Saturday 11 February 2012 - 03:17 pm

GM-PSSSI&BBI Mediasi Keluarga Korban KDRT dengan Keluarga Pelaku

By Poltak Simanjuntak (H 15) - Sun Apr 12, 5:39 pm

JuntakNews (Medan),

Nurhayati br. Sirait (42) korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh suaminya Hasudungan Tambunan (46), setelah mendapat pendampingan dari Pengurus GM-PSSSI&BBI terlihat mulai berani untuk angkat bicara. Setelah mengungkapkan kesaksiannya yang dituangkan dalam Testimony “Penderitaanku Selama 4 Tahun di Bawah Kekerasan Suami”, Nurhayati yang terpaksa melarikan diri dengan 2 (dua) orang anaknya dari Jakarta ke rumah orang tuanya di Sidikalang Kabupaten Dairi, meminta kesediaan GM-PSSSI&BBI mencari solusi terhadap kasus yang dihadapinya.


Suaminya Hasudungan Tambunan si pelaku KDRT, sepertinya belum mau kehilangan istrinya sehingga memaksakan diri datang ke rumah orang tua Nurhayati–Ibu Mertuanya di Sidikalang. Tidak terima dengan tindakan brutal yang dilakukan menantunya terhadap anak perempuanya yang telah puluhan tahun berumah tangga itu, sang mertua pun menolak permintaan maaf Hasudungan.

Aku sudah bosan menerima permintaan maafmu. Kau tidak pernah berubah. Mama Bella (Nurhayati) pun sudah tidak mau bertemu denganmu. Kami sudah serahkan persoalan ini ke Marga Sirait dan GM-PSSSI&BBI, bicaralah dengan mereka”, kata R. br. Simanjuntak ibu kandung Nurhayati, sambil menepiskan tangan menantunya.

Tidak terima penolakan mertuanya, Hasudungan terus saja bertahan di rumah mertuanya meminta agar dipertemukan dengan istrinya Nurhayati yang bersembunyi begitu mengetahui suaminya yang gemar memukul itu datang. Bahkan, dia memaksa agar anaknya yang dibawa pergi oleh Nurhayati untuk diserahkan kepadanya.

Tidak mau berdebat lama dengan menantunya yang sudah kehilangan rasa malu ini, akhirnya salah seorang anak yang kebetulan berada di rumah neneknya itu diserahkan. “Bawa aja anakmu ini. Bagaimanapun ini memang marga Tambunan”, kata mertuanya dengan perasaan disayat.

Hasudungan yang didampingi oleh saudaranya bermarga Tambunan yang kebetulan tinggal di Sidikalang dan seorang sahabatnya dari Medan bermarga Sihotang, akhirnya harus pulang tanpa bertemu dengan istrinya yang masih trauma dan pergi bersembunyi. Entah dengan pertimbangan apa, Hasudungan membawa serta seorang anaknya dari rumah neneknya ke rumah saudaranya di Medan.

GM-PSSSI&BBI Mediasi Pertemuan Tambunan dengan Sirait

gm-psssibbiKedatangan Hasudungan ke Sidikalang serta merta membuat berang keluarga Sirait. Secara intensif mereka melaporkan perkembangan kasus ini kepada Pengurus GM-PSSSI&BBI, dan meminta agar dimediasi bertemu dengan pihak keluarga Tambunan.

Mereka minta bertemu dengan kami. Kalau bisa mohon kesediaan GM-PSSSI&BBI mendampingi kami”, kata Poltak Sirait abang kandung Nurhayati.

