Alm. Sia Marinus Simanjuntak, Sosok Pemimpin dan Pejuang

13
749

Tidak banyak orang berlatar jurnalistik (wartawan) bisa menjadi pemimpin formal pemerintahan. Di Indonesia, figur seperti itu masih sehitungan jari. Di level atas sebut misalnya alm Adam Malik, wartawan yang meroket menjadi Wakil Presiden, atau Harmoko yang menjadi Menteri Penerangan di era kekuasaan Soeharto. Atau sebut juga BM Diah pemilik suratkabar Merdeka yang juga pernah menjadi Menteri Penerangan di era Soekarno.

Di jajaran setingkat bupati, SM Simanjuntak adalah salah satunya. Mantan Bupati Tapanuli Utara periode 1958-1963 dan mantan Ketua DPRD Tapanuli Utara 1950-1955 ini di masa mudanya dikenal sebagai praktisi jurnalistik yang gigih. SM Simanjuntak yang nama lengkapnya Sia Marinus Simanjuntak pernah menjabat redaktur suratkabar Suara Kita di P.Siantar (1926-1927), redaktur sk Persatoean Tarutung (1929-1930), redaktur sk Zaman Kita dan redaktur sk Timboel di P.Siantar (1934-1941).

Almarhum SM Simanjuntak (Sitombuk 14) yang bergelar Ompu Taguru Raja II, pada masa mudanya sudah menunjukkan jiwa patriotisme, dan itu dibuktikan dengan sepakterjangnya ikut bergabung dengan tentara pejuang melawan Belanda dan Jepang. Nama SM Simanjuntak banyak disebut-sebut dalam berbagai tulisan menyangkut perjuangan kemerdekaan di Tapanuli. Dalam buku besar Perjuangan Rakyat Semesta Sumatera Utara yang diterbitkan Forum Komunikasi Ex Sub Teritorium VII Komando Sumatera Jakarta (1979), nama SM Simanjuntak disebut sebagai salah satu tokoh pejuang yang proaktif sebelum mau pun sesudah proklamasi. Dalam pembentukan KNI (Komite Nasional Indonesia), SM Simanjuntak ikut punya andil seperti halnya Mr. Rufinus Lumbantobing, dr Luhut Lumbantobing, Mr. Humala Silitonga, Tagor Lumbantobing, Abisai Hutabarat, Raja Saul Lumbantobing, dan banyak tokoh lainnya.

SM Simanjuntak menurut data sejarah pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara menjabat Bupati sejak 1 Agustus 1958 s/d 30 Juni 1963. Sebelumnya beliau juga pernah menjadi Ketua DPRD-GR Tap. Utara periode 1950-1955, dan anggota DPR-RI dan Dewan Konstituante di Jakarta 1955-1957.

SM Simanjuntak lahir pada 1904 di kampung Sosor Panggabean Lintong Tampahan, Balige. Almarhum anak sulung dari 7 bersaudara, dari perkawinan ayahnya Kepala Kampung Raja Jeremias Simanjuntak dan Salonta br. Napitupulu. Almarhum SM Simanjuntak dikaruniai 14 anak (4 laki-laki, 10 perempuan) dari pernikahannya dengan boru Siahaan dan boru Napitupulu. Salah seorang putranya yakni Ir. Sahala DK Simanjuntak yang beristerikan M br Tambunan menetap di Balige menempati rumah keluarga yang bersejarah di Jalan Bukit Barisan III no 18. Dari Ir Sahala Simanjuntak banyak diperoleh bahan penulisan biografi tentang ayahandanya SM Simanjuntak.

