|

Dilema Adat Batak…

Oleh : Ricat Gordon Simanjuntak – København SV

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya dan sejarahnya. Suku Batak juga mendapat julukan sebagai Bangso Batak. Berbagai potensi, sejak ribuan tahun telah ada dan dimiliki. Sumber Daya Alam seperti Danau Toba dengan Pulau Samosirnya merupakan salah satu Objek wisata yang terbesar Buat Sumatera Utara, Konon Si Raja Batak berasal dari Pusuk Buhit, Samosir.

Sebelum terjadinya masa resesi  di Indonesia pada tahun 1998, kita masih bisa melihat betapa banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke Danau Toba, Samosir untuk menikmati keindahan alam serta melihat secara langsung beberapa kegiatan adat Batak, salah satu adalah Pesta Pernikahan.
Mayoritas dari para wisatawan-wisatawan tersebut merada kagum melihat cara berjalannya adat tersebut, termasuk para peserta pesta yang begitu banyak sekali.

Adat Batak merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Batak dan jika dilihat dari segi pembiayaan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, alias mahal, bahkan jika diikuti secara lengkap, maka dapat dikatakan biaya termahal dari seluruh posting pengeluaran kehidupan sehari-hari. Biaya pesta adat pernikahan adalah salah satu diantaranya. Kita tahu bahwa kalau mau mengadakan pesta pernikahan tentu menginginkan agar  acara tersebut terlaksana dengan meriah. Pengantin laki-laki juga berkata akan mengusahakan segalanya, mengorbankan segalanya demi cinta dan kasihnya kepada pasanganannya.

Pertanyaannya, “Apakah kita harus mengorbankan segalanya demi Pesta pernikahan tersebut agar berjalan dengan meriah?” Kita ketahui pesta yang meriah juga adalah salah satu hal yang harus ditanggulangi. Godaan agar resepsi dilaksanakan di gedung yang megah, dengan musik yang meriah dengan harapan dan sudah menjadi persepsi umum yang mengatakan agar para tetamu merasa puas akan pesta tersebut.

Bagaimana sebenarnya kalau orang yang berasal dari ekonomi lemah? Apakah hal-hal tersebut akan membawa suatu dilema yang memberikan persepsi yang mengatakan wah saya tidak sanggup ini. Tuhor borunya saja sudah sekian puluh juta,belum lagi acara martuppolnya, acara adat pernikahannya dan sebagainya, sebagainya.

Apakah hal-hal tersebut di atas akan diatasi dengan begitu mudah?, Ada yang bilang pinjam uang aja atau biar saja orang tua si laki-laki yang menanggung segalanya. Wah orang tuanya juga berasal dari keluarga lemah, jadi bagaimana ya???

Apakah konteks adat Batak ini memang harus kita sesuaikan dengan kemajuan zaman?  Yah mari kita jawab sendiri. Tapanuli juga pernah mendapat sebutan Peta Kemiskinan, hal tersebut mengingatkan akan para perantau Batak untuk ingat akan tanah kelahirannya. Kita masih ingat Almarhum Raja Inal Siregar dengan suatu slogan yang mengatakan MARTABE, Marsipature Hutana Be. Cukup mengharukan untuk didengar. Tetapi, mungkin lebih baik kalau MARTABE kita dahului dengan Marsipature Tabiatna BE.

Kalau memang Tapanuli disebut-sebut sebagai salah satu Wilayah miskin, dan tiba-tiba Para Malaikat-Malaikat dari surga ingin menolong dan memberitahukannya kepada Tuhan. Lalu Tuhan memberikan perintahNya kepada mereka akan mengirimkan salah satu pesawat  yang terbesar, yang bermuatan segala macam hal yang mana akan dapat memberikan kelegahan buat Tapanuli.

Namun pesawat tersebut tidak dapat mendarat di Tanah Batak karena setiap kali akan mendarat selalu ada Bangunan Megah yang sebenarnya adalah tugu-tugu kuburan. Hal tersebut memeberikan image yang mengatakan, wah ini daerah Tapanuli bukan daerah miskin, karena dengan jarak yang tidak begitu jauh selalu ada bangunan besar yang ternyata adalah tugu-tugu kuburan.

