Kapan Kau Menikah, Inang???

25
783

Tiap Mei aku Ulang tahun. Yah, sebenarnya seneng banget, tapi kadangkala tersadar, ketika ada orang yang mengingatkan dan bertanya. Setiap pertanyaan berkaitan dengan pernikahan, saya rasakan sebuah tamparan. Tamparan persis di pipi kiri atau kanan. Kadang tersadar, target ku buat NIKAH MUDA makin pupus. Hehehe! :) