• Home
  • Sian Ahu
  • Petunjuk penulis
    • Alamat Punguan
    • Perkenalan
  • Email
  • Gallery
    • Koparsibo-Medan
    • Amandemen AD/ART PSSSI&B Medan 1996
    • PEMBENTUKAN GM-PSSSI&BB SE-DUNIA
    • PSSSI&B Sektor 31 Medan
    • Bona Taon 2008 PSSSI Bandung
    • Pesta Bona Taon 2009 PSSSI&B Palembang 28/02/2009

Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, Resensi Buku

Ditulis oleh: Poltak Simanjuntak (H 15) 18/05/2009 – 18:2514 komentar
Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, Resensi Buku

* Pengarang Prof. DR. Bugaran Antonius Simanjuntak
* Edisi Ketiga, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia (YOI), revisi terhadap edisi satu dan dua.

Awalnya buku ini adalah disertasi Bungaran Antonius Simanjuntak yang merupakan karya akhir mencapai gelar Doktor di Universitas Gajah Mada Mada Yogjakarta tahun 1995, dengan Kata Pengantar dari Prof. Soedjito Sosrodihardjo, SH, MA yang juga salah seorang pembimbing penulis.

buku-bas

Buku ini diterbitkan pertama sekali pada Juni 2001 oleh Penerbit Jendela Yogyakarta, menyusul edisi kedua tahun 2002 di penerbitan yang sama. Penerbitan ulang tentu merupakan salah satu parameter yang menunjukkan betapa tulisan ini merupakan karya yang tergolong baik dan diminati. Peberuari 2009, atas permintaan khayalak pembaca dan keperluan revisi terhadap terbitan pertama dan kedua, kali ini Yayasan Obor Indonesia, salah satu penerbit terkemuka di Indonesia menerbitkan edisi revisi yang justru semakin mengukuhkan kehadiran buku ini sebagai salah satu referensi yang patut dipertimbangkan.

Secara terukur dan berani, buku ini mengungkapkan betapa lembaga agama dan kepercayaan yang diharapkan menjadi lembaga peredam konflik, justru gagal tampil sebagai lembaga pencegah atau pengambil solusi penyelesaian konflik atau rekonsiliasi.

Buku ini mengungkap berbagai kasus yang terjadi dalam tubuh organisasi gereja, semisal konflik di tubuh Hatopan Kristen Batak vs Zending Jerman (RMG) tahun 1917, HKBP vs Zending Belanda tahun 1932, Konflik Status dan Kekuasaan antara Huria Kristen Batak (HKB) dengan Huria Christen Batak (HCB) tahun 1934, Konflik HKBP yang menghasilkan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) tahun 1962 dan terakhir Kasus Perebutan Kekuasaan di tubuh HKBP, tahun 1993.

Sementara pada zaman prs-Kristen, bius merupakan organisasi dan budaya yang sangat efektif meredam konflik. Ketika bius menyelenggarakan upacara tahun baru yang dinamalan mangase taon, maka semua konflik harus dilupakan. Ritus tersebut menciptakan rekonsiliasi.

Dibandingkan dengan pasca memeluk agama Kristen, akibat persaingan dan perebutan kekuasaan di dalam organisasi gereja, justru agama itu menjadi sumber konflik serta melumpuhkan perannya sebagai peredam, walau dalam agama Kristen ada beberapa ritus yang dapat dipakai sebagai media peredam, misalnya Natal, Paskah, maupun Perjamuan Kudus (marulaon na badia).

Ritus-ritus ini hanya bersifat temporer dan kurang efektif dibanding ritus mangase taon dalam meredam konflik.

Penyebabnya yang dikemukakan dalam buku ini ada 3 (tiga), yaitu : Pertama, institusi tersebut tidak mempunyai sanksi (terutama fisik) yang kuat sehingga dapat memaksa untuk melakukan dan mematuhi perdamaian. Kedua, kemajuan pendidikan menimbulkan kesadaran terhadap peranaan peradilan negeri sebagai lembaga penyelesaian konflik terpercaya. Ketiga, semakin merosotnya nilai sosial religius pemimpin gereja akibat ulah pemimpin itu sendiri, sehingga kepercayaan umat berkurang drastis terutama belakangan ini.

Buku ini hadir sebagai referensi atas konflik-konflik yang terjadi dalam struktur masyarakat Batak Toba. Buku ini menjadi penting bagi studi konflik sosial religius untuk siapa saja.

Keseluruhan buku ini terdiri dari xx + 404 halaman; ukuran 16 x 24 cm, yang dapat diperoleh di Toko-toko Buku di seluruh Indonesia.

14 Komentar »

  • Timbul Simanjuntak says:
    19/05/2009 at 10:41

    Horas Appara… taringot tu bukku on nunnga adong di gramedia manang Kharisma tahe…, on angka sejarah na porlu botoonta jadi porlu jahaonnta. mauliate

    Timbul Simajuntak
    H-15 Raja Odong – Begu Soaloon ( Palembang )

    Klik disini untuk memberi komentar

    Poltak Simanjuntak (H 15) Reply:
    May 24th, 2009 at 09:40

    Na baru pe ahu pajumpang dohot Prof. BAS, di dok nasida nga adong di jual di Gramedia di Jakarta. Arga na Rp. 110.000,-. Molo ndang adong dope di Gramedia Palembang boi do di pesan lewat GM-PSSSI&BBI.

    Mauliate

    Klik disini untuk memberi komentar

    andre m siagian Reply:
    January 30th, 2010 at 12:09

    dimana kita bisa menemukan buku tersebut…? tolong dikabari karena saya juga ingin mengetahui siapa orang batak itu….?

    Klik disini untuk memberi komentar





  • Natal P. Sitanggang, M. Hum. says:
    12/10/2009 at 10:32

    Saya sudah membaca buku ini, tapi banyak hal yang harus dipertimbangkan lagi. Sebagai contoh: melecehkan hula-hula, konsep “Dalihan na Tolu”, dan semboyan yang tertera dalam lagu cipt. Nahum Situmorang, yang diklaim sebagai falsafah hidup orang Batak (Saya sebagai pembaca, orang Batak, dan pemerhati Budaya Batak).
    Pertama. Jika kata “budaya” dikonsepkan dengan hasil budi, pikiran dan karsa manusia untuk mempertahankan hidupnya (Koentjaraningrat), temuan bahwa orang Batak telah dapat melecehkan hula-hula, tidak dapat dikatakan sebagai budaya. dan jangan digeneralisasi (saya tidak menemukan hal itu di Samosir, huta hagodanganku). Jika itu ditemukan ditempat lain, hal tersebut bukanlah representasi dari Batak keseluruhan.
    Kedua. Saya memandang bahwa konsep “Dalihan na Tolu” tidak semestinya diterjemahkan dengan ‘tungku berkaki tiga’. Sebab tungku zaman dahulu tiada berkaki (sekarang karena teknologi, tukang besi membuatnya dari besi bundar,lalu dibuat berkaki). Jika kita lihat, dalihan itu terbuat dari batu yang tidak berhubungan satu dengan yang lain sehingga tidak dapat disebut sebagai kaki. Ketiganya berdiri sama tinggi dan sejajar. Aplikasinya dalam adat, baik hula-hula, dongan tubu maupun boru, sama dan sejajar dalam hal urgensinya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi)terhadap suhut. Karena konsep itu sebagai bentuk peribahasa, sebaiknya tidak diterjemahkan.
    Ketiga. Budaya batak diakui sudah ada ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Sementara itu, Nahum Situmorang baru lahir pada tahun 30-an. Bila kita anggap Nahum mencipatakan lagu “Marragam-ragam” pada usia remaja, katakanlah usia 17 tahun ke atas, berarti pada tahun 40-an (itu pun jika benar), berarti syair lagunya yang menyatakan, “hamoraon, hagabeon, hasangapon” (3H) BUKAN warisan (tidak dapat dikatakan sebagai filosofi) dari si jolo-jolo tubu yang sudah ratusan tahun itu. Itu hanya penglihatan sang komponis; dan bukan pembudayaan (bukan doktrin konvensional) dari nenek moyang orang Batak. Istilah itu hanya seolah-olah saja sebagai falsafah. Hal itu terjadi hanya karena torehan keindahan lagu tersebut. Oleh karena itu, 3H jangan disebut sebagai falsafah/budaya Batak. Pencermatan saya pun di tanah Batak tidak semua orang Batak terobsesi untuk menyekolahkan anaknya. Bila obsesi ini ada, menurutku hanya merupakan imbas dari pandangan Nahum Situmorang. Bukan hasil dari pembudayaan yang terjadi oleh nenek moyang kita.
    Terakhir. Kata ‘hagabeon’ (kata dasar ‘gabe’) tidak sama dengan ‘punya keturunan yang banyak’. Bila kita bandingkan dengan filosofi/peribahasa lainnya dalam budaya Batak, yakni, “gabe na niula, sinur nang pihahan” (kalau ini, saya percaya murni filosofi Batak) kata “hagabeon” yang diartikan penulis dalam buku itu, perlu dipertimbangkan lagi. Terkait dengan filosofi ‘gabe na niula’ kata “hagabeon” lebih tepat (menurut kesadaran linguistik dan kebatakan saya) diartikan dengan ‘makmur, sentosa’.

