Pengurus GM-PSSSI&BBI Desak Kapolres Taput Tahan Pelaku Perkosaan

8
682

**Orang Tua Korban : “Pemeriksaan Dokter Membenarkan dan Pelaku Telah Mengaku”
**Kapolres : “Belum Cukup Bukti, untuk Upaya Paksa”

JuntakNews (Tarutung)

Nasib malang yang menimpa keluarga Halomoan Simanjuntak yang beristrikan br. Aritonang, sepertinya belum dapat mereda. Pelaku yang diduga melakukan perkosaan terhadap putrinya, yang adalah tetangga mereka semdiri,  masih bebas berkeliaran.  Rasa malu, trauma dan marah menyeruak, bukan saja bagi keluarga korban, tetapi meluas kepada semua orang yang mengetahui berita ini, terutama keluarga besar Simanjuntak.

Dari komunikasi dengan Kapolres Tapanuli Utara AKBP Johanes Didiek DP SH, menyatakan bahwa pihaknya belum memperoleh bukti yang cukup untuk melakukan penahanan terhadap pelaku. Menjawab pertanyaan dan harapan pengurus GM-PSSI&BBI agar lebih mendahulukan aspek keadilan dari pada berkutat pada pembukitan mengingat korban masih di bawah umur, Kapolres Taput menyatakan “Terimakasih, saya sangat memahami, tetapi kami juga untuk melakukan upaya paksa diatur dalam suatu aturan, masalah ini juga menjadi prioritas kami. Maaf kalau tidak sesuai dengan keinginan keluarga”, tulisnya dalam pesan singkatnya.

Terhadap tanggapan ini, dan pemberitaan koran Global Diperkosa Tetangga, Gadis ABG Lapor Polisi salah seorang penasehat PSSSI&BBI se-Dunia, Saut Simanjuntak, SH yang juga menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Sidikalang, mengatakan bahwa pengakuan korban dan hasil visum  dapat dijadikan sebagai alat bukti petunjuk oleh penyidik.  “Pengakuan korban yang masih di bawah umur itu dengan menunjukkan pelakunya, dapat dijadikan sebagai alat bukti petunjuk bagi penyidik. Sangat tidak mungkin seorang anak di bawah umur membuat pengakuan diperkosa oleh seseorang jika itu tidak benar terjadi. Jika, pelaku dibebaskan ada kekhawatiran bisa mempersulit penyidikan, sebab potensial untuk melarikan diri”, katanya.

Sementara itu, P.M. Pandapotan Simanjuntak, SH salah seorang pengacara di Kota Medan, mengatakan bahwa pihak Polres tidak cukup hanya berkutat pada ketiadaan saksi semata. Banyak alat bukti yang bisa dipertimbangkan, seperti hasil visum, pengakuan korban, dan kondisi psikologis korban yang telah mengalami trauma. “Pada kasus-kasus perkosaan, bisa dipastikan sangat sulit menemukan orang yang menyaksikan. Sebab, jika ada saksi pemerkosaan dapat dipastikan tidak akan terjadi”, kata Pandapotan.

Terungkap dari SMS Perlaku

keluarga-korbanAncaman akan dibunuh, Ester br. Simanjuntak akhirnya memilih untuk tutup mulut atas tindakan pemerkosaan yang dilakukan pelaku “S”. Pemerkosaan yang dialaminya sendiri terjadi pada bulan Januari 2009, di suatu malam diperkirakan pukul 10.00 wib, ketika ES pergi keluar rumahnya bermaksud mau buang air besar di wc umum yang berada di belakang rumahnya. Ternyata, dasar setan apa yang merasuki pelaku “S”, langsung saja membekap ES. Dan terjadilah hal yang sama sekali di luar dugaan ES.

Kehormatan ES yang masih di bawah umur itu terenggut. Tidak cukup dengan perlakuan bejat seperti itu, si pelaku tidak lupa menambahkan ancaman agar tidak sekali-kali memberitahunya kepada siapapun. Takut dengan ancaman ini, akhirnya ES memendam cerita kelam hidupnya.

