Dilaporkan ke Propam dan Denpom, Oknum Personil Densus 88 dan Anggota TNI, Bebas Berkeliaran

8
626

Pagabe Hasoloan Simanjuntak-Hutabulu No. 15 (35) korban pemukulan dua orang oknum petugas anggota Densus 88 berinisial FB dan anggota TNI berinisial Sl, menyatakan bahwa kedua pelaku tindak kekerasan terhadap dirinya ternyata bebas melenggangkangkung di Deli Tua, walau dirinya dan keluarga telah melaporkannya ke Propam Poldasu (29/04) dan Denpom I/BB (04/04).

“Saya terpaksa pulang ke Sumbul (Kabupaten Dairi, red) sebab kedua pelaku pemukulan itu masih bebas berkeliaran walau sudah kami laporkan ke Propam dan Denpom”, katanya melalui pembicaraan telepon selularnya. “Saya dan keluarga berkeinginan kasus ini diteruskan sehingga pelaku itu dapat menerima ganjaran sesuai dengan hukum yang berlaku. Kalau bisa mohon GM-PSSSI&BBI mendukung kami dalam mengurus persoalan ini”, pintanya.

Kepada JuntakNews, Kamis (07/05) Pagabe kembali menjelaskan tindakan kekerasan yang dialaminya dari 2 (dua) orang oknum polisi dan militer, sebagaimana telah diberitakan di web ini beberapa waktu yanglalu berjudul “Pagabe Simanjuntak, Dituding Mencuri Keyboard, Disiksa Oknum Densus 88 Poldasu”.

“Saya sudah membaca isi berita di website Simanjuntak itu, tetapi kurang lengkap, sebab selain dipukul, ditendang dan digelandang tanpabaju dan celana, saya juga diteror dengan menodongkan pistol ke kepala dari jarak 2 meter serta menembak ke tanah persis di sebelah kanan kaki saya. Tidak hanya itu, celana berikut isinya dompet, STNK, SIM, KTP dan uang sejumlah Rp. 10 Juta raib“, kata Pagabe ayah dua anak ini.

“Dompet sudah dikembalikan dan sekarang sudah berada di Polsek Delitua, dan saya tidak menerimanya ketika dikembalikan polisi sebab tidak lengkap isinya. Uang Rp. 10 Juta itu adalah modal saya yang dipinjamkan kakak saya untuk berjualan pinang dan coklat. Bagaimana saya mempertanggungjawabkan itu?”, tambahnya.

Pagabe dan Istrinya Ertalya br. Sembiring dengan kedua anaknya Tupado (6) dan Kaliaga Simanjuntak (2), akhirnya memilih pulang ke Sumbul, sebab trauma melihat kedua oknum pelaku kekerasan terhadap dirinya berkeliaran. Bahkan, Pagabe mengatakan bahwa FB menunjukkan sikap tidak bersalah dan mengembangkan rumors bahwa dirinya punya “deking” orang kuat. Rumors ini sepertinya benar sebab terbukti tidak ditahan walau sudah melakukan kejahatan pemukulan, penghilangan uang dan penembakan.

Merespon perkembangan kasus ini, Pengurus GM-PSSSI&BBI menyatakan sikapnya akan membantu, mendukung Pagabe mempermasalahkan penanganan hukum bagi kedua pelaku FB dan Sl.

“Kami akan menghubungi pihak Propam dan Denpom, mengenai hal ini. Pelaku kekerasan apalagi melakukan pengancaman dan penembakan dengan senjata api, harus mendapat tindakan tegas”, kata Pandapotan Simanjuntak, SH.

8 COMMENTS

  1. Pak hasoloan teruskan masalah ini dengan tenang cari perlindungan ke-punguan Batak Nahumaliang, GM-PSSSI&BBI, IKABSU
    dan juga ke-Punguan m marga, jaman sekarang udah malas orang jadi polisi, karna semua cara masuk serba uang dan merekapun bekerja jarang yng benar.

    Ginikan jadi repot keluarga lae sampai pindah , dan laporan laepun kurang di tanggapi oleh pihak kepolisian, terkadang kalo dinilai dari segi sosial,budaya, adat, polisi itu ga cocok dengan slogan mereka.. yang katanya melindungi masyarakat, coba orang yg berDuit pasti sewa pengacara tapi kalo seperti kita yg paspasan makan susah bagaimana mo melanjutkan perkara, uang untuk modal aja udah di ambil dan dompet dibalikkan oleh siapa yahh??
    Apakah aparat tersebut ato siapa?

