Ilmu Pengetahuan hilang sejalan dengan LOCAL LANGUAGE DIED

9
598

Ditulis oleh: B Rambe

Seorang sejarahwan, Addrew Dalby, belakangan ini meneliti tentang kepunahan bahasa di dunia. Sekarang bahasa yang masih dipakai orang didunia ini ada 5000 bahasa. Diperkirakan 100 tahun kedepan, akan tinggal setengahnya.
Punahnya sebuah bahasa, akan merugikan manusia, sebab banyak pengetahuan yang ditulis di dalam bahasa-bahasa minoritas yang rentan dalam kepunahan dan pengetahuan yang ada di dalamnya akan punah sejalan dengan punahnya bahasa tersebut.

Hasil penelitian tersebut, menyentak pikiran penulis dan membenarkan hasil penelitian tersebut mengingat naskah-naskah kuno yang ada di setiap suku di Indonesia yang belakangan ini dicari orang sebagai benda antik dan dan dibeli dengan harga mahal. Dikaitkan dengan naskah-naskah yang masih dipelihara dan disimpan dengan sangat rahasia, dijadikan sebagai benda pusaka secara turun temurun oleh bangsa Batak dikenal dengan “pustaha dan tombaga holing” Benda ini terdiri dari lempengan-lempengan dari kulit kayu atau kayu yang tipis, dilipat sambung-menyambung. Setiap lembar berisi tulisan akasara Batak kuno, merupakan informasi tentang sejarah/silsilah, pengetahuan obat-obatan, Ramalan, horoscop dan lain-lain. Menyatukan beberapa wilayah dalam satu Negara, memerlukan bahasa nasional sebagai bahasa pemersatu, memicu menomorduakan bahasa local, bahkan cenderung meninggalkan. Dalam keadaan demikian, bahasa local berada pada posisi “local language diet” apabila tidak berusaha untuk memelihara bahasa/tulisan tersebut, akan mengalami kerugian besar dimasa yang akan datang. Bukan hanya bangso Batak atau keturunannya yang rugi tetapi juga sebagai asset nasional (naskah kuno asli Indonesia, yang belum terungkap isinya) Juga akan rugi. Generasi Batak juga harus sadar, bahwa “Tombaga Holing” tidak bisa hanya dibanggakan, di dalamnya terdapat pengetahuan yang harus disingkap untuk kepentingan generasi masa sekarang dan yang akan datang. Orang batak pada umumnya, memang sudah kesulitan untuk menggali pengetahuan dari naskah kuno demikian, karena ditulis dalam aksara dan bahasa batak kuno. Sedangkan bahasa dan tulisan batak yang tertuang didalam naskah kuno tersebut, berada pada posisi “local language died” sebab pada masa sekarang tidak banyak orang Batak yang memahami aksara Batak. Jangankan akasara kuno seperti tulisan pada naskah kuno Tombaga Holing, aksara batak modern pun sudah sangat langka orang Batak yang memahaminya. Masih banyak naskah kuno yang lain di daerah Batak, “Tombaga Holing” salah-satunya sebagai contoh.

TANGGUNG JAWAB SIAPA?
Sebagai bagian suatu bangsa yang terdiri dari berbagai suku, naskah-naskah kuno yang dimiliki suatu kelompok suku merupakan kekayaan bangsa tersebut. Oleh sebab itu Pemerintah berkepentingan memberikan akomodasi terhadap pelestarian karya buda semacamnya. Bentuk akomodasi untuk pelestarian hasil kebudayaan yang dapat dilakukan pemerintah melalui:
Pembinaan Generasi Muda

Pembinaan terhadap generasi muda untuk memahami, menguasai serta mewarisi bahasa lokal, dimulai dari sejak sekolah dasar sampai ke sekolah menengah tingkat atas, sebagai basic pemahaman. Lalu di dalam pengembangan selanjutnya membuka jalur di perguruan tinggi sebagai MKDK dari antropologi. Mungkin hal ini terlalu spesifik untuk diberlakukan secara universal bagi jurusan antropologi diseluruh Indonesia. Untuk itu pemerintah dapat memberlakukan aturan, bahwa mereka yang mengambil jurusan antropologi di perguruan tinggi daerah merupakan mata kuliah pokok atau wajib sebagai dasar keahlian, sehingga mereka yang sudah lulus dapat dijamin bisa membaca naskah-kuno daerah tersebut.
Bagi generasi muda sendiri, nampaknya menekuni hal hal seperti ini kurang menarik untuk dipahami atau ditekuni. Mereka lebih tertarik untuk menekuni jurusan yang banyak marketnya, dengan harapan begitu selesai kuliah, tempat bekerja sudah menanti. Yang paling parah dari sikap generasi muda adalah berfikir instant yang dipengaruhi oleh sikap “uang adalah segalanya”. Tanpa uang kita tidak bisa berbuat apa-apa. Menekuni naskah-naskah kuno membutuhkan kesabaran dan proses yang panjang. Untuk bisa memahami, adalah sesuatu yang membosankan. Generasi muda lupa bahwa di dalam menuju suatu cita-cita perlu proses yang panjang, tekun dan sabar merupakan bagian dari proses tersebut. Gambaran ini sangat jelas kelihatan bagi generasi muda Batak (Tapanuli) sekarang ini

