Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, Resensi Buku

19
1482

* Pengarang Prof. DR. Bugaran Antonius Simanjuntak
* Edisi Ketiga, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia (YOI), revisi terhadap edisi satu dan dua.

Awalnya buku ini adalah disertasi Bungaran Antonius Simanjuntak yang merupakan karya akhir mencapai gelar Doktor di Universitas Gajah Mada Mada Yogjakarta tahun 1995, dengan Kata Pengantar dari Prof. Soedjito Sosrodihardjo, SH, MA yang juga salah seorang pembimbing penulis.

buku-bas

Buku ini diterbitkan pertama sekali pada Juni 2001 oleh Penerbit Jendela Yogyakarta, menyusul edisi kedua tahun 2002 di penerbitan yang sama. Penerbitan ulang tentu merupakan salah satu parameter yang menunjukkan betapa tulisan ini merupakan karya yang tergolong baik dan diminati. Peberuari 2009, atas permintaan khayalak pembaca dan keperluan revisi terhadap terbitan pertama dan kedua, kali ini Yayasan Obor Indonesia, salah satu penerbit terkemuka di Indonesia menerbitkan edisi revisi yang justru semakin mengukuhkan kehadiran buku ini sebagai salah satu referensi yang patut dipertimbangkan.

Secara terukur dan berani, buku ini mengungkapkan betapa lembaga agama dan kepercayaan yang diharapkan menjadi lembaga peredam konflik, justru gagal tampil sebagai lembaga pencegah atau pengambil solusi penyelesaian konflik atau rekonsiliasi.

Buku ini mengungkap berbagai kasus yang terjadi dalam tubuh organisasi gereja, semisal konflik di tubuh Hatopan Kristen Batak vs Zending Jerman (RMG) tahun 1917, HKBP vs Zending Belanda tahun 1932, Konflik Status dan Kekuasaan antara Huria Kristen Batak (HKB) dengan Huria Christen Batak (HCB) tahun 1934, Konflik HKBP yang menghasilkan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) tahun 1962 dan terakhir Kasus Perebutan Kekuasaan di tubuh HKBP, tahun 1993.

Sementara pada zaman prs-Kristen, bius merupakan organisasi dan budaya yang sangat efektif meredam konflik. Ketika bius menyelenggarakan upacara tahun baru yang dinamalan mangase taon, maka semua konflik harus dilupakan. Ritus tersebut menciptakan rekonsiliasi.

Dibandingkan dengan pasca memeluk agama Kristen, akibat persaingan dan perebutan kekuasaan di dalam organisasi gereja, justru agama itu menjadi sumber konflik serta melumpuhkan perannya sebagai peredam, walau dalam agama Kristen ada beberapa ritus yang dapat dipakai sebagai media peredam, misalnya Natal, Paskah, maupun Perjamuan Kudus (marulaon na badia).

Ritus-ritus ini hanya bersifat temporer dan kurang efektif dibanding ritus mangase taon dalam meredam konflik.

Penyebabnya yang dikemukakan dalam buku ini ada 3 (tiga), yaitu : Pertama, institusi tersebut tidak mempunyai sanksi (terutama fisik) yang kuat sehingga dapat memaksa untuk melakukan dan mematuhi perdamaian. Kedua, kemajuan pendidikan menimbulkan kesadaran terhadap peranaan peradilan negeri sebagai lembaga penyelesaian konflik terpercaya. Ketiga, semakin merosotnya nilai sosial religius pemimpin gereja akibat ulah pemimpin itu sendiri, sehingga kepercayaan umat berkurang drastis terutama belakangan ini.

Buku ini hadir sebagai referensi atas konflik-konflik yang terjadi dalam struktur masyarakat Batak Toba. Buku ini menjadi penting bagi studi konflik sosial religius untuk siapa saja.

Keseluruhan buku ini terdiri dari xx + 404 halaman; ukuran 16 x 24 cm, yang dapat diperoleh di Toko-toko Buku di seluruh Indonesia.

