Saturday 11 February 2012 - 02:51 pm

Nurhayati Sirait, Korban Kekerasan Suami-Sebuah Kesaksian

By Poltak Simanjuntak (H 15) - Wed Apr 01, 7:34 pm

Atas semua tindak kekerasan, pemukulan, cacian, penghinaan yang menjadikan saya sebagai seorang perempuan, istri dari seorang suami yang gemar melakukan kekerasan dan ibu dari keempat anak-anakku yang juga mengalami penderitaan, saya dengan sangat terpaksa membuat kesaksian, berupa pengakuan jujur akan apa yang saya hadapi.

Selain, berharap ada yang tergerak untuk membantuku dalam kelemahan dan ketidakberdayaan yang menderaku, aku juga berupaya agar kejadian seperti ini tidak pernah terjadi kepada perempuan, istri dan ibu dari anak-anak yang lain, sebab hanya penderitaan yang terjadi.

kdrt41Saya, istri dan ibu dari anak-anakku, yang diberi nama Nurhayati Sirait, Lahir di Dairi, 11 Januari 1967, beralamat/ domisili di Jln. Pendoro IV RT 03 / 08 No. 4 Kota Depok, mengungkapkan sisi gelap kehidupanku menjalani kehidupan keluarga yang awalnya saya pendam, karena saya anggap hanya membuka aib keluarga.

Didorong penderitaan yang berkepanjangan dan harapan akan masa depan anak-anakku, maka aku harus bertindak untuk tidak terus menerima deraan kekerasan ini dengan diam. Walau saya sangat sadar, bahwa tidak ada kekuatan yang kumiliki sekarang, untuk keluar dari kemelut ini.

Keyakakinanku, Tuhan akan menunjukkan penolong bagi aku dan anak-anakku untuk melewatinya. Dan, harapan lain adalah, agar kasus yang sama tidak terjadi bagi orang lain yang mengetahui penderitaanku ini.

Diawali Pernikahan

Tanggal 16 Januari 1984, tanpa didahului masa berpacaran, saya akhirnya menikah dengan seorang pria dengan bernama Hasudungan Tambunan, lahir Medan, 5 September 1963, yang terpaut perbedaan umur 4 (empat) tahun denganku, di Gereja GKPI Glugur Darat – Medan.

Ketika perkawinan berlangsung di gereja, seharusnya menjadi saat yang paling bahagia dan damai, ternyata itu tidak terjadi, sebab laki-laki yang akan menjadi suami saya justru menunjukkan sikap yang sebaliknya. Hal-hal yang menurutku tak perlu dikomentari secara berlebihan,seperti tata cara nikah gereja, ataupun prosesi adat dinodai dengan kata-kata kotor dan kasar yang tak pantas untuk didengar.

Saya kaget, mengenalnya satu bulan memang belum cukup untuk mengetahui pribadinya secara mendalam, tapi saat perkenalan kami, kelihatannya termasuk laki-laki yang baik dan sopan dan tidak pernah terlintas di benak saya, jika dia dia sangat kasar, walaupun saya tahu bahwa dia bekerja di pasar Blok M, Jakarta.

Enam bulan pertama, perselisihan sering terjadi, satu hal diantaranya adalah kehadiran Adik perempuan suamiku Emi Herawaty Tambunan yang juga tinggal se-rumah dengan kami, selalu menyulut pertengkaran-pertengkaran kami. Keberpihakannya terhadap anggota keluarganya selalu menjadi pemicu pertengkaran kami yang baru berkahir setelah Eda ku pulang ke Medan.

Bulan Desember 1994, pertengkaran terjadi di rumah hingga saat itu, dia (Suami) melempar saya dengan asbak dan saya lari menghindari amukannya yang semakin tidak terkendali. Suatu hari kami ribut tengah malam, dikarenakan dendam yang telah berkecamuk di hati saya, Saya tidak mau melakukan kewajiban saya sebagai istri, ini membuat saya diseret dan dipukuli. Saya lari ke rumah saudara dan berusaha menenangkan hati di sana. Ketika suasana hati mereda hingga dapat melupakan kejadian itu dan akhirnya aku kembali menjalankan kewajiban saya sebagai istri.

Desakan pihak keluarga untuk kembali ke rumah dan berlaku normal pun saya ikuti. Tapi hati saya masih sangat sakit karena perlakuan kasarnya, Ditambah lagi sikapnya yang seoalah-olah tidak pernah melakukan kesalahan – seolah tidak terjadi apa-apa – terlihat dari rona wajahnya yang justru menyuburkan rasa gundah di hati saya.