    Paralelisme tiga istilah itu, secara semantis menyatakan intensitas kualitatif (kesangatan). Dalam bahasa Indonesia kita mengenal, istilah “hancur lebur”, “gelap gulita”, “kaya raya”, “gundah gulana”. Penggabungan kata seperti ini umumnya menyatakan ‘kesangatan’. Sementara itu, dalam bahasa Batak satu kata dapat dibentuk dari penggabungan tiga kata. Misalnya, kata “ngolunghon” (berasal dari kata ngolu=hidup, ahu=aku, on=ini)

    Subjektivitas penulis juga agak menonjol dalam tulisan itu.

    Klik disini untuk memberi komentar

    Mangampu Nababan Reply:
    February 25th, 2010 at 14:26

    Buat Pak Natal P.Sitanggang M.hum. Hasil opini yang anda kemukakan adalah hasil belajar anda mengenai budaya Batak secara komunitas. Tapi anda seharusnya melihat lebih dalam lagi, bahwa konsep Dalihan Na Tolu telah banyak di”miringkan” oleh banyak pelaku adat. Sebagai contoh, peran Tulang (hula-hula) dalam sebuah pesta pernikahan. Menurut anda dapatkah sepasang muda-mudi Batak menikah jika tidak ada kehadiran Tulang ?. Tidak bisa bukan ? Secara konseptual, menikah adalah bukti kita melaksanakan perintah Tuhan. Kita menyatukan “rasa” dengan Tuhan. Tuhan adalah way of married. Tapi nyatanya , bagi orang Batak, Tulang yang menjadi “way of maried (moment)”. Dalihan Natolu,menginginkan lebih untuk porsi pernyataan hidup masyarakat. Jangan buat orang Batak seolah-olah tidak bisa hidup jika tidak ada Dalihan Na Tolu. karena orang Batak yang (maaf) beragama Muslim, tidak tahu apa itu Dalihan Na Tolu. Tapi lihatlah, mereka bisa hidup dan maju. Kemudian yang ke 2, jika konteks hamoraon, hagabeon, hasangapon (3H) yang ada dalam sair Nahum Situmorang bukan merupakan filosofi, sekarang anda buka buku Umpasa yang ada punya, bukankah 99,99 % dengan jelas menyiratkan tujuan akhir/harapan dari umpasa dalam perkawinan itu berakhir di 3H ? Nahum Situmorang adalah orang Batak yang melihat itu lebih haslu dari sudut seni/art. Dan itu lebih mengena dibanding analisa yang hanya anda terapkan berbanding terbalik dengan situasi di kampung saudara. Semoga perbandingan ini berguna.

