Pendampingan Berkat Hutauruk, Siapa Melakukan Apa?

1
454

*Laporan Pendamping : Eliakim Sitorus dan Poltak Simanjuntak

Miskomunikasi antara keluarga Berkat Hutauruk dengan Manajemen RSU Pirngadi menjadi perhatian bagi pihak-pihak yang peduli dengan kondisi Berkat dan saudara-saudaranya. Sepihak diketahui dari keluarga Berkat yang sehari-hari merawat dan mengasuhnya di Rumah Sakit bahwa pihak RSU Pirngadi memberlakukan pembatasan kepada orang-orang yang mau menyalurkan bantuan kepada Berkat.Bahkan lebih jauh, pihak keluarga menengarai bahwa pihak manajeman RSU Pirngadi berupaya mengambil alih penerimaan bantuan dari pihak-pihak yang bersimpati. Kondisi ini sepertinya benar ketika Pengurus GM-PSSSI&BBI berkunjung ke Ruangan III RSU Pirngadi menjenguk Berkat. Seorang SATPAM langsung mendatangi kami dan menyampaikan bahwa wartawan tidak bisa meliput dengan alasan sesuai dengan perintah pihak manajemen.

Cerita lain, bahwa suatu ketika pihak perawat meminta Afles, abang kandung Berkat, untuk menandatangani “sesuatu”. Di tengah kekisruhan informasi ini, terselip kekhawatiran akan kelangsungan perawatan Berkat baik selama di RSU Pirngadi, maupun jika sudah diperbolehkan pulang. Dan kekhawatiran itu bertambah ketika dikaitkan dengan kelangsungan hidup ketiga saudara Berkat yang ditinggal yatim piatu oleh kedua orangtuanya. Berbagai pertanyaan yang butuh jawaban cepat mengemuka.

“Siapa yang akan menanggungjawabi hidup Berkat pasca dirawat di RSU Pirngadi?”
“Bagaimana kelangsungan sekolah dan hidup saudara/i Berkat, yaitu Afles, Sonya, Ruth Tania?”
“Apakah keluarga Berkat yang selama ini merawat Berkat dan ketiga saudaranya, bersedia dan mampu menerima dan memelihara mereka berempat dengan segala konsekuensinya?”
“Bagaimana memastikan bantuan buat Berkat dan ketiga saudaranya, sesuai dengan tujuan si penyumbang?”
“Bagaimana mengorganisir peran-peran perorangan maupun lembaga yang berkeinginan kuat memberi dukungan terhadap Berkat dan saudaranya?”

Pertanyaan ini sepertinya menjadi topik penting yang harus dicari jawabannya, paling tidak oleh pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam mengelelola dukungan buat Berkat dan saudranya. Terhadap pertanyaan ini, Eliakim Sitorus, Prof. BA. Simanjuntak, Komite AIDS HKBP, Pengurus GM-PSSSI&BBI melakukan pertemuan Sabtu (02/05).

Dari pertemuan ini diperoleh gambaran bahwa Penderitaan Berkat yang sudah di blow-up sedemikian rupa baik oleh pihak Surat Kabar, Televisi, Milis-milis dan Web Site Simanjuntak, telah berhasil mengundang simpathy dan empathy banyak pihak.

Pihak RSU Pirngadi bersama-sama dengan Medan-Plus sepertinya telah memiliki sikap kesediaan merawat Berkat. Komite AIDS HKBP, telah mengirimkan tenaga pendamping yang sehari-hari membantu perawatan Berkat di Rumah Sakit. Eliakim Sitorus dari Sekber UEM, bersama-sama dengan Prof. BA. Simanjuntak, berperan dalam memberikan asistensi dan sukungan moral bagi Berkat dan keluarga. Sementara GM-PSSSI&BBI, selain berupaya melakukan pengumpulan dana, juga menawarkan pendampingan di bidang hukum (advokasi).

Prinsip yang mengemuka dalam pertemuan ini adalah, bahwa semua pihak yang ingin berbuat sesuatu terhadap Berkat dan saudaranya harus terlebih dahulu mengajak dan meminta pertimbangan pihak keluarga dekat Berkat, yaitu kelompok marga Hutauruk. Dan, untuk kepentingan ini, Eliakim mengusulkan agar dilakukan pembicaraan dan kunjungan ke rumah salah satu keluarga Berkat di Medan yang kemungkinan menjadi salah satu penerima Berkat dan saudaranya untuk di asuh.