Melahirkan Anak Pertama, Berharap Membawa Perubahan

Marta Bella, putri kami lahir tanggal 8 Februari 1996, yang kuharapkan sebagai pembawa perubahan suami agar lebih bijaksana. Tapi harapan tinggal harapan. Sifat kasarnya tak pernah berubah. Kuakui bahwa dia memang pekerja keras. Dan aku menduga ada kemungkinan atas kerja kerasnya ini membuatnya menjadi orang yang mengukur kebahagiaan dari jumlah uang diperolehnya.

Percekcokan karena masalah pengeluaran keuangan pun tak pelak terjadi. Seberapa kerat pun aku berusaha menghemat penggunaan uang pemberiannya, namun dia selalu mencurigainya. Orang tuaku akhirnya mengetahui keadaan keluarga kami. Tanpa kumintai tolong, orang tuaku yang tinggak di Sidikalang Kabupaten Dairi, memberikan pertolongan dengan memberikan kepada kami sejumlah modal untuk kupergunakan menambah penghasilan. Dengan modal tambahan dari orang tua saya ini, saya akhirnya berdagang pakaian secara kredit.

Aku menekuni usaha ini walau harus membawa serta putri kami untuk berdagang keliling. Tidak berlangsung lama, tuntutan suami agar “siap sedia 24 jam” melayaninya. Begitu seringnya tuntutan ini dia kemukakan, hingga menjadi bahan perselisihan baru di antara kami. Padahal, walau saya harus berjualan, yang namanya kewajiban sebagai ibu rumah tangga tetap saya laksanakan.

Namun kerja keras bekerja di rumah dan berjualan keliling akhirnya kuhentikan, sebab menjadi sumber malapetaka yang menambah kesusahanku setiap hari. Setelah usaha itu aku hentikan, saya berupaya sekuat tenaga untuk melayaninya penuh, termasuk bangun tengah malam untuk menyiapkan hidangan baginya.

Hingga pada suatu suatu hari, ketika itu anak saya masih berusia 10 bulan, dan saya dalam keadaan sakit. Suami saya meminta dibuatkan santap larut malamnya. Saya tolak dengan halus dengan mengatakan bahwa aku sedang sakit. Tapi dia terus mendesak dengan mengeluarkan umpatan keras dan bukannya mempercayai keadaanku yang sedang sakit. Dengan disaksikan oleh Lisbet Siboro, tetangga orang tua saya di Sidikalang, suami saya mengamuk sejadi-jadinya. Kepala, muka dan seluruh badan saya mendapat pukulan keras. Saya hanya bisa meringis dan menangis menahankan siksaan suami. Badan saya mengalami memar, lebam di sekujur tubuh dan aku tidak bisa melakukan perlawanan sebab tubuh lemah karena sakit.

Mendapat perlakuan biadab dan sangat menyakitkan seperti ini, akhirnya saat itu juga saya minta agar diceraikan saja. Sumai saya bukannya mengurangi siksaanya sambil berucap “Sana kamu pulang ke Sidikalang!”, sambil melayangkan pukulan ke mukaku. Menjambakku dan menghempaskan tubuh lemahku. Aku merasakan kesakita yang luar biasa.

Ingin lari dari hadapannya, namun saya harus bertahan mengingat saya sebagi istri yang menjunjung tinggi adat Batak, dan agama yang kupeluk. Penyiksaan ini berhenti setelah dia puas melampiaskan nafsu amarahnya. Dan, aku tidur meringkuk menahankan kesakitan akibat pukulan dan kesakitan yang sejak seharian menderaku.

Hidup berkeluarga di bawah ketakutan dan ancaman kekerasan terus kujalani. Saya, bertahan demi menjaga nama baik kedua orang tua saya. Selain itu, banyak anjuran tetangga, baik yang menghibur, walau tidak sedikit yang justru melontarkan ucapan dan penilaian yang menyakitakan telinga. Hingga waktu saya pulang ke Medan, karena ada acara pernikahan adik kami, keponakan saya Lisbet juga lari dari rumah, karena tidak tahan melihat saya selalu dipukuli.

