Nurhayati Sirait, Korban Kekerasan Suami-Sebuah Kesaksian

26
2339

Atas semua tindak kekerasan, pemukulan, cacian, penghinaan yang menjadikan saya sebagai seorang perempuan, istri dari seorang suami yang gemar melakukan kekerasan dan ibu dari keempat anak-anakku yang juga mengalami penderitaan, saya dengan sangat terpaksa membuat kesaksian, berupa pengakuan jujur akan apa yang saya hadapi.

Selain, berharap ada yang tergerak untuk membantuku dalam kelemahan dan ketidakberdayaan yang menderaku, aku juga berupaya agar kejadian seperti ini tidak pernah terjadi kepada perempuan, istri dan ibu dari anak-anak yang lain, sebab hanya penderitaan yang terjadi.

kdrt41Saya, istri dan ibu dari anak-anakku, yang diberi nama Nurhayati Sirait, Lahir di Dairi, 11 Januari 1967, beralamat/ domisili di Jln. Pendoro IV RT 03 / 08 No. 4 Kota Depok, mengungkapkan sisi gelap kehidupanku menjalani kehidupan keluarga yang awalnya saya pendam, karena saya anggap hanya membuka aib keluarga.

Didorong penderitaan yang berkepanjangan dan harapan akan masa depan anak-anakku, maka aku harus bertindak untuk tidak terus menerima deraan kekerasan ini dengan diam. Walau saya sangat sadar, bahwa tidak ada kekuatan yang kumiliki sekarang, untuk keluar dari kemelut ini.

Keyakakinanku, Tuhan akan menunjukkan penolong bagi aku dan anak-anakku untuk melewatinya. Dan, harapan lain adalah, agar kasus yang sama tidak terjadi bagi orang lain yang mengetahui penderitaanku ini.

Diawali Pernikahan

Tanggal 16 Januari 1984, tanpa didahului masa berpacaran, saya akhirnya menikah dengan seorang pria dengan bernama Hasudungan Tambunan, lahir Medan, 5 September 1963, yang terpaut perbedaan umur 4 (empat) tahun denganku, di Gereja GKPI Glugur Darat – Medan.

Ketika perkawinan berlangsung di gereja, seharusnya menjadi saat yang paling bahagia dan damai, ternyata itu tidak terjadi, sebab laki-laki yang akan menjadi suami saya justru menunjukkan sikap yang sebaliknya. Hal-hal yang menurutku tak perlu dikomentari secara berlebihan,seperti tata cara nikah gereja, ataupun prosesi adat dinodai dengan kata-kata kotor dan kasar yang tak pantas untuk didengar.

Saya kaget, mengenalnya satu bulan memang belum cukup untuk mengetahui pribadinya secara mendalam, tapi saat perkenalan kami, kelihatannya termasuk laki-laki yang baik dan sopan dan tidak pernah terlintas di benak saya, jika dia dia sangat kasar, walaupun saya tahu bahwa dia bekerja di pasar Blok M, Jakarta.

Enam bulan pertama, perselisihan sering terjadi, satu hal diantaranya adalah kehadiran Adik perempuan suamiku Emi Herawaty Tambunan yang juga tinggal se-rumah dengan kami, selalu menyulut pertengkaran-pertengkaran kami. Keberpihakannya terhadap anggota keluarganya selalu menjadi pemicu pertengkaran kami yang baru berkahir setelah Eda ku pulang ke Medan.

Bulan Desember 1994, pertengkaran terjadi di rumah hingga saat itu, dia (Suami) melempar saya dengan asbak dan saya lari menghindari amukannya yang semakin tidak terkendali. Suatu hari kami ribut tengah malam, dikarenakan dendam yang telah berkecamuk di hati saya, Saya tidak mau melakukan kewajiban saya sebagai istri, ini membuat saya diseret dan dipukuli. Saya lari ke rumah saudara dan berusaha menenangkan hati di sana. Ketika suasana hati mereda hingga dapat melupakan kejadian itu dan akhirnya aku kembali menjalankan kewajiban saya sebagai istri.

Desakan pihak keluarga untuk kembali ke rumah dan berlaku normal pun saya ikuti. Tapi hati saya masih sangat sakit karena perlakuan kasarnya, Ditambah lagi sikapnya yang seoalah-olah tidak pernah melakukan kesalahan – seolah tidak terjadi apa-apa – terlihat dari rona wajahnya yang justru menyuburkan rasa gundah di hati saya.

Melahirkan Anak Pertama, Berharap Membawa Perubahan

Marta Bella, putri kami lahir tanggal 8 Februari 1996, yang kuharapkan sebagai pembawa perubahan suami agar lebih bijaksana. Tapi harapan tinggal harapan. Sifat kasarnya tak pernah berubah. Kuakui bahwa dia memang pekerja keras. Dan aku menduga ada kemungkinan atas kerja kerasnya ini membuatnya menjadi orang yang mengukur kebahagiaan dari jumlah uang diperolehnya.

Percekcokan karena masalah pengeluaran keuangan pun tak pelak terjadi. Seberapa kerat pun aku berusaha menghemat penggunaan uang pemberiannya, namun dia selalu mencurigainya. Orang tuaku akhirnya mengetahui keadaan keluarga kami. Tanpa kumintai tolong, orang tuaku yang tinggak di Sidikalang Kabupaten Dairi, memberikan pertolongan dengan memberikan kepada kami sejumlah modal untuk kupergunakan menambah penghasilan. Dengan modal tambahan dari orang tua saya ini, saya akhirnya berdagang pakaian secara kredit.

Aku menekuni usaha ini walau harus membawa serta putri kami untuk berdagang keliling. Tidak berlangsung lama, tuntutan suami agar “siap sedia 24 jam” melayaninya. Begitu seringnya tuntutan ini dia kemukakan, hingga menjadi bahan perselisihan baru di antara kami. Padahal, walau saya harus berjualan, yang namanya kewajiban sebagai ibu rumah tangga tetap saya laksanakan.

Namun kerja keras bekerja di rumah dan berjualan keliling akhirnya kuhentikan, sebab menjadi sumber malapetaka yang menambah kesusahanku setiap hari. Setelah usaha itu aku hentikan, saya berupaya sekuat tenaga untuk melayaninya penuh, termasuk bangun tengah malam untuk menyiapkan hidangan baginya.

Hingga pada suatu suatu hari, ketika itu anak saya masih berusia 10 bulan, dan saya dalam keadaan sakit. Suami saya meminta dibuatkan santap larut malamnya. Saya tolak dengan halus dengan mengatakan bahwa aku sedang sakit. Tapi dia terus mendesak dengan mengeluarkan umpatan keras dan bukannya mempercayai keadaanku yang sedang sakit. Dengan disaksikan oleh Lisbet Siboro, tetangga orang tua saya di Sidikalang, suami saya mengamuk sejadi-jadinya. Kepala, muka dan seluruh badan saya mendapat pukulan keras. Saya hanya bisa meringis dan menangis menahankan siksaan suami. Badan saya mengalami memar, lebam di sekujur tubuh dan aku tidak bisa melakukan perlawanan sebab tubuh lemah karena sakit.

Mendapat perlakuan biadab dan sangat menyakitkan seperti ini, akhirnya saat itu juga saya minta agar diceraikan saja. Sumai saya bukannya mengurangi siksaanya sambil berucap “Sana kamu pulang ke Sidikalang!”, sambil melayangkan pukulan ke mukaku. Menjambakku dan menghempaskan tubuh lemahku. Aku merasakan kesakita yang luar biasa.

Ingin lari dari hadapannya, namun saya harus bertahan mengingat saya sebagi istri yang menjunjung tinggi adat Batak, dan agama yang kupeluk. Penyiksaan ini berhenti setelah dia puas melampiaskan nafsu amarahnya. Dan, aku tidur meringkuk menahankan kesakitan akibat pukulan dan kesakitan yang sejak seharian menderaku.

Hidup berkeluarga di bawah ketakutan dan ancaman kekerasan terus kujalani. Saya, bertahan demi menjaga nama baik kedua orang tua saya. Selain itu, banyak anjuran tetangga, baik yang menghibur, walau tidak sedikit yang justru melontarkan ucapan dan penilaian yang menyakitakan telinga. Hingga waktu saya pulang ke Medan, karena ada acara pernikahan adik kami, keponakan saya Lisbet juga lari dari rumah, karena tidak tahan melihat saya selalu dipukuli.

Kejadian demi kejadian terus saya simpan. Tidak ada satupun keluarga yang tahu perlakuan kasar yang saya alami. Hanya menjadi cerita buruk di rumah tangga kami saja. Saya terus mencoba bertahan, hingga kami pindah ke Pondok Labu. Saat itu saya mengandung anak ke dua.

Kondisi saya sangat lemah saat kehamilan anak yang kedua, sehingga saya harus di bawah pengawasan dokter. Saat dua bulan usia kehamilan, mertua laki-laki saya meninggal dunia. Kami semua pulang. Barangkali terlalu capek setelah penguburan, saya mengalami pendarahan hebat, hingga dibawa ke Rumah Sakit dan diopname.

Suami saya benar-benar tidak perduli dan tak berniat sama sekali untuk menunggui saya di rumah sakit, melainkan mengutus orang lain yang juga tidak bersedia karena kesibukannya. Dalam kindisi kesakitan di rawat di rumah sakit, saya marah besar yang justru ditanggapinya dengan ucapan sangat kasar. Melontarkan kata-kata kotor dan caci makian. Bahkan saat saya menderita pendarahan sekalipun, tak ada kasih dalam bentuk kepeduliannya – selain memaki – hanya tekanan “Cepat Pulang ya!”. Dia menunjukkan keberatannya atas biaya pengobatan, dan bukan memikirkan kesehatan saya.

Tak tahan dengan penderitaan dan kesedihan ini, saya menceritakannya kepada kakak saya. Rasa kasihan dan iba, akhirnya kakak saya membawa saya pulang ke Sidikalang untuk dirawat. Namun, pendarahan terus berlangsung, saya kembali diopname di Kabanjahe. Setelah beberapa hari di rawat di RS di Berastagi, dan pendarahan terhenti, saya untuk sementara tinggal di rumah mertua di Medan, sedangkan suami saya pulang ke Jakarta. Tak tahan dengan sikap mertua saya yang seakan tak peduli dan sama sekali tidak menghargai kehadiran saya, akhirnya saya memutuskan kembali ke Jakarta.

Memasuki usia 8 (delapan) bulan kandungan saya, kami ribut lagi. Pemicu keributan menyangkut uang. Suami saya, menampar saya sekuat tenaganya, dan akibat kesakitan dan keterkejutan saya menjerit sejadi-jadinya, sambil memegangi perut saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya dalam keadaan hamil. Di luar dugaanku, suami saya malah berucap lain yang sangat menyakitkan hati.

Kalau sedari dulu aku tahu begini keadaanmu, setiap hamil pendarahan terus, saya tidak mau kawin, dengan kau!” Sungguh kata-kata yang tidak layak diucapkan oleh seorang suami. Saya hanya bisa diam dan tetap berdoa – walaupun sebagai orang Kristen yang jarang ke Gereja – saya merasakan bahwa doa menjadi sumber penghiburan saya di tengah masa-masa sulit saya berumah tangga, serta selalu mengingat bahwa kunci kesuksesan rumah tangga ada di tangan seorang ibu.

Tanggal 24 September 1998 lahirlah anak perempuan kami yang ke dua Masta Septy. Di usianya yang masih 3 (tiga) bulan terjadi pertengkaran yang kembali membuat saya mengalami kekerasan fisik. Saya ditendang, segala sumpah serapah terlontar dari mulutnya. Anak kami yang masih bayi ikut menjadi korban, sebab kami terlibat dalam perkelahian. Saling tarik-menarik. Secara kasar dia menarik tubuhku ketika berupaya lari menjauh darinya. Anak yang saya gendong turut menangis, sebab terkena benturan.

Di bawah ancamannya untuk tetap tinggal atau pergi tanpa anak-anak. Saya hanya sempat membawa “kabur” bayi saya. Tapi dengan pertimbangan malu dengan tetangga, saya kembali pulang. Sejak saat itu nyaris kami bagai orang asing yang tidak saling bertegur sapa.

Hingga suatu hari tetangga datang dengan kumpulan marga untuk menasehati kami agar kami hidup layaknya suami istri yang saling mengasihi dan saling terbuka. Namun, begitu banyak pun nasehat, atau anjuran baik dari tetangga, maupun keluarga, jika menghadapi persoalan pasti menimbulkan pertengkaran.

Baginya uang yang ada adalah uangnya, bukan uang kamu. Setiap uang yang diberikannya selalu disertai dengan suatu pertanyaan “kemana saja uang itu kamu pakai?”. Padahal, pada tahun 1994 ketika itu, saya hanya diberi setiap bulan hanya Rp. 150.000,-. Setelah anak pertama lahir menjadi Rp. 250.000 per bulan. Tambah anak lagi, di beri uang Rp. 20.000,- per hari. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk menggunakannya, inilah yang saya jalani hingga bulan Juli 1999, kami pindah rumah ke Pondok Labu waktu itu.

Melahirkan Putra Kembar

Moses dan adiknya Madya lahir. Kelahiran anak kembar dan laki-laki pula membuat saya senang dan berharap suami saya akan berubah. Ternyata itu hanya harapan kosong. Suami saya tetap saja tidak bergeming. Baginya, uanglah yang menjadi prioritas utamanya.

Seingat saya, setiap bertengkar, kepala saya selalu menjadi sasaran utama, dibenturkan ke tembok. Saya masih ingat, pertengkaran kami yang paling dahsyat, tahun 2005 silam, dan sampai saat ini tidak bisa hilang dari ingatan saya.

