Alm Drs Parlagutan Simanjuntak, Sang Intelektual Yang Visioner (Pjs Bupati Taput 1966-1967)

10
700

Di kantor Gubernur Sumatera Utara, sosok Parlagutan Simanjuntak (alm) dikategorikan sebagai sosok intelektual yang visioner. Masih muda belia, visinya sudah mengglobal. Almarhum bahkan sudah pernah memprediksi semasa hidupnya, satu saat pemerintahan di Indonesia akan menganut sistem otonomi daerah dengan porsi kemandirian yang lebih besar.

Parlagutan Simanjuntak (Hutabulu 14), ditunjuk oleh Mendagri menjadi Pejabat Sementara Bupati KDH Tk II Tapanuli Utara terhitung 9 Nopember 1966, sesuai Keputusan No.UP.14/9/9, menggantikan Elam Sibuea yang mengundurkan diri karena sakit. Tapi tugas pengabdiannya membenahi Tapanuli Utara yang begitu luas saat itu, tak berlangsung lama setelah Parlagutan meninggal dunia secara mengejutkan pada 27 Nopember 1967, hanya setahun lebih setelah memangku jabatannya. Masyarakat Tapanuli Utara ketika itu gempar setelah tersiar berita bahwa Bupati Drs Parlagutan Simanjuntak meninggal dunia di pagi hari. Penulis artikel ini (Leonardo Simanjuntak MDP) saat itu masih kecil tapi masih ingat ketika masyarakat Tarutung terlihat panik berlarian ke arah rumah dinas bupati di kawasan tangsi kota itu.

Pria kelahiran Sidikalang 27 April 1933 ini, satu angkatan dengan sejumlah senioren birokrat di kantor Gubsu, di antaranya Drs Salmon Sagala, Drs Syurkani (mantan Walikota Medan), Syarifuddin Harahap SH, dan Lukas Hutabarat. Mereka adalah jebolan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta .

anak-parlagutan

Untuk menginvestigasi biografi almarhum Parlagutan Simanjuntak, penulis selama dua hari menelusuri keberadaan putra-putri almarhum di kota Medan setelah sebelumnya mencari info di Tarutung dan Balige. Jerih payah itu akhirnya tak terasa setelah berhasil menemukan Rudy Aryanto Simanjuntak S.Sos, putra bungsu almarhum di kompleks ex APDN Medan.

Masih terasa nada getar memelas saat Rudy mengungkap sekilas perihal ayahandanya tercinta, yang sesungguhnya tidak sempat dikenalnya secara dekat karena ketika ayahnya meninggal, justru Rudy masih dalam kandungan ibunya Sondang br Lumbantobing (alm). Saya masih dalam kandungan ibu ketika bapak meninggal , katanya sambil menatap foto lukisan ayahnya yang tergantung di dinding ruang tamu. Rudy Aryanto Simanjuntak saat ini bertugas di Kantor Sekwan DPRD Sumut.

Meski tak sempat mengenal langsung ayahnya, Rudy banyak mengetahui tentang ayahnya dari cerita ibunya. Ibu selalu cerita tentang kecerdasan bapak dan semangat belajarnya yang tinggi. Kami diharapkan bisa mengikuti jejak bapak , tutur pria berpenampilan apa adanya yang menikahi Reny Susanti boru Siregar SE. Dia juga mendengar cerita bahwa bapaknya almarhum adalah salah satu putra Batak yang pertama sekali mengenyam pendidikan formal di Amerika. Beliau dipercayakan Menteri Pertama RI pada tahun 1961 tugas belajar di Wayne State University Detroit , Michigan , USA . Mata kuliah yang diperdalam ketika itu adalah Public and Local Government Administration. Suatu kepercayaan luar biasa dimana pada waktu itu banyak birokrat yang menginginkan kesempatan serupa, tapi kurang beruntung terpilih.

Di TAMAN BAHAGIA

Parlagutan Simanjuntak memang berasal dari keluarga intelektual. Almarhum adalah anak sulung dari tiga bersaudara buah perkawinan ayahnya guru Renatus Simanjuntak/ibu boru Panggabean yang berasal dari Pansurnapitu/ Sakkaran Tarutung. Dua saudaranya adalah Dr Todotua Simanjuntak dan Ir Horas Simanjuntak (keduanya juga sudah almarhum).