Kejadian demi kejadian terus saya simpan. Tidak ada satupun keluarga yang tahu perlakuan kasar yang saya alami. Hanya menjadi cerita buruk di rumah tangga kami saja. Saya terus mencoba bertahan, hingga kami pindah ke Pondok Labu. Saat itu saya mengandung anak ke dua.

Kondisi saya sangat lemah saat kehamilan anak yang kedua, sehingga saya harus di bawah pengawasan dokter. Saat dua bulan usia kehamilan, mertua laki-laki saya meninggal dunia. Kami semua pulang. Barangkali terlalu capek setelah penguburan, saya mengalami pendarahan hebat, hingga dibawa ke Rumah Sakit dan diopname.

Suami saya benar-benar tidak perduli dan tak berniat sama sekali untuk menunggui saya di rumah sakit, melainkan mengutus orang lain yang juga tidak bersedia karena kesibukannya. Dalam kindisi kesakitan di rawat di rumah sakit, saya marah besar yang justru ditanggapinya dengan ucapan sangat kasar. Melontarkan kata-kata kotor dan caci makian. Bahkan saat saya menderita pendarahan sekalipun, tak ada kasih dalam bentuk kepeduliannya – selain memaki – hanya tekanan “Cepat Pulang ya!”. Dia menunjukkan keberatannya atas biaya pengobatan, dan bukan memikirkan kesehatan saya.

Tak tahan dengan penderitaan dan kesedihan ini, saya menceritakannya kepada kakak saya. Rasa kasihan dan iba, akhirnya kakak saya membawa saya pulang ke Sidikalang untuk dirawat. Namun, pendarahan terus berlangsung, saya kembali diopname di Kabanjahe. Setelah beberapa hari di rawat di RS di Berastagi, dan pendarahan terhenti, saya untuk sementara tinggal di rumah mertua di Medan, sedangkan suami saya pulang ke Jakarta. Tak tahan dengan sikap mertua saya yang seakan tak peduli dan sama sekali tidak menghargai kehadiran saya, akhirnya saya memutuskan kembali ke Jakarta.

Memasuki usia 8 (delapan) bulan kandungan saya, kami ribut lagi. Pemicu keributan menyangkut uang. Suami saya, menampar saya sekuat tenaganya, dan akibat kesakitan dan keterkejutan saya menjerit sejadi-jadinya, sambil memegangi perut saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya dalam keadaan hamil. Di luar dugaanku, suami saya malah berucap lain yang sangat menyakitkan hati.

Kalau sedari dulu aku tahu begini keadaanmu, setiap hamil pendarahan terus, saya tidak mau kawin, dengan kau!” Sungguh kata-kata yang tidak layak diucapkan oleh seorang suami. Saya hanya bisa diam dan tetap berdoa – walaupun sebagai orang Kristen yang jarang ke Gereja – saya merasakan bahwa doa menjadi sumber penghiburan saya di tengah masa-masa sulit saya berumah tangga, serta selalu mengingat bahwa kunci kesuksesan rumah tangga ada di tangan seorang ibu.

Tanggal 24 September 1998 lahirlah anak perempuan kami yang ke dua Masta Septy. Di usianya yang masih 3 (tiga) bulan terjadi pertengkaran yang kembali membuat saya mengalami kekerasan fisik. Saya ditendang, segala sumpah serapah terlontar dari mulutnya. Anak kami yang masih bayi ikut menjadi korban, sebab kami terlibat dalam perkelahian. Saling tarik-menarik. Secara kasar dia menarik tubuhku ketika berupaya lari menjauh darinya. Anak yang saya gendong turut menangis, sebab terkena benturan.

Di bawah ancamannya untuk tetap tinggal atau pergi tanpa anak-anak. Saya hanya sempat membawa “kabur” bayi saya. Tapi dengan pertimbangan malu dengan tetangga, saya kembali pulang. Sejak saat itu nyaris kami bagai orang asing yang tidak saling bertegur sapa.

Hingga suatu hari tetangga datang dengan kumpulan marga untuk menasehati kami agar kami hidup layaknya suami istri yang saling mengasihi dan saling terbuka. Namun, begitu banyak pun nasehat, atau anjuran baik dari tetangga, maupun keluarga, jika menghadapi persoalan pasti menimbulkan pertengkaran.

