Dukungan terhadap Pastor Moses Alegesan Terus Mengalir

4
523

Buntut gugatan terhadap Pastor Moses Alegesan yang diduga melakukan penistaan terhadap ajaran Dewa dan Rsi Agama Hindu oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Sumatera Utara, dukungan berbagai kalangan yang prihatin terhadap Moses terus mengalir.

Keinginan kuat untuk menempuh jalan damai dari pihak-pihak pendukung Moses berhasil mengkristalisasi langkah-langkah konkrit yang akan dilakukan. Mengawali langkah bersama ini, akhirnya disepakati untuk melakukan pertemuan pihak-pihak “pendukung” dengan Moses sendiri. Nilai sensitifitas masalah yang mendera Moses mengharuskan perlunya pemahaman yang cukup terhadap isi dan esensi gugatan pihak PHDI.

Luas diketahui bahwa Moses telah menyampaikan Permohonan Maaf kepada pihak PHDI, bahkan oleh salah satu organisasi masyarakat bernama Sumatera Berdoa telah pula mengirimkan surat yang berisi ajakan penyelesaian masalah melalui musyawarah. Pendekatan persuasif dari pihak-pihak yang prihatin dengan permasalahan ini oleh berbagai pihak sudah dilakukan. Biro Advokasi GM-PSSSI&BBI Cabang Medan sengaja mengirimkan utusannya untuk menemui tokoh-tokoh Tamil di Kota Medan. Hasilnya? “Mereka bersedia menerima perdamaian”, kata Palti.

Tim Pembela Moses Terbentuk

Tidak mau salah langkah dalam penanganan kasus penistaan agama yang dialamatkan kepada Pastor Moses Alegesan, MA, pihak-pihak yang menyatakan dirinya siap mendampingi Moses melaksanakan pertemuan di aula Medan Club (4/3). Hadir dalam pertemuan ini perwakilan berbagai lembaga sosial kemasyarakatan, antara lain JA Ferdinandus Ketua Umum Sumatera Berdoa, CP Siregar, SH dan Nainggolan, keduanya pengacara, Ronald Naibaho, Ketua GAMKI Propinsi Sumut, Bahota Silaban, SH dari LKBH GAMKI, Rudyard Simanjuntak, Herlen Simanjuntak, Ir. Palti Simanjuntak dan Poltak Simanjuntak keempatnya dari GM-PSSSI&BBI. Sementara dari pihak Gereja Anglikan Holy Trinity Medan hadir Pdt. Alex dan Pastor Moses Alegesan, MA sendiri.

Semua peserta pertemuan sepakat untuk membentuk sebuah tim yang dapat mendampingi Moses dalam mengahadapi gugatan PHDI. Usul agar tim bergabung dalam bendera LKBH GAMKI disepakati dimana para pengacara yang sejak awal telah mendampingi Moses dan pengacara lain yang bersedia akan mendapatkan Surat Kuasa dari Moses sebagai pihak tergugat.

Pertemuan berlangsung serius yang diawali dengan doa oleh Moses, yang dilanjutkan dengan pemaparan singkat dari Moses perihal latarbelakang hingga dirinya dituduh melakukan penistaan Agama Hindu.

Bukan Penistaan Agama

Penerjemahan makalah oleh Moses yang ditulis dan dibacakan oleh Erode Venkata Ramsami pada sebuah seminar di Distrik Kanyakumari pada tahun 1958, yang berjudul Untouchability A History of Vaikonam Agitation Manu, sama sekali tidak pernah didasari oleh keinginan penistaan terhadap Agama Hindu. “Saya tidak pernah menyebarluaskan buku terjemahan itu. Saya hanya menggunakannya sebagai bahan pencerahan kepada jemaat saya yang membutuhkan dan mempertanyakan perihal sistim kasta pada orang Tamil”, katanya.