Pertemuan Dengan Keluarga Berkat

Bertempat di rumah salah satu bibi (namboru) Berkat di Medan, Minggu (04/05) Eliakim Sitorus dan Poltak Simanjuntak, melakukan pembicaraan dengan pihak Hutauruk. Dalam pembicaraan ini, kembali mengemuka kecurigaan Bibi Berkat terhadap manajemen RSU Pirngadi yang tidak transparan dalam mengelola sumbangan yang ditujukan kepada Berkat.

Pihak Hutauruk yang diwakili oleh Kakek Berkat, menyatakan bahwa keterlibatan pihak-pihak sangat mereka harapkan dan berharap agar dibantu berkomunikasi dengan pihak RSU Pirngadi.

Permintaan pihak keluarga ini, selanjutnya disanggupi oleh Eliakim dengan saran agar pihak keluarga tidak menaruh curiga kepada siapapun termasuk manajemen RSU Pirngadi, sebelum berkomunikasi secara langsung.

Pertemuan dengan Manajemen RSU Pirngadi

Seyogianya pendamping dengan keluarga Berkat berkeinginan bertemu langsung dengan Direktur RSU Pirngadi, Bapak Dr. Umar Zein. Ketika, didatangi ke ruangannya yang bersangkutan ternyata berangkat ke Surabaya, urusan dinas. Kami akhirnya bertemu dengan Sekretaris/Wakil Direktur RS Pirngadi, Moh. Norman, KAHUMAS, drg. Sugianto dan Ka. Perawatan Masnelly Lubis.

M. Hutauruk (Ompu Firman, ompungnya Berkat), Pak Hutabarat (amangborunya Berkat), Eliakim Sitorus, Poltak Simanjuntak, Rudiyard Simanjuntak dan Pandapotan Simanjuntak, SH, diterima pihak manajemen RSU Pirngadi di ruangan tamu Wakil Direktur.

Antara pendamping, keluarga Berkat dengan manajemen RSU Pirngadi, sudah saling bertukar informasi, saling terbuka, menjelaskan posisi masing-masing. Betul bahwa ada nomor rekening yang dibuka atas nama Masnelly Lubis (Ka. Perawatan RSUP) untuk menampung bantuan uang pemerhati Berkat. Ini adalah atas sepengatahuan Direktur RSUP yang memang walau masih baru 8 April menjabat, tetapi karena keahliannya Kedokteran tropik, termasuk AIDS, dia sangat perduli dengan Berkat.

Uang itu akan diserahkan kepada Berkat melalui keluarga yang secara hukum sudah mendapat pengesahan, bahwa dialah betul-betul penangungjawab Berkat dan kakak-kakaknya. Kami beritahu mereka siapa Christina Bangun dan posisinya, kami jelaskan Komite AIDS HKBP.  Poltak menjelaskan usaha fund rising yang  tengah dilakukan di intern Simanjuntak maupun ekstern ke publik pemerhati.

Percakapan masih harus dilanjutkan langsung dengan Direktur RSUP jikalau sudah kembali dari Jakarta, sekitar tanggl 7 Mei 2009. Sebelumnya, hendaknyas sudah jelas siapa yang dihunjuk keluarga menjadi ORANG TUA ASUH BERKAT DAN AFLES, yang kelak akan menerima bantuan untuk digunakan bagi keperluan anak-anak itu.

Sejenak, sejejak langkah lagi buat Berkat, Afles, Sonya dan Ruth sudah terlalui. Akan tetapi nun… di hadapan kita jalan terjal, licin dan berliku kelok masih panjang…”Bagaimana Berkat, Afles, Sonya dan Ruth, tidak harus kehilangan asuhan penuh kasih sayang….”
Saran dan masukan dinantikan dari kawan-kawan…

1 COMMENT

  1. Horas!!

    Jangan lelah berbuat baik. Adalah jamak bahwa perbuatan baik sering menghadapi kendala dari bebagai pihak,baik yang mencurigai atau yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan (mandurung di na litok). Namun, janganlah hal-hal seperti itu membuat kita berbuat baik selama kita yakin bahwa yang kita perbuat dilandasi kasih semata. Jangan pernah lelah menegakkan kebenaran dan keadilan untuk menjunjung kemanusiaan dalam kasih dan ketulusan.

    Maju Terus!!

LEAVE A REPLY