    Klik disini untuk memberi komentar

    Natal P. Sitanggang Reply:
    June 3rd, 2010 at 16:01

    Pak Mangampu yang terhormat. Kebetulan saya pernah melakukan penelitian/riset yang intens terhadap konsep emosi dalam budaya Batak Toba. Tahun 1998. Saya menggunakan Teori Semantic Natural Metalanguage. Saya melakukan pengambilan data empat lokasi di Bona pasogit dan satu di perantauan. Sebagaimana Amang sebutkan, “Dalihan na Tolu” banyak yang ‘dimiringkan’. Yang namanya ‘dimiringkan’ berarti bukan menjadi gambaran yang sejati dari Dalihan na Tolu. Jadi, jika Bapak setuju dengan Pak Bungaran yang menyatakan bahwa melecehkan Hula-hula adalah budaya, berarti Bapak termasuk di dalamnya. Batak yang sejati harus memegang teguh prinsip Dalihan na Tolu. Jika tidak sejati, berarti DALLE.
    Pertanyaan Bapak yang menyatakan. “bisakah muda-mudi Batak menikah jika tidak ada kehadiran Tulang?” Jawaban saya, relatif bisa. Lalu bagaimana yang gak punya Tulang sebagai hula2? tetap aja bisa kan? Itu makanya ada konsep ‘mangalua’ dalam budaya batak toba. Tapi, jika Bapak bertanya, bisakah adat Batak berjalan tanpa Hula2? Barulah pertanyaan itu pas dengan jawaban yang Bapak berikan.

    Amang menyebutkan, “Menikah termasuk menyatukan rasa dengan Tuhan.” Adakah fakta yang bisa Bapak berikan, bahwa Tuhan juga merasakan kesatuan itu? Selain itu, Bapak menyebutkan, “Tuhan adalah way of married”. Sejauh mana itu dapat dibenarkan? Pernahkan Bapak melihat itu secara kasat mata. Dalam budaya Batak Toba, tidak ada saya temukan konsep yang menyatakan, “Hula2 adalah way of married”. Dan, tidak ada pula keseolah-olah saya membuat orang Batak bergantung sama hula2. Tetap kok bisa hidup tanpa hula2. Cuma, konteknya harus dilihat, Pak.
    Lalu, Bapak katakan Batak Muslim tidak tahu dalihan na tolu, Bapak salah besar. Saya punya banyak bukti untuk menyalahkan Bapak. Bahkan yang saya temukan, mereka lebih beradat dibanding dengan yang Kristen.
    Bapak menyebutkan 99,99% menyiratkan 3H. Jujur dulu, Pak. Sudah melakukan penghitungan itu dengan sesungguhnya? Maunya, jangan Umpasa aja sumbernya. Karena Umpasa konsepnyaselalu berisi harapan itu, emangnya harapan apa lagi?. Jika tidak berisi harapan, bukan umpasa namanya. Sama itu dengan, konsep “Na Niura” tidak perlu dimasak dengan api. Jika sudah dimasak dengan api, bukan na niura namanya.
    Terakhir, Bapak menyatakan berbanding terbalik. Tapi cobalah Bapak pikirkan ‘apa kesejatian dari adat Batak dengan konsep Dalihan na Tolu’ Apakah Bapak setuju dengan generalisasi bahwa orang Batak itu suka berpura-pura dan mempunyai budaya melecehkan hula2 (ada dalam tulisan Pak Bungaran). Sekali lagi, bila Bapak setuju, berarti Bapak adalah orang yang suka berpura-pura, dan Leas terhadap hula2. Saya tidak termasuk dalam itu.

