Walau Sudah Ditunda, Saksi Pelapor Naransami, SH Tetap Tidak Bisa Menjawab Hakim dan Pengacara

5
468

JuntakNews (Medan) Sidang pemeriksaan saksi atas nama Naransami, SH Ketua PHDI Sumut yang tertunda akhirnya digelar Senin (25/05) di Ruang Sidang Cakra V PN Medan. Pengacara, terdakwa, pelapor dan puluhan orang simpatisan Moses terlihat sudah bersiap-siap sejak pukul 10.00 wib, ternyata sidang baru dimulai pukul 17.00 wib.

Mengawali persidangan Ketua Majelis Hakim Inang Kaswaty, SH mengingatkan Saksi Pelapor atas isi sumpahnya pada sidang sebelumnya–”akan berkata benar”–dan di-iyakan oleh saksi pelapor Naransami, SH yang tampak didampingi oleh 3 (tiga) orang kerabatnya.Pertanyaan pertama yang disampaikan hakim adalah “pertanyaan yang ditunda jawabannya” pada Sidang Pemeriksaan Saksi Pelapor Senin (11/05).

Kepada Saksi Pelapor, Naransami, SH yang Ketua PHDI Sumatera Utara, Ketua Majelis Hakim, meminta agar menunjukkan bagian dalam Kitab Suci Agama Hindu “Veda”, yang diterjemahkan secara salah oleh Moses Alegesan, sehingga didakwa sebagai perbuatan menista agama.

Tidak berbeda dengan sidang sebelumnya, saksi pelapor ternyata tidak mampu menjawab permintaan hakim, dengan berdalih bahwa dirinya tidak mengerti banyak mengenai isi Kitab Suci Veda, tetapi ada orang yang lebih memahaminya dengan menyebutkan 2 (dua) nama, yaitu : Agus Sumantri Mantik (Ketua II PHDI Pusat) dan I Nengah Dana (Sekum PHDI Pusat). Kedua nama ini diketahui merupakan saksi dari pihak pelapor yang diperiksa di Poltabes Medan pada tanggal 29 Oktober 2009.

Terhadap jawaban saksi pelapor ini, Majelis Hakim secara bergantian mengulangi pertanyaan seolah memperjelas maksud pertanyaan agar lebih dipahami saksi pelapor. Ternyata, jawaban saksi pelapor tetap saja, tidak bisa menunjukkan bagian Veda yang diterjemahkan oleh Moses Alegesan dan ditengarai menjadi sumber keresahan Umat Hindu itu.

Dua hakim anngota Inrawaldi, SH, MH dan Ahmad Semma, SH, secara bergantian melemparkan pertanyaan seputar pengetahuan saksi pelapor mengenai buku yang menjadi sumber penerjemahan terdakwa.

“Apakah saksi pelapor mengetahui dan pernah melihat buku asli yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Moses? Apakah saksi pelapor mengetahui dari Bahasa mana, Moses menerjemahkan ke Bahasa Indonesia?”
tanya Ahmad Semma, SH, sambil menunjukkan makalah versi Bahasa Inggris.

“Saya tidak pernah melihat aslinya dan tidak tahu diterjemahkan dari bahasa apa”, jawab Naransami.

Merasa cukup menyampaikan pertanyaan, majelis hakim mempersilahkan JPU Henri Sucipto Sirait, SH untuk bertanya kepada saksi pelapor. Pertanyaan yang diajukan JPU seputar isi BAP yang sudah ditandatangani oleh Saksi Pelapor dimana salah satu isinya menyatakan bahwa Saksi Pelapor mengetahui sumber buku yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris terbitan tahun 1958 dengan judul “Manu A Code Injustice to Non-Brahmins” dan dikarang oleh seorang Tamil bernama Periyar Venkata Ramasami yang beraliran komunis dan sudah dilarang di India dan di Indonesia. Sementara, kepada hakim saksi pelapor mengatakan tidak mengetahui sumber terjemahan itu.