Parlagutan tamat SMA-B di Medan tahun 1952, kemudian mengikuti KDC di Medan pada 1953, selanjutnya masuk Fakultas Sosial dan Politik di Universitas Gajah Mada (1954-1959). Setelah menyelesaikan tugas belajar pada KDC, Parlagutan memulai karir kepamongan di Kantor Gubernur Sumut tahun 1953, dan dari sana menjadi mantra di Kantor Bupati Deli Serdang. Pada tahun 1954 sampai 1957, mengikuti tugas belajar jurusan pemerintahan pada Fakultas Sospol UGM Yogyakarta , dan barulah pada 1956 menerima pengangkatan menjadi PNS dalam kedinasan tetap. Berikutnya sebagai pegawai Praja Tk I (DD2/III) diperbantukan pada Kantor Penyelenggaraan Pendidikan Mahasiswa Kementerian Dalam Negeri dari 1957 sampai 1959. Sejak 1 September 1959 sebagai ahli praja pada Kantor Gubernur Sumut di Medan, disusul menjadi Ahli Praja Kantor Residen Sumatera Timur sampai tahun 1960.

Pada September 1961, Parlagutan dipercayakan mengikuti tugas belajar di Wayne State University Detroit, Michigan, Amerika setelah melalui tes seleksi yang cukup ketat. Sepulang dari Amerika, Parlagutan diangkat menjadi pejabat sementara Direktur Kursus Dinas bagian “C (KDC) di Medan pada tahun 1963.

Karir kepamongannya terus berkibar ketika Gubernur Sumut (waktu itu dijabat PR Telaumbanua) mengangkat Parlagutan sebagai Pejabat Bupati KDH Dairi dari tanggal 5 Nopember 1965 sampai 31 Maret 1966. Tugasnya membenahi pemerintahan di Kabupaten Dairi yang notabene baru manjae (dimekarkan dari Taput tahun 1964) sangat berhasil. Boleh dikata Parlagutan lah ahli pemerintahan yang telah meletakkan dasar-dasar pengembangan daerah itu sebagai daerah yang sudah mandiri.Dari Dairi, terhitung 1 April 1966 Parlagutan ditugaskan menjadi Ahli Praja Tk I pada Kantor Bupati Tapanuli Utara di Tarutung sampai tanggal 31 Agustus 1966. Dan terhitung 9 Nopember 1966, Parlagutan ditunjuk oleh Mendagri menjadi Pejabat Bupati KDH Tapanuli Utara. Pengangkatannya menjadi pejabat bupati menurut berbagai sumber sesungguhnya merupakan green light dari pusat, bahwa Parlagutan sudah dapat restu dari Depdagri untuk diajukan menjadi calon bupati definitif. Tetapi jalannya roda sejarah terkadang bisa melenceng. Manusia hanya bisa merencanakan, Tuhan jua yang menentukan.

Pada tanggal 27 Nopember 1967, Parlagutan Simanjuntak meninggal dunia secara mendadak dalam usia yang sangat muda (34 tahun), meninggalkan isteri Sondang boru Lumbantobing (saat itu bekerja pada Biro Pemerintahan Umum Kantor Gubsu), serta tiga orang anak yang masih kecil, yakni Hotma Yunita Simanjuntak,Carolina Sanggul Simanjuntak (putri) dan Ivan Doli Simanjuntak (putra). Sedangkan si bungsu Rudy Aryanto Simanjuntak waktu musibah itu masih berada dalam kandungan sang ibu.

Meninggalnya Parlagutan Simanjuntak menimbulkan keprihatinan mendalam bagi segenap keluarga, pemerintah dan masyarakat. Banyak warga Tarutung sekitarnya ketika itu menangis setelah mengetahui sang bupati yang brilian ini meninggal dunia dalam usia begitu muda, dan di saat daerah Tapanuli Utara masih membutuhkan buah pikirannya untuk membangun Tano Batak yang permai. Jenazah almarhum mendapat kehormatan dimakamkan di Taman Bahagia jalan Sisingamangaraja Medan, tak jauh dari Taman Makam Pahlawan. Beliau dikategorikan wafat saat menjalankan tugas, selain mengingat jasa-jasanya selaku ex anggota Tentera Pelajar.