19 COMMENTS

  1. Horas Appara… taringot tu bukku on nunnga adong di gramedia manang Kharisma tahe…, on angka sejarah na porlu botoonta jadi porlu jahaonnta. mauliate

    Timbul Simajuntak
    H-15 Raja Odong – Begu Soaloon ( Palembang )

  2. Na baru pe ahu pajumpang dohot Prof. BAS, di dok nasida nga adong di jual di Gramedia di Jakarta. Arga na Rp. 110.000,-. Molo ndang adong dope di Gramedia Palembang boi do di pesan lewat GM-PSSSI&BBI.

    Mauliate

  3. Saya sudah membaca buku ini, tapi banyak hal yang harus dipertimbangkan lagi. Sebagai contoh: melecehkan hula-hula, konsep “Dalihan na Tolu”, dan semboyan yang tertera dalam lagu cipt. Nahum Situmorang, yang diklaim sebagai falsafah hidup orang Batak (Saya sebagai pembaca, orang Batak, dan pemerhati Budaya Batak).
    Pertama. Jika kata “budaya” dikonsepkan dengan hasil budi, pikiran dan karsa manusia untuk mempertahankan hidupnya (Koentjaraningrat), temuan bahwa orang Batak telah dapat melecehkan hula-hula, tidak dapat dikatakan sebagai budaya. dan jangan digeneralisasi (saya tidak menemukan hal itu di Samosir, huta hagodanganku). Jika itu ditemukan ditempat lain, hal tersebut bukanlah representasi dari Batak keseluruhan.
    Kedua. Saya memandang bahwa konsep “Dalihan na Tolu” tidak semestinya diterjemahkan dengan ‘tungku berkaki tiga’. Sebab tungku zaman dahulu tiada berkaki (sekarang karena teknologi, tukang besi membuatnya dari besi bundar,lalu dibuat berkaki). Jika kita lihat, dalihan itu terbuat dari batu yang tidak berhubungan satu dengan yang lain sehingga tidak dapat disebut sebagai kaki. Ketiganya berdiri sama tinggi dan sejajar. Aplikasinya dalam adat, baik hula-hula, dongan tubu maupun boru, sama dan sejajar dalam hal urgensinya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi)terhadap suhut. Karena konsep itu sebagai bentuk peribahasa, sebaiknya tidak diterjemahkan.
    Ketiga. Budaya batak diakui sudah ada ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Sementara itu, Nahum Situmorang baru lahir pada tahun 30-an. Bila kita anggap Nahum mencipatakan lagu “Marragam-ragam” pada usia remaja, katakanlah usia 17 tahun ke atas, berarti pada tahun 40-an (itu pun jika benar), berarti syair lagunya yang menyatakan, “hamoraon, hagabeon, hasangapon” (3H) BUKAN warisan (tidak dapat dikatakan sebagai filosofi) dari si jolo-jolo tubu yang sudah ratusan tahun itu. Itu hanya penglihatan sang komponis; dan bukan pembudayaan (bukan doktrin konvensional) dari nenek moyang orang Batak. Istilah itu hanya seolah-olah saja sebagai falsafah. Hal itu terjadi hanya karena torehan keindahan lagu tersebut. Oleh karena itu, 3H jangan disebut sebagai falsafah/budaya Batak. Pencermatan saya pun di tanah Batak tidak semua orang Batak terobsesi untuk menyekolahkan anaknya. Bila obsesi ini ada, menurutku hanya merupakan imbas dari pandangan Nahum Situmorang. Bukan hasil dari pembudayaan yang terjadi oleh nenek moyang kita.
    Terakhir. Kata ‘hagabeon’ (kata dasar ‘gabe’) tidak sama dengan ‘punya keturunan yang banyak’. Bila kita bandingkan dengan filosofi/peribahasa lainnya dalam budaya Batak, yakni, “gabe na niula, sinur nang pihahan” (kalau ini, saya percaya murni filosofi Batak) kata “hagabeon” yang diartikan penulis dalam buku itu, perlu dipertimbangkan lagi. Terkait dengan filosofi ‘gabe na niula’ kata “hagabeon” lebih tepat (menurut kesadaran linguistik dan kebatakan saya) diartikan dengan ‘makmur, sentosa’.