Jawaban yang berbelit dari saksi pelapor akhirnya mendapat perhatian dari majelis hakim dan pengacara Moses, dengan mempertanyakan “Apakah Saksi Pelapor, dapat menunjukkan larangan terhadap makalah Manu A Code Injustice to Non-Brahmins yang dikarang Ramasami itu di India maupun di Indonesia?

Saksi Pelapor dengan keyakinan yang tinggi mengatakan bahwa larangan itu sudah ada, namun bentuk dan isinya ada pada Pengurus Pusat PHDI yang menurutnya siap untuk diminta memberikan kesaksian pada sidang berikutnya.

Pertanyaan akhir berasal dari seorang pengacara Moses, Wanrinson Sinaga, SH tentang isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) atas nama Naransami, SH yang salah satu keterangannya menyatakan bahwa “Penerjemahan ajaran Agama Hindu yang isinya menyesatkan tidak sesuai dengan isi ASLI KITAB AGAMA HINDU Manawa Darmasastra, sementara kepada majelis hakim saksi pelapor tidak dapat menunjukkan isi asli kitab Agama Hindu yang dimaksudkan.

“Apakah saksi pelapor ketika diperiksa di Poltabes Medan ada menyatakan sebagaimana isi BAP ini”, tanya Wanrinson sambil menunjukkan dan membacakan ulang isi BAP yang dimaksudkannya.

Pertanyaan ini oleh Majelis Hakim diperjelas dan diminta kepada Saksi Pelapor untuk menjawab dan menjelaskan. Ternyata, Saksi Pelapor menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui bahwa keterangan itu, ada di BAP yang sudah dia tandatangani, walau diakuinya bahwa Juru Periksa meminta kepadanya untuk membaca ulang sebelum penandatanganan BAP ketika itu.

Dari persidangan ini terlihat jelas betapa Saksi Pelapor tidak menguasi materi yang dilaporkannya sehingga menyeret Pastor Moses Alegesan ke kursi pesakitan dengan tuduhan Pelaku Penistaan Agama.

Sebelum menutup persidangan, ketua majelis hakim mengingatkan agar pelaksanaan sidang berikutnya Senin (01/06) dapat dilakukan pada pagi hari pukul 10.00 Wib. Peringatan ini tentunya sangat tergantung pada kehadiran JPU yang sering menjadi alasan penundaan waktu dimulainya persidangan.

5 COMMENTS

  1. Menurut hemat saya untuk rekan- rekan saya yang beragama Hindu supaya dapat banyak mendengar dari pada memberi komentar atau statement yang tidak berbobot (Kosong) TONG KOSONG NYARING BUNYINYA. Janganlah menyusahkan orang lain. buanglah “kebodohan” dan belajarlah maka kamu akan menjadi pintar.

    and for you, simanjuntak and gang. SALUT. WE THANKFULL FOR WHATEVER YOU HAVE DONE FOR THIS CASE, GOD WILL BLESS YOU ABANDONTLY WITH LOVE AND PEACE.

    LANJUTKAN!!!!!!!

  2. HORAS….
    Wah,,,,
    seru juga permasalahnnya…
    Tapi sudah jelas bahwa saksi pelapor cuma ‘OMDO – Omong Doang’.
    Pastinya akan seru pada sidang selanjutnya…
    Kita tunggu tanggal mainnya.

    Tapi patut diingat:

    Apa saja yang kita lakukan dengan benar, maka hasilnya akan benar.

  3. Hari ini Senin (01/06) pukul 11.00 Wib, di PN Medan, sidang lanjutan pemeriksaan saksi pelapor akhirnya di tunda hingga Rabu (02/06) sebab JPU justru mendatangkan saksi ahli bukan saksi pelapor. Sementara Majelis Hakim berpendapat masih memerlukan keterangan saksi pelapor sehingga secara lengkap mengetahui gugatan yang dialamatkan kepada Moses Alegesan.

    Sidang berlangsung singkat, hanya 5 menit yang dihadiri 5 orang pengacara Moses dan puluhan orang yang menaruh simpati kepada Moses. Sementara dari pihak pelapor, menghadirkan NI NYOMAN ROJI dari DEPAG.