“Bapak sudah pergi, tapi beliau meninggalkan jejak dan nama harum bagi kami anak-anaknya, karena semua anak-anaknya tidak sampai terlantar, bisa menyambung hidup secara wajar , kata si bungsu Rudy Aryanto.

Ke empat putra-putri almarhum meneruskan jejak sang ayah meraih gelar sarjana berbeda jurusan di bawah pengasuhan sang ibu Sondang boru Lumbantobing (berasal dari Desa Saitnihuta Tarutung), sebelum sang ibu tercinta juga meninggal dunia tahun 2002 akibat digerogoti penyakit gula kronis. Anak paling sulung Hotma Yunita Simanjuntak SE menikah dengan Yulius Bonar Siagian yang bekerja di PTPN IV, anak kedua (juga putri) Carolina Sanggul Simanjuntak SH menikah dengan Benny Hutagalung staf pada Dinas Kehutanan Sumut, anak ketiga (putra) Ivan Doli Simanjuntak yang bekerja pada Bapedalda Sumut menikah dengan Devi Naiborhu SH, dan Rudy Aryanto si bungsu beristerikan Reny Susanty br Siregar SE. Almarhum Parlagutan sudah memiliki beberapa orang cucu.

Masih mengenang penuturan ibunya semasa hidup, Rudy Aryanto menyebut bahwa ayahnya dipersiapkan menjadi Bupati Tapanuli Utara atas saran dari Jenderal Maraden Panggabean (alm) dan didukung sepenuhnya oleh Gubernur Sumut. Karena pada masa itu merupakan peralihan dari masa orde lama ke orde baru, dipandang perlu menempatkan seorang figur berlatar keahlian pemerintahan untuk memulihkan situasi kondisi pemerintahan di Taput. Bapak punya konsep yang sangat bagus untuk membangun kampong halamannya sesuai ilmu yang diperdalamnya di luar negeri , tutur Rudy Aryanto.

Drs Parlagutan Simanjuntak putra Silindung yang brilian itu sudah pergi menghadap Tuhannya. Meski tak sempat memangku tugas menjadi bupati definitive, namanya ikut tercatat dalam sejarah pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara. Sejumlah gagasan dan karya buah pikirannya mungkin masih membekas di daerah ini, walau pun sudah agak samara oleh perubahan-perubahan zaman yang bergerak sangat cepat.

BIODATA

Nama : Drs Parlagutan Simanjuntak (Hutabulu 14)

Lahir : 27 April 1933 di Sidikalang

Pendidikan :- SMA-B di Medan (1952)

– KDC di Medan (1953)

– Fakultas Sospol UGM 1954-1959)

– Pendidikan khusus di Detroit USA

Karier : Dosen USU Medan (1960-1961)

KDC di medan (1963-1964)

Dosen APDN Medan (1964-1965)

Dosen Univ. Dharma Agung (1960-1966)

Dosen Univ.17 Agustus Medan (1964-1965)

Dosen IKIP Medan (1964-1966)

Organisasi : Sekretaris Umum GMKI Yogya (1956-1957)

: Ketua GAMKI Sumut (1963-1966)

: Ketua Umum Ikatan Pamongpraja Indonesia (1964)

Ketua Ikatan Sarjana Karyawan Indonesia

(1967)

Nama Isteri : Sondang Lumbantobing

Profesi : PNS pada Biro Pemerintahan Umum Ktr Gubsu

(meninggal pada 2002)

(Ditulis dan dikirimkan oleh Leonardo Simanjuntak MDP, khusus untuk Simanjuntak.or.id yang diasuh oleh Bungaran Simanjuntak/Poltak Simanjuntak)

Foto: 1. Foto repro lukisan Drs Parlagutan Simanjuntak

2. Rudy Aryanto Simanjuntak bersama isteri dan anak dengan latar belakang foto lukisan alm Parlagutan Simanjuntak

10 COMMENTS

  1. Horas

    Membaca artikel ini, kita melihat pribadi cerdas tapi tetap punya integritas…sai anggiat ma na gabe sumber inspirasi di hita na manjaha,

    mauliate.