Bermula dari kios kami yang terbakar di kawasan Blok M. Praktis suamiku tidak lagi berdagang. Akulah yang mencari uang dengan membuka took sembako di rumah. Saat itu uang yang kami pakai untuk berbisnis dibawa lari orang, tidak tanggung-tanggung, Rp.150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah). Saat itu, saya dilempar kursi, hingga mengenai badan dan kepala saya (hingga saat ini ini, kursi itu saya simpan). Disertai caci maki kasar, “Setan. Kurang ajar. Mampus Kau”, diiringi lemparan kursi.

Bekas memar dan luka di tubuhku, kuobati dengan harapan agar tidak sempat terlihat oleh orang lain. Rasa sakit dan ketakutan, membuatku menjadi perempuan, istri dan ibu anak-anak yang tidak percaya diri. Takut salah dan menjadi pendiam. Aku memendam kesakitan dan dendam terhadap perlakuan kasar. Bagiku hidup bagai di neraka.

Sementara anak-anakku tidak saja menyaksikan kekerasan terhadapku. Mereka juga menjadi korban. Mereka ketakutan setiap hari. Sebab, ketika makan kalau dalam kondisi marah, suamiku yang bapaknya anak-anakku tidak segan-segan memukul mereka bahkan membuang nasinya. Begitu besar ketakutan anak-anakku terhadap bapaknya, sehingga suatu ketika mereka harus bersembunyi di kamar mandi menghindari penyiksaan bapaknya. Bahkan yang lebih menyayat hati, suatu ketika anakku yang perempuan itu, berani bersembunyi di atap rumah, hanya untuk bersembunyi dari bapaknya.

Dalam kondisi biasa pun, suami saya hanya tertarik pada pembicaraan mengenai uang. Dia memperingatkan supaya tidak menghabiskan uang di took. Tidak boleh mengirimkannya ke orang tua. Rupanya dia mencurigai aku, telah mengirimkan uang kepada orang tua saya di Sidikalang. Padahal, sebaliknyalah yang terjadi. Orang tua saya yang secara ekonomi berkecukupan karena membuka usaha Toko Emas di Sidikalang, sering mengirimi kami uang.

Mendapat tuduhan seperti ini, saya tetap bersabar dan saya merawat anak-anaku, yang sudah mulai tumbuh besar. Namun, walaupun saya tidak melakukan perlawanan, ketika dia marah, tetap saja dia berani melempari saya dengan karung berisi beras. Reaksi yang saya bisa perbuat hanya menangis, tapi dia semakin marah dan semakin melempari saya dengan barang-barang yang ada di dekatnya. Ini terjadi berulang kali dan kerap disaksikan para sales-sales yang kebetulan datang ke toko.

Ketakutan selalu dipukul dan dimaki suami, menghantui hidup saya setiap hari dalam menjalankan usaha sembako. Ketika suami saya memulai mempertanyakan uang, dan ketika stok barang di toko semakin berkurang, maklum keuntungan bahkan modal terpaksa harus terpakai membiayai hidup keluarga, akhirnya saya meminjam uang pada Bp Rista, untuk menambah modal toko sebesar Rp.10.000.000,-.

Dengan tambahan modal ini, usaha kami dapat bertahan dan berkembang sehingga mendorong saya berani meminjam ke Bank Danamon. Pihak bank juga menaruh kepercayaan melihat perkembangan toko saya yang boleh dikatakan maju. Sehingga meluluskan pemberian kredit tanpa agunan sebanyak Rp. 11 juta dimana saya harus mengangsurnya sebesar Rp. 1.250.000,- per bulannya, selama setahun.

Segala usahaku untuk mengembangkan usaha kami ini ternyata bukan mendapat tanggapan positif dari suami saya. Tindakannya justru semakin menjadi-jadi. Jika dia melakukan pemeriksaan laci dan mendapati bahwa uang hanya sedikit, dia langsung marah-marah dan mulai mencaci-maki. Tidak hanya itu, suatu ketika saya juga pernah dilempar tabung gas ukuran kecil, sambil tak lupa menyertakan umpatan “Setan. Anjing kau!”, katanya berulang-ulang.

Tanggal 5 Pebruari 2009, ketika anak-anak membutuhkan sejumlah uang untuk biaya sekolah, sementara uang tersedia dari toko tidak cukup jumlahnya, akhirnya saya memberanikan diri untuk menggadaikan emas yang dia simpan senilai Rp.8.500.000,-. Untuk memberitahu sebelumya saya sudah pastikan tidak mendapat ijin, sementara kebutuhan sekolah anak-anak mendesak.

Sepandai-pandai saya menutupi, ternyata suamiku yang sedari dulu sudah menaruh curiga, akhirnya mengetahui bahwa emas kami yang disimpan tidak lagi berada ditempatnya semula. Akhirnya saya menjelaskan bahwa emas itu saya gadaikan sementara menunggu uang dari toko terkumpul. Dan, uang hasil gadai itu saya pergunakan untuk membiayai biaya sekolah anak-anak. Ketakutan saya ternyata terbukut. Tanpa menunggu waktu lama, suami saya langsung bereaksi. Marah dan langsung memukul kepala saya dengan sepatunya. Saya merasakan pusing dan sempoyongan. Tidak cukup dengan lemparan sepatu, dia melemparkan laci meja yang mengenai wajah saya hingga memar dan berdarah.

Hampir hilang kesadaranku, hingga tak mampu untuk menghindar dan menyelamatkan diri. Tangisanku dan jeritan anak-anak tidak diperdulikan. Kemarahanya semakin menjadi-jadi. Kepala, tangan dan sekujur tubuhku terasa sakit. Hingga hari ini, di pelipis atau tulang pipih saya masih sakit kalau ditekan dan kepala saya sebelah kiri sering sakit akibat pukulan laci. Jempol sebelah kanan saya sakit hingga kini, karena saya pakai melindungi kepala ketika dia menginjak kepala saya.

Tanggal 21 Maret 2009, tidak tahan lagi merasakan kesakitan, hinaan, caci maki, akhirnya saya memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Saya membutuhkan uang, yang saat itu semua uang sudah dikuasai oleh suami, sehingga saya mengupayakan dengan meminjam uang kepada tetangga sebesar Rp. 2.000.000,- untuk membeli tiket. Karena kekurangan uang untuk membeli tiket untuk lima orang dan mengingat 2 anak saya masih sekolah, akhirnya dengan uraian air mata, saya membeli tiket hanya untuk 3 (tiga) orang, saya dan 2 (dua) anak saya yang kembar. Sementara yang dua anak saya harus saya tinggalkan.