Ricat Gordon Simanjuntak
Schubertsvej 12, 2 th
2450 København SV
Tlf. 38741721/22307235
email: richardsmjk@yahoo.com

  • helen siwy

    saya berasal dari suku manado dan besar dibatam,tunangan saya marga simanjuntak ju merantau dibatam.taun ini kmi uda mau merid,slh satu alasan umur tunanganku yang uda 31,aku sendiri masi muda kmi pengennya pernikahan yang sederhana tapi kmi nikmati,pemberkatan aja ckup.kalopun mau adat biarla kmi menabung dulu kmi tidak mau buat susa keluarga.tapi akhirnya mimpi itu pupus hnya karna masalah adat.opumg dari tunanganku ngotot akan adat,pemberkatan dinomor 2 kan aku sedih aja,knapa tuhan dinomor 2 kan,hnya karna adat

    September 17 2009
    CommentsLike
    • Evi

      100% tidak benar!!! Cwek itu dpt sinamot yg besarnya dinegosiasi berdasarkan kemampuan pihak cwo. Kl ga mau keluar duit brarti camer km pelitnya minta ampun. So.. kamu blg sm cwo km kl mau rugi ya berdua jgn keluarga km aja ok.. Smg ga bingung.

      March 20 2009
      CommentsLike
      • lisa

        mau tanya… saya bukan dari keluarga batak, tapi sebentar lagi akan menikah sama lelaki Batak, jadi akan jadi keluarga Batak juga =) Saya tidak tinggal di indonesia, kami sudah lama tinggal di negara asing, jadi pesta perkawinan kami simple dan tidak banyak acara adat, tapi tetap ada. Pertanyaan saya adalah, apa benar keluarga laki2 biasanya tidak keluar biaya untuk perkawinan ? Karna calon ibu mertua saya tidak mau keluar banyak biaya, hanya beli cincin tunangan dan cincin kawin saja. Katanya dalam adat mereka begitu, dulu waktu dia menikah juga keluarganya yg membiayai semuanya. Saya agak merasa tidak adil kalau orang tua saya harus membiayai semuanya, apalagi calon mertua saya itu mau mengundang banyak sekali teman2nya, bahkan lebih banyak dari teman teman kami! Saya jadi sedikit bingung, pesta perkawinan sudah dekat dan dia terus menambah jumlah tamu. Tunangan saya cuma bisa bilang, memang adat mereka begitu. Apa benar?

        March 18 2009
        CommentsLike
        • oloaN simanjuntak

          alo ito semua yang ada di sana
          aku MAU MEMPERKENALKAN DIRI kaLo AKu simanjuntak hutabulu No.14

          salam damai yah untuk seluruh itO aku yang ada di sana semOga kita yang marga simanjuntak ini dapat bersatu unTuk memperkerat tingkat persaudaraan kita ok….

          GBU TO ALL…………..

          February 24 2009
          CommentsLike
          • batara_watson simanjuntak

            Pada dah tau ga perkembangan penelitian Bahwa menurut penelitian BATAK adalah salah satu suku israel yang selama ini hilang…

            Ini di kutip dari sebuah blog..

            BATAK KETURUNAN ISRAEL YANG HILANG??

            Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat, negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan ini disebut Juda, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea.

            Bagian Utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai orang Samaria. Dalam perjalanan sejarah, kedua belas suku tsb kehilangan identitas kesukuan mereka.

            Kerajaan Samaria tidak lama bertahan sebagai sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan bangsa Assyria, banyak orang Samaria yang ditawan dan dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebahagian lari meninggalkan negaranya untuk menghindari perbudakan.

            Sementara itu Kerajaan Juda tetap exist hingga kedatangan bangsa Romawi.

            Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 0070 oleh bala tentara Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Juda pun banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain, terserak diseluruh dunia.

            Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan orang2 Israel diijinkan kembali ke negerinya, ada kelompok-kelompok kecil yang memilih tidak pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur.

            Demikian juga dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa pebudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan hidup.

            Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian kehilangan identitas mereka sebagai orang Yahudi.