    Paralelisme tiga istilah itu, secara semantis menyatakan intensitas kualitatif (kesangatan). Dalam bahasa Indonesia kita mengenal, istilah “hancur lebur”, “gelap gulita”, “kaya raya”, “gundah gulana”. Penggabungan kata seperti ini umumnya menyatakan ‘kesangatan’. Sementara itu, dalam bahasa Batak satu kata dapat dibentuk dari penggabungan tiga kata. Misalnya, kata “ngolunghon” (berasal dari kata ngolu=hidup, ahu=aku, on=ini)

    Subjektivitas penulis juga agak menonjol dalam tulisan itu.

  4. adong do toho na nanidokni buku i masalah agama gabe dang perdam komflik alai nidok ni amanta sitanggang i pe sangat toho do,dang adong cerita na boi di lecehkan hulu-hula di adat batak nang sian segi dia pe dibuat,jadi molo boi nian porludo diterbithon muse buku naasing sebagai penyeimbang asa lam tingkos nian sude

  5. dimana kita bisa menemukan buku tersebut…? tolong dikabari karena saya juga ingin mengetahui siapa orang batak itu….?

  6. Buat Pak Natal P.Sitanggang M.hum. Hasil opini yang anda kemukakan adalah hasil belajar anda mengenai budaya Batak secara komunitas. Tapi anda seharusnya melihat lebih dalam lagi, bahwa konsep Dalihan Na Tolu telah banyak di”miringkan” oleh banyak pelaku adat. Sebagai contoh, peran Tulang (hula-hula) dalam sebuah pesta pernikahan. Menurut anda dapatkah sepasang muda-mudi Batak menikah jika tidak ada kehadiran Tulang ?. Tidak bisa bukan ? Secara konseptual, menikah adalah bukti kita melaksanakan perintah Tuhan. Kita menyatukan “rasa” dengan Tuhan. Tuhan adalah way of married. Tapi nyatanya , bagi orang Batak, Tulang yang menjadi “way of maried (moment)”. Dalihan Natolu,menginginkan lebih untuk porsi pernyataan hidup masyarakat. Jangan buat orang Batak seolah-olah tidak bisa hidup jika tidak ada Dalihan Na Tolu. karena orang Batak yang (maaf) beragama Muslim, tidak tahu apa itu Dalihan Na Tolu. Tapi lihatlah, mereka bisa hidup dan maju. Kemudian yang ke 2, jika konteks hamoraon, hagabeon, hasangapon (3H) yang ada dalam sair Nahum Situmorang bukan merupakan filosofi, sekarang anda buka buku Umpasa yang ada punya, bukankah 99,99 % dengan jelas menyiratkan tujuan akhir/harapan dari umpasa dalam perkawinan itu berakhir di 3H ? Nahum Situmorang adalah orang Batak yang melihat itu lebih haslu dari sudut seni/art. Dan itu lebih mengena dibanding analisa yang hanya anda terapkan berbanding terbalik dengan situasi di kampung saudara. Semoga perbandingan ini berguna.

  7. https://me.yahoo.com/a/a9N
    Buat Pak Natal P. Sitanggang M.Hum.
    Konsep Dalihan na Tolu yang anda pelajari adalah konsep yang berdasar komunitas. Anda tidak bisa membandingkannya hanya dengan kampung anda. Sebagai contoh filosofi tentang Hula-hula. Saya ingin tanya jika kita akan menikah, kemana pasangan itu menghadap lebih dahulu ? Ke gereja (pendeta )atau ke Hula-hula (Tulang )/. Saya bisa pastikan di kampung saudara tidak akan bisa sepasang anak manusia menikah tanpa ada Tulang di pesta nya walaupun sudah diteguhkan/dipasu-pasu oleh Pendeta ? Jika kata “budaya” dikonsepkan dengan hasil budi, pikiran dan karsa manusia untuk mempertahankan hidupnya (Koentjaraningrat), kontribusi apa yang telah diberikan oleh filosofi Dalihan Na Tolu dalam menyelesaikan kemiskinan di Tanah Toba ? Saudara bisa membuat suatu bias budaya untuk memajukan suatu komunitas. Jika itu terjadi maka filosofi yang dianut adalah mengarah kepada bias yang dirasakan oleh komunitas tersebut.Bukan kepada suatu filosofi yang sepertinya hanya mewarisi “budaya ” tanpa mempunyai bias untuk memajukan komunitasnya. Kemudian yang ke 2, Sair “hamoraon, hagabeon, hasangapon” (3H)dalam lagu Nahum Situmorang saya pastikan adalah filosofi Orang Batak. Namun karena bahasa yang digunakan menggunakan art/seni tinggi, sebagian orang tak mampu menembus makna sesungguhnya. Ingin bukti, buka buku Umpasa yang anda punya, dan baca di sana hampir 99,99 % tujuan akhir umpasa untuk orang menikah adalah 3H. Anda menolak ? jadi filosofi yang berbasis komunitas bukan seharusnya digeneralisasi, tetapi filosofi yang berbias generalitas untuk maju, itulah yang di generalisasi. Semoga berguna

