Kesaksian Pagabe Hasoloan Simanjuntak Korban Pemukulan, Ancaman Bunuh, Penembakan Oknum Densus 88 dan TNI

8
560

KESAKSIAN PAGABE HASOLOAN SIMANJUNTAK
KORBAN PEMUKULAN DAN ANCAMAN BUNUH
OKNUM POLISI PERSONIL DENSUS 88 DAN OKNUM TNI DI DELI TUA

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : PAGABE HASOLOAN SIAMANJUNTAK
Tempat/Tanggal Lahir : Sumbul, 01 Mei 1967
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Katolik
Alamat : Jl. Merdeka No. 21 Kelurahan Sumbul
Kecamatan Sumbul – Kabupaten Dairi
Propinsi Sumatera Utara

Mengungkapkan kesaksian atas perlakuan kasar, tidak manusiawi, arogan bahan ancaman bunuh dengan menodongkan pistol dan menembak ke posisi saya di suruh jongkok. Tindakan kasar ini dilakukan oleh 2 (dua) orang yang akhirnya saya ketahui sebagai oknum polisi personil Densus 88 Poldasu dengan seorang temannya oknum TNI yang merupakan pengawas atau beking tempat hiburan bernama Café Nirwana di Deli Tua.

Kesaksian ini saya harapkan menjadi pelajaran bagi semua pihak yang menginginkan kehadiran aparat polisi dan TNI sebagai pelindung masyarakat bukan justru pelaku pelanggaran hukum dengan menggunakan posisinya sebagai petugas bersenjata.

Pada hari Minggu 26 April 2009, sekitar pukul 08.00 wib, ketika saya sedang memanaskan mobil yangs sehari-hari saya pergunakan mencari hidup, seseorang yang saya kenal bermarga Barus dan akhirnya saya ketahui bernama Bella Barus, yang tinggal di Deli Tua tidak terlalu jauh dari rumah yang kami tinggali, meminta kesediaan saya untuk menjemput keyboard yang ada di Café Nirwana. Akhirnya, kami sepakati ongkos antar dan jemput Rp. 60.000,- (Enam Puluh Ribu Rupiah), dan beliau meminta agar saya menjemputnya pukul 10.00 Wib saja.

Untuk memperjelas isi pembicaraan kami dengan Barus, saya bertanya kepada istri saya Ertalya br. Sembiring, berhubung dia kelahiran Deli Tua, apakah mengenal Bella Barus. Oleh istri saya mengatakan bahwa dianya mengenal Barus dan mengakui bahwa masih ada hubungan kekeluargaan dengannya.

Mendapat penjelasan dari istri saya bahwa dia mengenal Bella Barus, saya berketetapan hati untuk menjemput keyboard sebagaimana permintaan Barus. Sebagai orang yang baru pindah ke Deli Tua, sejak bulan Januari 2009, saya belum mengetahui lokasi café yang disebutkan dan saya dengar bernama Café Nirwana. Saya membawa serta anak saya bernama Kaliaga Simanjuntak (2).

Dengan bertanya, saya akhirnya tiba Café Nirwani. Kepada seorang penjaga laki-laki saya bertanya “Saya disuruh marga Barus untuk menjemput keyboard ke sini?”. Si penjaga menjawab, “Tidak ada pesan kepada saya soal keyboard”. Mendapat jawaban seperti itu saya akhirnya pulang ke Rumah Abang Ipar saya Armed Ginting untuk bertanya apakah ada Café Nirwana, sebab saya tadi ke Café Nirwani.

Menurut abang saya Ginting, bahwa berdekatan dengan Café Nirwani, terdapat Café Nirwana yang jaraknya hanya 50 meter. Mendapat penjelasana dari abang saya yang memang sudah berdomisili lama di Deli Tua, akhirnya saya kembali menuju Café Nirwana, dan anak saya yang tadi saya bawa ku tinggalkan di rumah abang saya itu.