PARADIGMA GENERASI MUDA TAPANULI

Priode tahun 1980 ke bawah, generasi muda tapanuli banyak muncul sebagai pioneer baik didalam pemerintahan maupun di segmen kalangan pengambil keputusan. Pada masa itu, bangsa Batak terkenal disegala segmen kehidupan masyarakat, dan banyak orang belajar dari bangsa Batak. Setelah tahun 1980-an hingga sekarang, image masyarakat terhadap keperkasaan bangsa Batak merosot drastis bahkan mulai menghilang, solah-olah orang batak/tapanuli sudah selesai masanya. Orang Batak (tapanuli) yang masih dikenal orang sekarang pada segmen-segmen kehidupan tertentu di Negara ini adalah merupakan sisa-sisa generasi 80-an.

Ternyata kalau kita amati, telah terjadi suatu pradigma baru dikalangan generasi muda dan orang tua. Mereka lebih mementingkan apa yang bisa didapatkan sekarang, yang penting jadi uang. Kalau dahulu, para orangtua menanamkan pemahaman proses menuju suatu cita-cita kepada anak-anaknya misalnya, “kamu harus pintar bersekolah dan tekun belajar sampai setinggi-tingginya sehingga kamu nantinya mendapatkan pekerjaan yang baik yang besar gajinya dengan demikian hidup kamu enak” walaupun dalam kenyataanya ada faktor lain yang menentukan keberhasilan seseorang, tetapi dari nasehat yang demikian, memperlihatkan bahwa keberhasilan itu tidak akan didapatkan dengan begitu saja secara instan, tetapi mempunyai suatu proses yang sangat panjang. Sehingga generasi muda tapanuli tekun menghadapi suatu proses, bahwa segala sesuatunya itu berproses menuju ke cita-cita yang diinginkan. Keinginan-keinginan generasi muda pada jaman sebelum 80-an juga sudah ada keiginan atau pikiran instan yang dolontarkan kepada tokoh sebelum nya, akan tetapi keinginan itu menjadi mentah akibat jawaban tokoh tersebut atas pertanyaan generasi muda seperti demikian; “Bagaimana kita agar bisa menjadi penunggang kuda yang baik ?” jawaban tokoh tersebut: “kita harus bisa menjadi kuda lebih dahulu.” Sepintas, jawaban tersebut tidak mengena dan lari dari kontek pertanyaan. Tetapi maksudnya semuanya adalah berproses. Karena penunggang yang baik, harus mampu mengendalikan kuda dengan baik. Kalau kita tidak mengerti sifat dan kemauan kuda tentu tidak akan bisa menjadi penunggan kuda yang baik Dengan memahami sifat kuda, maka orang tersebut mengerti bagaimana cara agar kuda tersebut tidak melawan tali kendali kita yang kita pegang, sebagai penunggang.

Perobahan paradigma sekarang ini, yang tinggal di kampung maupun di perantauan. Sering dipicu oleh pernyataan-pernyataan orang tua dan tokoh masyarakat. Para orang tua sering melemparkan statemen di depan umum, terukir melekat di hati generasi muda seperti:
“yang paling utama adalah uang. Dengan uang hidupmu enak, dengan uang kamu bisa berbuat apa saja”,

Dari Statemen tersebut, sama sekali tidak ada sedikitpun yang menggambarka suatu proses. Tanpa memberi tahukan bagaimana mencari uang yang benar dan tidak bertentangan dengan norma. Pandangan dan sikap para tokoh yang dianggap maju , baik yang tinggal di kampung maupun dari perantauan, juga merobah paradigma generasi muda dengan statemen
”Jaman sekarang, bagaimana memiliki uang karena uang, kita bisa mengatur negara ini”
Pernyataan seorang tokoh yang demikian adalah munafik. Sebab beliau bisa besar, bisa kaya, bisa terkenal pasti mengalami suatu proses yang panjang kearah yang beliau sudah dapatkan. Tentu statemen ini mengesampingkan proses befikir untuk mengatur sebuah negara. Seolah-olah kalau ada uang, otomatis semua semua bias kita atur.