“Jika penerjemahan ini dipermasalahkan, tentunya mereka harus lebih dulu mempermasalahkan orang yang menulis makalah tersebut dan berbagai buku terbitan resmi yang lain yang menuliskan hal yang sama, seperti sebuah buku berjudul Hindu Manners, Custom and Ceremonies yang ditulis oleh Abbe JA Dubois dan diterjemakan ke Bahasa Inggris oleh Henry K. Beauchamp, C.I.E dan diterbitkan oleh Fellow of The University of Madras”, jelasnya sambil menunjukkan buku dimaksud.

Dalam buku Hindu Manners, Custom and Ceremonies, halaman 693 sampai 696, tertulis tentang kisah Brahma yang mempersunting anak perempuannya sendiri. “Ini sebuah sejarah yang tertulis. Jika ingin meluruskannya bukan dengan mempersoalkan penerjemahannya, tetapi mendiskusikan isi dan esensinya”,  jelas Moses.

Dikatakan menista Agama Hindu, saya tidak sependapat sebab di bagian lain saya justru aktif mengkampanyekan bahwa orang Tamil memiliki warisan yang sangat baik seperti Cerita Ramayana, sehingga Orang Tamil dimanapun berada harus diperlakukan sejajar dengan suku-suku lain di seluruh dunia. Berdasarkan semangat itu pula Moses getol mengkampanyekan penghapusan stigma sebutan “keling” terhadap orang-orang Tamil di Medan dengan memperjuangkan perubahan nama “Kampung Keling”, menjadi “Kampung Madras”.

JA Ferdinandus yang dikenal luas sebagai tokoh lintas agama di Sumatera Utara yang hadir pada pertemua ini menyampaikan penjelasan akan upayanya melakukan pendekatan persuasif dengan pihak PHDI. “Sebagian dari tokoh Hindu yang saya kenal dan temui menyatakan kesediaannya menempuh jalan damai. Saya sendiri mengajak mereka untuk berfikir jernih dan mengedepankan upaya damai”, ungkapnya. “Saya menduga ada faktor lain yang mendorong mereka sangat getol mempermasalahkan Moses. Makalah yang diterbitkan tahun 1958, setengah abad yang lalu, diterjemahkan tahun 2003, baru dipersoalkan tahun 2005 dan semakin menguat tahun 2009. Ada apa?” tanya Ferdinandus.

Rudyard Simanjuntak yang secara langsung mendampingi Moses dalam upaya penangguhan penahanan setelah dinyatakan oleh Kejaksaaan Negeri Medan P-21, mengatakan bahwa kasus ini tidak murni hanya persoalan hukum. Sebab jika ditinjau dari segi hukum, ada langkah yang seharusnya dilakukan oleh aparat penegak hukum terutama pihak Poltabes Medan, yaitu berkoordinasi dengan Bakor Pakem. “Berdasarkan rekomendasi Bakor Pakemlah pihak penyidik melakukan proses hukum berikutnya. Bukan seperti yang terjadi dalam kasus ini, langsung P-21”, katanya sambil membagikan tulisan yang dicopy dari situs internet mengenai penyelesaian tuduhan penodaan atau penistaan agama.

Dari copy yang diserahkan Rudy, diketahui bahwa Pasal 156 KUHP tentang penistaan agama, baru akan efektif jika melalui koordinasi dengan Bakor Pakem.

Secara berturut-turut 2 (dua) orang pengacara menyampaikan pendapat hukumnya terhadap kasus ini. Bahota Silaban, SH pengacara dari LKBH GAMKI mengungkapkan keheranannya terhadap proses hukum yang sudah berjalan terhadap Moses. “Saya melihat bahwa kasus ini bukan lagi murni persoalan hukum, tetapi sudah dipengaruhi tekanan opini masyarakat”, katanya. “Berdasarkan analisis ini, maka saya usulkan agar dibentuk suatu Tim Pembela yang dapat mendampingi Moses secara formal”, harapnya.