Pertemuan dilaksanakan di Rumah keluarga pihak Sirait di Kompleks Perumahan Brimob di Jl. Sei Padang Dalam, Kamis (9/4). Hadir dalam pertemuan ini dari pihak Sirait, selain Nurhayati br. Sirait juga  Keluarga Pinem (istri boru Sirait Kakak Kandung Nurhayati), Poltak Sirait, AKBP br. Sirait. Dari pihak Tambunan, Hasudungan Tambunan (Suami Korban), Abang kandung Hasudungan dan istri, Adek Kandung Hasudungan dan Ipar Hasudungan bermarga Hutagalung. Sementara, dari Pengurus GM-PSSSI&BBI hadir Herlen Simanjuntak, Rudyard Simanjuntak dan Poltak Simanjuntak.

Pertemuan diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Rudyard Simanjuntak. Selanjutnya Poltak Sirait sebagai tuan rumah pertemuan memperkenalkan orang-orang yang hadir dari pihak Sirait dan GM-PSSSI&BBI, dan meminta pihak Tambunan juga memperkenalkan diri. Sedangkan Nurhayati yang masih mengalami trauma tidak mau duduk bersama, menghindari suaminya.

Secara ringkas, Poltak Sirait menjelaskan tujuan pertemuan, yaitu merespon permintaan keluarga Tambunan untuk mencari jalan keluar permasalahan yang dihadapi keluarga Sirait dan Tambunan yang sudah diikat hubungan kekeluargaan perkawinan antar kedua marga.

Pembicaraan malam ini kami harapkan dapat mendudukkan persoalan yang sebenarnya dan jika memungkinkan mencari jalan keluar. Jalan keluar bisa saja menghasilkan kebaikan bagi kedua belah pihak, tetapi sangat mungkin menghasilkan kebaikan bagi sepihak. Itu sangat tergantung dari cara kita menanggapi persoalan ini”, jelas Poltak Sirait.

Kesempatan berikutnya diserahkan kepada GM-PSSSI&BBI untuk memimpin pertemuan. Mengawali tugas mediasi, Poltak Simanjuntak menjelaskan bahwa tindakan Hasudungan Tambunan kepada istri dan anak-anaknya secara nyata telah melanggar azas budaya (kekeluargaan), azas agama dan azas hukum., sekaligus. Ketiga kesalahan ini, tentu hanya menghasilkan penderitaan di pihak istri dan anak-anak.

Berkaitan dengan budaya, Hasudungan sebagai suami dan ayah dari 4 (empat) orang anak, telah membuat keretakan hubungan kekeluargaan antara Tambunan dengan Sirait. Pelanggaran terhadap etika yang memperlakukan istrinya tidak lebih dari perempuan yang bukan “boru ni raja”. Bahkan, sangat dihinakan dan dinistakan. Sedangkan berkaitan dengan azas agama, bahwa tidak ada alasan untuk mengingkari janji pernikahan, yaitu wajib menyayangi istri dan anak-anak. Dan, azas hukum, tindakan ini nyata-nyata merupakan perbuatan pidana yang dapat dijerat dengan UU Perlindungan Anak dan UU KDRT.

Dalam kasus ini, kami berpihak pada Nurhayati dan anak-anaknya. Jika tidak bisa dihindari lagi, GM-PSSSI&BBI bersedia mendampingi keluarga Sirait untuk membawa persoalan ini ke ranah hukum. Dan, persiapan ke arah sana sudah kami lakukan. Pengakuan Nurhayati sebagai korban kekerasan sudah kami susun dan lembaga-lembaga seperti Komnas Perlindungan Anak dan Lembaga Perlindungan Hak-hak Perempuan sudah kami hubungi”, jelas Rudyard Simanjuntak.

pelaku1Herlen Simanjuntak, menambahkan bahwa dalam kasus seperti ini, tidak ada sedikitpun benarnya  Hasudungan sebagai suami. Bahkan, hal ini menunjukkan adanya kemungkinan gangguan kejiwaan pelakunya. Dan, laki-laki jika melakukan kekerasan kepada perempuan apalagi istrinya itu sudah tak sehat.