  2. Terimakasih buat penulis sejarah Parlagutan ini. Ketika beliau meninggal saya masih berumur 2 tahun. Cerita tentang almarhum saya dapat dari orang tua saya yang saat itu juga ikut menangisi kepergian Parlagutan.

    Buat keturunan Parlagutan, agar meneruskan apa yang tidak sempat dikerjakan Parlagutan, baik untuk negara, bangso Batak, maupun untuk Simanjuntak!.

    Salut untuk Parlagutan.
    Salut untuk Penulisnya….

  3. Ada sekilas kenangan pada tulang alm. Drs Parlagutan Simanjuntak; saat itu saya masih berumur 19 tahun, ketika almarhum mulai ditugaskan di Tarutung. Kebetulan ayah saya (almarhum) adalah staf ktr.Bupati dan mendampingi beliau. Menurut ayah saya, beliau ini pintar dan rendah hati. Ayah saya cerita, bahwa beliau ini hobbynya mobil, beliau mempunyai mobil Chevrolet type Bell Air ( mungkin dibawa dari Amerika ) dan sering dikenderai sendiri dari Medan ke Tarutung. Suatu saat ditengah jalan tulang ini menghentikan mobil dan memeriksa tekanan angin dari ban, dan memompanya sendiri, beliau mengatakan rasanya kurang nyaman apabila tekanan angin tidak sama. Saat itu tulang ini sudah mempunyai alat pengukur tekanan angin. Tulang ini sangat menghargai stafnya, serta mau mendengar saran dari mereka. kadang kadang ayah saya sungkan juga kepada tulang ini, kalau mereka pulang dari tugas di Medan ayah saya diantar sendiri kerumah ( bukan menyuruh supir ) dan selalu menyempatkan berbicara dengan ibu saya, borunya. Pernah ayah saya mengatakan kepada beliau : ” Molo ahu nunga sian ompungku dohot tulanghu songon i nang simatuangku marga Simanjuntak. Tulangku dohot simatuangku sian Hutabulu do, jadi umpakket do parhula-hulaonku tu Simanjuntak sian parhula-hulaonmuna tu Lumban Tobing.” Pada saat meninggalnya, ayah saya sudah pindah ke kantor Gubernur di Medan dan saya juga sudah mulai kuliah di Medan.( 1967 ).
    Kalau saya tidak salah tulang itu meninggal di Pesanggarahan, tempat beliau menginap ( disamping kanan rumah dinas Bupati ) .
    Horas ma, mauliate di panurat naung manungguli roha mangingot na masa najolo. Godang do do nagabe sitiruon angka pambahenan ni tulang on tu hita sude angka generasi muda.

  4. Maaf saya keliru Hasiholan LTobing adalah bere ni Simanjuntak sian Ompu Hutabulu sundut pa 17.

  5. Pada waktu ompung ini meninggal, saya masih berusia 11 tahun. Yang saya ingat pada waktu itu damang/ayahku/almarhum (M.A. Simandjuntak/Ama ni Pinenda)lah yang menjadi Ketua Badan Pemerintah Harian (BPH) Taput sekaligus sebagai orang yang paling dipercaya dan paling dekat dengan almarhum ompung Parlagutan. Menurut cerita ni damang yang masih samar saya ingat, damangma termasuk orang pertama yang turut menyaksikan meninggalnya ompung ini, karena damang tinggal/menginap di pesanggrahan yang tidak jauh dari rumah dinas bupati. Kami tinggal di Balige tetapi bapak tiap hari Senin ke Tarutung dan pulang ke Balige setiap hari Sabtu siang, dan tempat menginap bapak ya di pesanggrahan itu. Jadi bisa dikatakan hampir setiap malam bapa dan almarhum selalu markombur dulu bar tidur. Saya ingat waktu itu mobil dinas bupati Landrover BB-1 dan mobil dinas bapak Landrover BB-3. Saya masih ingat bagaimana sedih dan terpukulnya bapa sepeninggalnya ompung ini. Yang saya tau mereka berdua sangat dekat sekali…..marsisir dope imbuluku/merinding bulukudukku mengingat hubungan beliau berdua ini sewaktu masih berdampingan memimpin Taput, Ompung sebagai Bupati bapak sebagai Ketua BPH. Saya masih ingat sewaktu diajak ompung Bupati beberapa bulan sebelum meninggal, pergi ke Sitorang untuk melihat tempat akan dibangunnya Tugu Jend. D.I. Pandjaitan di Sitorang………itulah sepenggal ingatan/kenangan saya tentang ompung ini………Salam untuk angka damang dohot namboruku pomparan ni ompung on……entah apakah ada diantara damang yang mengingat nama bapak untuk sekedar mengenang mereka????