  8. kepada bapak Natal P Sitanggang, saya kurang setuju bagian kedua yang menyatakan bahwa
    . Saya memandang bahwa konsep “Dalihan na Tolu” tidak semestinya diterjemahkan dengan ‘tungku berkaki tiga’. Sebab tungku zaman dahulu tiada berkaki (sekarang karena teknologi, tukang besi membuatnya dari besi bundar,lalu dibuat berkaki). Jika kita lihat, dalihan itu terbuat dari batu yang tidak berhubungan satu dengan yang lain sehingga tidak dapat disebut sebagai kaki. Ketiganya berdiri sama tinggi dan sejajar. Aplikasinya dalam adat, baik hula-hula, dongan tubu maupun boru, sama dan sejajar dalam hal urgensinya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi)terhadap suhut. Karena konsep itu sebagai bentuk peribahasa, sebaiknya tidak diterjemahkan.
    menurut saya terjemahan itu sudah cukup bagus karena jika kita melihat dari sejarah bahwa sebelum manusia mengenal besi, mereka menggunakan batu sebagai alat untuk keperluan mereka, nah disi kita perlu melihat bahwa tungku yang di gunakan pada zaman logam memang berkaki tiga, dan pada zaman batu juga mereka mereka menggunakan batu sebagai tempat untuk memasak, jadi batu tersebut harus ada tiga sebagai penyokong agar tidak tumpah.

  9. Pak Mangampu yang terhormat. Kebetulan saya pernah melakukan penelitian/riset yang intens terhadap konsep emosi dalam budaya Batak Toba. Tahun 1998. Saya menggunakan Teori Semantic Natural Metalanguage. Saya melakukan pengambilan data empat lokasi di Bona pasogit dan satu di perantauan. Sebagaimana Amang sebutkan, “Dalihan na Tolu” banyak yang ‘dimiringkan’. Yang namanya ‘dimiringkan’ berarti bukan menjadi gambaran yang sejati dari Dalihan na Tolu. Jadi, jika Bapak setuju dengan Pak Bungaran yang menyatakan bahwa melecehkan Hula-hula adalah budaya, berarti Bapak termasuk di dalamnya. Batak yang sejati harus memegang teguh prinsip Dalihan na Tolu. Jika tidak sejati, berarti DALLE.
    Pertanyaan Bapak yang menyatakan. “bisakah muda-mudi Batak menikah jika tidak ada kehadiran Tulang?” Jawaban saya, relatif bisa. Lalu bagaimana yang gak punya Tulang sebagai hula2? tetap aja bisa kan? Itu makanya ada konsep ‘mangalua’ dalam budaya batak toba. Tapi, jika Bapak bertanya, bisakah adat Batak berjalan tanpa Hula2? Barulah pertanyaan itu pas dengan jawaban yang Bapak berikan.