Sepandai-pandai orang menyembunyikan barang busuk, pasti suatu saat akan tercium juga. “Pendek do pat ni gabus“. Perumpamaan ini ternyata benar. Pelaku yang ketagihan mengulangi tindakan bejatnya tidak kehilangan akal. “Dia mengirimkan pesan singkat ke handphone orang tua korban, setelah terlebih dahulu dia menyuruh anaknya yang kebetulan masih sekelas dengan korban untuk meminjam buku, lewat sms.

“Aku membalas sms anaknya yang mau pinjam buku ke aku dan mengatakan bahwa buku yang mau dipinjamnya nanti saja sebab masih ku pakai”, kata Ester. “Ternyata, sms itu dibalas lagi, sepertinya bukan oleh anaknya lagi, tetapi bapaknya dengan menuliskan pesan, agar memberitahunya jika saya mau ke belakang (toilet)”. Mendapat sms yang tidak lazim dan menakutkan itu, ES akhirnya menanyakan maksud sms itu kepada orang tuanya.

Dengan berbagai upaya, bujukan, dan bahkan dimarahi, akhirnya ES mengakui kejadian yang menimpanya kepada kedua orangtuanya dan pelakunya ayah dari kawannya yang berniat meminjam buku itu, tetangga mereka. Mendapat pengakuan anak kelima dari 10 bersaudara ini, orang tua korban langsung membawanya ke dr. Tunggul Pasaribu di RSU Tarutung untuk menjalani pemeriksaan.

Hasil pemeriksaan dr. Tunggul Pasaribu sebagaimana dikatakannya kepada keluarga korban, bahwa alat kelamin Ester telah mengalami kerusakan dan ada perubahan di dalam kandungannya. Yakin dengan hasil pemeriksaan dokter dan pengakuan anak perempuannya, kedua orang tua korban akhirnya melaporkan kasus ini ke Polres Taput di Tarutung.

Pelaku Diperiksa dan Dilepas

Mendapat laporan dari orang tua korban penduduk Desa Parbubu Pea – Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara ini, pihak kepolisian memanggil “S” yang diduga sebagai pelaku. Usai pemeriksaan, pelaku ternyata tidak ditahan dan pulang ke kampungnya, seolah tindak pidana pemerkosaan itu tidak benar terjadi.

Masyarakat Desa Parbubu Pea yang mengetahui kejadian ini akhirnya marah kepada pelaku dan berupaya mendatangi pelaku untuk meminta pengakuannya. Kepada orang-orang yang mendatanginya di rumah kediaman pelaku di Parbubu Pea, pelaku mengakui perbuatannya.

“Waktu anak-anak muda yang bukan saja bermarga Simanjuntak, tetapi ada yang marga Tobing, marga yang sama dengan istri pelaku, mempertanyakan kebenaran pengakuan korban kepada pelaku secara langsung, yang bersangkutan sudah mengakuinya”, kata Halomoan Simanjuntak, ayah korban. “Saya bingung kenapa pelaku masih bebas berkeliaran yang membuat anak kami menjadi ketakutan, malu dan akhirnya tidak sekolah lagi”, katanya.

“Hari ini kami membawa anak kami ke Polres untuk diperiksa lagi. Belum tahu apakah setelah ini, polisi akan menahan pelaku”, katanya di tengah kebingungannya.

Pengurus GM-PSSSI&BBI se-Dunia Desak Polres Taput

Mengetahui kejadian yang menimpa warga Simanjuntak ini, Pengurus GM-PSSSI&BBI langsung melakukan koordinasi dan publikasi lewat web site Simanjuntak. Sikap pertama yang mengemuka adalah ungkapan prihatin dan sekaligus kekecewaan terhadap kinerja Polres Tapanuli Utara yang justru tidak melakukan penahanan terhadap pelaku.

