Adekku Aku merindukanmu

1
548

Oleh : Farida Simanjuntak

Tanggal 04 Juni 2000, tepat 9 tahun lalu adekku Brata Mangapul Simanjuntak meninggalkan kami untuk selamanya… Sampai saat ini,duka itu masih terasa.. WAlau dalam kesendirian, aku selalu mengenangnya… Terkadang rasa rindu yang luar biasa memaksaku untuk mengambil fotonya dan “berbicara” dengannya.. Semua perasaan yang kupendam, kucurahkan.. Aku tahu, dia pasti mendengarku..

Adekku, maafkan kakak yang masih belum bisa tersenyum setiap mengenang dirimu.. Aku selalu berusaha tegar melalui tanggal 04 Juni dan 27 November tiap tahunnya, karena aku takut air mata itu masih selalu menetes… Aku belum bisa menepati janjiku.. Aku ingin tersenyum mengenangmu, tapi rasa kehilangan itu masih kuat mengekang perasaanku….

BAgi sebagian teman-teman mungkin sudah pernah membaca kisahku ini di Bataknews atau Blogberita… YAng kutuliskan saat peringatan ulang tahun Brata ke 23 tahun, 27 November 2007… Adekku… setidaknya, tulisan ini akan mewakili perasaan bersalah, kehilangan, duka dan kebahagiaan yang kurasakan karena memiliki adek sehebat dirimu…

Adekku.. Aku tahu, kau pasti bahagia di rumah Bapa… Sampai kapan pun, kami selalu mengasihimu, merindukanmu dan mengenangmu…. Saatnya akan tiba, kita akan bertemu lagi di rumah Bapa….
Brata.. kakak sayang dan merindukanmu…. Maafkan kakak masih selalu menangis….
——————————————–
27 November 2007
HUJAN YANG MEMBASAHI bumi dari pagi di hari Minggu membuatku malas untuk beraktivitas. Untuk mengusir kejenuhan aku mendengarkan lagu-lagu Batak. Tak terasa sudah bulan November, musim hujan sudah mulai datang (pantesan grup musik Guns N Roses menciptakan “November Rain”) Tiba-tiba perasaanku sangat sedih dan tanpa kusadari air mataku menetes.

Yah, aku menangis dan tidak bisa ku tahan, aku sampai sesegukan. Lagu itu… Membuatku mengingatnya lagu.. Lagu yang mengantarnya ke rumah terakhirnya. ” Nahinali Bakkudu”, lagu yang sampai detik ini mamaku sangat benci mendengarnya karena akan membuatnya menagis dan berduka lagi, lagu yang membuatku merasakan jasadnya seolah masih di depanku.

Ingatanku melayang ke masa 7 tahun lalu. “Aku sangat membencimu! Aku menyesal pernah punya adik sepertimu.. Kau hanya orang paling bodoh di dunia ini…Dasar pencuri !” Pagi itu teriakanku sudah memecah keheningan di rumah kami. Dengan kasar kurebut kostum Tim Azzuri favoritku dengan nama Del Piero dari tangan adekku Brata. Emosiku sangat memuncak, ingin rasanya kuhajar dia, seperti dulu tapi dia sudah jauh lebih tinggi dariku, jadi mudah aja baginya mengelak.

Entah mengapa, dari mulai anak-anak kami berdua tidak pernah akur. Selalu bertengkar bahkan baku hantam. Tidak jarang bibirnya atau bibirku berdarah. Setelah itu kami akan dihukum tapi lebih sering aku yang kena akibatnya dari bapakku. Kebencianku makin menumpuk. Penyesalan karena punya adik sepertinya. Mungkin karena dia anak laki-laki paling besar dan ditunggu makanya keluarga besarku sangat sayang. Padahal bagiku dia sangat bodoh dan nilainya selalu memalukan. Dibandingkan nilai kakak dan adiknya, dia hanya akan jadi pelengkap penderita.

Sejak dia lahir, aku merasa makin tidak adil. Kenapa bapak selalu memanjakannya yang bagiku sangat bodoh dan sering marah padaku padahal prestasiku baik. Aku tumbuh jadi pemberontak kecil dan penuh kebencian saat melihatnya.

Seperti pagi itu, saat kujumpai kaos Del Piero yang baru dibeli bapak tapi sudah hilang. Dan aku menjumpai di dalam lemarinya yang selalu berantakan. Dengan kesal kuhantamkan baju itu ke badannya. Aku siap-siap menerima aksi balasan darinya. Tapi dia hanya diam dan memandangku dengan tatapan yang lain dari biasanya. Tatapan yang sangat sedih.

“Ada apa ini ? pagi-pagi udah ribut lagi kalian berdua. Sudah besar tapi tidak ada malu …” Ternyata bapakku terbangun mendengar teriakanku.

“Kenapa kakak sangat membenciku ?” Aku terkejut mendengar pertanyaan yang sangat pelan itu.. Aku merasa emosiku tibaa-tiba seperti diserap oleh kata-kata yang dia lontarkan… Kami semua terdiam. Aku menundukkan kepalaku, rasanya tenagaku habis.