    Amang menyebutkan, “Menikah termasuk menyatukan rasa dengan Tuhan.” Adakah fakta yang bisa Bapak berikan, bahwa Tuhan juga merasakan kesatuan itu? Selain itu, Bapak menyebutkan, “Tuhan adalah way of married”. Sejauh mana itu dapat dibenarkan? Pernahkan Bapak melihat itu secara kasat mata. Dalam budaya Batak Toba, tidak ada saya temukan konsep yang menyatakan, “Hula2 adalah way of married”. Dan, tidak ada pula keseolah-olah saya membuat orang Batak bergantung sama hula2. Tetap kok bisa hidup tanpa hula2. Cuma, konteknya harus dilihat, Pak.
    Lalu, Bapak katakan Batak Muslim tidak tahu dalihan na tolu, Bapak salah besar. Saya punya banyak bukti untuk menyalahkan Bapak. Bahkan yang saya temukan, mereka lebih beradat dibanding dengan yang Kristen.
    Bapak menyebutkan 99,99% menyiratkan 3H. Jujur dulu, Pak. Sudah melakukan penghitungan itu dengan sesungguhnya? Maunya, jangan Umpasa aja sumbernya. Karena Umpasa konsepnyaselalu berisi harapan itu, emangnya harapan apa lagi?. Jika tidak berisi harapan, bukan umpasa namanya. Sama itu dengan, konsep “Na Niura” tidak perlu dimasak dengan api. Jika sudah dimasak dengan api, bukan na niura namanya.
    Terakhir, Bapak menyatakan berbanding terbalik. Tapi cobalah Bapak pikirkan ‘apa kesejatian dari adat Batak dengan konsep Dalihan na Tolu’ Apakah Bapak setuju dengan generalisasi bahwa orang Batak itu suka berpura-pura dan mempunyai budaya melecehkan hula2 (ada dalam tulisan Pak Bungaran). Sekali lagi, bila Bapak setuju, berarti Bapak adalah orang yang suka berpura-pura, dan Leas terhadap hula2. Saya tidak termasuk dalam itu.

  10. Apa alasan Bapak, dan peraturan mana yang menyebutkan bahwa Batak Toba di Pulau Samosir tidak bisa sebagai pembanding? Emangnya Samosir bukan Batak. Masih asli lagi. Saya melihat dapat melihat nilai keluruhan yang terkandung dalam Dalihan na Tolu, baik di Bona Pasogit, maupun di Perantauan. Begitu hormatnya batak-batak yang jika mengetahui saya sebagai hula-hulanya (termasuk yang muslim). Padahal penghormatan itu bukan atas permintaan saya. Bila, ada konteks menikah, mengharuskan menghadap tulang lebih dahulu daripada ke pendeta, ada sejumlah alasan. Satu. Dalihan na Tolu sudah lebih dahulu menjadi darah daging orang batak, dari pada kependetaan (apa sih artinya pendeta? dia bukan tuhan kan?) Resiprokal (timbal balik) emosional hula2 dengan berenya jauh lebih tinggi daripada pendeta ke ruasnya. Dua, secara struktural, dalam organisai mana pun (termasuk organisasi sosial) pejabat tertinggi selalu lebih terakhir dalam menandatangani sesuatu, misalnya, surat. Pernahkah bapak melihat itu di kantor bapak bekerja? atasan selalu terakhir. Hal inilah yang terjadi dalam budaya batak. Jika lebih dahulu pendeta baru hula2, berarti hula2 penentu. Tetapi jika lebih dahulu hula2 daripada pendeta, berarti pendeta yang menjadi penentu.
    Peranan Dalihan na Tolu dalam memberi solusi kemiskinan di Tanah Toba dapat kita lihat dari segi pengayoman (termasuk pauseang) dari hula2, dan gogo (tenaga) dari boru bila ada sesuatu yang harus diselesaikan. Perihal kemiskinan ini, justru gereja yang harus dipertanyakan. Bapak lihat yayasan2 HKBP: Tak bermutu!!!!
    Bias yang Bapak sebutkan saya kurang paham.
    Mudah2an bapak mengerti bhw Dalihan na Tolu adalah sebentuk kearifan lokal yang diberikan Tuhan kepada orang Batak. Konsep sejatinya juga adalah mengasihi sesama. Orang yang dangkal tentang konsep budaya tentu tidak bisa melihat keluhuran itu.
    Menurut bapak, metode apa yang benar dalam meneliti konsep itu?
    Kalimat terakhir, saya kurang mengerti. Saya tidak menggeneralisasikan samosir sebagai budaya Batak Toba keseluruhan, saya telah melakukan penelitian itu. Komunitasnya bukan samosir saja. Pak Mangampu, sudah atau belum?
    Emangnya apa menurut bapak pengertian dari bahasa yang menggunakan art/seni tinggi? Teori apa sih yang anda pakai sehingga anda bisa menembus makna yang sesungguhnya? Jangan2 bukan itu yang sesungguhnya, Pak. Bila itu yang sesungguhnya, gimana lagi yang tidak sesungguhnya. Pernahkah Bapak tahu, konsep gelombang teranfersal dalam fisika? Mirip itulah gelombang makna dalam seni/art. Bukan seperi yang Bapak bilang. Apa referensi yang anda pakai?