Tanggal 22 Maret 2009, saya ke Bandara tanpa uang untuk membayar Air Port Tax. Dengan semua kemampuan mengekspresikan penderitaanku, akhirnya petugas di Bandara Cengkareng memuluskan aku dan kedua anakku masuk ke ruang tunggu tanpa bayar Air Port Tax. Dengan menumpang pesawat Lion Air, penerbangan pukul 20.40 wib, saya tiba di Medan (Polonia) pukul 22.56 polonia, dan langsung menuju rumah temanku di Jl. Sisingamangaraja Medan.

Selama 3 (tiga) hari di rumah temanku ini, akhirnya hari Rabu, 25 Maret 2009, saya dijemput oleh ibu yang melahirkanku R. br. Simanjuntak dan Kakak kandungku Rosdiana br. Sirait untuk dibawa ke Sidikalang. Sekarang, aku sudah aman dari ancaman pukulan dan kekerasan suami. Tetapi, kedua anakku ternyata mengalami penderitaan seperti yang kualami. Melalui pembicaraan telepon, aku tahu bahwa kedua anakku terpaksa meninggalkan rumah dan pergi ke rumah saudara yang tergolong jauh. Bukan semakin tenteram, namun aku tersiksa memikirkan nasib mereka berdua Martha dan Mastha yang sekolahnya terganggu, ketakutan dan hidup tanpa kasih sayang ibunya.

Oh Tuhan, sampai kapan badai ini menerpaku. Aku tak kuat lagi…..

Saya yang menuturkan penderitaan,

Nurhayati Sirait

26 COMMENTS

  1. Kepada Ibu Nurhayati sirait,

    Saya sangat simpati membaca kisah inang. Diberkati Tuhanlah Inang, panjang umurmu, dan tentu tabah. BIASANYA ORANG YANG MENGALAMI PENDERITAAN YANG LUAR BIASA, SUATU SAAT SAAT MENDAPATKAN BERKAT YANG LUAR BIASA. Itulah yang kuyakini dan kualami.

    Ya saran saya, perlu memang pihak ketiga untuk menyelesaikan hal ini. Tidak cukup hanya keluarga itu sendiri. Memang tetap klu bisa marga, tapi saya pikir selama ini Marga sudah menasehati. Alternatif lain sebenarnya sebaiknya dilaporkan, ini PIDANA. Ayo lae Poltak Simanjuntak, maju terus lae.

    Thanks

    Harapan L. Toruan

  2. Sungguh tragis!…..
    semakin banyak ama-ama naso tarpiccang sekarang ini….

    semoga inang br sirait kuat dan tetap teguh dalam iman dalam membesarkan anak-anaknya/ …..

  3. kalau sudah begini, wajib diadukan ke KOMNAS Perlindungan Anak dan Perempuan karena tindakan ini sudah benar-benar di luar akal sehat. Korban kekerasan saya rasa wajib dilindungi sampai ada tindakan selanjutnya.

    Dan hal ini sudah patut dibawa ke jalur hukum agar menjadi pelajaran bagi yang lainnya. Norma adat yang kita pegang jangan dijadikan tameng untuk mendiamkan masalah ini. Justru kalau di proses dengan semestinya, dapat menjadikan kita suku yang beradab, modern, dan sadar hukum serta bisa menghilang persepsi orang lain sebagai suku yang kasar.

    Dengan adanya wadah GM-PSSSI & BB khususnya bidang advokasi dan hukum, mungkin dapat mengambil langkah awalnya. Terima kasih :)

  4. Ibu Nurhayati Sirait,

    Menceritakan persoalan seperti ini, bukanlah membuka aib keluarga. Justru dengan menceritakan hal seperti ini, ibu Nurhayati Sirait sedang memunculkan fenomena gunung es tentang penderitaan jutaan perempuan Indonesia. Mudah-mudahan perempuan lain yang mengalami penderitaan yang sama dengan ibu, akan berani juga mengemukakan persoalannya, dengan demikian mudah bagi kita mencari solusi atas kekerasan terhadap kaum perempuan.

    Tindakan ibu untuk menjauhi pelaku kekerasan yang adalah suami ibu memang sudah tepat. Ibu memerlukan pemulihan psikis. Untuk ini, ibu bisa datang ke gereja yang punya program menyediakan shelter untuk kaum perempuan korban kekerasan. Gereja Katolik biasanya punya program semacam itu bu. Selain itu, ada juga NGO yang punya program seperti itu yaitu Kalyanamitra. Pasti ada cabangnya di Medan. Cobalah ibu kesana. Kalau ibu di Jakarta seh, saya bersedia menemani ibu, tapi persoalannya saat ini ibu ada di Sumatera.

    Nah, untuk persoalan hukum, ibu juga perlu mendapatkan perlindungan. Nah, ada sebuah NGO namanya LBH APIK (Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan=APIK) . Mungkin di Medan mereka punya cabang.
    Mengapa ibu harus ke LBH APIK?
    – Mereka bisa mendampingi ibu untuk melaporkan kekerasan yang ibu alami
    – Mereka bisa bantu untuk mendapatkan hak asuh atas anak-anak ibu (ini perlu agar anak-anak ibu juga bisa hidup tenang). Apalagi anak ibu yang dua orang masih terpisah dari ibu. Mungkin itu saja saran yang bisa saya berikan. Oh ya, LBH APIK juga punya program konseling untuk pemulihan kondisi psikis ibu.

    Ibu, saya bisa merasakan apa yang ibu rasakan. Jika perlu informasi lebih lanjut, boleh kontak saya.

    Salam,

    Venny

  5. aduh ini kisah nyata…… yg sungguh luar biasa menyakitkannya….
    mungkin suaminya perlu diperiksa oleh seorang psikolog tuh…untuk diperiksa
    mungkin di otaknya ada saraf
    yang putus kali …sehingga tidak bisa berfikir secara positif bahwa
    penyiksaan yg dia lakukan membuat orang lain sungguh2 amat tersiksa (bukan
    hanya pd istrinya saja melainkan pada anaknya jg karena menyaksikan
    kekejaman ayahnya terhadap ibu kandungnya)
    untuk ibunya kembali deh secepatnya ke jakarta untuk menjemput anak2nya,
    pindahkan saja sekolah anak2nya ke medan itu akan lebih baik karena tinggal
    di jakarta membuat sekolahnya pun terganggu karena
    kekejaman ayahnya sendiri….
    Ya Tuhan sadarkanlah suami&ayah anak itu agar dia tau dgn perbuatanya
    seperti itu dia sudah di tinggalkan oleh keluarganya sendiri (Istri &
    Anak2nya) dan satu yang paling penting semoga Tuhan mengabulkannya Tidak ada
    lagi Orang seperti itu di bumi ini……Amien

  6. HORAS tu hamu sude…

    nunga ro muse…

    yeeee…sedih banget gue baca KESAKSIAN ini…
    alamak…
    tu di ma?
    tu dia na ma ahu?
    tu dia boru/anak hi?
    hayaaa…aaa. ..