    Klik disini untuk memberi komentar





    jhon sagala Reply:
    March 12th, 2010 at 10:05

    kepada bapak Natal P Sitanggang, saya kurang setuju bagian kedua yang menyatakan bahwa
    . Saya memandang bahwa konsep “Dalihan na Tolu” tidak semestinya diterjemahkan dengan ‘tungku berkaki tiga’. Sebab tungku zaman dahulu tiada berkaki (sekarang karena teknologi, tukang besi membuatnya dari besi bundar,lalu dibuat berkaki). Jika kita lihat, dalihan itu terbuat dari batu yang tidak berhubungan satu dengan yang lain sehingga tidak dapat disebut sebagai kaki. Ketiganya berdiri sama tinggi dan sejajar. Aplikasinya dalam adat, baik hula-hula, dongan tubu maupun boru, sama dan sejajar dalam hal urgensinya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi)terhadap suhut. Karena konsep itu sebagai bentuk peribahasa, sebaiknya tidak diterjemahkan.
    menurut saya terjemahan itu sudah cukup bagus karena jika kita melihat dari sejarah bahwa sebelum manusia mengenal besi, mereka menggunakan batu sebagai alat untuk keperluan mereka, nah disi kita perlu melihat bahwa tungku yang di gunakan pada zaman logam memang berkaki tiga, dan pada zaman batu juga mereka mereka menggunakan batu sebagai tempat untuk memasak, jadi batu tersebut harus ada tiga sebagai penyokong agar tidak tumpah.

    Klik disini untuk memberi komentar

    Natal P. Sitanggang Reply:
    June 4th, 2010 at 18:45

    Pak Jhon Sagala. Dalam dunia linguistik (khususnya terjemahan), ada konvensi yang menyatakan bahwa bentuk2 peribahasa (pantun, kata kiasan, pepatah, petitih, dll.) tidak tepat untuk diterjemahkan. Dan tidak semua kata dalam satu bahasa dapat diterjemahkan dalam bahasa lain. Apalagi kalau ditermahkan secara harfiah. Frasa “kambing hitam” yang berarti ‘hal atau seseorang yang dipersalahkan’ tidak bisa diterjemahkan dengan ‘black coat’ dalam bahasa Inggris, atau ‘hambing na birong’ dalam bahasa Batak. Frase ‘take place’ dalam bahasa Inggris tidak bisa diterjemahkan dengan ‘ambil tempat’ dalam bahasa Indonesia. Kata ‘ngaben’ dalam budaya Bali, tidak pernah bisa diterjemahkan dengan ‘membakar mayat, atau mayat panggang’. Kata ‘ngabuburit’ dalam bahasa Sunda, tidak bisa diterjemahkan. Pernahkan Bapak dengar cerita si Timba Laut? Kira2 seperti ini ceritanya:
    Ada seorang ibu mempunyai anak kecil. Dia sering membawa anaknya itu bepergian. Di Ajibata dia masih menggunakan kalimat, “E.. nga hapit gelleng ki..!” Tapi, ketika sudah sampai di Medan, dia menggunakan terjemahan harfiah, lalu mengatakan, “Aduh, sudah terjepit kecilku!”

    Aneh kan terjemahan itu?
    Demikianlah “Dalihan na Tolu” merupakan sebuah ungkapan kias terhadap sistem pranata dalam budaya Batak, tidak seharusnya diterjemahkan secara harfiah. Biar aja itu, masuk ke bahasa mana pun. Karena selain itu yang lebih pas, bahasa Batak itu pun sedikit punya jati diri. Kita tidak usah sungkan mengucapkan “Dalihan na Tolu” walaupun kata yang mengiringinya bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Jadi, terjemahan “Dalihan na Tolu” ke Indonesia dengan “Tungku berkaki tiga’ sangat tidak tepat.