  11. Pak Jhon Sagala. Dalam dunia linguistik (khususnya terjemahan), ada konvensi yang menyatakan bahwa bentuk2 peribahasa (pantun, kata kiasan, pepatah, petitih, dll.) tidak tepat untuk diterjemahkan. Dan tidak semua kata dalam satu bahasa dapat diterjemahkan dalam bahasa lain. Apalagi kalau ditermahkan secara harfiah. Frasa “kambing hitam” yang berarti ‘hal atau seseorang yang dipersalahkan’ tidak bisa diterjemahkan dengan ‘black coat’ dalam bahasa Inggris, atau ‘hambing na birong’ dalam bahasa Batak. Frase ‘take place’ dalam bahasa Inggris tidak bisa diterjemahkan dengan ‘ambil tempat’ dalam bahasa Indonesia. Kata ‘ngaben’ dalam budaya Bali, tidak pernah bisa diterjemahkan dengan ‘membakar mayat, atau mayat panggang’. Kata ‘ngabuburit’ dalam bahasa Sunda, tidak bisa diterjemahkan. Pernahkan Bapak dengar cerita si Timba Laut? Kira2 seperti ini ceritanya:
    Ada seorang ibu mempunyai anak kecil. Dia sering membawa anaknya itu bepergian. Di Ajibata dia masih menggunakan kalimat, “E.. nga hapit gelleng ki..!” Tapi, ketika sudah sampai di Medan, dia menggunakan terjemahan harfiah, lalu mengatakan, “Aduh, sudah terjepit kecilku!”

    Aneh kan terjemahan itu?
    Demikianlah “Dalihan na Tolu” merupakan sebuah ungkapan kias terhadap sistem pranata dalam budaya Batak, tidak seharusnya diterjemahkan secara harfiah. Biar aja itu, masuk ke bahasa mana pun. Karena selain itu yang lebih pas, bahasa Batak itu pun sedikit punya jati diri. Kita tidak usah sungkan mengucapkan “Dalihan na Tolu” walaupun kata yang mengiringinya bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Jadi, terjemahan “Dalihan na Tolu” ke Indonesia dengan “Tungku berkaki tiga’ sangat tidak tepat.

  12. wah diskusi yg sangat menarik, bukan hendak menjadi penganut ekletisme tapi saya rasa dua sudut pandang ini perlu bersama2 dikaji dan ditemukan kesesuaiannya dengan jaman sekarang tanpa menghilangkan esensi yang ada. dan bila memang ditemukan beberapa perbedaan pandangan dari beberapa daerah yg berbeda saya rasa itulah kemajemukan yg menjadi kekayaan khasanah budaya Batak. Pak Sitanggang saya lihat ingin mengembalikan Batak kepada kemurniannya sebelum masuknya pengaruh2 agama baik kristen atau muslim atau agama lain dan organisasi lain. karena kehadiran institusi ini mutlak memberi pengaruh terhdap budaya Batak…saya rasa Batak dalam konteks tertentu memang harus dimurnikan dan beberapa perbedaan juga harus diterima sebagai nilai kekayaan tanan Batak keseluruhan. Horas diskusi yg sangat menarik, kami dari sada pardomuan USD, sebuah komunitas Mahasiswa Batak salah satu kampus swasta di Jogja sedang ingin menumbuhkan Budaya Batak dalam diri generasi muda terutama batak perantau… jadi mohon bimbingannya supaya kami mengenali Batak dengan lebih baik…horas horas, menjuah-juah