Tiba di Café Nirwana, saya parkir mobil pick-up Suzuki Carry BK 8037 BK warna hitam di depan café. Di dalam café saya menemui seorang perempuan sedang menyapu. Melihat kehadiran saya di pintu depan café, si perempuan bertanya “Ngapain Bang?”.

“Saya disuruh marga Barus menjemput keyboard”, jawabku.
“Sebentar Bang, saya Tanya dulu iya!”, sambil pergi ke arah dalam café. Dari dalam café keluar seorang laki-laki yang akhirnya saya tahu bermarga Sinulingga.

Sinulingga juga bertanya “Ada apa Bang?”
“Ada marga Barus menyuruh saya untuk menjemput keyboard” jawabku.
“Sebentar biar kutelepon dulu”, tanpa menyebutkan menelepon siapa.

Setelah bertelepon Sinulingga menyuruh saya untuk menunggu dan saya ditawari minum aqua. Menunggu sekitar 20 menit saat itu pukul 10.30 Wib, dari gerbang terlihat kira-kira 8 (delapan) orang laki-laki menuju kea rah café dan langsung menuju pentas di dalam café.

Dari atas pentas, seseorang di antara mereka memanggil saya “Kesini dulu kau”.
Setelah saya mendekat, saya langsung dicecar dengan pertanyaan yang tidak bersahabat “Siapa yang menyuruh kau yang angkat keyboard?”

“Tadi, saya disuruh Marga Barus, Bang”.

“Kau kenal orangnya”, tanyanya lagi.

“Nggak saya kenal, bang”.

“Kau tahu rumahnya?”

“Tidak bang, Tapi istri saya tahu”.

“Siapa nama si Barus itu?”, tanyanya lagi

“Tidak tahu Bang”, jawabku.

“Ah. Kau pencurinya. Udah berapa unit kau curi keyboard?”, tanyanya semakin kasar.
“Saya tidak pernah mencuri keyboard, Bang. Kalau aku ada niat mencuri, di kantor polisi aja kita ngomong”.

Bukannya mereka yakin dengan jawabanku. Justru saya makin disudutkan sengan pernyataan bahwa saya adalah pencuri dan menyuruh saya untuk buka baju.

Merasa saya tidak ada niat untuk mencuri, saya menolak untuk membuka baju. Mendapat perlawanan seperti ini, saya di suruh ke arah pohon yang berada di kawasan café. Tidak cukup dengan menyuruh saja, di justru mendorong saya sambil menyuruh buka baju dan celana disaksikan oleh teman-temannya.

Karena saya berupaya menolak, laki-laki yang sedari tadi menginterogasi saya langsung melayangkan tinjunya sekuat tenaga kea rah pelipis kanan saya. Saya merasakan kesakitan yang luar biasa dan puyeng. Seorang lain, yang akhirnya saya ketahui Slamet Riyadi, menendang punggung dan betis. Kesakitan akibat tonjokan laki-laki yang terlatih menyiksa ini ditambah tendangan oknum TNI ini, akhirnya saya betul-betul merasakan kesakitan dan ketakutan.

Saking takutnya akhirnya saya memenuhi paksaan mereka untuk membuka baju dan celana. Dengan balutan hanya celana dalam, si oknum polisi (FB), mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan menodongkannya kea rah kening saya dengan jarak 2 (dua) meter. Di bawah todongan senjata, saya di suruh jongkok, sambil mengancam.

“Duduk kau. Ku bunuh kau nanti”, umpatnya sambil tetap mengarahkan pistol ke arah saya.
Saya ketakutan luar biasa sebab belum pernah mengalami seperti ini. Di pukul lalu ditodong dengan pistol. Secara berulang-ulang, dia mengumpat “Pencuri Kau!”

Akhirmya saya jongkok dengan ketakutan dan kesakitan. Di luar dugaanku, tiba-tiba saya mendengar letusan yang memekakkan teliga dan sangat menakutkan. Nyali ku hilang sama sekali. Saya kira aku sudah kena tembakan. Ternyata tembakan hanya meleset beberapa centimeter dari kaki kananku.

