Periksa Kesehatan, Minimalisasi Kesalahan Berobat

0
347

Pemeriksaan kesehatan biasanya diawali oleh pemeriksaan laboratorium. Selanjutnya, hasil pemeriksaan laboratorium, menjadi dasar dokter untuk memastikan diagnosa penyakit, untuk menetapkan perlakuan pengobatan selanjutnya. Karena begitu pentingnya pemeriksaan laboratorium, kalau ada kesalahan sedikit saja pada pemeriksaan awal ini, bisa dibayangkan kesalahan-kesalahan yang akan terjadi selanjutnya, dan akibatnya yang sangat fatal. Dan, tanpa pemeriksaan laboratorium (termasuk foto), tentu pemeriksaan kesehatan akan sangat terbatas. Dengan kata lain, pemeriksaan laboratorium,bisa menghindari keterbatasan diagnosa manual/tradisional (palpasi, steteoskop dan pengakuan pasien).

Kesalahan pemeriksaan kesehatan di laboratorium, bisa juga terjadi karena kesalahan alat (instrument error) dan kesalahan manusia (human error). Karena itu ada beberapa faktor yang sangat penting, yang mempengaruhi hasil pemeriksaan, yaitu :

  • Peralatan yang digunakan harus baik
  • Metode pemeriksaan yang digunakan harus memenuhi kriteria diagnosa dini
  • Reagensia atau bahan kimia yang dipakai untuk menganalisa harus yang bermutu
  • Analis yang mengerjakan harus profesional dan bertanggung jawab
  • Manajemen laboratorium juga harus baik.
  • Tetapi bukan tidak mungkin ketika semua faktor tersebut sudah dipenuhi, hasil maksimal yang kita harapkan belum didapat. Ada satu masalah tertentu yaitu PERSIAPAN PASIEN. Sampai saat ini sangat mengusik, dan efeknya sangat buruk bagi semua pihak, dan kami sebagai analis, sangat sering menjadi kambing hitam, tanpa peduli apa yang terjadi sebenarnya.

    Ada beberapa pemeriksaan laboratorium yang memang meng”haruskan” pasien berpuasa terlebih dahulu sebelum proses pengambilan darah dilakukan, ini dikarenakan pada pemeriksaan tertentu “proses puasa” tersebut sangat berpengaruh pada hasil yang kita butuhkan, dan selama waktu yang ditentukan, tubuh harus dihindarkan dari zat-zat yang akan mengganggu hasil pemeriksaan (tergantung pada pemeriksaan apa yang akan dilakukan).

    Tata cara persiapan puasa secara umum :

    Puasa selama 10-12 jam, sejak malam hari hingga waktu pengambilan darah/bahan pemeriksaan lain.

    Selama puasa :
    a. Tidak boleh makan apapun termasuk permen karet
    b. Tidak minum teh, kopi, susu, dan lain-lain walaupun tanpa gula
    c. Minum air putih tetap diperbolehkan terutama bila diperlukan pengambilan
    bahan pemeriksaan dari urin
    d. Tidak merokok (jadi bukan cuma tidak boleh makan)
    e. Jangan berpuasa lebih dari 14 jam

    Berhenti minum obat sejak 4-24 jam sebelum pengambilan darah atau 48-72 jam sebelum penampungan urin, kecuali dokter tetap menganjurkan minum obat atau kondisi kesehatan tidak memungkinkan. (dan hal ini harus diinformasikan pada analis yang bertugas).

    Tidak melakukan aktivitas fisik yang berat (olahraga berat) sejak 12 jam sebelum pengambilan darah.

    Nah, hal inilah yang sangat sering dilanggar dan tidak dilakukan dengan benar oleh pasien.Tidak terlalu jelas kenapa mereka melakukan itu. Ada beberapa hal yang mungkin menjadi alasan mengapa mereka melakukan hal tersebut :

    Pasien memang tidak punya pengetahuan yang benar tentang puasa sebelum pengambilan darah.