DI BAWAH BENDERA MERAH PUTIH

Seputar perjalanan hidup dan pengabdian SM Simanjuntak sebagaimana dipaparkan anaknya Ir Sahala Simanjuntak, tergambar bahwa alm SM Simanjuntak adalah figur yang cukup lama mendapat kepercayaan pemerintah, baik di bidang legislatif mau pun eksekutif. Itu terlihat dari peran aktifnya yang cukup lama di bidang legislatif semasa hidupnya. SM Simanjuntak tercatat sebagai tokoh yang disegani berbagai kalangan. Sebuah tulisan cukup menarik bertajuk Di bawah Bendera Merah Putih, dituliskan oleh keturunannya (SM Simanjuntak Jr) sebagai catatan kenangan saat peringatan 100 tahun SM Simanjuntak di Balige tanggal 11 Oktober 2004.

Toean SM Simanjuntak Soedah Ditangkap, demikian headline halaman muka suratkbara Bendera Kita, yang terbit di P.Siantar pada 1931. Isi kliping suratkabar tersebut memang sudah sulit dibaca karena kertasnya sudah lusuh, dan sudah berulangkali difotokopi. Namun dari sebagian teks yang masih bisa terbaca, tercermin semangat perlawanan kaum pribumi menentang penjajah Belanda waktu itu, baik melalui tulisan di suratkabar mau pun konfrontasi secara fisik.

Dengan fasilitas sebagai anak seorang Kepala Kampung, SM Simanjuntak memperoleh rekomendasi dari controleur (konteler) Belanda di Toba untuk masuk HIS di Pematang Siantar pada 1915. Setelah tamat HIS di Siantar pada 1924, beliau memasuki bidang jurnalistik memenuhi panggilan bakat dan jiwa kejuangannya. Motif utama menjadi wartawan terutama adalah panggilan semangat juang menentang Belanda melalui pena. SM Simanjuntak kemudian dipercayakan menjadi anggota redaksi suratkabar Soeara Kita di P.Siantar tahun 1926, dari sana menjadi redaktur suratkabar Persatoean di Tarutung tahun 1928 sampai 1931.

Menjadi wartawan di jaman penjajahan tidaklah mudah, berhubung banyaknya rintangan yang harus dihadapi, baik melalui sensor dan ancaman dari pihak penguasa. Akibat tulisan SM Simanjuntak yang getol mengkritisi Belanda, ia ditangkap dan dipenjarakan di Tarutung. Keluar dari penjara, SM tidak lantas jera menulis. Pada 1934, SM menjadi staf redaksi suratkabar Zaman Kita di P.Siantar sampai tahun 1941, selain ikut menulis di koran Timboel.

Berikutnya, pada 1941, bersamaan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia, gerakan para wartawan dikekang bahkan dilarang tentara Jepang karena dianggap sebagai kegiatan memprovokasi rakyat. Suratkabar Zaman Kita dan Timboel, dilarang terbit. Sejak itu SM Simanjuntak hanya melakukan pergerakan di bawah tanah bersama kawan-kawan seperjuangan. Menjelang akhir 1941, tentara Jepang membentuk badan pergerakan yang dinamakan Tapanuli Tsyu Hokokay. Ketuanya adalah Dr Ferdinand Lumbantobing di Sibolga. Badan tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia. SM Simanjuntak ikut dipanggil Dr Ferdinand agar datang ke Sibolga bergabung dengan pergerakan itu.

Ternyata, sebelum janji kemerdekaan oleh Jepang itu terwujud, Bung Karno dan Bung Hatta telah terlebih dahulu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta. Tapanuli Tsyu Hokokay bentukan Jepang kemudian dirobah menjadi Komite Nasional Indonesia (KNI) sesuai instruksi pemerintah pusat, serta menunjuk Dr Ferdinand Lumbantobing tetap sebagai ketua, dan SM Simanjuntak sekretaris.

Tak lama setelah proklamasi kemerdekaan, tentara Belanda muncul kembali melakukan agresinya. Rakyat Indonesia termasuk di Tapanuli serentak bangkit melawan, dipelopori pejuang Batak militan seperti Dr Ferdinand, SM Simanjuntak, Mr Rufinus Tobing, Mr Humala Silitonga, Raja Saul Tobing, dan lain-lain. Belakangan SM Simanjuntak termasuk salah satu tokoh pergerakan yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) atau bahkan most wanted oleh tentara Belanda.