  4. saya kehabisan kamus untuk merumuskan apa yang harus dikatan terhadap seorang yang katanya “seorang pemimpin” agama tertentu yang mengadukan pastor moses ke lembaga hukum di negeri kita, yang ketika di interogasi oleh majelis hakim, setelah berputar-putar dalam ketidak-tahuannya akhirnya mengaku, saya tidak mengerti… (maksudnya yang mana yang di nista oleh moses dari kitab manu)

    manu sebenarnya adalah buku peraturan yang di buat oleh orang-orang brahman yang menganggap dirinya kasta tertinggi, peraturan peraturan itu di buat untuk kemudahan kemudaha hidup mereka di negeri india serta untuk membodohkan kaum dan bangsa dravida yang adalah penduduk setempat.

    biarlah saudara saudarku yang sedang mendera moses lebih suka belajar dan membaca, jangan sembarang menuduh sesamanya, apalagi kalau anda belum membaca purana dan ithikasam yang jelas menjelaskan ulasan periyar ramasamy yang dituangkannya dalam pidatonya di vaikom tahun 1958 india. jpidatonya beliau itu yang di tulis, pastinya adalah hasil suatu research, penelitiannya dari buku-buku yang berkenan. baca atu bertanya donk jangan bicara doank! malu bertanya sesat di jalan.

    untuk pak moses, kami doakan pak agar segera selesai kasus ini, pastor tetap semangat!

    untuk segenap keluarga besar simanjuntak, I know the word “thank you” is never enough, i just don’t know what better word to express to you for all the support, love, care, concerns, rekaman sidang yang membutuhkan dedikasi, jajanan sembari menunggu dimulainya sidang, minuman dan makan siang, yang telah di berikan, Tuhan Yesus memberkati, and we sure would also pray for you, family and the simanjuntak generation to be a blessing to more and more people! HORAS!
    phylis chu

  5. Menyaksikan persidangan demi persidangan yang selalu dimulai terlambat itu banyak pelajaran dan pengetahuan baru yang kita petik. Dari persidangan ini saya baru mengetahui bahwa seseorang yang menggugat atau melaporkan seorang yang lain tidak perlu mengetahui fakta apa yang dilaporkannya.

    Pelajaran lain, bahwa saksi yang disumpah bisa juga menjawab sekenanya dan cenderung memberikan jawaban yang hanya memberatkan si terdakwa tanpa pernah berfikir bahwa kesaksian bohong dapat menyeretnya menjadi tersangka baru.

    Pengakuan Saksi Pelapor, Naransami, SH yang menyatakan bahwa tidak paham dengan isi gugatan JPU tentu dengan sendirinya telah membatalkan gugatan itu sendiri sebab sudah nyata bahwa apa yang dituduhkan terhadap Moses sebagai “penistaan” agama, hanyalah persoalan “tidak suka” saja.

    Saya sendiri mulai menganalisis kasus ini secara sederhana. Tuduhan penistaan agama bagi seseorang yang hanya, sekali lagi hanya menerjemahkan sebuah makalah dan tidak pernah disebarluaskannya adalah kesia-siaan. Sebab, jika isi terjemahan itu mengandung unsur penistaan tentu yang bertanggungjawab terhadap isinya bukan si penerjemah, namun penulis makalah.

    Penyebarluasan terjemahan juga, tidak berarti apa-apa sebab penerjemahan dan penyebarluasan sebuah makalah tidaklah mengandung pelanggaran hukum. Apalagi, Moses tidak dalam posisi si penyebar terjemahan ini.

    Alangkah baiknya jika kasus ini menjadi pelajaran baru bagi kita semua dalam membangun pemahaman bersama tentang “hidup berdampingan” walau berbeda agama dan kepercayaan. Hidup berdampingan juga dimungkinkan untuk saling memberi kritikan tanpa ketakutan dituduh sebagai penista.

LEAVE A REPLY