Sementara CP. Siregar, SH berpendapat bahwa jika ditinjau dari segi yuridis kasus ini tidak layak diteruskan, ternyata pihak kejaksaan sudah menyatakan P-21, artinya mereka berhasil dipengaruhi oleh opini masyarakat, sehingga yang terjadi keadilan opini atau keadilan imaginer, maka sangat terbuka kemungkinan dakwaan jaksa bersifat “imaginer”, korbannya Moses juga. “Bagaimanapun proses hukum sudah berjalan. Setelah p-21 dinyatakan oleh kejaksaan tentu dalam waktu yang tidak terlalu lama Moses akan dihadapkan di persidangan”, katanya. “Kita harus pastikan, bahwa Moses dapat menjalani proses hukum ini tanpa harus menjalani penahanan”, tambahnya.

Seolah mengungkapkan isi pembelaan terhadap Moses, Siregar mengatakan bahwa penerjemahan yang dilakukan oleh Moses tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan penistaan agama. “Kalau dasar gugatan mereka adalah penerjemahan dan penyebarluasan hasil terjemahan itu, maka yang tersangka seharusnya bukan Moses, tetapi orang yang melakukan penyebaran itu sendiri”, jelasnya lagi.

Moses Korban Trial By The Press?

Opini yang sengaja dikembangkan lewat media baik surat kabar maupun di dunia maya, sepertinya sengaja menyudutkan Pastor Moses. Harian Analisa terbitan Medan aktif memberitakan perkembangan kasus dugaan penistaan agama Hindu ini yang didominasi oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan diri sebagai umat Hindu di Medan. Tekanan kepada aparatus hukum agar melakukan penahanan terhadap Moses terus berlangsung. Bahkan di salah satu milis Hindu Dharma tertulis berbagai tanggapan yang justru melebihi bentuk penistaan.

Sebagaimana kutipan dari milis yang mengatakan “Dalam kasus yang terjadi di Sumut ini tentu saya lihat sebagai katagori penistaan Hindu. Bagaimana mungkin dalam hukum positif bila menggauli anak sendiri termasuk melanggar hukum dilain pihak Pendeta Moses sangat lancang mengatakan bahwa Brahma membenarkan prilaku tsb? Sungguh2 pelecehan!! Jangan2 orang ini tidak waras!, tulis I K Guna Artha Ketua Peradah DKI Jakarta.

Dari milis yang sama juga menyatakan ungkapan yang sangat emosional “ibaratkan seekor anjing yang tidak dapat asupan makan lagi  atau tidak dapat mangsa lagi, maka hasrat anjing tersebut untuk berburu mangsa akan menjadi sangatlah kuat, liar dan cenderung menghalalkan segala cara! Begitulah saya bayangkan tindakan yang di lakukan oleh Moses”, tulis Parwaty Agung.

Bahkan sampai ancaman yang mengerikan juga ditulis oleh Gusti Made Subanie yang menyatakan “Saya pun merasa sangat tersinggung dan marah dengan masalah atas perlakukan Pendeta Moses yang terhormat dan di jadikan orang suci oleh kaumnya. Sayang perilakunya tidak sesuai dengan gelar kependetaan yang di miliki, dan kalaumengikuti hati kecil, saya ingin sekali menggorok/memultilasi Pendeta tersebut”.

Jalan  Damai

Sebagaimana diberitakan sebelumnya Pastor Moses Allegesan Dituding Menista Ajaran Hindu, upaya untuk damai sudah dimulai. Palti Simanjuntak yang memiliki kedekatan dengan para tokoh Tamil di Kota Medan melaporkan hasil pertemuannya dengan beberapa tokoh Tamil. “Tawaran damai mereka respon dengan baik. Mereka mengharapkan kesediaan Pastor Moses untuk secara langsung menyatakan permintaan maafnya”, jelas Palti.