“Sudah, cepat mandi nanti terlambat ke sekolah” Bapak yang juga terkejut dengan pertanyaan adekku, menyuruh kami bersiap-siap.

Di sekolah aku tidak bisa konsentrasi… Pertanyaan adekku terus terngiang dan aku merasa hatiku sangat hampa. Yah… kenapa aku sangat membencinya selama ini ? Dia tidak pernah mengganggu siapa pun. Dia jenis orang yang sangat pendiam dan mungkin terlalu introvet.

Keesokan harinya aku berangkat ke Siantar untuk Retreat dari sekolah selama 3 hari. Selama itu juga batinku mengalami pergolakan yang luar biasa. Aku sangat merindukan adikku dan ingin minta maaf. Sepulang dari retreat, aku berlari ke rumah dan mencarinya. Begitu pintu kubuka, dia sedang duduk sambil memainkan keybord kesayangannya. Begitu dia lihat kehadiranku, dia langsung berdiri sambil menundukkan kepala dan berjalan keluar.

Mendekati pintu, aku memanggilnya. “Brata….” lidahku rasanya kelu dan tidak bisa mengucapkan apa-apa. “Hm…” jawabnya sambil terus menundukkan kepala. Aku ulurkan tanganku, “Kakak minta maaf”. Hanya itu kata-kata yang mampu kuucapkan.

Dia memandangku dengan terkejut dan seperti tidak percaya. Aku meraih tangannya dan kami bersalaman. Tanpa mengucapkan apapun, dia pergi. Beberapa hari kemudian, ompung boruku menyuruh bapak membawa adekku berobat ke dokter spesialis di siantar karena dia terlalu sering sakit dan batuk. Aku mulai merasa tidak tenang tapi ada kebahagiaan kurasakan, Brata mulai sering mengajakku berjalan-jalan naik sepeda motor kesayangannya dan kami mulai sering bercanda.

Bapak dan mama membawanya ke Siantar, malam harinya sepulang berobat aku melihat mereka seperti berunding. Tapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Keesokan harinya, bapak minta ijin dari kantor dan membawa Brata ke medan. Kata mama sebelum mereka berangkat, dokter di Siantar curiga ada seperti daging di paru-paru adekku. Seminggu lebih mereka di medan dan aku sibuk dengan persiapan Ebtanas dan mengurus 2 adekku yang lain juga ompungku. Setelah hampir 2 minggu di Medan, mereka pulang tapi hanya mau mengambil barang-barang karena keesokan harinya mereka harus ke Medan lagi dan langsung berangkat ke Jakarta. Tapi tidak ada yang mau memberitahuku, sakit adekku.

Sebelum berangkat, Brata minta ijin supaya dia bisa memakai kaos azzuri, tanpa merasa berat hati aku beri kaos kesayanganku itu. Tapi dia tertawa dan bilang sudah punya yang baru, yaitu Inzaghi. “Jadi nanti kita main sepak bola lagi ya kak, kita jadi tim tangguh. Aku ganteng kan seperti Inzaghi? Makanya rambutku ku potong pendek seperti dia.Tapi mana ada Del Piero jadi kiper? Biasanya kakak kan jaga gawang kita, tapi jadinya berantem melulu sama anak tetangga.”

Kami tertawa bersama dan saling meledek. 2 bulan mereka di Jakarta dan aku tidak tahu ada apa dengan dia. Tiba-tiba aku menerima kiriman uang Rp 50.000 yang Brata kirim dari sebagian pemberian orang yang menjenguknya. Hatiku makin tidak tenang. Bersama uang itu dia kirim surat yang kata mama dia tulis dengan menahan sakit yang luar biasa.

“Aku minta maaf selama ini banyak salah. Tolong doakan supaya aku cepat sembuh.”

Tanpa sengaja, seorang saudara keceplosan cerita kalau Brata sakit kanker paru-paru dan parah. Aku sangat terkejut, langsung aku berlari ke rumah Inanguda yang menjaga kami. Aku tanya dia, tapi inanguda pura-pura sibuk dan menyuruhku pulang. Sambil menangis aku telepon malam itu juga ke Jakarta.

“Mama ga perlu bohong lagi, Brata sakit kanker kan? Kenapa mama jahat, merahasiakan dari aku?”

“Ini semua Brata yang minta, dia mau Farida lulus Ebtanas dan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Dia bilang sayang sama farida.”

Sejak itu, Brata tidak mau bicara denganku. Hari terakhir Ebtanas, mereka pulang ke Medan. Katanya mau berobat di Medan. Hari yang mendebarkan, setelah 2,5 bulan aku akan berjumpa Brata. Dengan semangat aku memasaak kue bolu yang sangat disukainya. Bertiga dengan adekku yang di Balige kami buat sampai karton pembungkusnya. Sampai di rumah Paktua, aku ke dapur dan melihat bapak yang rambutnya sudah memutih dan kurus. Langsung bapak ku peluk dan dia menanyakan ujianku.