Dengan ketakutan yang luar biasa, saya akhirnya bersembah kepada FB agar mau kubawa menunjukkan orang yang menyurus saya menjemput keyboard. FB, tidak bergeming, tetapi Sl, oknum tentara akhirnya mau dan menyuruh saya masuk ke dalam mobil yang saya kenderai tadi.

Masih sempat saya terfikir, kalau mau dibawa ke rumah abang saya atau ke rumah yang kami tinggali, saya akan malu sebab hanya menggunakan celana dalam saja. Saya meminta kepada FB, agar diijinkan memakai kembali pakaian yang sudah dipaksa kutanggalkan tadi.

“Bang, mohon saya dikasih berpakaian. Saya malu hanya bercelana dalam, sebab mertuaku pun tinggal di dekat sini”, kataku sambil menyembah.
“Tidak bisa!”, hardik FB.

Celana saya berikut isinya dompet, STNK, SIM, KTP dan uang sejumlah Rp. 10 Juta, harus terpaksa kutinggalkan, sebab tidak berani mengambilnya setelah mendapat penolakan dari FB. Salah seorang di antara laki-laki yang akhirnya saya ketahui dipanggil Ucok Gede, mengambil alih kenderaan yang saya bawa dan membawa saya dan Sl menuju ke rumah abang saya Ginting. Setiba disana, abang saya Ginting yang kebetulan keluar dari rumah dilihat oleh Sl dan sepertinya dia kenal.

“Di sini rupanya keluargamu?”, seperti keheranan melihat abang saya Ginting.
“Teruskan aja. Nggak usah berhenti di sini”, katanya.

“Tidak, saya disini aja, sambil memakaikan celana pendek yang biasa saya pakai celana kerja yang memang tertinggal di dalam mobil”, sambil memaksa turun.

Melihat saya digiring orang, dan tanpa pakaian, keluarga saya Abang saya Rulih Tarigan dengan istrinya, Ipar saya Heronimus Sembiring dengan istrinya, dan istri saya sendiri, langsung keheranan dan histeris.

“Kenapa kau Dek?”, Tanya mereka.
“Saya dipukuli tadi di Café Nirwana. Mereke menuduh saya mau mencuri keyboard. Selain dipukuli saya juga tadi ditembak”, jawab saya sambil menjauh dari Sl dan Ucok Gede yang bertindak sebagai sopir.

“Siapa yang mukul dan menembakmu?”, Tanya abang saya Armed Ginting.
Sebelum kujawab, Sl yang berdiri dekat mobil yang saya kenderai langsung menjawab “Bukan ditembak. Hanya tembakan peringatannya”.

Semua family yang menyaksikan akhirnya mengajak untuk melaporkannya ke polisi.
Sl, langsung menelepon sepertinya kepada rekanya FB dan menceritakan bahwa keluarga saya sudah mau bergerak ke Kantor Polisi.

Entah apa jawaban FB, Sl mengajak saya untuk kembali ke Café Nirwana untuk bicara. Tetapi saya dan keluarga menolak dan lebih memilih melaporkannya ke Polsek Deli Tua. Sementara kedua centeng Café Nirwana yang membawa saya tadi, akhirnya pulang dengan mengendarai Angkutan Umum.

Saya oleh keluarga dibawa berobat ke RS. Sembiring Deli Tua. Di RS ini saya diperiksa oleh seorang dokter perempuan dan diberi obat.

Kira-kira pukul 13.00 Wib, saya ditemani oleh keluarga tiba di Polsek Delitua. Keluarga saya menyampaikan bahwa ingin melaporkan kejadian pemukulan dan penembakan, tetapi pihak Polsek bukannya memproses, tetapi berdalih bahwa pelakunya belum mereka ketahui apakah Polisi atau TNI.
“Kalau mau mengadu langsung aja ke Propam dan ke Denpom”, kata seorang polisi yang menerima kami.