Ada kejadian yang mengharukan pada akhir 1948, saat isteri SM Simanjuntak meninggal dunia di kampung Sosor Panggabean Balige. Pada saat iringan pembawa jenazah almarhumah akan dikebumikan, tentara Bellanda muncul melakukan pencegatan, dan semua rombongan dirazia. Tentara Belanda jadi kalap dan marah besar karena ternyata SM Simanjuntak yang dicari-cari tak ditemukan di antara rombongan pengantar jenazah. Komandan tentara Belanda mengultimatum, kalau SM Simanjuntak tidak memunculkan diri seraya menyerah, jenazah tak boleh dikebumikan. Akhirnya SM Simanjuntak keluar dari dalam sebuah rumah adat yang ada di kampung tersebut, langsung menyerahkan diri untuk ditangkap. Beliau kemudian dibawa paksa dan dimasukkan ke penjara di Balige. Dengan tertangkapnya SM, barulah jenazah isterinya diijinkan untuk dikebumikan.

Setelah penyerahan kedaulatan RI, SM Simanjuntak masih terus bergerak di bidang politik. SM Simanjuntak kemudian menjadi Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Cabang Tapanuli Utara, dan kemudian dipercayakan menjadi Ketua DPRD-GR Tapanuli Utara periode 1950 sampai 1955. Pada Pemilu pertama 1955, PNI memperoleh kemenangan. SM Simanjuntak dilantik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI sekaligus anggota Dewan Konstituante Republik Indonesia tahun 1955 sampai dengan dibubarkannya DPR-RI dan Dewan Konstituante oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit 5 Juli 1959. Pada bulan Agustus 1958 SM Simanjuntak dilantik menjadi Bupati Tapanuli Utara.

PANDANGAN SM SIMANJUNTAK

Almarhum SM Simanjuntak yang meninggal tahun 1986 pada usia 82 tahun, semasa hidupnya tetap memberi perhatian terhadap perkembangan pemerintahan di Tapanuli Utara. Menurut almarhum sebagaimana ditirukan putranya Ir Sahala Simanjuntak kepada penulis, berbagai kemajuan telah dicapai dalam era pembangunan di seluruh Indonesia, termasuk Tapanuli Utara. Namun ada satu hal yang kerap dikritisi SM. Kelemahan yang perlu dicermati dalam konteks memajukan Tapanuli Utara (waktu itu Taput begitu luas mencakup Toba, Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi), adalah kenyataan bahwa aktivitas lebih tinggi dari produktivitas. Artinya, produktivitas masih jalan di tempat, sementara aktivitas dalam berbagai bentuk sangat menonjol

Menurut pandangan SM Simanjuntak, PAD (Pendapatan Asli Daerah) sulit mengalami kenaikan signifikan karena kurangnya perhatian dan pencermatan bagaimana menggali potensi-potensi yang ada untuk mendongkrak PAD. Banyak yang terlena oleh anggaran pembangunan, tapi sangat lemah dalam upaya meningkatkan PAD.

Pandangan SM Simanjuntak setidaknya mendekati kebenaran jika dicermati secara obyektif. Pada waktu ada prokontra soal Peta Kemiskinan Tapanuli, SM Simanjuntak menyatakan tak sependapat. Masalah utama, menurutnya, bagaimana supaya potensi yang ada dibangkitkan dan jangan terlena oleh kucuran dana formal dari pusat dan provinsi.

SM Simanjuntak yang mahir berbahasa Belanda dan Jepang, banyak menelaah bacaan tentang perkembangan di luar negeri. Mengenai otonomi daerah, menurut beliau, sesungguhnya otonomi itu akarnya sudah ada dalam sistem HUTA (kampung) di Tano Batak. Di kampung-kampung Batak, otonomi tercermin dari kemampuan warganya mengurus diri sendiri. Justru itu praktek otonomi daerah perlu dilihat dalam ssitem kemandirian yang ada di sebuah huta. Keberhasilan otonomi sangat ditentukan kokohnya kesatuan dan persatuan. Dulu, kesatuan dan persatuan itu rawan akibat politik pecah belah Belanda. SM Simanjuntak terobsesi untuk merekatkan persatuan dan kesatuan saat menjadi pimpinan DPRD-GR dan Bupati Tapanuli Utara.