Terhadap tawaran ini, Moses menyatakan dengan sangat jelas bahwa selain tidak pernah berkeinginan melakukan penistaan agama, dirinya sejak awal sudah menunjukkan kesediaanya untuk meminta maaf. Jika masih terbuka kemungkinan berdamai, maka langkah itu juga akan ditempuhnya. “Saya, bersedia untuk duduk bersama dan menyampaikan permintaan maaf”, katanya tulus.

4 COMMENTS

  1. Dukungan pasti.
    Selain itu harus diwaspadai pihak2 yang mencoba bermain atas isu ini. Umat Hindu adalah saudara kita juga. Jangan sampai ada yang diuntungkan dengan soal ini karena lagi2 masyarakat Indonesia yang jadi korban.

  2. Salam hangat,
    Saya kira, inilah resiko bagi seorang intelektual. Ungkapan yang jujur dari perspektif kajian ilmu yang dipahami mendapatkan perlawanan. Saya berharap, kejadian semacam ini dijawab dengan kajian pula. Jika tidak, merepotkan masa depan peradaban.

    Ungkapan yang jujur harus disikapi dengan sikap rendah hati. Tidak perlu tersingung. Sebab, ketersinggungan tidak pernah membuat seseorang dewasa. Tetapi sikap rendah hati dan membuka hati dan pikiran membuat kita makin hari makin cerdas. Kecerdasan yang berkembang dari hari ke hari melahirkan peradaban yang dicita-citakan umat manusia di kolong langit ini.

    Kiranya, kasus ini membuat anak bangsa ini naik kelas alias semakin teruji persaudaraaan antar umat.
    Salam hangat,

    Gurgur Manurung

  3. Sangat setuju apa bila setiap masalah diselesaikan dengan cara yang elegant, bukan dengan emosional.
    Amatlah mubajir apabila negara ini sudah menyiapkan wadah tetapi wadah tersebut tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
    Rakyat di-NKRI sudah maju dalam berfikir, bertindak dan berbuat janganlah aparatnya sampai ketinggalan jaman.
    Opini yang terbangun bukanlah segala-galanya, keberanian aparat hukum mendudukkan masalah pada porsinya adalah Wibawa negara yang harus ditunjukkan. Jangan sampai pameo yang beredar bahwa negara ini tidak memiliki kepastian hukum, diaminkan.
    Selamat berjuang Pdt. Moses, Kasihilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!!. Shalom

  4. Yang Terkasih
    Bapak Pastor Moses Alegesan,

    Salam kenal. Saya Eliakim Sitorus, membaca perihal kasus Bapak berhadapan dengan PHDI, di salah satu milist yang disubmit oleh rekan saya Bung Poltak Simajnuntak dari Generasi Muda Simanjuntak se-kodya Medan.

    Saya prihatin, jika pihak PHDI mengkriminalkan Anda, hanya karena alasan beda paham tentang agama. Itu kita tidak setuju. Karena itu, jika Bapak berkenan, silahkan mengajak kami, atau kami akan ikut berkontribusi menyelesaikan masalah ini, tentu dengan cara-cara damai, sebagaimana Yesus ajarkan kepada kita.

    Kami senantiasa perduli dengan pluralisme, kemajemukan agama dan suku dan ideologi. Dialog Antai Iman, menjadi salah satu pusat perhatian kami.
    Bisakah Bapak memberi keterangan kepda kami, bagaiumana sesungguhnya duduk perkaranya? Dengan senang hati kami hendak mempelajarinya.

    Terima kasih. Kiranya pak Moses tabah, sembari terus kita berusaha mencari jalan terbaik penyelesaian kasus ini. Tuhan memberkati.

    Salam damai,

    Eliakim Sitorus
    Konsultan Program
    Justice, Peace and the Integrity of Creation (JPIC)
    Sekber UEM
    Jalan Selamat Ketaren No. 100
    Medan Estate 20371
    Tel: 061 – 73224 70
    HO: 0813 9628 8426

LEAVE A REPLY