Kau memang laki-laki rusak. Kau berani sama perempuan saja. Kalau kau berani coba lakukan ini kepada saya”, bentak Herlen sambil memelototi Tambunan yang duduk tertunduk persis didepannya.

pembacaan-testimony

Sebelum membicarakan langkah-langkah ke arah jalan keluar, disepakati agar Testimony yang sudah disusun GM-PSSSI&BBI berdasrakan penuturan Nurhayati dibacakan. Tujuannya, agar pihak Tambunan juga memahami betapa tindakan Hasudungan sudah di luar batas peri kemanusiaan.

Poltak Simanjuntak, membacakan Testimony yang terdiri dari 7 (tujuh) halaman kuarto dan sudah dibubuhi tandatangan bermeterai oleh Nurhayati. Pembacaan Testimony ini diikuti semua yang hadir dengan serius . Suasana yang tercipta adalah keprihatinan, marah dan keheranan, seolah apa yang mereka dengar merupakan hal yang jauh di luar norma kemanusiaan normal.

Keluarga Tambunan Terkejut dan Menyesali Tindakan Hasudungan

keluarga-pelakuKetika pihak Tambunan ditanyakan tanggapannya terhadap isi Testimony Nurhayati, tak pelak menimbulkan kemarahan, malu dan penyesalan yang mendalam. Dengan nada tinggi, Tambunan abang kandung Hasudungan mengatakan “Kenapa kau lakukan tindakan seperti ini? Kami tidak menduga bahwa permasalahan ini terjadi akibat tindakanmu yang di luar perikemanusian. Kau hanya membuat malu keluarga”, sambil menyeka matanya yang mulai berkaca-kaca.

Hutagalung, ipar kandung Hasudungan yang sedari tadi tertunduk mendengar Testimony melampiaskan kemarahannya. “Tidak ada alasan untuk membela Lae kalau begini yang Lae lakukan ke Inang Bao boru Sirait. Kemarin aku dari Jakarta, kedua anak kalian yang ditinggalkan di jakarta itu pun sedang sakit. Dan mereka sangat ketakutan untuk membelanjakan uang, walau itu hanya untuk membeli makanannya. Dan, aku prihatin ketika kami bertemu dia sakit demam dan tertimpa sepeda motor pula. Yang penting kalian selamatkan dulu anak-anak”, katanya.

Hampir senada, Kakak Kandung Hasudungan, dengan suara menahan tangis, mengungkapkan kekecewaannya terhadap tingkah laku dan perbuatan saudaranya laki-laki ini kepada istri dan anak-anaknya. “Aku mengenal baik edaku. Kau memang manusia yang tidak punya kelembutan. Tidak bisa kontrol emosi, selalu marah-marah. Dari dulu aku tidak suka dengan tingkahlakumu”, tambahnya.

Hasudungan yang tertunduk dan sesekali menoleh jika kepadanya diarahkan kemarahan, menanggapinya dengan memberikan bantahan, bahwa dirinya tidak ada melempar Nurhayati dengan tabung gas dan laci meja. “Aku tidak ada melemparnya dengan tabung gas dan laci meja. Tangannya saja yang kena”, tangkisnya yang disambut bentakan marah oleh Poltak Simanjuntak.

Kalau kau tidak mengakui perbuatanmu seperti yang tertulis dalam Testimony ini, maka kau sebaiknya menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa, sebelum kau dipenjarakan”, bentak Poltak Simanjuntak. “Kau akui pun, belum tentu istrimu dapat menerimamu kembali. Dan, kami akan melaporkanmu ke polisi atas tindakan KDRT”, tambah Poltak.