    Ibu Nurhayati br SIRAIT,
    aku hanya bisa membaca, menyimak, memahami, memaklumi, merasakan apa yg terjadi, apa yang diri mu rasakan, derita bathin mu tentunya…
    apalagi dalam kesaksian mu yg terakhir mengatakan HARUS meninggalkan ke dua anak, mu…
    sangat sangat bisa aku rasakan, Ibu…
    (amang oiiiiiii…)

    dari hati yg paling dalam, aku dukung untuk Ibu, apa yang sudah dilakukan hingga hari ini
    (tetap sabar, kukuh & berani hadapi segala masalah yang akan dihadapi nanti)

    hanya doa, hanya doa untuk Ibu yang dapat aku lakukan dari jauh.
    tapi aku yakin Ibu dan anak2 akan keluar dari lingkaran ini!

    Tuhan berkati Ibu

    peace & love
    ~ds

  7. Dear All,

    Terlepas dari siapa yang benad dan siapa yang salah, ternyata dalam jaman modern yang berkelimpahan kemajuan teknologi dan informasi dapat berdampak bagi perkembangan cara perlakuan sang suami terhadap sang istri dalam rumah tangga, yang dulunya bila sang suami bermasalah dengan sang istri amarahnya cukup dilampiaskan dengan menghancurkan peralatan rumah tangga (tanpa melukai sang istri). Saat ini, sang suami sudah melewati /melanggar HAM yakni menyiksa fisik dan batin dan menyumpahi dengan kata-kata yang “tidak pantas diucapkan sang suami kepada sang istri”.
    Pada kesempatan ini, kami menyampaiakn turut prihatin dan merasakan penderitaan sang istri selama dua dekade lebih. Kami salut kpd sang istri yang “sabar dan tabah”, walaupun sudah disiksa dan disumpahi tetapi “masih berusaha dan mau memaafkan sang suami bahkan berkeinginan untuk bersatu dan berdamai serta meneruskan bahtera rumah tangga yang sudah diarungi selama dua dekade lebih.
    Tak ada yang kami berikan, selain mendoakan agar “kasih dan damai sejahtera” dari Tuhan Yesus menyertai dan menerangi hati dan pikiran sang istri dan suami serta seluruh anak-anaknya.

    Kisah sang istri yang “sabar dan tabah” tersebut kita jadikan sebagai cermin dalam menghadapi permasalahan di rumah tangga sehingga pemecahan permasalahan terhindar dari tindakan kekerasan yang melanggar HAM. Tidak ada rumah tangga yang bebas dari permasalahan, yang terpenting dalam memecahkan masalah di rumah tangga sang suami dan istri harus melakukan dialog beralaskan kasih dari Tuhan.

    Salam

    LionS

  8. Kalo boleh,

    Mohon segera melapor ke Komnas Perlindungan Perempuan dan kantor polisi.
    Kasus ini musti diusut tuntas dan tdk sebatas tulisan di milis.
    Sy tunggu perkembangan kabar selanjutnya.

  9. setuja.. eh setuju.. dan bawa ke psikiater juga abangnya , biar berubah menjadi orang baik, karena pada dasarnya semua manusia itu baik cuma karena beberapa faktor dan godaan evil alias dosa manusia menjadi berubah.. “karena yang menjauhkan manusia dengan ALLAH adalah dosa”

    ikut prihatin ya atas apa yang dialami oleh kak Nurhayati Sirait.. aku mendukung doa semoga lebih tegar dan mampu bangkit dan harus bangkit..!! seperti Anak ALLAH yang bangkit dari maut bagi kita agar kita beroleh hidup baru dan FREE.. BEBAS…dari dosa
    GOD with u…

    jadi syerem aja niy.. sekarang kasus2 KDRT makin banyak.. mungkin karena suhu udara makin panas, lapisan ozon menipis,perekonomia n juga makin keseret seret.menjadikan tingkat depresi dan kestressan manusia makin tinggi kali ya.. manusia juga jadi jauh dari Tuhan.. padahal di gereja udah pada pake AC.. (adem alias ga panas maksudnya )

    aku tertarik dengan sesuatu disini..
    “Diawali Pernikahan Tanggal 16 Januari 1984, tanpa didahului masa berpacaran, saya akhirnya menikah dengan seorang pria dengan bernama Hasudungan Tambunan”

    “tanpa didahului masa pacaran..”
    menurut saya menikah tanpa pacaran seperti membeli kucing dalam karung, kita ga tau seperti apa dan bagaimana orang yang akan hidup selamanya dengan kita,apakah benar itu yang kita pilih..

    dan biasanya nikah tanpa didahului pacaran didorong oleh faktor “tergesa-gesa” faktor tergesa2 ini bisa jadi : karena usia yang mulai menjauh dari matang.. dijodohin.., takut dibilang ga laku.. sudah bosan pacaran tapi ga jadi juga mending langsung nikah, ngapain lama2 langsung hajar aja tar makin tua..dan lain2 dan sebagainya.. ”

    menurut saya siy ya.. biar bagaimanapun. . tetep harus ada masa pendekatan dan pengenalan yang membutuhkan waktu tidak sebentar (tentunya).. dan kak Nurhayati itu juga mengakui hal itu “mengenalnya satu bulan memang belum cukup untuk
    mengetahui pribadinya secara mendalam, tapi saat perkenalan kami,
    kelihatannya termasuk laki-laki yang baik dan sopan dan tidak pernah
    terlintas di benak saya, jika dia dia sangat kasar”

    orang kalo baru kenalan pasti memperlihatkan sisi2 baiknya jarang banget yang menampilkan sifat jeleknya..awal2 pasti ‘jaim’ , kalem, murah senyum..perhatian. .
    ini yang seharusnya jangan membutakan kita.. (khususnya u/ para wanita yang mudah digombalin)
    kita harus cari tau sebanyak2nya tentang latar belakang dan kebiasaan “calon” kita ini sebelum kita melangkah terlalu jauh..dan akhirnya menyesal tiada guna.. nasi sudah menjadi bubur..
    dan memang ga jaminan setelah berkenalan lama trus tar menikah ga bakal ada pertengkaran. . tapi setidaknya kalo kita sudah tau lebih banyak dan lama mengenal sifat pasangan kita, ketika kita mengambil keputusan untuk menikah dengannya kita sudah sampai pada tahap “mau menerima dia apa adanya (bukan hanya ada apanya ya.. ) – to love just the way he/she is”

    dan intinya dari semua itu adalah “CINTA” banyak orang bilang , palagi nih biasanya diucapkan oleh orangtua jaman dulu , “untuk apa cinta? jangan milih2..!! kita ga bisa makan dengan cinta” jaman dulu mungkin iya.. cinta bisa tumbuh setelah menikah.. godaan sedikit, entertainment sedikit (jumlah wanita juga ga banjir seperti sekarang).. pekerjaan cuma dari sawah ke rumah, yang ditemui ya itu2 aja..
    tapi jaman sekarang.. wuihhh serba syereeemmm.. kawin cerai dan selingkuh jadi lumrah terjadi..para isteri jaman sekarang hidupnya banyak yang ga nyaman.. suami di “ikat” kenceng kenceng.. kemana2 suami diikutin / dilacak pake GPS , dulu wanita suka berdaster dirumah sekarang wanita berlomba2 permak wajah.. botok sana sini..pake silikon di wajah, payudara.. alamaakkk!!! (suda hepeng)
    niat mau cantik biar makin diliat suami, suaminya malah kaburrrrr… (cari yang bening yang masih original)
    begitu juga sebaliknya para suami, mulai tidak percaya sama isterinya kalo pergi keluar rumah..
    cemburu, rasa saling tidak percaya dan ketidak setiaan makin tenar seiring majunya teknologi dan perkembangan jaman yang membuat manusia semakin pintar dan sekaligus “tidak nyaman” dan semua itu karena hilangnya atau tiadanya KASIH / CINTA

    hubungan dengan Allah pun tidak mulus (biasanya) “dosa membuat orang lupa berdoa” padahal kalo “kita berdoa kita lupa berbuat dosa” demikianlah kira2..