    Kalo orng yg mukul lae yg balikin Dialah maling na .,,

    Pencuri itu namanya lae, kapolresnya juga adukan aja karena ga mau memproses masalah lae,…
    Yang tabah ya lae, infokan ke semua batak biar berhati2 dan lae saya harap jangan tinggal diam,

    horas,

  2. boa do i, naso adong be halak batak na olo masiurupan….ikkon jolo namora do asa di urupi…tarlumobi akka pejabat dohot manarpangkat i…

  3. Aku punya pengalam waktu minta tolong…..
    pernah ada marga manurung datang dari Medan bersama Ibunya datang kerumah katanya, tolong dulu antar kami ke rumah seorang May Jend TNI AD (orang Batak masih dongan tubu nmereka), krn Anak kita ini dikeluarkan dari SPN dengan tuduhan membongkar Lemari temannya satu asrama waktu di SPN.
    Saya antar ke Kompleks PATI TNI AD yg di Kalimalang, ternyata gerbang rumah beliau tertutup, yg nongol dari sela2 jeruji pagar hanya pembantu, akhirnya kami titip dokumen kronologis pemecatan dr SPN dan nomor telepon bersama oleh2 yg dibawa dr Medan yaitu Ikan Teri, Andaliman.
    Setelah kembali ke rumah,tak lama kemudian berdering telepon, ternyata yg menelepon istri Bpk. May Jend tsb, tentu senang dong perasaan si Ibu karena langsung direspon walaupun hanya melalui telepon…tetapi setelah selesai bertelepon kutanya si Ibu marga Manurung tsb apa katanya?…istri May Jend tsb bukannya menyuruh kami supaya datang ke rumahnya, tetapi cuma mengatakan….sudahlah mungkin lahan pengabdian si anak tsb bukan di Polisi makanya dikeluarkan dari SPN….cobalah dicari pekerjaan yang lain….maufs
    ba dao ma inantai dohot anakna ro tu Jakarta on mangalului keadilan, holan mandapot jawaban nasongon i….
    )*&*^&^%$#@#$%%^&^&*&?><????

  4. Saran nih, coba diangkat kasusnya dan dikirim ke suara pembaca koran nasional untuk dimuat, misalnya kompas, dll, sehingga para petinggi TNI juga mengetahuinya, biasanya ada respon dari instansi yang bersangkutan, sebagai info, akhir april kemarin ada seorang ibu (yang mengendarai mobil sedang mengantar anaknya ke sekolah) di daerah Jakarta selatan yang dibentak seorang polisi yang sedang mengatur lalu lintas di tengah jalan yang sedang macet di daerah jakarta selatan, karena saat itu sudah memepet jam masuk sekolah dengan kondisi jalanan macet, si ibu ini sepertinya mencoba memotong jalan hendak berbelok arah akibatnya kendarannya berpotensi mempermacet jalanan, kemudian datanglah pak polisi untuk menyuruhnya tetap lurus, si ibu tetap ingin belok, akhirnya pak polisi marah dan membentak dengan kata-kata kurang lebih “tidak punya otak”, kemudian berlalu sambil Pak polisi menunjuk jidat sendiri, yang mungkin menyampaikan pesan, “..pake otak dong..”.

    Kemudian si ibu sangat sakit hati dan tersinggung mendapat makian seperti itu di depan anak kecilnya yang jadi ketakutan karena ibunya dibentak seorang polisi, kemudian dia mengirim surat/ mungkin email ke suara pembaca harian kompas. Kalau tidak salah 2-3 hari berikutnya instansi kepolisian meresponnya juga di suara pembaca kompas dengan meminta maaf ke ibu tersebut serta menyatakan bahwa pak polisi yang bersangkutan telah dikenai hukuman setimpal dan telah diberikan training/ pengetahuan tambahan.

    Selain itu, untuk mendampingi kasus-kasus hukum terutama dengan instansi pemerintah, selain telah didampingi oleh organisasi sosial kemasyarakatan/ lsm seperti yang disebutkan, mungkin ada baiknya juga mulai dari saat melakukan pengaduan ke lembaga terkait, dilaporkan dan minta didampingi oleh pengacara atau biasanya lembaga bantuan hukum seperti lbh, pbhi dll, sehingga mereka tidak terlalu menggap enteng suatu permasalahan yang terjadi.

    Kita berharap semoga hal-hal ketidak adilan seperti yang dialami oleh lae Pagabe Simanjuntak dapat ditanggapi dan ditindak lanjuti oleh instansi yang bersangkutan dengan adil.

    Demikian.

  5. Tambahan Informasi
    UNtuk kasus kasus seperti ini dapat juga diadukan ke KOMPOLNAS 259,
    Saat ini sudah ada badan kompolnas 259 yang menangani pengaduan masyarakyat terkait aparat, saya sering meyaksikannya di TV One cukup banayk kasus2 yang diangkat, namun saya kurang tahu bagaimana cara dan prosedurnya mungkin dingan2 yang ada di milis inin ada yang lebih tahu soal kompolnas

    salam

  6. Horas!!

    Manat hamu ale he, tu akka Simanjuntak on, molo nunga murukhan dang tarida pinggol..hehehehe

    Manjuntak gentar!!

LEAVE A REPLY