Adanya ungkapan seorang tokoh di depan para generasi muda “Hepeng Mangatur Negara on”, membuat pemikiran dan sikap generasi muda tapanuli mengesampingkan proses. Dia tidak mau berfikir suatu proses panjang yang hasil akhirnya adalah uang. Tetapi yang dipikirkan bagaimana sesuatu usaha itu langsung menjadi uang, tidak perduli apakah itu recehan.

Paradigma generasi muda, lebih memilih seratus perak hari ini dari pada sepuluh ribu, dengan proses satu bulan. Akibatnya jadilah menjadi kondektur atau sopir angkot, calo, bahkan copet. Bagi kalangan pemborong atau rekanan, jadilah sebagai perusahaan pendamping saja yang segera menerima limaratus ribu sampai satu juta, dari pada duapuluh juta, dengan berproses mulai dari penghitungan bahan, biaya, upah, jangka waktu dan keuntungan dalam mengerjakan pekerjaan proyek.
Bagi pekerja di perusahaan, jadilah menjadi security, karena setiap mobil keluar mengeluarkan seribu dari pada mengatur lalulintas uang dan barang di dalam perusahaan tersebut.
Paradigma tersebut juga dipicu oleh sikap yang lebih menghargai yang punya uang walau tidak sekolah, dari pada sarjana tapi tidak segera punya uang.

Kalau keadaan seperti ini berlanjut terus maka pada sepuluh tahun ke depan, sumber daya manusia dari tapanuli tidak akan dapat diharapkan sebagai sumber daya manusia berkualitas, seperti sumber daya manusia sebelum tahun 80-an.

9 COMMENTS

  1. Setuju dengan judul di atas. Buku lak-lak, pinggan pasu, tumbaga holing dsb…. kemana? Ise do na sala…..

  2. USUL :
    Bagaimana kalau semua Plank Nama Sekolah Dasar di daerah Tapanuli disamping bahasa Indonesia juga HARUS memakai AKSARA BATAK.
    Di Sidimpuan dari dulu setiap Plank Nama Jalan memakai AKSARA BATAK disamping bahasa Indonesia/huruf latin di atasnya.

  3. Setuju…
    Semua nama jalan dan nama fasilitas umum seharus nya di beri plank nama selain bahas indonesia harus diberi aksara daerah.. contoh seperti di jogja mereka melakukan nya..

  4. Iya jelas banyak generasi skrg yg ga tahu lg bahasa daerahnya sendiri apalagi tulisan daerah ga ada lg yg tahu itu. Yg perlu kt tanyakn adalah siapakah yg salah dlm hal ini? Generasi mudanya atau org tuanya?

  5. Saran kmi bgmn klw d skola” dasar d tapanuli memakai istilah Batakday..cthnya stiap hr senin menggunakn bhz btak n tdk blh mngnakan bhz indo..pasty bhs batak tdk akn hlang..

  6. Saya sendiri tidak bisa sama sekali bahasa batak.
    Menurut saya, ini disebabkan sepanjang hidup yang kompetitif ini, sama sekali tidak ada bidang apapun yang menuntut kompetensi bahasa batak. Terlalu naif bila mengharapkan punguan dan nasehat orang tua, lalu seseorang akan selalu membawa tradisi batak yang murni bersamanya.
    Agar bahasa batak tetap diteruskan, harus ada daya tarik pada bahasa batak itu sendiri, mengingat banyaknya tuntutan di pikiran orang jaman sekarang.

  7. Horas!
    Mangkritik jo ompung, santabi.
    Ai huhilala ndang cocok judul i dohot isina. Ndang tangkas dipaboa disi logika dohot dugaan kronologis hamagoan ni Ilmu Pengetahuan alani hamatean/hamagoan Local Languange. Ai gumodang pangalaho natua-tua dohot generasi muda na masa nuaeng on do dipatorang disi sian deskripsi Judul i.
    Mauliate.

    tabe,
    Lundu simanjuntak (H16)
    Banda Aceh

LEAVE A REPLY