Waktu aku mau masuk ke kamar, bapak mengatakan adekku tidak bisa lagi makan apapun. Dan yang terpenting jangan menangis karena dia sangat benci orang menangis. Aku kuatkan hati dan memaksa untuk tersenyum. Kulihat Brata terkejut melihatku dan mukanya ditutupi.

“Keluar..” Teriaknya.

Mama memberiku tanda supaya keluar. Aku menangis dan menutup pintu. Akhirnya, mama menyuruhku masuk. Ternyata dia baru menangis. Sambil mengusap tangannya aku mulai cerita yang lucu-lucu tapi dalam hati aku menangis. 2 minggu aku merawatnya di rumah dan akhirnya masuk RS Herna karena kondisinya kian memburuk.

“Aku baru menyadari ternyata kakak sangat baik dan aku menyayangi kakak.” Tiba-tiba Brata mengatakannya padaku sehabis aku membantunya buang air kecil. (Brata sudah tidak bisa apa-apa lagi, bahkan untuk memalingkan muka harus dibantu).

“Aku juga sangat menyayangimu dan bangga punya adek seperti Brata.”

4 Juni 2000 pukul 10.00 Brata tiba-tiba sesak nafas dan muntah. Karena malamnya dia mencuri-curi memakan kepala ikan mas arsik, makanan favoritnya. Dan saat itu dia mengatakan sangat puas dan yakin esok hari pasti akan sembuh.

Sebelum dibawa ke ICU, dia minta aku memimpin doa untuknya. Sambil menangis aku berdoa untuknya. Selama di ICU aku menemaninya dan Brata selalu mengenggam tanganku walau matanya tertutup. Kadang air mata menetes dari kedua matanya. pukul 4.55 Brata mulai gelisah dan jantungnya makin melemah. Tim dokter mulai memompa jantungnya. Aku lari keluar dan memanggil bapak dan mama. Mereka masuk ke ICU, saat bersamaan tanteku mengajak untuk menelepon keluarga yang lain.

Rasanya hanya 5 menit aku keluar, saat aku masuk ke ICU aku lihat bapak memeluk mama yang menangis sambil memanggil nama Brata. Dokter sedang mencabut semua selang dan alat bantu pernafasannya. Aku mendekatinya dan memanggilnya.

“Pak, adek sudah sembuh? Mau pulang sekarang?”

“Far, adek sudah pergi. Adek pulang ke surga.”

Dengan emosi aku mulai menarik badan Brata untuk duduk, aku tidak percaya. Hanya 5 menit, dia tidak mau menungguku. Aku histeris dan teriak merasa dibohongi mereka. 2 satpam datang dan menarikku keluar.

Saat itu gerimis seolah-olah mewakili kedukaan yang dirasakan keluarga kami. Pukul 5.00 WIB Brata pergi untuk selamanya tanpa mau menungguku. 3 hari Brata disemayamkan di rumah dan selama itu juga lagu Nahinali Bakkudu dinyanyikan di rumah kami. Karena kata Bapak, sewaktu sakit, Brata sangat menyukai lagu ini. Dan pernah sambil bercanda dia minta kalau tiba-tiba meninggal, lagu ini mengiringi kepergiannya. Sejak saat itu, dia selalu menyanyikan atau mendengar lagu ini.

Ah…. tidak terasa, duka itu membuatku menangis dan menyebut namanya. Padahal, Brata selalu berpesan, “Aku benci dengan air mata, jangan pernah menangis untukku karena aku tidak akan mati karena sakit ini. Justru penyakitku akan kumatikan.”

Maafkan aku dek, karena masih terus menangis dan belum bisa jadi kakak yang baik. 27 November ini, ulang tahunmu yang ke 23 tahun. Bagi orang lain kau sudah meninggal tapi bagiku kau masih hidup dan sedang berada di suatu tempat yang jauh.

Seperti tahun-tahun yang lalu, aku pasti akan merayakan ulang tahunmu walau sendiri. Brata memang spesial bagiku karena 27 November 2004 aku wisuda, itu kadoku untuknya. Selamat ulang tahun adekku… Semoga damai dalam tidur panjangmu… Suatu hari nanti kita pasti berjumpa. Semoga aku bisa menerima kepergianmu… Suatu hari nanti…

NA HINALI BANGKUDU

Na hinali bangkudu da sian bona ni bagot
Beha ma ho doli songon boniaga so dapot
U-e amang doli, o amonge
Boniaga so dapot, langku do pe masa onan
Beha ma ho doli tarlompo ho parsombaonan
U-e amang doli, o amonge
Atik parsombaoanan dapot dope na pinele
Beha ma ho doli songon buruk buruk ni rere
U-e amang doli o amonge
Mate ma ho amang doli
Mate di paralang alangan da amang
Mate di paraul aulan

1 COMMENT

  1. I’m so sad to hear that
    i pray to you to you can stron evywhere to attack yor problem

    by:andrean in london

LEAVE A REPLY