    Klik disini untuk memberi komentar





  • pangabahan says:
    04/12/2009 at 14:52

    andigan do natal simanjuntak

    horas

    Klik disini untuk memberi komentar

  • pangabahan says:
    04/12/2009 at 14:55

    andinggan natal simanjuntak

    horas

    Klik disini untuk memberi komentar

  • carlos says:
    20/01/2010 at 02:59

    adong do toho na nanidokni buku i masalah agama gabe dang perdam komflik alai nidok ni amanta sitanggang i pe sangat toho do,dang adong cerita na boi di lecehkan hulu-hula di adat batak nang sian segi dia pe dibuat,jadi molo boi nian porludo diterbithon muse buku naasing sebagai penyeimbang asa lam tingkos nian sude

    Klik disini untuk memberi komentar

  • Mangampu Nababan says:
    25/02/2010 at 14:42

    https://me.yahoo.com/a/a9N
    Buat Pak Natal P. Sitanggang M.Hum.
    Konsep Dalihan na Tolu yang anda pelajari adalah konsep yang berdasar komunitas. Anda tidak bisa membandingkannya hanya dengan kampung anda. Sebagai contoh filosofi tentang Hula-hula. Saya ingin tanya jika kita akan menikah, kemana pasangan itu menghadap lebih dahulu ? Ke gereja (pendeta )atau ke Hula-hula (Tulang )/. Saya bisa pastikan di kampung saudara tidak akan bisa sepasang anak manusia menikah tanpa ada Tulang di pesta nya walaupun sudah diteguhkan/dipasu-pasu oleh Pendeta ? Jika kata “budaya” dikonsepkan dengan hasil budi, pikiran dan karsa manusia untuk mempertahankan hidupnya (Koentjaraningrat), kontribusi apa yang telah diberikan oleh filosofi Dalihan Na Tolu dalam menyelesaikan kemiskinan di Tanah Toba ? Saudara bisa membuat suatu bias budaya untuk memajukan suatu komunitas. Jika itu terjadi maka filosofi yang dianut adalah mengarah kepada bias yang dirasakan oleh komunitas tersebut.Bukan kepada suatu filosofi yang sepertinya hanya mewarisi “budaya ” tanpa mempunyai bias untuk memajukan komunitasnya. Kemudian yang ke 2, Sair “hamoraon, hagabeon, hasangapon” (3H)dalam lagu Nahum Situmorang saya pastikan adalah filosofi Orang Batak. Namun karena bahasa yang digunakan menggunakan art/seni tinggi, sebagian orang tak mampu menembus makna sesungguhnya. Ingin bukti, buka buku Umpasa yang anda punya, dan baca di sana hampir 99,99 % tujuan akhir umpasa untuk orang menikah adalah 3H. Anda menolak ? jadi filosofi yang berbasis komunitas bukan seharusnya digeneralisasi, tetapi filosofi yang berbias generalitas untuk maju, itulah yang di generalisasi. Semoga berguna