    bagi saya CINTA itu perlu buanget untuk mengawali sebuah hubungan yang serius.. untuk membangun pondasi yang kuat agar rumah yang akan kita bangun bersama pasangan menjadi kokoh dan gagah, bisa menahan amukan badai, teriknya panas dan hujan, jadi refuge and shelter (naungan) buat kita di dalamnya.. pertengkaran yang biasa disebut “kerikil2” bisa diatasi oleh CINTA yang kita punya.. tapi kalo kita ga punya CINTA.. ???? hmmm

    mungkin suami kak Nurhayati tidak memiliki apa yang disebut CINTA (hanya memiliki “rasa butuh” , butuh istri, butuh keturunan, butuh tempat penyaluran), karena.. jika kita mencintai seseorang kita pasti tak mau melukai sedikit pun orang yang kita cintai, ibarat porcelain yang mahal , wanita yang dia cintai akan dia jaga sebaik2nya jangan sampai terluka dan tergores barang sedikit pun.. dan jika kita mencintai suami kita, ketika dia membuat kesalahan selalu akan ada “maaf” .. menjadi penyeimbang, penolong,navigator dan partner yang baik buat suaminya “there’s a great wife/woman behind a great man” tapi kalo udah KDRT ????? hmmm

    buat semua.. baik pria maupun wanita..
    berusaha lah mencari cinta.. karena ALLAH pun mengajarkannya, hukum yang utama dan terutama adalah KASIH…
    jangan karena dikejar setoran sapa aja jadi.. hajar..sambar. .senggol. .tewas..! !
    asal aja sama sapa aja.. ckckckck..
    ibarat belum mateng kita buru2 pengen makan akhirnya jadi mateng karbitan… ya pasti rasanya jadi ga jelas..
    berkat setiap pribadi/orang beda2 , ada yang jodohnya dateng cepet karena emang sudah waktunya,dan ada yang terkesan lama karena memang saatnya belum sekarang.. sama juga halnya dengan maut.. setiap orang ber beda2.. (tanya aja TUHAN )

    kadang manusia menyalahkan Tuhan, kenapa beri jodoh yang begini, kalo kita flash back justru kita mengambil keputusan waktu itu pasti tidak menyertakan campur tangan Tuhan.. karena kita maunya instan..cepat. .keburu tua dan kita ga berdoa ato bahkan ga jeli atau mungkin mengabaikan kehendak TUHAN.. sebenarnya jodoh kita ada d depan mata dan kita kenal tapi kita melihat yang lain dan memilih yang lain yang mungkin.. yang biasanya punya “kelebihan” (lebih duitnya, lebih rumahnya, lebih depositonya, lebih gantengnya) tapi kurang “KASIH” nya
    “bangun rumah tanggamu dengan pondasi KASIH dan sertakan ALLAH untuk masuk ke dalamnya dan jadikan ALLAH sebagai kepala rumah tangga atas rumahmu”

    so…
    miliki iman dan berdoa.. (apapun keyakinan kita) sertakan TUHAN dalam segala hal, dalam mengambil keputusan dan juga dalam ber “pacaran”,juga
    cari kehendak Tuhan..yakin, Tuhan pasti sediakan yang terbaik menurut DIA untuk diberikan padamu..
    karena jodoh dari Tuhan itu pasti ga sembarangan (beda kalo kita dijodohin manusia, belum tentu jelas dan baik alias untung2 an hehehehe..jangan salah paham ya.. bisa jadi orang tua/teman/kerabat yang menjodohkan kita sama pasangan kita dipakai TUHAN sebagai perantaraNYA, karena itu berdoalah.. )

    do our best and let GOD do the rest..!!

    if we have love.. we have mercy as well..
    and our GOD has both.. for u and me

    I wish till this time and then I still have faith.. and believe God would assert HIS will in time
    love
    maria 7rait

  10. Buat kak.Nurhayati Sirait,

    Lahir, Hidup, dan kematian adalah misteri, kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi di depan kita, juga termasuk pria yang kita pilih menjadi pendamping hidup kita.

    Rasanya hal ini sering terjadi di keluarga halak hita, cuman banyak para ibu yang menutupi kelemahan suaminya.

    Buat kakak, semoga dikuatkan atas semua masalah dalam hidup, lebih menyerahkan pada Tuhan saja, karena Tuhan yang memiliki kita.
    Persahabatan. .bahkan pernikahan mungkin mengecewakan kita, tapi Tuhan tidak pernah mengecewakan.
    GBU,

  11. Bung Jhonny Sitorus…
    Saya udah komunikasikan kasus ini dengan Arist Merdeka Sirait by Phone. Menurutnya korban harus melaporkan ke pihak Kepolisian, sesuai dengan locus delictinya di Jakarta. Masalahnya, korban dan 2 orang anaknya sedang mengamankan diri di rumah orang tuanya di Sidikalang Kab. Dairi Propinsi Sumetra Utara.

    Hari ini antara Biro Advokasi GM-PSSSI&BBI dengan keluarga korban akan mengadakan pertemuan mencari jalan mengatasi permasalahn ini. Mohon dukungan semua pihak agar kasus ini tidak menemui jalan buntu seperti berbagai kasus serupa lainnya.

    Terimakasih atas atensi dan dorongan bung terhadap masalah ini.

    Horas

  12. Amang Poltak
    Kalau dimungkinkan sebaiknya tidak langsung di mediasi oleh pihak aparat,alangkah nyamannya bila melalui jalur yang lebih kekeluargaan, bisa dicoba hubungi Lembaga Konseling LK3: 021-5689827.
    Meskipun memang tindakan tersebut sudah masuk dalam tindakan kriminal, namun faktor psikologis Ibu Nurhayati dan putra-putri serta (bila dimungkinkan)suami dari Ibu Nurhayati, itulah yang perlu di beri kenyamanan.

    Semoga permasalahan ini mendapatkan jalan keluar penuh damai.