    Pasien datang untuk konsultasi pada dokter, lalu dokter merujuk untuk melakukan pemeriksaan laboratorium, tentu saja pasien tidak punya persiapan puasa sebelumnya. Dengan alasan malas bolak-balik dan menunda pemeriksaan keesokan hari, sangat tidak jarang pasien berbohong pada analis, bahwa mereka sudah berpuasa, sebelumnya.

    Jelas ini sangat amat merugikan bagi pasien sendiri, tentu saja hasil yang diharapkan sangat tidak sesuai. Akibatnya, dokter salah mendiagnosa. Selanjutnya, penanganan yang dilakukan tentu saja tidak tepat sasaran. Yang lebih memusingkan kepala, ketika pasien mengeluh, kenapa penanganan yang dilakukan dokter tidak ada hasilnya? Analis dan instansi laboratoriumlah yang sering dipersalahkan. Alat tidak baguslah. Reagensia yang salahlah, prosedur kerja yang mungkin tidak tepat dan tidak telitilah. Padahal, kesalahan ini berasal dari si pasien sendiri.

    Ditambah lagi saat ini, tidak jarang sang dokter dikarenakan ingin penanganan expres, takut kehilangan pasien, pengakuan pasien tidak puasa dianggap bukan masalah lagi, dan pemeriksaan laboratorium “dipaksakan” juga. Ini yang membuat prosedur yang HARUS dan WAJIB dilakukan, jadi bisa di TOLERANSI. Tidak jarang pasien sekarang dengan gampangnya ikut-ikutan ngomong “kata dokternya aja boleh kok”.

    Bagi rumah sakit milik pemerintah, “keterpaksaan” ini sering dilaksanakan. Ya, karena memang reagensia, alat, itu milik pemerintah, para tenaga medis juga digaji oleh pemerintah, bukan mengatakan nilai kemanusiaan jadi menciut disini, tapi memang begitulah kenyataannya, ongkos yang dikeluarkan pasien biasanya ditanggung pemerintah, jadi at least rumah sakit milik pemerintah tidak akan sepi.

    Beda dengan lembaga milik swasta. Semua swadaya sendiri, biaya perusahaan sendiri, kualitas sangat diutamakan, karena persaingan antar perusahaan lain sangat kuat, jelas kualitas itu jadi nomor satu. Jadi, ketika prosedur tidak ditepati, maka permintaan pemeriksaan tidak akan dilaksanakan. (Maaf ya bukan bermaksud membandingkan, sekedar membuka mata, bila ingin yang terbaik, harus lakukan juga donk yang seharusnya.)

    Hmm, Pak Dokter, Bu Dokter, tolong ya, ke depan, dukung kerja kami para analis ini. Kita kan mitra kerja medis, punya keterkaitan kerja yang erat, jadi harus saling mendukung juga. Paling tidak, untuk hal kecil seperti “puasa” sebelum pengambilan darah, bila semua sudah taat dan diberi pengetahuan yang cukup, kita bisa memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan seperti ini penanganan kerja para dokter juga pasti tepat sasaran, dan pasien tidak bakal larilah (dokter yang paling reccomended, kan dokter yang paling banyak nyembuhin pasien).

    Terus, buat pasien-pasien tercinta, mau kesembuhan kan yang dinginkan? Jadi, jangan ngibul atau berbohong lagi. Tidak ada salahnya agak capek sedikit, untuk dapatkan hasil yang maksimal. Daripada hasil expres tapi tidak kunjung sembuh, lebih capek lagi, harus bolak-balik berobat.

    Sebagai analis ketika kerja kami, didukung oleh mitra kerja dan pasien, kami pasti bisa bekerja dengan lebih baik. Ini juga buat kepentingan kita bersama. Ketika, kerjasama dapat ditingkatkan dari hal yang paling kecil, berarti kita sudah lakukan paling tidak tujuan INDONESIA SEHAT 2010. Ada kemungkinan untuk mewujudkannya, bukan hanya sebatas slogan.

    Almerina Yeni Simanjuntak, AMAK

    NO COMMENTS

    LEAVE A REPLY