Baginya uang yang ada adalah uangnya, bukan uang kamu. Setiap uang yang diberikannya selalu disertai dengan suatu pertanyaan “kemana saja uang itu kamu pakai?”. Padahal, pada tahun 1994 ketika itu, saya hanya diberi setiap bulan hanya Rp. 150.000,-. Setelah anak pertama lahir menjadi Rp. 250.000 per bulan. Tambah anak lagi, di beri uang Rp. 20.000,- per hari. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk menggunakannya, inilah yang saya jalani hingga bulan Juli 1999, kami pindah rumah ke Pondok Labu waktu itu.

Melahirkan Putra Kembar

Moses dan adiknya Madya lahir. Kelahiran anak kembar dan laki-laki pula membuat saya senang dan berharap suami saya akan berubah. Ternyata itu hanya harapan kosong. Suami saya tetap saja tidak bergeming. Baginya, uanglah yang menjadi prioritas utamanya.

Seingat saya, setiap bertengkar, kepala saya selalu menjadi sasaran utama, dibenturkan ke tembok. Saya masih ingat, pertengkaran kami yang paling dahsyat, tahun 2005 silam, dan sampai saat ini tidak bisa hilang dari ingatan saya.

Bermula dari kios kami yang terbakar di kawasan Blok M. Praktis suamiku tidak lagi berdagang. Akulah yang mencari uang dengan membuka took sembako di rumah. Saat itu uang yang kami pakai untuk berbisnis dibawa lari orang, tidak tanggung-tanggung, Rp.150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah). Saat itu, saya dilempar kursi, hingga mengenai badan dan kepala saya (hingga saat ini ini, kursi itu saya simpan). Disertai caci maki kasar, “Setan. Kurang ajar. Mampus Kau”, diiringi lemparan kursi.

Bekas memar dan luka di tubuhku, kuobati dengan harapan agar tidak sempat terlihat oleh orang lain. Rasa sakit dan ketakutan, membuatku menjadi perempuan, istri dan ibu anak-anak yang tidak percaya diri. Takut salah dan menjadi pendiam. Aku memendam kesakitan dan dendam terhadap perlakuan kasar. Bagiku hidup bagai di neraka.

Sementara anak-anakku tidak saja menyaksikan kekerasan terhadapku. Mereka juga menjadi korban. Mereka ketakutan setiap hari. Sebab, ketika makan kalau dalam kondisi marah, suamiku yang bapaknya anak-anakku tidak segan-segan memukul mereka bahkan membuang nasinya. Begitu besar ketakutan anak-anakku terhadap bapaknya, sehingga suatu ketika mereka harus bersembunyi di kamar mandi menghindari penyiksaan bapaknya. Bahkan yang lebih menyayat hati, suatu ketika anakku yang perempuan itu, berani bersembunyi di atap rumah, hanya untuk bersembunyi dari bapaknya.

Dalam kondisi biasa pun, suami saya hanya tertarik pada pembicaraan mengenai uang. Dia memperingatkan supaya tidak menghabiskan uang di took. Tidak boleh mengirimkannya ke orang tua. Rupanya dia mencurigai aku, telah mengirimkan uang kepada orang tua saya di Sidikalang. Padahal, sebaliknyalah yang terjadi. Orang tua saya yang secara ekonomi berkecukupan karena membuka usaha Toko Emas di Sidikalang, sering mengirimi kami uang.

Mendapat tuduhan seperti ini, saya tetap bersabar dan saya merawat anak-anaku, yang sudah mulai tumbuh besar. Namun, walaupun saya tidak melakukan perlawanan, ketika dia marah, tetap saja dia berani melempari saya dengan karung berisi beras. Reaksi yang saya bisa perbuat hanya menangis, tapi dia semakin marah dan semakin melempari saya dengan barang-barang yang ada di dekatnya. Ini terjadi berulang kali dan kerap disaksikan para sales-sales yang kebetulan datang ke toko.

Ketakutan selalu dipukul dan dimaki suami, menghantui hidup saya setiap hari dalam menjalankan usaha sembako. Ketika suami saya memulai mempertanyakan uang, dan ketika stok barang di toko semakin berkurang, maklum keuntungan bahkan modal terpaksa harus terpakai membiayai hidup keluarga, akhirnya saya meminjam uang pada Bp Rista, untuk menambah modal toko sebesar Rp.10.000.000,-.