    Klik disini untuk memberi komentar

  • Natal P. Sitanggang says:
    03/06/2010 at 16:47

    Apa alasan Bapak, dan peraturan mana yang menyebutkan bahwa Batak Toba di Pulau Samosir tidak bisa sebagai pembanding? Emangnya Samosir bukan Batak. Masih asli lagi. Saya melihat dapat melihat nilai keluruhan yang terkandung dalam Dalihan na Tolu, baik di Bona Pasogit, maupun di Perantauan. Begitu hormatnya batak-batak yang jika mengetahui saya sebagai hula-hulanya (termasuk yang muslim). Padahal penghormatan itu bukan atas permintaan saya. Bila, ada konteks menikah, mengharuskan menghadap tulang lebih dahulu daripada ke pendeta, ada sejumlah alasan. Satu. Dalihan na Tolu sudah lebih dahulu menjadi darah daging orang batak, dari pada kependetaan (apa sih artinya pendeta? dia bukan tuhan kan?) Resiprokal (timbal balik) emosional hula2 dengan berenya jauh lebih tinggi daripada pendeta ke ruasnya. Dua, secara struktural, dalam organisai mana pun (termasuk organisasi sosial) pejabat tertinggi selalu lebih terakhir dalam menandatangani sesuatu, misalnya, surat. Pernahkah bapak melihat itu di kantor bapak bekerja? atasan selalu terakhir. Hal inilah yang terjadi dalam budaya batak. Jika lebih dahulu pendeta baru hula2, berarti hula2 penentu. Tetapi jika lebih dahulu hula2 daripada pendeta, berarti pendeta yang menjadi penentu.
    Peranan Dalihan na Tolu dalam memberi solusi kemiskinan di Tanah Toba dapat kita lihat dari segi pengayoman (termasuk pauseang) dari hula2, dan gogo (tenaga) dari boru bila ada sesuatu yang harus diselesaikan. Perihal kemiskinan ini, justru gereja yang harus dipertanyakan. Bapak lihat yayasan2 HKBP: Tak bermutu!!!!
    Bias yang Bapak sebutkan saya kurang paham.
    Mudah2an bapak mengerti bhw Dalihan na Tolu adalah sebentuk kearifan lokal yang diberikan Tuhan kepada orang Batak. Konsep sejatinya juga adalah mengasihi sesama. Orang yang dangkal tentang konsep budaya tentu tidak bisa melihat keluhuran itu.
    Menurut bapak, metode apa yang benar dalam meneliti konsep itu?
    Kalimat terakhir, saya kurang mengerti. Saya tidak menggeneralisasikan samosir sebagai budaya Batak Toba keseluruhan, saya telah melakukan penelitian itu. Komunitasnya bukan samosir saja. Pak Mangampu, sudah atau belum?
    Emangnya apa menurut bapak pengertian dari bahasa yang menggunakan art/seni tinggi? Teori apa sih yang anda pakai sehingga anda bisa menembus makna yang sesungguhnya? Jangan2 bukan itu yang sesungguhnya, Pak. Bila itu yang sesungguhnya, gimana lagi yang tidak sesungguhnya. Pernahkah Bapak tahu, konsep gelombang teranfersal dalam fisika? Mirip itulah gelombang makna dalam seni/art. Bukan seperi yang Bapak bilang. Apa referensi yang anda pakai?

    Klik disini untuk memberi komentar

  • beni says:
    17/06/2010 at 11:26

    wah diskusi yg sangat menarik, bukan hendak menjadi penganut ekletisme tapi saya rasa dua sudut pandang ini perlu bersama2 dikaji dan ditemukan kesesuaiannya dengan jaman sekarang tanpa menghilangkan esensi yang ada. dan bila memang ditemukan beberapa perbedaan pandangan dari beberapa daerah yg berbeda saya rasa itulah kemajemukan yg menjadi kekayaan khasanah budaya Batak. Pak Sitanggang saya lihat ingin mengembalikan Batak kepada kemurniannya sebelum masuknya pengaruh2 agama baik kristen atau muslim atau agama lain dan organisasi lain. karena kehadiran institusi ini mutlak memberi pengaruh terhdap budaya Batak…saya rasa Batak dalam konteks tertentu memang harus dimurnikan dan beberapa perbedaan juga harus diterima sebagai nilai kekayaan tanan Batak keseluruhan. Horas diskusi yg sangat menarik, kami dari sada pardomuan USD, sebuah komunitas Mahasiswa Batak salah satu kampus swasta di Jogja sedang ingin menumbuhkan Budaya Batak dalam diri generasi muda terutama batak perantau… jadi mohon bimbingannya supaya kami mengenali Batak dengan lebih baik…horas horas, menjuah-juah

    Klik disini untuk memberi komentar

Tinggallkan komentar anda!