“Kami akan terus mengikuti perkembangan penanganan kasus ini hingga dipastikan bahwa pelaku menerima hukuman setimpal dengan perbuatannya”, kata Fernando Simanjuntak Ketua Umum GM-PSSSI&BBI se-Dunia. “Jika, kasus ini tidak segera diungkap, tentu sangat potensial menjadi momok bagi warga Tapanuli Utara yang memiliki anak perempuan”, tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Poltak Simanjuntak, Sekretaris Umum GM-PSSSI&BBI se-Dunia, yang mengatakan bahwa seluruh warga Simanjuntak yang mengetahui kasus ini menunjukkan atensi dan mengharapkan pihak Polres Tapanuli Utara bekerja efektif, tepat waktu dan profesional. ”

Polresta dalam hal ini tidak mempertimbangkan  kebenaran materil, polres tidak bisa hanya berkutan pada pembuktian formil semata, sebab pada kasus perkosaan jarang ada saksi yang melihatnya. Kondisi psiklogi korban, yang telah mengalami korban. “Jika bukti atau saksi kurang, tentu polisi dengan ilmu kepolisian yang dimilikinya dapat mencari, menginvestigasi, menginterogasi dan berbagai tindakan sah secara hukum lainnya untuk mendapatkannya. Melepas pelaku, di satu sisi akan mengecewakan keluarga korban, namun sisi yang terpenting sangat potensial mempersulit penyidikan dan atau pemeriksaan”, katanya.

P.M. Pandapotan Simanjuntak, SH, yang juga Sekretaris Cabang GM-PSSSI&BBI Medan, mengatakan bahwa GM-PSSSI&BBI, siap mengirimkan Tim Advokasi ke Tarutung, untuk mendampingi korban dan keluarganya. “Semua pengacara yang tergabung dalam Biro Advokasi GM-PSSSI&BBI Cabang Medan, siap ditugaskan ke Tarutung untuk memastikan bahwa proses hukum terhadap pelaku ditegakkan setegak-tegaknya. Dan, bagi korban dan keluarganya, harus seadil-adilnya”, ungkapnya.

Bagaimana kelanjutan penanganan hukum kasus pemerkosaan terhadap anak di bawah umur ini, akan membuktikan apakah kinerja Polres Tapanuli Utara dapat diandalkan sebagai institusi penegak hukum. “Jika tidak, maka bukan tidak mungkin mengadukan Polres ke Bid-Propam-SU, sebagai lembaga yang dapat menilai kinerja kepolisian di Propinsi Sumatera Utara, dan kepada lembaga-lembaga terkait, seperti Komnas Perlindungan Anak dan  Komnas HAM “, kata Pandapotan.

8 COMMENTS

  1. Berita terkahir diterima dari Kapolres Taput melalui smsnya menyatakan bahwa “Hasil pemeriksaan Polres hari ini, sudah cukup bukti, tsk ditahan untuk proses sidik, Terimakasih atas perhatian dan kesabaran Bapak/Ibu, Timsk. Horas…”.
    Pengirim
    sms :AKBP Johanes Didiek DP SH

  2. Puji Tuhan berkat kerjasama antara keluarga besar simanjuntak dengan Polres taput pelaku sudah ditangkap. semoga keluarga korban dan korban tabah menghadapi musibah ini dan pelaku mendapat hukuman yang setimpal

  3. Jika memang pelakunya terbukti agar diberi hukuman yang setimpal. mengingat banyak kasusu seperti berujung damai. Jika pun dihukum tidak sesuai dengan apa yang dialami si korban. Mohon kita sama-sama mengawal kasusu ini semampu kita.

  4. Orang zaman sekarang selalu saja meminta TANDA BUKTI supaya dirinya bisa percaya. Maka dari itu banyak sekali orang yang sulit percaya! Maskkan iya,(ya iyalah,masa ya iya donk :)) saudari ES berani mengklaim dirinya sudah diperkosa????? dan menunggu bukti2 yg kuat dulu baru pelaku ditangkap? Bukti yang seperti apa bung? Jadi mau berapa kali lagi adikku ES ini, ketakutan setiap malam hanya karena mau buang air kecil, malah di setubuhi oleh Pelaku? Pakai diancam tak boleh melapor pula? Plus yang buat “mostop ate-ate” Si ES berkata bohong karena sudah diperkosa..begitu? (Sattabi jolo, nga saddok aha horoa panggkat ni Si S on tahe, bahen na olo hian si ES on dengan sukarela diperkosa… sudah gila!!!!)