Dengan tambahan modal ini, usaha kami dapat bertahan dan berkembang sehingga mendorong saya berani meminjam ke Bank Danamon. Pihak bank juga menaruh kepercayaan melihat perkembangan toko saya yang boleh dikatakan maju. Sehingga meluluskan pemberian kredit tanpa agunan sebanyak Rp. 11 juta dimana saya harus mengangsurnya sebesar Rp. 1.250.000,- per bulannya, selama setahun.

Segala usahaku untuk mengembangkan usaha kami ini ternyata bukan mendapat tanggapan positif dari suami saya. Tindakannya justru semakin menjadi-jadi. Jika dia melakukan pemeriksaan laci dan mendapati bahwa uang hanya sedikit, dia langsung marah-marah dan mulai mencaci-maki. Tidak hanya itu, suatu ketika saya juga pernah dilempar tabung gas ukuran kecil, sambil tak lupa menyertakan umpatan “Setan. Anjing kau!”, katanya berulang-ulang.

Tanggal 5 Pebruari 2009, ketika anak-anak membutuhkan sejumlah uang untuk biaya sekolah, sementara uang tersedia dari toko tidak cukup jumlahnya, akhirnya saya memberanikan diri untuk menggadaikan emas yang dia simpan senilai Rp.8.500.000,-. Untuk memberitahu sebelumya saya sudah pastikan tidak mendapat ijin, sementara kebutuhan sekolah anak-anak mendesak.

Sepandai-pandai saya menutupi, ternyata suamiku yang sedari dulu sudah menaruh curiga, akhirnya mengetahui bahwa emas kami yang disimpan tidak lagi berada ditempatnya semula. Akhirnya saya menjelaskan bahwa emas itu saya gadaikan sementara menunggu uang dari toko terkumpul. Dan, uang hasil gadai itu saya pergunakan untuk membiayai biaya sekolah anak-anak. Ketakutan saya ternyata terbukut. Tanpa menunggu waktu lama, suami saya langsung bereaksi. Marah dan langsung memukul kepala saya dengan sepatunya. Saya merasakan pusing dan sempoyongan. Tidak cukup dengan lemparan sepatu, dia melemparkan laci meja yang mengenai wajah saya hingga memar dan berdarah.

Hampir hilang kesadaranku, hingga tak mampu untuk menghindar dan menyelamatkan diri. Tangisanku dan jeritan anak-anak tidak diperdulikan. Kemarahanya semakin menjadi-jadi. Kepala, tangan dan sekujur tubuhku terasa sakit. Hingga hari ini, di pelipis atau tulang pipih saya masih sakit kalau ditekan dan kepala saya sebelah kiri sering sakit akibat pukulan laci. Jempol sebelah kanan saya sakit hingga kini, karena saya pakai melindungi kepala ketika dia menginjak kepala saya.

Tanggal 21 Maret 2009, tidak tahan lagi merasakan kesakitan, hinaan, caci maki, akhirnya saya memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Saya membutuhkan uang, yang saat itu semua uang sudah dikuasai oleh suami, sehingga saya mengupayakan dengan meminjam uang kepada tetangga sebesar Rp. 2.000.000,- untuk membeli tiket. Karena kekurangan uang untuk membeli tiket untuk lima orang dan mengingat 2 anak saya masih sekolah, akhirnya dengan uraian air mata, saya membeli tiket hanya untuk 3 (tiga) orang, saya dan 2 (dua) anak saya yang kembar. Sementara yang dua anak saya harus saya tinggalkan.

Tanggal 22 Maret 2009, saya ke Bandara tanpa uang untuk membayar Air Port Tax. Dengan semua kemampuan mengekspresikan penderitaanku, akhirnya petugas di Bandara Cengkareng memuluskan aku dan kedua anakku masuk ke ruang tunggu tanpa bayar Air Port Tax. Dengan menumpang pesawat Lion Air, penerbangan pukul 20.40 wib, saya tiba di Medan (Polonia) pukul 22.56 polonia, dan langsung menuju rumah temanku di Jl. Sisingamangaraja Medan.

Selama 3 (tiga) hari di rumah temanku ini, akhirnya hari Rabu, 25 Maret 2009, saya dijemput oleh ibu yang melahirkanku R. br. Simanjuntak dan Kakak kandungku Rosdiana br. Sirait untuk dibawa ke Sidikalang. Sekarang, aku sudah aman dari ancaman pukulan dan kekerasan suami. Tetapi, kedua anakku ternyata mengalami penderitaan seperti yang kualami. Melalui pembicaraan telepon, aku tahu bahwa kedua anakku terpaksa meninggalkan rumah dan pergi ke rumah saudara yang tergolong jauh. Bukan semakin tenteram, namun aku tersiksa memikirkan nasib mereka berdua Martha dan Mastha yang sekolahnya terganggu, ketakutan dan hidup tanpa kasih sayang ibunya.