Disepakati Penyelamatan Anak-anak Diprioritaskan

Mengetahui tanggapan Hasudungan yang tidak menunjukkan penyesalannya, maka diusulkan agar pertemuan ini dihentikan dengan catatan jika masih berkeinginan untuk melangkah ke perdamaian, maka Hasudungan harus bersedia untuk mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menjemput anak yang di Jakarta dan membawanya ke Medan untuk diserahkan di bawah pengasuhan ibunya.
  2. Mengurus proses perpindahan sekolah anak-anak dari Jakarta ke Medan.
  3. Menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa dan hasilnya diserahkan ke pihak Sirait dan GM-PSSSI&BBI.
  4. Jika dinyatakan tidak sehat, maka harus terlebih dahulu menjalani terapi kejiwaaan.
  5. Jika dinyatakan sehat, dilanjutkan dengan langkah berikut, seperti :
  6. Mengurus Perpindahan Keluarga dari Jakarta ke Medan, sehingga lebih mudah dipantau.
  7. Menjual seluruh asset keluarga yang dimiliki di Jakarta.
  8. Membayar seluruh hutang-piutang ke pihak ketiga.
  9. Pindah domisili ke Medan
  10. Menandatangani Surat Pengakuan dan Perjanjian tidak mengulangi perbuatan KDRT.
  11. Hidup bersama sebagai keluarga yang utuh.

Keseluruhan langkah-langkah ini disepakati oleh kedua belah pihak dan diminta agar masing-masing pihak memberikan dukungan aktif sehingga dalam pelaksanaannya dapat tepat waktu yang diperkirakan membutuhkan waktu selama 3 (tiga) bulan.

  • eti

    aku salut sama pak Rudyard Simanjuntak dan pak Poltak Simanjuntak,mau serius menanggapi masalah ibu Nurhayati.Tuhan selalu menberkati kalian ya pak…………….dan kpada pak Hasudungan,wanita adalah penolongmu bukan mainanmu.laki laki diciptakan Tuhan dari debu tanah,perempuan di ciptakan dari tulang rusuk laki-laki,untuk disamakan,dilindungi,bukan di buat seperti binatang!!!!!Bertobatlah..Tuhan Yesus sudah mau datang…………

    April 27 2009
    CommentsLike
    • ~ds

      hmmm…
      ternyata sampai Pertemuan Mediasi pun, si Pelaku cerita KDRT ini masih ‘keukeuh’ dengan gayanya!

      masih demen ye mukul-in istri sendiri?
      enak??
      puas??
      ato malah sudah gatel mau melakukan lagi?
      tuman tuh!!
      kebiasaan!!
      (ngeri kaleeee pak cek ceritanya)

      Langkah yg diambil oleh Pihak Mediasi sudah baik tetapi saya LEBIH sangat setuju untuk POINT 3 dan 4 dilakukan kepada si Pelaku (si TAMBUNAN) tersebut sesegera mungkin atau harus ada bantuan Pihak Keluarga dari TAMBUNAN itu sendiri.
      (otot tak sadarnya lebih nonjol kali ye?)

      Dari awal cerita ini, saya selalu mencoba kontak Bapak Poltak SIMANJUNTAK agar menyampaikan dukungan saya kepada Ibu Nurhayati.
      Saya tau, ‘Ibu berani dan kuat’ so terusss berjuang!’

      Dan kesempatan ini pula, aku juga harus menuliskannya,
      NO KDRT!
      STOP KDRT!

      peace & love
      ~ds

      April 25 2009
      CommentsLike

      • Maksudnya Poltak Simanjuntak mungkin ya, bukan Poltak Sirait

        GM-PSSSI&BBI adalah Generasi Muda Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina & Boru, Bere Ibebere. GM-PSSSI&BBI berdiri tgl 8 Maret 2008 di kota Pematangsiantar dan diketuai oleh: Fernando Simanjuntak, Sekjen Ir. Poltak Simanjuntak.

        dalam anggaran dasar GM-PSSSI&BBI disebutkan:

        Dilatarbelakangi kesadaran bersama Generasi Muda Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru, Bere dan Ibebere, akan pentingnya upaya mempertahankan nilai kekerabatan yang bermartabat, santun, berbudaya dan sejahtera, dimunculkan gagasan pembentukan GM-PSSSI/BBI se-Dunia, sebuah organisasi sosial yang dapat menghimpun dan menggerakkan keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru Bere dan Ibebere, di seluruh dunia untuk saling membantu, mendukung dan mengasihi satu sama lain.