Dengan bersusah payah, saya dan keluarga berkeras agar laporan kami diterima. Kami bertahan di kantor polisi. Lama-kelamaan, semakin banyak orang yang berkumpul, yang ingin tahu apa yang terjadi sebab mereka kenal baik dengan keluarga yang mendampingi saya. Wartawan juga mulai bertanya apa yang terjadi. Melihat kondisi ini, akhirnya kami diterima melapor. Dan saya di mintai keterangan oleh Aiptu P. Siregar, dan menyerahkan kepada saya Surat Tanda Penerimaan Laporan No. POL : STPL/119/IV/2009/TBS. TUA, dengan nama terlapor : Ferdinan Bukit dan Selamat Riyadi (Terlampir).

Kira-kira pukul 23.30 Wib, tengah malam, 2 (dua) orang yang mengaku dari Polsek Deli Tua dengan pakaian preman, meminta saya ikut mereka untuk menunjukkan lokasi kejadian (TKP). Keluarga tidak mengijinkan dan meminta kepada kedua orang yang mengaku petugas ini, agar dilakukan besok harinya.

Tanggal 29 April 2009, istri saya Ertalya br. Sembiring pergi melaporkan kejadian yang menimpa saya ke Bid. Propam-Poldasu didampingi oleh adik sepupu saya Eka Bukit. Saya sendiri masih trauma dan tidak mau mendatangi kantor polisi yang saya anggap bukan pelindung masyarakat itu.

Dari Surat Tanda Penerimaan Pengaduan No. Pol. : STPL/56/IV/2009/Propam, saya baca bahwa istri saya sudah melaporkan “Pelanggaran displin melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara, pemerintah atau Kepolisian Negara RI (Melakukan Penganiayaan terhadap Suami Pelapor), sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a PP RI No. 2 tahun 2003 yang terjadi pada Hari Minggu 26 April 2009 sekitar pukul 11.00 Wib di Kafe Nirwana Jl. Deli Tua Gg. Gereja HKBP? “. Surat ini ditandatangani oleh Kaur Maonitoring AKP Ir. T. Pasaribu.

Tanggal 4 Mei 2009, Istri saya ditemani adik ipar saya Eka Bukit pergi melapor ke Den-Pom. Pihak Den-Pom menyarankan agar korban pemukulan oknum TNI, ikut melapor.

Tanggal 5 Mei 2009, Saya, istri saya, Eka Bangun, kembali mendatangi Den-Pom untuk melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan Sl oknum TNI. Keterangan saya diambil oleh Serma Zulfan Ginting.

Tanggal 6 Mei 2009, Saya, istri saya Ertalya br. Sembiring dengan kedua anak kami Tupado (6) dan Kaliaga Simanjuntak (2), akhirnya memilih pulang ke Sumbul, sebab trauma melihat kedua oknum pelaku kekerasan terhadap dirinya berkeliaran, walau sudah kami laporkan ke Propam dan Denpom.
Tanggal 11 Mei 2009, saya menemui Pengurus Generasi Muda Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru Bere dan Ibebere (GM-PSSSI&BBI) se-Dunia, yang ternyata sejak awal sudah mengikuti perkembangan kasus yang saya hadapi. Pengurus GM-PSSSI&BBI yang mengetahui kejadian yang menimpa saya dari surat kabar, ternyata telah melakukan pencarian kepada saya untu mendapat keterangan lengkap agar bisa didampingi dalam mempermasalahkan tindakan oknum polisi dan militer ini.

Pertemuan kami di Lobby Hotel Polonia Medan dimana disana saya temui Poltak Simanjuntak, Sekretaris Jenderal GM-PSSSI&BBI, Rudyard Simanjuntak, Wesly Simanjuntak, Thurman Simanjuntak dan Pandapotan Simanjuntak, SH.