Click here to cancel reply »

CAPTCHA Image CAPTCHA Audio
Refresh Image

Klik disini untuk untuk menghapus komentar anda

Pesan Sekarang


info lengkap: klik di sini >>


Langganan Artikel

Masukkan alamat email anda untuk menerima
berita dan artikel terbaru dari simanjuntak.or.id

Bergabung di Mailing List

Masukkan alamat email anda

Powered by www.groups.yahoo.com

Bonapasogit »

Marbinda

Marbinda

Beragam cara orang Batak menggalang kebersamaan. Melalui perkumpulan marga misalnya, yang diimplementasikan dengan partangiangan (doa syukuran bersama) sekali sebulan. Dengan membentuk arisan,dalam ruang lingkup marga, lingkungan …

Baca artikel lainnya »

GM-PSSSI&BBI »

Ayo Dukung! Bonita Simanjuntak di Ajang Indonesia Mencari Bakat

Ayo Dukung! Bonita Simanjuntak di Ajang Indonesia Mencari Bakat

JuntakNews (Medan),
Putri remaja dari pasangan FEH Simanjuntak dengan Ratna Sukaningrum warga Kota Medan Propinsi Sumatera Utara, Bonita Simanjuntak siswi kelas 3 SMA Kalam Kudus Medan ini memiliki talenta di bidang tarik suara.
Sebagai bagian dari keluarga …

Baca artikel lainnya »

Punguan »

JP Simanjuntak Menggantikan Jongkas Simanjuntak sebagai Ketua PSSSI&BBI Sidikalang

JuntakNews (Sidikalang),
Pesta perayaan Ulang Tahun PSSSI dan BBI Sidikalang dan Periodisasi Pengurus 2009 – 2013 dilaksanakan hari ini Minggu (30/08) bertempat di Gedung Olah Raga Jalan RSU Sidikalang Kabupaten Dairi.
Dengan thema “Idama denggan nai …

Baca artikel lainnya »

Simanjuntak »

Tarombo Online Simanjuntak Sitolu Sada Ina

Tarombo Online Simanjuntak Sitolu Sada Ina

Tarombo Online Simanjuntak Sitolu Sada Ina ini di prakarsai oleh beberapa orang keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina, yang peduli terhadap kelangsungan silsilah Sitolu Sada Ina. Prakarsa ini merupakan bentuk penghormatan yang tulus atas kesungguhan dan …

Baca artikel lainnya »

Pengunjung

Kunjungan hari ini : 15
Pengunjung Yang Online : 0
Member online: 0
IP anda : 38.107.191.113

Member

  • Register
  • Log in
  • Entries RSS
  • Comments RSS
  • WordPress.org

Blogroll

  • Tarombo Online
  • Simanjuntak
  • Bungaran Simanjuntak
  • Radio Komunikasi
  • LSPL
  • Poltak Simanjuntak
  • Boru Simanjuntak
  • Pasar Souvenir
  • Matasaya Photography

Komentar Terbaru

  • bernat simanjuntak H.16 (simanobak) on Sejarah Simanjuntak
  • Rose Simanjuntak on Sejarah Simanjuntak
  • Rose Simanjuntak on Tarombo Online Simanjuntak Sitolu Sada Ina
  • Rose Simanjuntak on Masakan Khas Batak – Naniura
  • SAM on Kasmin Simanjuntak Terpilih Menjadi Bupati Toba Samosir
  • Jufri on Sekilas Tentang Foto Panggung Tanpa Flash
  • Natal P. Sitanggang on Dikotomi Horbo Jolo & Horbo Pudi, Perlukah?
  • fandi on Aneh Tapi Nyata
  • sahrel samosir on Asal-usul Batak
  • Giok.SIBARANI on Ayo Dukung! Bonita Simanjuntak di Ajang Indonesia Mencari Bakat

 

Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Pembahasan 14.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 potongkueenty.jpg malam-dana1.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008

 

16.jpg 14-ketum-dan-pengurus-lainnya-sdg-manortor.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 donor3.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008

 

Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 devotion.jpg malam-dana2.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008 penguruskoparsibo.jpg 17-mantan-ketum-l-simjtk-saat-mangolopi.jpg Bona Taon Simanjuntak Sitolu Sada Ina Bandung - Cimahi 2008
Powered by WordPress | Log in | Entries (RSS) | Comments (RSS) | theme by Bungaran Simanjuntak