Oh Tuhan, sampai kapan badai ini menerpaku. Aku tak kuat lagi…..

Saya yang menuturkan penderitaan,

Nurhayati Sirait

  • sundar

    sabar ibu Nurhayati…., Tuhan Maha Tahu…, Tuhan mendengar doa2 kita…Tuhan selalu bersama dan menjaga kita….Amien

    October 16 2010
    CommentsLike
    • enola

      Daripada kita yang bakal menderita terus menerus, mending di santet mati
      suami yang berperilaku binatang seperti itu, karena saya sangat mengetahui rasa sakit seperti ibu bahkan jauh lebih sakit

      August 19 2010
      CommentsLike
      • petty

        Kepada Bpk/Ibu/rekan2 sekalian, mohon sarannya:
        saya ingin membuat pengakuan, sekaligus meminta saran kepada bpk2/ibu2/temen2 yang baca ini, saya berpacaran hampir 5 tahun, saya tertarik dengan dia karna dia cowok yang pintar, dia S1 lulusan ITB, yang terkesan culun, dia juga memiliki IQ tinggi, IQnya=147, saya sendiri lulusan s2, dia lebih tua 2 tahun dari saya, waktu itu saya pikir dia cowok yang baik, kami pacaran longdistance, jadi kami sering kontak hanya lewat ponsel, selama 5 tahun kami hanya beberapa kali bertemu, kami kerap cekcok

        (masalah yang sering timbul adalah masalah yang sengaja diadakan/dibuat-buat olehnya, dia suka melihat saya menderita/protes/sedih, dia selalu merasa dirinya paling serba semua- serba pintar, serba hebat, tidak pernah merasa salah, tidak sadar kalau membuat kesalahaan, sering meremehkan saya dan setiap membuat kesalahan pun selalu ga sadar, tidak mengaku apa yang telah diperbuat padahal sudah jelas ada buktinya,),
        tadinya saya pikir karna longdistance, jadinya kurang komunikasi makanya dia seperti itu, berharap dia bisa berubah maka akhirnya saya menerima lamarannya, dan menikah 14 juni 2009 lalu, baru menikah saya pindah ke jkt ikut suami saya,dia membeli rumah dijkt, , setahun ini saya jadi iobu rumah tangga saja, hampir tiap minggu kami sering cekcok, masalah yang timbul adalah masalah yang sering dia buat-buat, sepertinya dia bahagia kalau saya menderita, baru 1 tahun menikah, tapi saya sudah menemukan banyak keanehan di dirinya, kenyataan pada masalah pacaran ditambah lagi dengan :

        “jika suami ingin apapun, itu harus saat ini, jika dilarang atau tidak mau menuruti maka dia akan mengamuk, marah-marah, suami juga punya sifat pendendam, berfikir negatif terhadap interprestasi saya terhadap temennya, jika sudah janji dengan temannya- dia lebih mementingkan temannya, pernah waktu satu hari kejadian : dia paksa saya bangun dengan mematikan listrik dari luar, menyembunyikan telpon agar saya tidak bisa menghubungi, mencabut kabel jetpump, mengosongkan bak mandi, agar saya merasa tersiksa, ditambah lagi dia menyembunyikan kunci pintu, merusaknya, dan menaruh 2 pot bunga besar di jalan pintu masuk, agar saya tdak bisa keluar itu suami mengunci rumah dari dalam membiarkan saya di luar, ” pada saat itu saya telpon dia saat di kantor, tanya ke dia kenapa berbuat begitu, suami malah bilang ITU BARU AWAL, MASIH BANYAK KEJUTAN YANG MAU DIA TUNJUKAN KE SAYA, untuk menyakitan saya, aneh ga sih???