Kepada saya mereka mengatakan siap membantu untuk mempersoalkan secara hukum tindakan yang dilakukan kedua oknum petugas ini. Dan, jika kasus ini tidak ditanggapi, mereka berjanji akan menghubungi semua lembaga yang berkaitan dengan intansi kepolisian dan TNI, baik di Sumatera Utara maupun di pusat.

Kepada saya ditunjukkan bahwa kasus yang menimpa saya ini sudah diberitakan di web site simanjuntak dan telah pula mendapat tanggapan dari saudara-saudara saya bermarga Simanjuntak dari berbagai tempat, bahkan sebagian ada marga lain yang simpatik dan marah atas tindakan kedua oknum petugas ini.

Tanggal 14 Mei 2009, saya bersama adik saya Edy Bukit mendatangi Propam Poldasu untuk mepertanyakan perkembangan pengusutan tindak kekerasan dan penembakan yang dilakukan oleh Sl. Kehilangan uang dan dompet beserta isinya KTP, SIM dan STNK yang hingga saat ini belum ketahuan rimbanya, ingin saya peroleh kembali.

Di Propam Poldasu, oleh AKP. Ir. T. Pasaribu kami disuruh menghadap ke Provost. Menurut Serka Karlos Sihite, surat panggilan untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi pelapor sudah dikirimkannya ke alamat saya di Sumbul. Memanfaatkan kedatangan saya ke Poldasu, akhirnya keterangan saya diambil oleh Serka Karlos Sihite. Kepadanya saya menceritakan seluruh rangkaian tindakan kekerasan dan penembakan oleh oknum polisi FB yang saya alami tanggal 26 April 2009 yang lalu.

Tanggal 12 Mei 2009, saya kaget setelah membaca surat panggilan polisi yang diantar seseorang yang berpakaian preman mengaku sebagai polisi dari Polsek Deli Tua, mengantarkan Surat Panggilan No. Pol. : SPANG/377/V/2009.

Dari isi Surat Panggilan ini, saya ketahui bahwa saya telah dilaporkan oleh Sri Diana Vitaloka Sembiring atas perkara tindak pidana percobaan penipuan yang terjadi Hari Minggu tanggal 26 April 2009 sekira pukul 10.30 Wib di Café Nirwana di Jalan Gereja HKBP Desa Deli Tua Timur Kecamatan Delitua, sebagaimana pasal 53 KUHP Jo Pasal 378 KUHP.

Belum lagi trauma saya akibat dipukul dan ditakuti-takuti dengan tembakan oleh oknum polisi dan TNI selesai, sudah datang masalah baru yang justru menuduh saya melakukan percobaan penipuan. Sebagai warga Negara yang tidak terlalu paham dengan hukum, saya berharap ada pihak yang bisa menolong saya melewati permasalahan ini, dan menyeret 2 (dua) orang oknum petugas polisi dan militer, serta pemilik café Nirwana yang justru menuduh saya mencoba menipu mereka.

Demikianlah kesaksian ini saya ungkapkan dengan sejujurnya, sebagai bahan pertimbangan kepada semua pihak untuk membantu dan melindungi hak-hak saya yang telah diinjak-injak.

Medan, 14 Mei 2009

Saya yang menyaksikan,

PAGABE HASOLOAN SIMANJUNTAK
Korban Kekerasan

8 COMMENTS

  1. Horas!!

    Begitu ringankah untuk menarik picu untuk melepaskan peluru bagi seorang aparat yang disebut sebagai pengayom masyarakat?? Tiada lagikah makna tes kejiwaan bagi setiap aparat, yang konon kabarnya, dilaksanakan secara rutin untuk menguji kematangan jiwa bagi pemegang senjata yang direstui negara??

    Bapak-bapak, ibu-ibu pengayom, laksanakanlah tugas anda dengan taat azas dan taat hukum !! Rakyat membayar kewajiban kepada negara untuk dilindungi bukan untuk dizolimi!!

    Boha, tingkos do nahupasahat i?????

    Horas!!