  13. Horas,Lae Sitanggang.
    Dalihan na tolu sebenarnya apa ya? Apakah sama artinya dengan tungku berkaki tiga? Saya mencoba dulu mengikuti pemikiran lae mengenai Dalihan na tolu, bahwa dalihan natolu tidak dapat diterjemahkan secara langsung. Lalu apa yang paling cocok menurut lae? Selama ini saya berpikir bahwa DALIHAN adalah penopang, yang dalam konteks budaya saya artikan sebagai penopang kehidupan adat/budaya sehingga tercipta harmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Dalihan dalam konteks memasak, adalah alat untuk menopang tempat memasak tersebut sehingga api dapat menyala dengan baik dan makanan dpt dimasak dengan baik. Dalam hal ini, dalam tradisi Batak, makanan diasumsikan sebagai penopang hidup, hidup yang sehat dan kuat. Dalam hal ini kehidupan jasmani dan rohani. Setahu saya sampai sekarang, kalau diatas dalihan itu tidak ditaruh tempat memasak dan material yang akan dimasak, maka walaupun apanya dinyalakan, maka sebenarnya tidak ada fungsinya dalihan itu, Menurut saya selama ini, bahwa ketiga pilar (hula-hula, dongan sabutuha dan boru) tidak ada yang dapat disepelekan dan tidak ada yang lebih penting, karena tanpa keberadaan salah satu pilar, maka pelaksanaan adat itu sulit terlaksanan. Lalu pertanyaan, apakah fungsi ketiga pilat ini hanya dalam prosesi adat pernikahan saja? Tentu tidak kan? Selain dalam prosesi adat, maka keberadaan ketiga pilar ini tetap diakui setiap keluarga. Kalau dibahas lebih detail lagi, saya kira kurang memungkinkan dalam tulisan ini. Dalam hal ini fungsi-fungsi ini menurut pandangan daya yang masih berpikiran tradisonal/komunal, dan bukan dengan cara berfikir masyarakat modern yang sudah indifidual.
    Terkait dengan apa yang Lae katakan, bahwa dalam kehadiran tulang dalam pernikahan tidak merupakan keharusan, dengan dasar pemikiran dalam hal mangalua atau tidak punya tulang!
    Pertama, menurut pemikiran saya selama ini bahwa mangalua bukan pernikahan adat. Dalam budaya tradisional, hal seperti ini dianggap penghinaan dan biasanya resepsi hanya dihadiri oleh pihak paranak. Tidak ada hula-hula yang diundang dan walapun diundang bukanlah dalam fungsi adat karena prosesi adat tidak, sekali lagi tidak dapat dilaksanakan.
    Kedua, menurut pemikiran saya tidak ada seorang Ibu yang tidak punya hula-hula. Iboto kandung memang tidak ada, lalu apakah anak dari amangtua/amanguda bukan hula-hulanya dan bukan tulang dari anak/borunya? Mama saya boru Nababan, selama ini saya beranggapan bahwa semua Nababan adalah Tulang saya, apakah itu salah? Lalu kalau saya menikah di tempat jauh, katakanlah di Papua yang jauh dari sanak keluarga, apakah saya tidak punya tulang?
    Dalam hal ini semua, saya ingin mengajak kita semua untuk semakin memahami filosofi dari adat dalihan natolu dalam kehidupan bermasyarakat Batak.

  14. Horas, Tulang Manalu.
    (sada)
    Dalam komentar saya terhadap buku Pak BAS, yang menerjemahkan “Dalihan na Tolu”, TIDAK saya sebutkan bahwa itu TIDAK DAPAT, tetapi TIDAK SEHARUSNYA. Karena DALIHAN NA TOLU adalah sebentuk KIASAN atau UNGKAPAN. Analoginya seperti ini. Haruskah kita menerjemahkan “Suhi ni ampang na opat”, “Tintin marangkup”, “Paulak Une”, “Sahat-sahat ni solu”, sai sahat ma tu bontean”,???? Mengapa kata “hula-hula” tidak diterjemahkan??? jawabnya TIDAK HARUS (bukan berarti tidak DAPAT; boleh-boleh saja diterjemahkan). Contoh-contoh yang saya sebut tadi, merupakan khas Batak. kebetulan ada leter per leter dalam bahasa Indonesia, lalu bagaimana dengan terjemahannya dengan bahasa Jepang, Belanda, Inggris???? Belum tentu ada.
    (dua)
    Saya TIDAK mengatakan “bahwa kehadiran tulang dalam pernikahan tidak keharusan”. Yang saya sebutkan adalah “Relatif bisa” Konteks “menikah” tidak sama dengan “mangadati”. Dalam menikah “hula-hula” boleh ada. Namun, jika tidak ada pun, tentu tidak akan membatalkan pernikahan. Tetapi, dalam “mangadati” kehadiran “hula-hula” bersifat wajib. Di sini kita harus dibedakan antara konteks “menikah” dengan “mangadati” Yang banyak dikomentari Pak Mangappu konteks menikah bukan “mangadati”.
    Pak Mangampu Nababan mengatakan seperti ini,