        Kesadaran tersebut, muncul dari hasil pemikiran tokoh-tokoh generasi muda Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru Bere, Ibebere yang berdomisili di Kota Pematang Siantar, yang mendapat dukungan dari tokoh dan sesepuh Simanjuntak Sitolu Sada Ina dohot Boruna di berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri.

        GM-PSSSI/BBI se-Dunia, sebagai organisasi sosial budaya, khususnya bagi warga Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru dan Bere, mengakui dan menjadikan pesan Sobosihon br. Sihotang, yaitu : “Si Sada Lulu, Si Sada Lungun, Si Sada Las Niroha”, dalam mencapai tujuan setiap insan Batak yaitu Hamoraon, Hagabeon dan Hasangapon.

        April 14 2009
        CommentsLike
        • Eliakim Sitorus

          Ini harus menjadi bagian “job description” para pendeta Amang. Pastoral konseling HARUS diprogramkan oleh gereja-gereja kita. Ini era Diakonia Konprehensif. Pendeta HARUS mengajari dirinya bisa melakukan advokasi kasus-kasus KDRT. Jangan cuma berkoar-koar berkotbah dari altar…

          April 14 2009
          CommentsLike
          • Eliakim Sitorus

            GM PSSSI & BBI => Generasi Muda – Parsadaan Simanjuntak Sitoli Sada Ina & Boru, Bere Indonesia. Moga-moga benar kepanjangan ini. Bung Poltak, silahkan dikoreksi, jika saya salah.

            April 14 2009
            CommentsLike
            • Hartono Sagala

              Apa singkatan dari GM-PSSSI&BBI?

              Walaupun ini adalah masalah yg sangat memprihatinkan dan terkadang tidak menyangka knp bisa ada masalah yg seperti ini, tidak bisa terbayangkan bagaimana jadinya kalau tidak ada orang yg care mau menanangani masalah seperti ini, seperti halnya Amang Poltak Sirait ini.

              Salam Prihatin,
              HS

              Dicopy dari milis Doakanhkbp

              April 14 2009
              CommentsLike
              • Eliakim Sitorus

                Bung Poltak,
                Saya senang dan bangga mengiktui setiap emailmu terkait dengan berbagai usaha mulia organisasimu GM PSSSI@BBI. Mulai dari advokasi pdt yang mengalami kasus hukum, bantuan bagi korban yang menderita (orang meninggal dunia di Australia, ditolong mayatnya dibawa ke Siantar, dan lain lain). Ini real, bukan cuma menolong teman semarga yang kampanye caleg bulan lalui… hehehe…sebagaiman a banyak dilakukan parsadaan marga2 Batak.

                Jika saya semua atau separo perkumpulan (parsadaa) marga Batak melakukan aksi serupa ini, maka saya kira Orang Batam (baca: Toba), siap atau akan lebih siap memasuki zaman baru – globalisasi yang rumit ini. Orang Batak Jilid 3 saja yang bisa sukses memasuki gerbang era baru yang sangat rumit ini.
                Selamat untuk Generasi Muda Simanjuntak.
                Horas, eliakim sitorus

                April 14 2009
                CommentsLike
                • leonardo t.simanjuntak