    But above all, kasus ini semakin mendekati titik terang,(red: tanggapan dari Bapak Kapolres Taput, AKBP Johanes Didiek DP, SH via sms ke ponsel Sdr.Poltak Simanjuntak) Proficiat atas peran serta pengurus GM-PSSSI&BBI mengusut tuntas, memberikan “pressure” pada “instansi terkait” yang dianggap perlu demi tertangkapnya pelaku, dan penegakan hukum bagi sang korban..

    Kalau boleh jujur, kasus ini tak pernah bisa terungkap atau tuntas dalam waktu yang relatif singkat, setelah terpublished nya berita ini, berikut tindakan “Simanjuntakers” -meminjam istilah seseorang :)- saya tidak yakin keadilan bisa secara nyata diterima keluarga korban..(walaupun saya was-was bakal ada Class action, jika ini tidak ditanggapi dengan segera oleh pihak terkait,bukan begitu bapak Sekjen?hehehe)

    Terimakasih dan Proficiat!!! Tuhan telah pakai saudara2 semua dengan semua talenta yang anda miliki untuk membantu sesama yang menderita… Bless You all

    Agnes br Pane

  5. Bisalah dimaklumi kalau pak Kapolres berhati-hati dalam mengambil tindakan tegas terhadap kasus ini, karena polisi terikat pada azas pembuktian. Salah sedikit polisi bisa dipraperadilan-kan. Tapi melalui investigasi yang benar2 cermat akurat, berbagai bukti-bukti yang sudah diajukan keluarga korban plus pendapat-pendapat yuridis dari sejumlah tokoh intelektual Simanjuntak, setidaknya harus mendorong polisi untuk lebih intens menangani kasus ini. Banyak marga Simanjuntak berprofesi di bidang hukum dan legislatif, kita imbau agar memberi kontribusi membantu penyelesaian kasus ini demi tegaknya marwah dan martabat marga Simanjuntak. Kabarnya ampara Ir Ottoniyer Simanjuntak angg.DPRD Taput sudah ikut turun tangan, semoga membawa kecerahan terhadap kasus “penghinaan” terhadap boru Simanjuntak yang masih di bawah umur itu.
    Kepada pengasuh situs Simanjuntak, teruskan perjuanganmu, perjuangan kita, agar pelaku perkosaan biadab itu mendapat hukuman setimpal. Horas, dari saya Leonardo TS Simanjuntak Mdp.

  6. sialan tuhhh orang tua,.. ga tau diri
    wahhh GM-PSSI&BBI- se- dunia,…. gw salut ama kalian semua thanks bangat tapi di mana angka anak ni raja adat partarutung, …..
    apakah meliat sebelah mata saja,… weeeeeeee kalo di acara pesta aja berkoak2,. kalo yang beginian dian saja, ini loh masalah harga diri,.

    HUKUM tuh orang tua yang mau perkosa anak di bawah umur,.
    buat keluarga tolong di periksa lagi si adek tuhh agar kesehatan terjaga dan kalo bisa jangan sampe berhenti sekolah dan untuk menghilngkan rasa trauma mungkin boleh di pindahkan tempat sekolahnya di kota laein yang jauh dari teman2 sekolahnya sekarang

    horas
    paredang2

  7. emang sih kapolrs harus hati hati dalam mengambil suatu tindakan ,
    tapi ni bukti sudah di depan mata,dan sudah ada sms yang isinya kurang masuk diakal kan bisa di selidiki dan si pelaku bisa di tahan dulu sambil menunggu bukti yang kuat
    tapi yang dilakukan kapolres malah membebaskan
    yang takut nya malah akan bertambah pula nantinya korban
    dan si keluarga korban sepetinya tidak mendapatkan keadilan dalam hukum.kan sudah jelas salah,kalau seperti ini terus kapan dunia kita bersih dari perbuatan setan setan tu

LEAVE A REPLY