        pernah juga dia mengunci saya dari dalam, saya dibiarkan di luar, dia tak mau membukakan pintu, dan kalo marah-marah dia tidak perduli di tempat ramai/luar, pada saat saya sakit, dia tidak perduli, dia cuek saja, jika saya nangis oleh kelakuanya, dia cuek saja, malah pilih pindah tidur ke kamar lain dan menguncinya, soal keuangan waktu itu dia memaksa minta atm bulanan/uang, kunci mobil, itu harus dikasih, jika tidak dia akan mengamuk, dia juga SERING bilang INI RUMAHKU, KALO TIDAK SUKA KAMU PERGI SAJA, SERING JUGA BILANG SAYA TAK BERGUNA, kalau dia marah, dia datang kepada saya jarak 10 cm menunjuk bentak2, menyeramkan, tatapannya seperti bukan manusia, PENDENDAM juga

        dari semua hal itu, dia tidak pernah merasa menyesal, tidak minta maaf, tidak mengakui perbuatannya, jika dikasih tau apa ucapan pada saat suami marah, dia malah berucap kalo dia tidak pernah mengucapkan kata2 menyakitkan itu, tidak sadar kalau dia berbuat itu.

        apa tindakan-tindakan suami saya termasuk tindakan seorang psikopat??? mumpung saya belum punya anaknya dengannya, saya berfikir2…agar tidak terlambat, agar saya merasa tidak disiksa lama olehnya, trus apakah dia bisa berubah? bagaimana menghadapinya? apa langkah yang harus saya tempuh dlam kedepannya? mohon sarannya, terima kasih

        May 26 2010
        CommentsLike

        • Mbak Tika,

          Terimakasih atas ungkapan solider kepada Nurhayati br. Sirait. Kami, memberikan atensi terhadap Ibu Nurhayati didorong kesadaran akan perlunya upaya perlindungan dan pemulihan hak perempuan yang ibu dari anak-anaknya dan istri dari suaminya.

          Dengan tanggapan yang positif dari kita semua terhadap dia, sekarang Nurhayati kelihatnnya mulai bangkit dan mau buka bicara.

          Sesuai keinginan Mbak Tika mau bicara langsung atau wawancara dengan beliau, saya kira bisa saja. Saya akan komunikasikan kepadanya, dan mohon membantu saya dengan memberikan informasi tentang Mbak dan tujuan wawancara itu. Sebab, dia sangat berhati-hati menanggapi semua orang, dan selalu terlebih dahulu mempertanyaakan kepada kami, siapa, dimana dan untuk apakah? Maklum, dia masih menaruh curiga.

          Jika tidak keberatan kontak hp saya 08197277765

          Mohon tanggapannya…

          April 08 2009
          CommentsLike
          • Tika Nohara

            Salam kenal bung Poltak,
            Saya membaca kisah bu Nurhayati Sirait yang saya dapat dari seorang teman. Kisahnya sangat menyentuh dan berpotensi menginspirasi banyak pihak, terutama perempuan.

            Kira-kira bu Nurhayati mau nggak ya berbagi cerita secara langsung melalui wawancara?

            Salam,
            Tika

            April 08 2009
            CommentsLike
            • Farida Simanjuntak

              Dilema…

              Itu yang kebanyakan dirasakan kaum wanita batak. Antara pengabdian kepada suami dan adat, tapi sering kali harus mengorbankan harga diri. Kadang sulit dipahami, adat yang begitu mengikat atau memang kaum wanita batak (khususnya) terlalu takut untuk menunjukkan perlawanan ? Bertahun-tahun menahan penyiksaan mental dan fisik demi satu harapan menjaga nama baik keluarga.

              Jangan sampai keluarga tahu kekerasan yang dilakukan suami. Tapi saat suami sudah tidak mampu menunjukkan tangggung jawab, sikap dan wibawa sebagai kepala rumah tangga, apakan doktrin bahwa seorang suami adalah “Raja” masih dapat dipertahankan ?

              Saat saya membaca kisah KDRT yang dialami ibu Nurhayati sirait, ada kemarahan dalam diri saya karena masih ada saja seorang suami yang bermoral bejat (maaf) seperti Hasudungan Tambunan, ditambah lagi keluarganya yang seolah-olah membenarkan tindakan tidak manusiawi tersebut.

              Mungkin terlambat juga ibu Nurhayati mengambil sikap lari dari rumah, tapi itu lebih baik dari pada bertahan terus. Kasihan anak-anak, mental mereka bisa rusak karena manusia yang seharusnya menjadi bapak yang teladan. Tapi, saya yakin suatu saat nanti ibu Nurhayati sirait dan anak-anaknya akan mendapat keadilan. Kalau boleh, laporkan saja tindakan KDRT yang dilakukan suaminya kepada pihak berwajib. Dan jangan pernah kasihan kepada suami ibu kalau dia diproses secara hukum. Kasihanilah anak ibu yang sudah mengalami trauma melihat penderitaan ibunya.