                  Tak selamanya kebersamaan itu indah…tapi kebersamaan itu paling indah jika dikawal dengan perilaku mental saling menghargai, saling menghormati, saling memaafkan. Rumah tangga itu ibarat sebuah pulau di tengah laut penuh gelombang. Pada tahun-tahun pertama betapa damai dan mesra suami isteri itu menikmati kebersamaan. Setelah dikaruniai anak, ikatan bathin itu seyogianya semakin kuat.Bagi orang Batak, perkawinan itu sangat sakral. Ingatlah semua jamita pendeta saat pemberkatan, ingat pepatah petitih orangtua saat resepsi adat pernikahan.Tidak ada istilah berpisah bagi yang sudah dipersatukan dalam nama Tuhan. Tapi kadang hempasan gelombang itu terlalu kuat meremukredamkan semua ikrar setia sampai mati yang pernah terucap.Pada saat gelombang besar itu datang, bisikan iblis pun nimbrung memanaskan situasi. Jika kepala panas, dan hati pun panas, ujung-ujungnya kebakaran yang terjadi. Tak jarang RT mengalami kehancuran karena hilangnya rasa saling memiliki antara suami isteri. Pemerintah mencermati hal itu suatu kenyataan, sampai perlu menerapkan hukum untuk KDRT. Maka saya sarankan jika memang benang merah perkawinan itu tak bisa tersambung lagi dengan benar, ya daripada makin parah, satu pihak jadi bulan-bulanan api kebakaran, terapkan saja hukum KDRT itu secara konsisten. Kita tak setuju adanya perceraian, tapi kita lebih tak setuju jika ada kaum pria (suami) yang menganggap sang isteri sebagai bulan-bulanan kekejian tak berperikemanusiaan.Suami atau bahkan isteri, yang melampaui batas koridor kebersamaan sehingga mengorbankan satu pihak secara fisik dan mental, apa boleh buat harus disingkirkan, karena banyak contoh membuktikan bahwa sebuah rumah masih bisa tetap berdiri jika hanya satu tiangnya saja yang copot.Demikian komen saya. (
                  (Leonardo Simanjuntak MDP)

                  April 13 2009
                  CommentsLike
                  • Agnes Br Pane

                    Syalom..

                    Saya pernah mendapat SMS ini dari seorang sahabat saya ketika saya “curhat” tentang masalah yg saya hadapi…Bunyinya :
                    “Hidup adalah soal KEBERANIAN, menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti, Tanpa kita bisa MENAWAR, terimalah dan hadapilah…
                    ~Soe Hoek Gie…Berdamai dengan kenyataan itu indah”

                    (Saya tidak membaca buku tentang Soe Hoek Gie pun filmnya yang terkenal itu tidak saya tonton, tapi yg saya dengar2 saja meminjam istilah “katanya”, Soe Hoek Gie mahasiswa yang berjuang secara idealis untuk meroformis Kepemimpinan Presiden Soekarno saat itu, hingga kita akhirnya merasakan terminologi “zaman Orde Baru” sebagai cikal bakal Sepak terjang Beliau bersama2 rekan2nya (termasuk Prof Sumitro,Arif Budiman) Singkat nya Gie tidak tahan melihat teman2 seperjuangannya yang akhirnya menyerah dengan keadaan dan berkompromi untuk jadi bagian dari warga negara yang “tends to corrupt”…akhirnya mjd pribadi yg sama seperti yg mereka reformasi…dengan cara yg berbeda tentunya…
                    Sebagai pelariannya, Gie bermenung di Gunung Semeru -dan disitu pula ia meregang nyawa- dan hingga saaat ini mayatnya tidak di ketemukan… (ini bacaan wajib mahasiswa lho,katanya…)

                    Lalu apa hubungan Kasus KDRT ini dengan Soe Hoek Gie.. tentu saja ada, Bagi Kakakku ini, Memberanikan diri untuk “mereformis” suaminya yang Super Duper Auban (red = kepala batu -mandarin)adalah sebuah perjuangan yg luar biasa besar, setelah ia mencoba berdamai dengan kenyataan, mencoba menerima perlakuan kasar suami, tanpa bisa menawar..(Boru ni Raja gitu lho!!!) Dan tak perlu pula dia baca buku Soe Hoek Gie, dia akhirnya gak mau toh meregang nyawa disisi suaminya, ditengok pula dengan anak2nya yang juga ikut trautama (hingga saat ini berada dalam keadaan yg tidak sehat,betul kan pak penulis?) Akhirnya dia harus berdamai dengan dirinya dan memilih tidak bersama…