Menurut Ir Sahala Simanjuntak, pada tahun 1950 an, Dalihan Natolu dimunculkan ayahandanya SM Simanjuntak dan kawan-kawan menjadi sebuah program kerakyatan yang sangat populer, dan ternyata Dalihan Na Tolu menjadi sistem kultural Batak yang melekat hingga sekarang. Bapak sangat peduli pada masalah kultur Batak karenanya sangat getol menggali dan mensosialisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi Dalihan Natolu, papar Sahala Simanjuntak.

Sia Marinus Simanjuntak gelar Ompu Taguru Raja III, sudah tiada. Tapi nilai-nilai luhur kejuangan yang melekat pada pribadinya, dan pada perjalanan hidupnya fase demi fase , akan senantiasa hadir menghiasi khazanah sejarah negeri Dalihan Na Tolu Tapanuli sekitarnya.

Nama lengkap : Sia Marinus Simanjuntak
Gelar : Ompu Taguru Raja II
Lahir : 1904, di Sosor Panggabean, Tampahan Balige.
Isteri : Boru Siahaan/Boru Napitupulu
Anak : 14 orang (4 laki-laki, 10 perempuan)
Jabatan terakhir : Bupati Tapanuli Utara (1958-1963)

( Catatan: Tulisan ini diambil dari buku Figur dalam Bingkai Sejarah Pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara, yang diterbitkan Pemkab Tapanuli Utara tahun 2008, hal. 41-49. Editor: Leonardo Simanjuntak MDP)

Ditulis dan dikirimkan: Leonardo Simanjuntak MDP

13 COMMENTS

  1. Denggan hian tulisan on bah. Mauliate ma di Leonardo Simanjuntak, MDP. Alai molo boi nian, jalo hamu jolo foto-foto tempoe doeloe sian ianakhonna na di Balige i ima abang Sahala Simanjuntak, asa lam tarida realitas perjuangan ni natua-tua naung jumolo on. Ima si SM Simanjuntak.

  2. Baru kali ini saya membaca tulisan yg penuh tentang Oppung ini.

    Tulisan yang sangat memberikan inspirasi, khususnya bagi kaum muda seperti saya, agar bisa berkarya lebih banyak lagi buat diri sendiri, keluarga, bangsa, negara dan dunia.

    Mauliate untuk penullis.

    Salam Hangat,
    Hartono Sagala

  3. Menarik juga historinya,

    Alai idia do tahe halak abangi sahala simanjuntak di balige,,? kebetulan sering do tong lao tubalige,, siapa tau annon boi iba singgah di jabu ni abangi, asa hujalo foto foto nahombar to web on.

    Syalom,
    Batner Simanjuntak
    Dari Batam,

  4. Tangkas do hubaen di tulisan i, ia halak amang Ir Sahala Simanjuntak anak ni oppung SM Simanjuntak nahinan, ima di jalan Bukit Barisan III no.18 Balige. Mauliate.

  5. Thank’s amang Poltak…di hatiha wawancara ahu dohot amanguda Sahala di bagas nasida jalan Bukit Barisan Balige, hupangido do angka foto-foto kontekstual mengenai SM Simanjuntak nahinan, alai dang piga be na adong foto dokumentasi nasida. Holan sada nama adong di dinding jabu i na boi hurepro, i pe nunga songonna samar. Adong do foto ni amang Sahala hukirim berlatar foto SM Simanjuntak, alai dang dimuat, mungkin unang pagodang hu mamangke halaman. Horas!
    (Leonardo Simanjuntak MDP)