    “Saya bisa pastikan di kampung saudara tidak akan bisa sepasang anak manusia menikah tanpa ada Tulang di pesta nya walaupun sudah diteguhkan/dipasu-pasu oleh Pendeta?”

    (Ini jelas tidak masuk akal. Coba dicek kembali pernyataan Bapak itu)
    Menurut saya, kalimatnya itu tidak logis. Sekali lagi, kita harus membedakan kata “MENIKAH” dari “MANGADATI”. Menurut saya, menikah tetap bisa, tapi belum diperhitungkan dalam adat. Jadi, orang yang mangalua tetap namanya menikah. Pernyataan yang benar adalah: sebuah upacara adat (mangadati) tidak akan bisa berlangsung tanpa kehadiran Hula-Hula (ini menurut saya yang benar). Jadi, bagai mana orang yang sudah mangalua (tetapi tidak mangadati)? Apakah dapat dianggap tidak resmi??? Apakah itu dianggap tidak menikah atau illegal? Tetap aja statusnya “menikah” kan? dan itu tetap resmi. Jika kita turuti pernyataan Pak Mangappu, berarti yang orang yang sudah dipasu-pasu di gereja tetapi tidak mangadati, tetap berstatus lajang dong? pernikahannya batal alias tidak diakui???? GITU…. ????

    Tuan nami….
    Manat ma ta lapati akka pernyataanta. Atik boha tarjaha akka naupposo, gabe bengkok annon sude akka ruhut dohot logika.

    Mauliate

  15. Saya setuju dengan Amanta, (sattabi) Natal P. Sitanggang,…hakikat dari “kata-kata kias” Dalihan Na Tolu adalah merupakan sebuah konsep atau klise dan bukan sesuatu yang dipandang secara harafiah. Hanya benar bahwa ungkapan tsb terinspirasi dari benda yang kita sebut dalihan na tolu. Itu sekedar filosofi yang mengajarkan konsep- konsep Parsorian dalam keseharian Batak,….

  16. Beni@ beberapa perbedaan pandangan dari beberapa daerah yg berbeda saya rasa itulah kemajemukan yg menjadi kekayaan khasanah budaya Batak.
    Wah pandangan ini salah bro, justru akibat adanya pandangan berbeda inilah maka muncul berbagai”adat simaradat-adat”(adat-adatan). bukankah adat itu dulu muncul dari dari satu gagasan dan tindakan praktis yang satu(sama)?. Nah andaikan sesuai bergulirnya waktu, dan adat itu harus dinamis,maka kedinamisannyapun harus sama pula. Entah itu di wilayah Indonesia atau wilayah luar negeri sekalipun.
    Saran kita mestinya adalh tetap ditingkatkannya dialog dan seminar untuk keseragaman praktis ADAT BATAK secara holistik.

    Kepada bapak mangampu Nababan dan pak Natal Sitanggang,
    sah sah saja kedua argumentasinya boleh di sebutkan..
    tapi alangkah lebih abiknya apabila di bicarakan kepada himpunan pemerhati BATAK seperti:
    PARBATO( Partungkoan Batak Toba)
    KERABAT(Kerukunan Masyarakat Batak)
    yang kemungkinan kedua lembaga ini bisa memfassilitasi segala bentuk dialog dan argumentasi seputar Adat batak dalam sebuah Forum atau tulisan majalah Batak. Dan akhirnya akan di bukukan seperti buku buku yg sudah banyak di terbitkan oleh Penerbit Dian utama Jakarta.
    Mauliate. horas…

LEAVE A REPLY