            Ada sekelompok penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina, tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan Yahudi yang sudah kawin mawin dengan penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.

            Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam. Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir tebal, rambut keriting habis, dll.

            Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Yahudi, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Yahudi perantauan. Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Yahudi, sebahagian dari mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya mengapa ada Israel hitam.

            Mereka menjadi seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan-perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia.

            Kita tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.

            Walaupun banyak yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu, dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang konon ada disana.

            Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan bahwa etnik Batak, adalah juga keturunan bangsa Israel kuno? Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang memberikan perhatian terhadap hal ini.

            Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi, guru besar di UI (Universitas Indonesia), bahwa tradisi etnik Tapanuli (Toba) yang menjadi cikal bakal dari 4 sub etnik Batak (Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno.

            Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama, dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar Alkitab.

            Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang Melayu.

            Seorang Batak Tapanuli, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin (?).

            Tetapi tenyata data tsb belum bisa memenuhi seluruh kriteria. Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai orang Israel diperantauan dapat diberi.

            Konon kekurangan itu terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam ke perut bumi.

            Jika saudara pergi Taman Mini Indonesia di Jakarta dan singgah di rumah tradisi Toba (Tapanuli), disana akan ditemukan silsilah tsb.

            Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka.

            Setelah mendengar selentingan itu, saya benar-benar menaruh minat untuk menyelidiki sejauh mana budaya suku Batak dapat memberi bukti similaritasnya dengan tradisi Israel kuno. Alkitab adalah buku yang prominent dan sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur sejarah dan spiritual.

            Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak (Toba) dengan tradisi Israel kuno adalah sbb.

            1). Pemeliharaan silsilah.

            Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya dianggap na lilu – tidak tahu asal-usul – yang merupakan cacat kepribadian yang besar.

            Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang ditelusuri dari pihak ibuNya (Maria) dan pihak bapak angkatNya (Yusuf).

            2). Perkawinan yang ber-pariban.

            Ada perkawinan antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak, tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam bahasa Batak.

            Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni tulang atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Sedangkan yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru atau anak laki-laki dari saudara perempuan bapa.

            Hanya hubungan sepupu yang seperti itu yang boleh menjadi suami-isteri. Karena suku Batak penganut patriarch yang murni, ini adalah perkawinan ulang dari kedua belah pihak yang sebelumnya sudah terjalin dengan perkawinan.

            Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel. Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan perkawinan seperti itu.

            3). Pola alam semesta.

            Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua toru (alam maut).

            Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola yang sama.

            4). Kredibilitas.

            Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern, setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang diberi janji.

            Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan pembayaran hutang ataupun janjinya.

            Budaya Israel kuno juga demikian. Lihat saja Yehuda yang menitipkan tongkat kepada Tamar sebagai jaminan janji (Kej. 38).

            5). Hierarki dalam pertalian semarga.

            Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki-laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis keturunan dari suami yang kedua.

            Misalnya, seorang janda dari Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik laki-laki mendiang (bandingkan dengan Rut 1:11).

            Jika tidak ada adik laki-laki kandung, sebaiknya menikah dengan saudara sepupu pertama dari mendiang yang dalam garis silsilah tergolong adik. Jika tidak ada sepupu pertama, dicari lagi sepupu kedua. Demikian seterusnya urut-urutannya.

            Hal semacam ini diringkaskan dalam ungkapan orang Batak :

            “Mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. Marbona do sakkalan, marnampuna do ugasan”.

            Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya, mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri.

            Ya, mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. (Baca kitab Rut).

            6). Vulgarisme.

            Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda-beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah: son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini. Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll.

            Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarkan sumpah serapahnya:,,Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege, hubasbas, huripashon ho annon !!!”. Terjemahannya kira-kira begini:,,Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!”.

            Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol kehancuran seterunya.

            Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis sama dengan sumpah serapah orang Batak).

            7). Nuh dan bukit Ararat.

            Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab. Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit Pusuk Buhit.

            Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah puncak gunung.

            Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput gunung. Bambu – dari mana kakek moyang keluar – menurut nalar mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya setelah bambunya meledak hancur.

            Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar.

            Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi Pusuk Buhit.