    -sri agung-

  13. hai saudara-saudaraku yang bergabung pada comment ini.
    yang dialami oleh nurhayati sirait belum apa-apanya dengan yang dialami oleh seorang dokter.
    pasti kalian semua akan kaget dan menangis.
    minta aja sama uda poltak simanjuntak supaya dibuat beritanya yang lengkap testimonynya .

  14. Horas ,dan SELAMAT PASKAH UNTUK THN ini ,

    Saya terkejut membaca,tulisan br Sihotang dimana mengenai diskusi,Nurhayati Sirait korban kekerasan sang Suami ,
    Tidak kusangka kami laki -laki Orang BATAK ini kok begitu kejam terhadap Istri.

    Kita sebagai laki-laki Batak ini mohonlah jangan lagi terjadi jg begitu. Saya sebagai Laki-laki Batak jg sudah berumur 70 Thn dan 39 Thn berumah Tangga dengan br Batak juga asal dari SIMALUNGUN jg tinggal di Jerman sudah 35 Thn, sangat kesal sekali mendengar itu .

    Contoh kelemahan kita laki-laki Batak, Kalau Istri duluan meninggal dimana Suami tidak bisa bagus mendidik Anak anak dalam keluarga jg di tinggal kan si IBU tetapi kalau Suami duluan meninggal si IBU bisa membingbing ,Anak-anak ,dan keluarga.
    jadi kita Laki -Laki BATAK ini mesti sadar dalam hal ini .-Naima lobei Mauliate, Salam kami untuk br Sirait itu.

    HORAS ,OPPUNG ni PHOEBE DAMANIK Duesseldorf GERMANY.

  15. Kak Venny, sepertinya dugaan tindak pidana KDRT (UU 23/2004) sudah terpenuhi. Menurut saya Ibu ini harus diadvokasi dan didampingi. Gimana Kak?

  16. KDRT yang sangat tragis, apa suaminya mengidap gangguan jiwa (bukan penyakit jiwa) semacam psikopat. Dari uraian si ito kelihatannya mirip dengan kasus yang pernah saya tangani di Bandung dulu, istri puluhan tahun disiksa suami yang mengidap psikopat.

    Istri, anak-anak dan suami harus didoakan dan dilakukan konseling, sebelum akhirnya mau dibawa ke kasus KDRT. Tuhan menguatkan ito Nurhayati dan anak-anak. Airmataku menetes membaca kisah ito, banyak miripnya dengan kisah satu keluarga yang kubantu dulu waktu masih kuliah Psikologi di Bandung.

    Dulu ketiga pihak harus dimenangkan, istri, anak, dan suami. Yang paling berat malah anak-anak yang trauma dan suami. Rekan-rekan Psikolog yang muda-muda bantulah itoku ini. Saran saya jangan buru-buru ke pengadilan/polisi tetapi dekati secara spiritual dan psikologis dulu. Alternatif terakhirlah pendekatan hukum. Salom!

  17. begitulah rumah tangga, dan terutama begitulah rumah tangga orang batak.Keselamatan rumah tangga adalah sesuatu yang HARUS dijunjung tinggi.

    Ibu Nurhayati, kalau boleh saya menyarankan, ada baiknya ibu mencoba untuk berkonsultasi ke konselor pernikahan. Meski tidak menjamin suami ibu seperti yang ibu harapkan suami layaknya
    dalam mimpi indah Ibu ketika belia dulu, namun Ibu akan memiliki suatu semangat, Ibu akan memiliki daya untuk menjalani hidup.
    Hal yang paling sulit adalah mendoakan orang yang melukai kita, tapi cobalah itu dari hati.

    Ibu Nurhayati, pagi tadi di angkot pun saya mendengar seorang ibu (saya yakin dia Batak, sebab menyebut orangtua dan adiknya kepada anaknya OPUNG dan TULANG Tigor), dia pergi dari rumah karena anaknya bilang “mama, kita pergi karena papa marah2. terus ya?”.
    Hati saya selalu miris membayangkan nasib psikologis anak2. korban KDRT. Itu PR berat para orang tua.

    Doa saya untuk Ibu, semoga diberikan ketabahan.

    -sri agung-

  18. Saya khawatir kejadian demi kejadian seperti yang dialami Ito Nurhayati Sirait ini akan berdampak buruk atas nilai2 adat Batak.

    Kayaknya Dalihan Na Tolu diuji dalam persitiwa ini, seperti yang selalu didengungkan dalam falsafah Batak yaitu : Boru Ni Raja…. masak boru ni Raja di par Bal (ditendang), terlepas siapa yg salah dan siapa yg benar.

    Mari kita berlomba berbuat yang terbaik, karena hidup ini hanya sementara.

    Buat Ito Nur, kalau boleh upayakan berkumpul dengan semua anak2 Ito, jangan biarkan mereka berpisah dari Ito.
    Semoga
    dari kami Penyayang Keluarga dan yg selalu menjunjung tinggi nilai2 ADAT BATAK.

  19. Dilema…

    Itu yang kebanyakan dirasakan kaum wanita batak. Antara pengabdian kepada suami dan adat, tapi sering kali harus mengorbankan harga diri. Kadang sulit dipahami, adat yang begitu mengikat atau memang kaum wanita batak (khususnya) terlalu takut untuk menunjukkan perlawanan ? Bertahun-tahun menahan penyiksaan mental dan fisik demi satu harapan menjaga nama baik keluarga.

    Jangan sampai keluarga tahu kekerasan yang dilakukan suami. Tapi saat suami sudah tidak mampu menunjukkan tangggung jawab, sikap dan wibawa sebagai kepala rumah tangga, apakan doktrin bahwa seorang suami adalah “Raja” masih dapat dipertahankan ?

    Saat saya membaca kisah KDRT yang dialami ibu Nurhayati sirait, ada kemarahan dalam diri saya karena masih ada saja seorang suami yang bermoral bejat (maaf) seperti Hasudungan Tambunan, ditambah lagi keluarganya yang seolah-olah membenarkan tindakan tidak manusiawi tersebut.

    Mungkin terlambat juga ibu Nurhayati mengambil sikap lari dari rumah, tapi itu lebih baik dari pada bertahan terus. Kasihan anak-anak, mental mereka bisa rusak karena manusia yang seharusnya menjadi bapak yang teladan. Tapi, saya yakin suatu saat nanti ibu Nurhayati sirait dan anak-anaknya akan mendapat keadilan. Kalau boleh, laporkan saja tindakan KDRT yang dilakukan suaminya kepada pihak berwajib. Dan jangan pernah kasihan kepada suami ibu kalau dia diproses secara hukum. Kasihanilah anak ibu yang sudah mengalami trauma melihat penderitaan ibunya.