  6. Kisah yang membanggakan. Ternyata banyak cerita sejarah yang masih perlu digali dan dipaparkan.

    Salam hangat,

  7. Horas,
    Saya sangat senang dan bangga membaca tulisan ini yang walaupun sangat singkat namun dapat memotivasi kita sebagai warga simanjuntak yang tinggal di bonapasogit maupun parserahan i.
    Kalau boleh saya usulkan melalui web kita ini dan kepada GM-PSSSI/BBI kalau boleh ditulis dalam satu buku yang memuat lebih lengkap lagi dan dapat disebarluaskan sebagai tanda penghormatan kepada Bapauda SM.Simanjuntak dan diabadikan namanya menjadi salah satu nama Jalan di beberapa ibu kota kabupaten seperti Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Samosir dan bahkan Dairi dan Phakpak Barat(Tapanuli Utara tempoe doeloe)
    Saya dengar informasi dari teman-teman di Balige bahwa beliau ini juga sangat berperan untuk membentuk punguan PSSSI&B dan memprakarsai dibangunnya tambak Oppung Sobosihon boru Sihotang.
    Terimakasih. Rekson Simanjuntak,Mdp.17 Hp.081361064100, reksim@yahoo.co.id

  8. Pendapat amang Rekson betul.Tapanuli Utara maju sekarang ini sampai berkembang beranak cucu (Dairi, Tobasa, Humbanghas, Samosir) tidak terpisahkan dari peran bupati-bupati terdahulu, di antaranya SM Simanjuntak, Farel Pasaribu, HF Situmorang, Elam Sibuea, dll.Jasa mereka sangat besar karena sikonnya ketika itu tidak seenak menjadi bupati sekarang ini.Wajar kalau nama-nama mereka ditabalkan menjadi nama jalan di wilayah Taput seluruhnya, bukan hanya di Taput induk sekarang.
    Setahu saya di Balige sudah ada jalan SM Simanjuntak, begitu juga di Tarutung. Cuma jalan SM Simanjuntak yang di Tarutung dinilai berbagai kalangan kurang tepat, karena letaknya di area pekan (onan), apa tidak sebaiknya dijadikan nama jalan di pusat kota, misalnya pengganti nama jalan yang kurang bernilai sejarah bagi daerah ini, tanpa mengecilkan arti nama jalan yang sebelumnya sudah ada.Perlu juga dijadikan masukan buat Pemkab Tobasa, Humbanghas, Samosir, bahkan Dairi, agar nama bupati-bupati terdahulu ditabalkan menjadi nama jalan di ibukota masing-masing. ini hanya demi pelestarian sejarah pemimpin kita yang sudah tiada. Trims

  9. Barangkali ada yang terlewatkan dan perlu ditambahkan yaitu bahwa alm. Bupati S.M.Simanjuntak ikut serta membidani Musyawarah Adat di Sipoholon ( 1957 – 1958 ) yang menghasilkan terjadinya perdamaian antara PRRI dengan pemerintah RI.
    Selain itu beliau selaku Kepala Daerah telah memfasilitasi berdirinya Fakultas Kedokteran UNITA ( Universitas Tap. Utara ) di Tarutung. Saat Fakultas tsb bubar beliau mengusahakan ex mahasiswanya bisa ditampung di Fak. Kedokteran USU.

  10. Sejarah sm msh sangat banyak u dpt dpapark,namun ssuai dg prinsip pjuangan bliau, sbuah pjuangn bkn u dgembargbork, tpi u dwujud nyatakn. HorasSsSsSsssss

  11. Tu akka dongan na pengen tau lebih dalam tentang sejarah ni Oppung SM Simanjuntak on, tu huta Aosor panggabean ma hamu ro, nga disi be maringanan bapatua Ir. Sahala Simanjuntak, jala boi langsung manukkun sejarah i tu akka natua2 na adonr di Sosor Panggabean sebagai saksi hidup..
    Horasss…

LEAVE A REPLY