            8). Eksumasi (Pemindahan tulang belulang).

            Jika Pemerintah mengubah fungsi lahan pekuburan, wajar jika tulang-belulang para almarhum/ah dipindahkan oleh pihak keluarga yang terkait. Alasan ini sangat praktis.

            Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar.

            Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh seorang nabi).

            9). Peratap.

            Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung. Mangandung ialah menangis sambil melantunkan bait-bait syair kematian dan syair kesedihan hati.

            Karena sepenuhnya terikat dengan komponen syair-sayir maka mangandung adalah satu bentuk seni yang menuntut keahlian. Untuk memperoleh kepiawaian harus belajar. Bahasa yang digunakan sangat klasik, bukan bahasa sehari-hari.

            Setiap orang-tua yang pintar mangandung akan mendapat pujian dan sering diharapkan kehadirannya pada setiap ada kematian.

            Di desa-desa, terutama di daerah leluhur – Tapanuli – tidak mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan sangat menyentuh kalbu.

            Tak jarang pihak keluarga dari si mati memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar, sekedar menunjukkan rasa terima kasih.

            Peratap-peratap dari luar ini sebenarnya tidak menangisi kepergian si mati yang tidak dikenalnya itu. Alasannya untuk turut meratap adalah semata-mata mengeluarkan kesedihan akibat kematian keluarga dekatnya sendiri pada waktu yang lalu, dan juga yang lebih spesifik yaitu mengekspresikan seni mangandung itu.

            Ini sangat jelas dari ungkapan pertama sebelum melanjutkan andung-andungnya :,,Da disungguli ho ma sidangolonhi tu sibokka nahinan” Sibokka nahinan adalah anggota keluarga sipangandung yang sudah meninggal sebelumnya. Selanjutnya dia akan lebih banyak berkisah tentang mendiang familinya itu.

            Bagamana dengan bangsa Israel?

            Dari sejarah diketahui bahwa ketika Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berkali-kali mencatat kata-kata ratapan, meratap, peratap.

            Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati bukan pada acara kematian.

            10). Hierarki pada tubuh.

            Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah. Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada seseorang lain:,,Ditoru ni palak ni pathon do ho = Kau ada dibawah telapak kakiku ini”, sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi.

            Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila.

            Pada bangsa2 Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.

            11). Tangan kanan dan sisi kanan.

            Dalam budaya Tapanuli, sisi kanan dan tangan kanan berbeda tingkat kehormatannya dengan sisi kiri dan tangan kiri.

            Jangan sekali-kali berinteraksi dengan orang lain melalui tangan kiri jika tidak karena terpaksa. Itupun harus disertai ucapan maaf. Dalam Alkitab banyak tercatat aktivitas sisi ‘kanan’ yang melambangkan penghormatan atau kehormatan.

            Yusuf sang perdana menteri Mesir memprotes ayahnya Yakub yang menyilangkan tangannya ketika memberkati Manasye dan Efraim (baca Kejadian 48).

            Rasul Paulus dalam salah satu suratnya menyiratkan hierarki anggota tubuh ini.

            Juga baca Pengkhotbah 10:2, Mzm 16:8, Mat 25:33, 26:64 Mrk 14:62, Kis 7:55-56, 1Pet 3:22, dll.

            12). Anak sulung.

            Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa : Pitu batu martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok. Sitaon na dokdok itu adalah si anak sulung.

            Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar, memberi karisma dan wibawa.

            Karisma dan wibawa, itulah profil yang melekat pada anak sulung.

            Alkitab ditulis dengan bahasa manusia, bangsa Israel kuno. Deskripsi tentang anak sulung pada bangsa ini sama seperti yang ada pada suku Batak yang sekarang, sehingga the term of the firstborn (istilah anak sulung) banyak terdapat dalam kitab tersebut. (baca Kel 4:22, 34:20, 13:12 dan 15, Im 27:26, Bil 3:13, 8:17, Mzm 89:28, Yer 31:9, Hos 9:20, Rom 8:23, Luk 2:27, 11:16, 1Kor 15:20 dan 23, Kol 1:15 dan 18, Ibr 1:6, Yak 1:18, dll)

            13). Gender.

            Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama terjadi pada bangsa Israel kuno ; bangsa ini tidak memasukkan anak perempuan dalam silsilah keluarga. Ada banyak silsilah dalam Alkitab, tetapi nama perempuan tidak terdapat didalamnya kecuali jika muncul sebagai yang sangat penting seperti Rut dan Maria (ibu Yesus).

            Kalaupun nama Dina disebut juga dalam Alkitab, itu bukan karena posisinya yang penting tetapi hanya sebagai pelengkap nama-nama keturunan Yakub yang kemudian menurunkan seluruh bangsa Israel.

            14). Pola monoteisme.

            Dalam hampir seluruh kepercayaan animisme didunia ini, tuhan selalu jamak, bahkan bisa berjumlah puluhan, dan masing-masing sama besar kekuasaannya walaupun berbeda wilayah (bidang). Misalnya dewa air, dewa tanah, dewa api, dewa angin, dewa gunung, dewi kesuburan, dewi kecantikan, dewi keberuntungan, dll. Masing-masing juga punya isteri atau suami.

            Ini hal yang luar biasa uniknya. Tidak ada analisis yang dapat menerangkan itu jika tidak menghubungkannya dengan faham monoteisme Yudaisme bangsa Israel kuno yang terbawa melekat hingga sekarang, tidak lekang oleh kikisan kurun waktu ribuan tahun.

            Tambahan

            Adalah satu tradisi pada bangsa Israel kuno tidak menguburkan mayat anggota keluarga yang meninggal, melainkan meletakkannya dalam sebuat tombe yang berupa liang batu yang dibuat melalui pahatan. Lihatlah kesamaannya dengan mayat Yesus Kristus yang diletakkan dalam tombe milik Yusuf dari Arimatea. Budaya ini tidak terdapat pada suku Batak. Mungkin karena di Tapanuli tidak terdapat lime stone atau sejenisnya yaitu batu lunak yang mudah dilubangi seperti batu cadas.

            Saya cukupkan saja dulu hingga disitu, karena terlalu letih untuk membeberkan semua, termasuk indikasi-indikasi lemah yang banyak jumlahnya.

            Jika data yang diatas itu saja dibawa kepada ahli statestik, yang tentu akan mempertimbangkan semua aspek-aspek lain yang terkait kedalamnya, simililaritasnya dengan tradisi bangsa Israel kuno dengan bukti autentik tertulis dalam Alkitab, informasi sejarah sekuler, tradisi Semitik yang ada hingga sekarang, serta kesamaan tradisi itu pada suku Batak setelah kurun waktu kurang lebih 3000 tahun, angka perbandingan untuk mengatakan bahwa suku Batak bukan keturunan Israel mungkin 1 : 1,000,000 bahkan bisa jadi lebih.

            Barangkali ada diantara saudara-saudara yang dapat menambahkan.

            Sekian dulu.

            Sumber: W. Simanjuntak.

            December 01 2008
            CommentsLike
            • Rekson Simanjuntak,M.17

              Horas,
              Pemikiran seperti yang disampaikan oleh Oppung Gordon ini perlu di bahas dan didiskusikan dikalangan Generasi Muda Batak. Sudah saatnya dibuat satu konsep pimikiran untuk juga dibahas para orangtua yang sudah dan akan melakukan pesta baik di bonapasogit maupun di Parserahan. Ironisnya sekarang ini sebagai pengalaman saya mengikuti dan menghadiri pesta khususnya pernikahan orang kita sungguh sudah membosankan, kalau kita mau pergi ke pesta dan kita sebagai undangan biasa lebih baik datang jam 3 sore dan makan dulu dari rumah, kalau tidak, tahankan lapar dan bosan. Karena tunggu dulu selesai manortori mulai buha gondang, gondang hasuhuton, marpaniaran, manortor boru/bere, hula-hula, sampai ke pangalapan boru(parboru) yang belum resmi dibayar hutang(adat) 100 % oleh pihak paranak. Saya berharap saudaraku dimanapun berada merumuskan suatu konsep bagaimana melakukan suatu acara pesta yang lebih sederhana dan bermakna tanpa meninggalkan nilai-nilai hakiki dari adat sijolojolo tubu. Benar umpasa mengatakan: Oppu raja ijolo, martungkot sialagundi, pinungka ni parjolo sipadimundimunon(disempurnakan, bukan dihilangkan) ni parpudi tidak semua ditelan habis diikuti oleh kita kita.
              Trims, Horas Rekson Simanjuntak,M.17 Jl.Tarutung I No.31 Kom.GMI Hilang Balige Tobasa HP.081361064100, reksim@yahoo.co.id