    Banyak anak-anak muda Batak yang sukses walau dibesarkan sendirian oleh ibunya saja, jadi buat apa takut tanpa suami yang tidak bertangung jawab seperti itu ? Anakhon ki do hamoraon di au, itu yang selalu menjadi semangat orang tua bangso Batak, jadi walau sendiri perjuangkan terus anak-anak ibu.. Sebenarnya ibu tidak sendiri, ada banyak orang yang pastinya mendukung ibu…

  20. Salam kenal bung Poltak,
    Saya membaca kisah bu Nurhayati Sirait yang saya dapat dari seorang teman. Kisahnya sangat menyentuh dan berpotensi menginspirasi banyak pihak, terutama perempuan.

    Kira-kira bu Nurhayati mau nggak ya berbagi cerita secara langsung melalui wawancara?

    Salam,
    Tika

  21. Mbak Tika,

    Terimakasih atas ungkapan solider kepada Nurhayati br. Sirait. Kami, memberikan atensi terhadap Ibu Nurhayati didorong kesadaran akan perlunya upaya perlindungan dan pemulihan hak perempuan yang ibu dari anak-anaknya dan istri dari suaminya.

    Dengan tanggapan yang positif dari kita semua terhadap dia, sekarang Nurhayati kelihatnnya mulai bangkit dan mau buka bicara.

    Sesuai keinginan Mbak Tika mau bicara langsung atau wawancara dengan beliau, saya kira bisa saja. Saya akan komunikasikan kepadanya, dan mohon membantu saya dengan memberikan informasi tentang Mbak dan tujuan wawancara itu. Sebab, dia sangat berhati-hati menanggapi semua orang, dan selalu terlebih dahulu mempertanyaakan kepada kami, siapa, dimana dan untuk apakah? Maklum, dia masih menaruh curiga.

    Jika tidak keberatan kontak hp saya 08197277765

    Mohon tanggapannya…

  22. Kepada Bpk/Ibu/rekan2 sekalian, mohon sarannya:
    saya ingin membuat pengakuan, sekaligus meminta saran kepada bpk2/ibu2/temen2 yang baca ini, saya berpacaran hampir 5 tahun, saya tertarik dengan dia karna dia cowok yang pintar, dia S1 lulusan ITB, yang terkesan culun, dia juga memiliki IQ tinggi, IQnya=147, saya sendiri lulusan s2, dia lebih tua 2 tahun dari saya, waktu itu saya pikir dia cowok yang baik, kami pacaran longdistance, jadi kami sering kontak hanya lewat ponsel, selama 5 tahun kami hanya beberapa kali bertemu, kami kerap cekcok

    (masalah yang sering timbul adalah masalah yang sengaja diadakan/dibuat-buat olehnya, dia suka melihat saya menderita/protes/sedih, dia selalu merasa dirinya paling serba semua- serba pintar, serba hebat, tidak pernah merasa salah, tidak sadar kalau membuat kesalahaan, sering meremehkan saya dan setiap membuat kesalahan pun selalu ga sadar, tidak mengaku apa yang telah diperbuat padahal sudah jelas ada buktinya,),
    tadinya saya pikir karna longdistance, jadinya kurang komunikasi makanya dia seperti itu, berharap dia bisa berubah maka akhirnya saya menerima lamarannya, dan menikah 14 juni 2009 lalu, baru menikah saya pindah ke jkt ikut suami saya,dia membeli rumah dijkt, , setahun ini saya jadi iobu rumah tangga saja, hampir tiap minggu kami sering cekcok, masalah yang timbul adalah masalah yang sering dia buat-buat, sepertinya dia bahagia kalau saya menderita, baru 1 tahun menikah, tapi saya sudah menemukan banyak keanehan di dirinya, kenyataan pada masalah pacaran ditambah lagi dengan :

    “jika suami ingin apapun, itu harus saat ini, jika dilarang atau tidak mau menuruti maka dia akan mengamuk, marah-marah, suami juga punya sifat pendendam, berfikir negatif terhadap interprestasi saya terhadap temennya, jika sudah janji dengan temannya- dia lebih mementingkan temannya, pernah waktu satu hari kejadian : dia paksa saya bangun dengan mematikan listrik dari luar, menyembunyikan telpon agar saya tidak bisa menghubungi, mencabut kabel jetpump, mengosongkan bak mandi, agar saya merasa tersiksa, ditambah lagi dia menyembunyikan kunci pintu, merusaknya, dan menaruh 2 pot bunga besar di jalan pintu masuk, agar saya tdak bisa keluar itu suami mengunci rumah dari dalam membiarkan saya di luar, ” pada saat itu saya telpon dia saat di kantor, tanya ke dia kenapa berbuat begitu, suami malah bilang ITU BARU AWAL, MASIH BANYAK KEJUTAN YANG MAU DIA TUNJUKAN KE SAYA, untuk menyakitan saya, aneh ga sih???

    pernah juga dia mengunci saya dari dalam, saya dibiarkan di luar, dia tak mau membukakan pintu, dan kalo marah-marah dia tidak perduli di tempat ramai/luar, pada saat saya sakit, dia tidak perduli, dia cuek saja, jika saya nangis oleh kelakuanya, dia cuek saja, malah pilih pindah tidur ke kamar lain dan menguncinya, soal keuangan waktu itu dia memaksa minta atm bulanan/uang, kunci mobil, itu harus dikasih, jika tidak dia akan mengamuk, dia juga SERING bilang INI RUMAHKU, KALO TIDAK SUKA KAMU PERGI SAJA, SERING JUGA BILANG SAYA TAK BERGUNA, kalau dia marah, dia datang kepada saya jarak 10 cm menunjuk bentak2, menyeramkan, tatapannya seperti bukan manusia, PENDENDAM juga

    dari semua hal itu, dia tidak pernah merasa menyesal, tidak minta maaf, tidak mengakui perbuatannya, jika dikasih tau apa ucapan pada saat suami marah, dia malah berucap kalo dia tidak pernah mengucapkan kata2 menyakitkan itu, tidak sadar kalau dia berbuat itu.

    apa tindakan-tindakan suami saya termasuk tindakan seorang psikopat??? mumpung saya belum punya anaknya dengannya, saya berfikir2…agar tidak terlambat, agar saya merasa tidak disiksa lama olehnya, trus apakah dia bisa berubah? bagaimana menghadapinya? apa langkah yang harus saya tempuh dlam kedepannya? mohon sarannya, terima kasih

  23. Daripada kita yang bakal menderita terus menerus, mending di santet mati
    suami yang berperilaku binatang seperti itu, karena saya sangat mengetahui rasa sakit seperti ibu bahkan jauh lebih sakit

  24. sabar ibu Nurhayati…., Tuhan Maha Tahu…, Tuhan mendengar doa2 kita…Tuhan selalu bersama dan menjaga kita….Amien

  25. Saya kira pada jaman sekarang berdua sama sama keterlaluan.Suami keterlaluan menyiksa isteri,isteri keterlaluan melindungi suami yang super brengsek.Saatnya lapor ke Komite perlindungan Perempuan dan polisi titik Ini pidana berat

LEAVE A REPLY