                    Siapa sih yg tidak mau keluarga yg utuh? siapa pula yang mau bercerai, ibaratnya, gak enak lho nyanyi sendirian tanpa ada Suami/Istri yang minimal menyemangati “suara mu merdu hasian” (walaupun tak spektakuler celine dion atau se sexy Rod Stewart). Memilih untuk menyanyi sendiri, juga pilihan yang luar biasa baik kak, saya lebih setuju untuk pilihan itu…sebagaimanapun engkau telah berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya malahan pukulan, caci maki,dsb… mendarat dan menghujam di tubuh mu yang hingga kini pun tak diakui pula oleh suamimu itu yaa.

                    Memang diantara kita yang bersimpati dan berempati tiada berhak memisahkan ikatan pernikahaan mereka, 11 pointers kesepakatan yang terungkap setelah jalan mediasi diantara kedua belah pihak (tentunya tanpa bermaksud tidak menyebut Simanjuntakers sebagai mediator) adalah baik adanya demi menjamin keselamatan Kakak Mama Bella dan ke empat anaknya.. Ada yg ingin saya tambahkan, Bahwasanya mengingat Ini merupakan tabiat dari Sang Suami (dan ini didukung pula dengan pernyataan Saudari Kadung Sdr Hasudungan Tambunan), tidak menutup kemungkinan akan terulang lagi dan tidak menjamin keadaan psikologis Korban KDRT secara nyata.. Bisa jadi, secara psikologis dan test kesehatan jiwa Suaminya “baik-baik” saja, normal dan tidak ada perilaku menyimpang…(apalagi, hari gini? surat dokter aja bisa dibeli Bung!)

                    Kita tanyakan, kepada Korban, apakah Dia masih bisa menerima suaminya? Kita berikan satu opsi lagi,yaitu “Keputusan sepenuhnya untuk bisa menerima suaminya dan hidup bersama kembali sebagai keluarga utuh, kelak, diserahkan sepenuhnya kepada Nurhayati”

                    Kenapa opsi ini saya tawarkan,,,saya merasa mengalami kedekatan yg luar biasa setelah testimoni beliau saya baca, dan saya sangat menyayangkan bila kita membiarkan dia “maaf” mati secara rasa,jika “tokka” menyebutnya mati secara raga, untuk mau dengan rela tanpa bisa menawar, tanpa boleh memilih, dan berusaha menerima kenyataan dikasari suami?

                    Mencoba berdamai dengan kenyataan adalah dengan Sepakat untuk tidak Sepakat lagi dalam mengarungi hidup berumah tangga. Memilih untuk diperkenankan bersatu dengan keempat anaknya,dan hidup berbahagia bersama mereka (jika tanpa ayah, kenapa gak? toh gak ada mantan ayah atau mantan anak, walaupun ada mantan istri yaa… tapi kan gak mesti bareng, kalo gitu caranya).

                    Dan akhirnya yang harus menerima kenyataan, bukan Kakakku, tapi suaminya, terimalah kenyataan bahwa engkau tak punya hak dan tak bisa lagi engkau melampiaskan hobi marahmu pada istrimu yg kami kasihi ini, menyalurlan bakat seni lukismu dengan menggambar di wajah istrimu, atau hobby menyepak bola di lapangan yang salah, yakni tubuh istrimu, dan “bola” nya salah bung!!!

                    Cukup sudah, lanjutkan hidupmu, biaya anak istrimu, mereka tetap menjadi tanggung jawabmu dan karena “Hidup adalah soal KEBERANIAN, menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti, Tanpa kita bisa MENAWAR, terimalah dan hadapilah…
                    ~Soe Hoek Gie…Berdamai dengan kenyataan itu indah”

                    fyuhhhh…

                    Horas (gak kutambahin “jala gabe” yaa) mauliate..

                    agnes br pane

                    April 12 2009
                    CommentsLike