              November 28 2008
              CommentsLike
              • Itha Sitanggang

                Bener buangettttttttt kalo pesta batak itu identik dengan buang uang yg banyak…
                Gemana kaya gue,udah org biasa2 dapet org biasa2 tapi mentok mau nikah…Secara gaji juga gak berlebihan.
                Bingung utk cengkunek ini itu…
                Cape dech…
                Oh God Plz help…

                October 31 2008
                CommentsLike
                • rongit

                  Benar bang, jaman sekarang karna gengsi orang tua yang jadi korban adalah anaknya, tanpa sadar karna orang2 batak bikin pesta yang Wah membuat kita para naposo merasa sangat takut untuk menikah lantaran karna biaya bukan karna rezekinya yang pas-pasan.

                  October 30 2008
                  CommentsLike

                  • Saudara Ricat Gordon S, Jangan lah terobsesi dengan adat yang anda ikuti di Jakarta ini. ada kata-kata orang tua “Apporik marpipit, Onggang marbabang” “Gabedo parboli na otik, gabe nang par boli na godang” artinya, sesungguhnya bukan karena pesta meriah makanya gabe. Di Jakarta sudah sering saya urus adat pernikahan di rumah, atau dihalaman rumahnya dengan biaya 10 jt rupiah, baru-baru ini. Kalau terjadi seperti yang Ricat katakan, maka mereka adalah orang yang tinggi gensinya. Gengsi melihat teman koleganya yang bikin pesta aduhai, sehingga dia terobsesi untuk melaksanakan pernikahan anaknya dengan semeriah mungkin walau dengan ngutang sana sini. Bagi orang Batak yang bijak, hal tersebut sebetulnya tidak perlu terjadi, sebab dia harus memikirkan setelah adat pernikahan, anak dan parumaennya mau tinggal dimana? Apa salahnya kalau orang tua tersebut punya uang lalu sebelum adat pernikahan menyiapkan rumah buat anaknya pengantin? Misalkan memberikan DP BTN lalu cicilan diserahkan kepengantin? Pesta adat sangat fleksibel. Tergantung kepada mereka dua belah pihak yang akan melaksanakannya. Pesta adat perkawinan apabila ruhut-ruhut paradaton terpenuhi. Kalau adat perkawinan itu dilaksanakan dirumah maka yang harus dilakukan adalah jambar tu ruhut-ruhut ni paradaton, terpenuhi, itu sudah cukup. Soal tugu, tambak atau kuburan mewah di kampung kita, itu adalah pelampiasan emosi setelah dia kaya tidak pernah membuat orang tuanya senang dengan kekayaannya. Kelemahan orang Batak adalah seperti yang terjadi di lapo tuak dan bernyanyi …….napuran sangka baba pe inang so tartongoshon…..,pada hal di mejanya berkrat bier diminum bersama temannya. sehingga begitu orang tuanya meninggal emosionalnya meluap dengan kekayaan yang demikian dia bangun kuburan orang tuanya lebih mewah dari rumahnya sendiri,pada hal adeknya masih ada yang hidup dibawah garis kemiskinan. Memang sangat ironis.

                    October 30 2008
                    CommentsLike
                    • Herbert F. Simanjuntak

                      Sory bg, baru bisa kasi comment skrang. maklumlah slama ini lagi sibuk ngurusun pesta kk di Sibolga.
                      Bagus juga tuh artikel abg, apalagi tentang istilah MARTABE itu.aku setuju bgt.

                      oc deh, ditunggu artikel nya yang lain ya bg.

                      From : Herbert F. Simanjuntak
                      Mardaud, 16 medan.

                      August 26 2008
                      CommentsLike


                      Recently Commented