              Banyak anak-anak muda Batak yang sukses walau dibesarkan sendirian oleh ibunya saja, jadi buat apa takut tanpa suami yang tidak bertangung jawab seperti itu ? Anakhon ki do hamoraon di au, itu yang selalu menjadi semangat orang tua bangso Batak, jadi walau sendiri perjuangkan terus anak-anak ibu.. Sebenarnya ibu tidak sendiri, ada banyak orang yang pastinya mendukung ibu…

              April 06 2009
              CommentsLike
              • Pontaseddy

                Saya khawatir kejadian demi kejadian seperti yang dialami Ito Nurhayati Sirait ini akan berdampak buruk atas nilai2 adat Batak.

                Kayaknya Dalihan Na Tolu diuji dalam persitiwa ini, seperti yang selalu didengungkan dalam falsafah Batak yaitu : Boru Ni Raja…. masak boru ni Raja di par Bal (ditendang), terlepas siapa yg salah dan siapa yg benar.

                Mari kita berlomba berbuat yang terbaik, karena hidup ini hanya sementara.

                Buat Ito Nur, kalau boleh upayakan berkumpul dengan semua anak2 Ito, jangan biarkan mereka berpisah dari Ito.
                Semoga
                dari kami Penyayang Keluarga dan yg selalu menjunjung tinggi nilai2 ADAT BATAK.

                April 06 2009
                CommentsLike
                • Sri Agung

                  begitulah rumah tangga, dan terutama begitulah rumah tangga orang batak.Keselamatan rumah tangga adalah sesuatu yang HARUS dijunjung tinggi.

                  Ibu Nurhayati, kalau boleh saya menyarankan, ada baiknya ibu mencoba untuk berkonsultasi ke konselor pernikahan. Meski tidak menjamin suami ibu seperti yang ibu harapkan suami layaknya
                  dalam mimpi indah Ibu ketika belia dulu, namun Ibu akan memiliki suatu semangat, Ibu akan memiliki daya untuk menjalani hidup.
                  Hal yang paling sulit adalah mendoakan orang yang melukai kita, tapi cobalah itu dari hati.

                  Ibu Nurhayati, pagi tadi di angkot pun saya mendengar seorang ibu (saya yakin dia Batak, sebab menyebut orangtua dan adiknya kepada anaknya OPUNG dan TULANG Tigor), dia pergi dari rumah karena anaknya bilang “mama, kita pergi karena papa marah2. terus ya?”.
                  Hati saya selalu miris membayangkan nasib psikologis anak2. korban KDRT. Itu PR berat para orang tua.

                  Doa saya untuk Ibu, semoga diberikan ketabahan.

                  -sri agung-

                  April 05 2009
                  CommentsLike
                  • Winmark2002

                    KDRT yang sangat tragis, apa suaminya mengidap gangguan jiwa (bukan penyakit jiwa) semacam psikopat. Dari uraian si ito kelihatannya mirip dengan kasus yang pernah saya tangani di Bandung dulu, istri puluhan tahun disiksa suami yang mengidap psikopat.

                    Istri, anak-anak dan suami harus didoakan dan dilakukan konseling, sebelum akhirnya mau dibawa ke kasus KDRT. Tuhan menguatkan ito Nurhayati dan anak-anak. Airmataku menetes membaca kisah ito, banyak miripnya dengan kisah satu keluarga yang kubantu dulu waktu masih kuliah Psikologi di Bandung.

                    Dulu ketiga pihak harus dimenangkan, istri, anak, dan suami. Yang paling berat malah anak-anak yang trauma dan suami. Rekan-rekan Psikolog yang muda-muda bantulah itoku ini. Saran saya jangan buru-buru ke pengadilan/polisi tetapi dekati secara spiritual dan psikologis dulu. Alternatif terakhirlah pendekatan hukum. Salom!

                    April 05 2009
                    CommentsLike
                    • Kamerad Manurung

                      Kak Venny, sepertinya dugaan tindak pidana KDRT (UU 23/2004) sudah terpenuhi. Menurut saya Ibu ini harus diadvokasi dan didampingi. Gimana Kak?

                      April 05 2009
                      CommentsLike