung Batu, Semendo, Pasemah, Lematang Ogan, dan Enim Kisam. Almarhum menjadi korban peristiwa 17 Oktober 1952, yaitu peristiwa KSAD (Kolonel AH Nasution) dan 7 Panglima Teritorial meminta DPRS dibubarkan, karena terlalu mencampuri urusan Angkatan Perang RI.

Desakan ini diikuti demonstrasi rakyat, namun sejarah mencatat, bahwa Presiden Soekarno menolak untuk membubarkan DPRS, dan melakukan tindakan pemberhentian AH Nasution dari KSAD dan meniadakan jabatan KSAP untuk menyingkirkan Mayjen TB Simatupang, yang mengakibatkan kegentingan yang mengarah perang saudara di tubuh TNI AD, terutama di TT 2 / Sumbagsel, TT 5 / Jawa Timur dan TT 7 / Sulawesi Selatan. Pada situasi genting itulah, mengakibatkan tertundanya penggantian Komandan Batalyon di TT 2 dari Kapten Bargowo kepada Letnan Satu HS Simanjuntak.

Pada hari Minggu, tanggal 23 Nopember 1952, terjadi tindakan pembebasan Panglima TT 2 dari Letnan Kolonel Kosasih oleh Letnan Kolonel Kretarto secara sepihak tanpa koordinasi dengan pemerintah. Untuk mengatasi hal itu, almarhum menghadap Panglima TT 2 Letkol Kosasih, untuk menerima perintah mengambil tindakan atas aksi Letkol Kretarto. Akan tetapi Letkol Kosasih tidak bersedia, dengan alasan pemerintahlah yang akan menyelesaikannya.

Pada hari Senin, tanggal 24 Oktober 1952, almarhum akhirnya bunuh diri dengan menembak diri sendiri di kamar rumahnya. Di bawah bantalnya terdapat Kitab Injil dan secarik surat yang berisi bahwa almarhum mendahului teman-temannya untuk menghilangkan kecurigaan kepada dirinya dan meminta agar peristiwa 17 Oktober 1952 segera diselesaikan tanpa menimbulkan permusuhan dan perpecahan. Almarhum berpesan bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945 sudah cukup dan lengkap sebagai landasan untuk meneruskan perjuangan agar di Indonesia terjalin ketentraman dan hidup rukun damai.

Putra Tampahan itu akhirnya menghadap Tuhan, seluruh rakyat Sumatera Selatan berkabung, Menteri Dalam Negeri Mr Moh Roem dan Pemerintah Sumatera Selatan memutuskan supaya setiap kantor mengibarkan bendera setengah tiang. Jenazah alamarhum dimakamkan dengan segala penghormatan militer, bahkan namanya diabadikan menjadi nama ruas jalan di Baturaja, ibukota Kabupaten OKU.

Di Jalan HS Simanjuntak – Baturaja ini berdiri megah Hotel Horison.

Sumber : DHD – 45 Provinsi Sumatera Selatan. 2003. Sejarah dan Peranan Sub Komando Sumatera Selatan Dalam Perjuangan Rakyat Sumbagsel (1945 – 1950). Palembang : CV. Komring Jaya Putra. Nasution, A.H. 1983. Memenuhi Panggilan Tugas. Jilid 3 : Masa Pancaroba Pertama. Jakarta :

  • dolfi simanjuntak

    saya sbg org muda sdh bangga dgn marga simanjuntak yg ada dibelakang nama. Memperoleh kisah kepahlawanan simanjuntak semakin memicu kami untuk berjuang menharumkan marga. Semoga semakin banyak literatur mengenai sumbangsih dan kontribusi simanjuntak pada bangsa ini. Terima kasih atas informasinya.

    December 23 2009
    CommentsLike

    • Sejarah ini sungguh sangat mengugah hati terutama warga keturunan Simanjuntak, sehingga dapat membuka satu wawasan, pengetahuan bahwa Simanjuntak telah mengambil satu bagian perjuangan di Daerah Palembang,generasi selanjutnya kiranya dapat memberi andil untuk kemajuan Palembang.

      November 03 2009
      CommentsLike

      • Terima kasih Uda Poltak, saya S.16 lahir diTampahan juga menganggap Sophar dan Liberti Simanjuntak, termasuk Cornel Simanjuntak pada Zamannya hingga kini walaupun sudah anumerta mengharumkan marga Simanjuntak, khususnya PSSSI. Horas

        October 29 2009
        CommentsLike


        Recently Commented