  2. Beginilah hidup di Negara tercinta ini…sudah jatuh tertimpa tangga pula,
    Saya sarankan kepada pengurus Pengurus GM PSSSI & BBI se Dunia, apabila tidak ada tanggapan dari POLDASU, agar permasalahan ini dilaporkan ke KAPROPAM MABES POLRI (Brigjen Alantin Simanjuntak-Hutabulu), karena beliau pernah bertugas di POLDASU.

    Simanjuntak….Keep moving

  3. terima kasih atas bantuan GM-PSSSI&BBI kepada saudara simanjuntak, ..
    kami bisa bantu lewat dukungan dan Doa, Jangan menyarah inilah politik mereka. banyak dalih mereka agar tidak kena imbas dengan kelakuan mereka tapi saya yakin anda sudah di temani keluarga besar Simajuntak, pasti semua beres tolong dengan teliti orang lae juga jangan sampai berbelit dngn masalah ini karna sepertinya merekapun buat taktik agar lae juntak yang kena getahnya, dan untuk GM-PSSSI&BBI, selamat berjuang semangat kita para bangso batak kami mendukung,..

    Cheers,
    Paredangedang

  4. Kasian sekali Saudara kita Pagabe ini,..sabar ya bang,…terus lah berupaya lewat jalur hukum agar kejadian yang serupa tidak terjadi juga kepada orang lain dan yang melakukan mendapat hukuman yang setimpal , walau hanya membaca kesaksian dari Abang panggabean saya merasa sangat merasakan apa yang dialami,..semoga permasalahan ini cepat diselesaikan agar jangan berlarut,.larut ke pada pihak
    GM-PSSSI&BBI saya sudah sering membaca semua kinerja nya saya sangat salut atas punguan ini ,..

    teruskan dan jangan berhenti ,..semoga punguan ini tambah diberkati Tuhan dan pengurus,.pengurusa n juga diberi hikmah bijaksana ,..

    teririrng doa dan salam saya

  5. Peristiwa ini jangan hanya direlis di internet, tapi perlu juga direlis ke media cetak yang ada di Medan, agar persoalannya lebih meluas diketahui khalayak, dan mudah-mudahan ada petinggi aparat yang memberi respon memberi bantuan buat sdr Pagabe. yang penting kesaksian Pagabe jujur sejujurnya,sesuai fakta yang ada.

  6. salam sejahtera,

    sebagai warga yang pernah tinggal dan dibesarkan di deli tua, saya sangat prihatin atas apa yang terjadi disana. mari kita bicara dengan damai dan semoga pelaku yang sangat arogan dan keras dapat berubah dan tempuh jalan damai. kekerasan dengan cara seperti itu tidak pantas dilakukan apalagi oleh aparat. kalau curiga mengapa ngga lapor ke kepolisian aja. dan memang yang namanya yang berhubungan cafe yang dikenal dengan remang remang seperti itu indentik dengan selalu masalah, tidak memberikan suasana yang menenangkan, kalau bisa jangan berurusan apa lagi mengunjunginya. Sabar iya bang, orang bali bilang meeka akan menerima “KARMA” perbuatan yang tidak baik itu. Kalau uang bang ..yakinlah abang akan mendapat kembali lebih dai yang abang udah kehilangan. mari kita duduk bersama dan bicarakan masalahnya. pak aparat cari mereka yang arogan itu dan ajarkan jangan seperti koboi seperti itu. koboi aja jauh lebih baik dari anda. horas bang majuntak. GBU

  7. inilah bentuk kesadaran banngsa kita bangsa indonesia ini dimana yang kuat dia yang menang tetapi lae jangan menyerah sebab kita lah yang lebih kuat kalau kita tekun dan berdoa didalam nama yesus kitalah yang terkuat dari mereka karna mereka hanya plisi dan TNI nati mereka juga akan mati jangan menyerah lae kami mendukung didalam doa horas madihita saluhutna amin

  8. jangan menyera tulang songon nadidokni flm i lae terus berjuang didalam nama tuhan yesus kita pasti menang amin

LEAVE A REPLY