  6. Syalom, Horas ma dihita saluhutna pomparan PSSSI/B, Mauliate ma di hamu Amang Penulis, mansai balga situtu do sejarah i di hita, tarlumobi ma di hami sude angka keluarga Pomparan ni Ompu Parlagutan Simanjuntak na di Bona Pasogit dohot na di Parserahan sahat tu sadari on. Uju ditingki Bupati Drs. Parlagutan Simanjuntak sebagai bupati TAPUT memang ahu sandiri pe dang sorang dope ditingki i (belum lahir) alai mansai godang do angka informasi na nijurjurhon ni Damang dohot Daompung na jolo tu hami angka pinomparna mengenai keteladanan seorang Drs. Parlagutan Simanjuntak. Keteladanan Amang Tua Drs. Parlagutan Simanjuntak adalah suatu inspirasi buat kami dalam meraih kesuksesan. Semoga di tahun 2014 esok Bupati TAPUT adalah salah satu pinompar ni Ompu Parlagutan Simanjuntak. Horas….
    Ompungku 3 martinodohon, ahu pinompar ni ompumg paidua (Amang Uda ni Drs. Parlagutan Simnajuntak) jala ima hubungan kekeluargaanku dohot Almarhum Amang Tua Drs. Parlagutan Simanjuntak. Mauliate.

  7. Syalom……
    Saya Karolyn Simanjuntak, putri kedua almarhum Drs. Parlagutan Simanjuntak, ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada generasi muda simanjuntak, khususnya Ito saya Pinenda Simanjuntak, yang masih mengingat dan meneladani sosok almarhum. Saya masih sangat kecil, ketika itu berusia 2,5 tahun sewaktu papi meninggal. Jadi saya tidak dapat mengingat sosok papi seutuhnya, namun dari cerita Mami yang begitu rajin menggambarkan sosok almarhum, kami semua keempat anaknya sepertinya tidak kehilangan sosok almarhum. Semoga ditahun-tahun yang akan datang akan muncul keturunan Simanjuntak seperti ayahanda Drs. Parlagutan Simanjuntak dan dapat memimpin TAPUT. Amin.

  8. Syaloom……..
    Saya ingin menambahkan buat Ito saya Jantamen Simanjuntak SE. Saya tahu ompung kita ada 3 orang. Yang tertua adalah ompung saya, yang kedua adalah ompung yang tinggal di Semarang dan yang ketiga adalah ompung yang tinggal di Bona Pasogit Pancur Napitu. Selamat berkenalan buat Itoku. Mauliate.

  9. Saya Baru baca ini ( thn 2016) saya juga tau kalau Bp. Bupati Simanjuntak meninggal di Tarutung Tahun 1967.
    Saat itu saya masih SD kelas 1. Tapi dari Rumah saya di Komplex HKI saya melihat jkearah Tangsi Kerumah Bupati orang sangat banyak. Dan saat itu macam macam issue tentang penyebab kematian bp Bupati ( biasalah kalo sudah ada kejadian ).
    Memang beliau terkenal saat itu dan sangat dihormati masyarakat Tapanuli Utara. Saya juga baru Tau kalo beliau meninggal di Usia 34 thn. Sebab saat saya kecil hal mustahil saya bisa ketemu Bupati.
    ( Saya : Ir. Tigor Sinaga – Gen. Manager PT. JFE Engineering Indonesia di Jakarta) 08111021733

LEAVE A REPLY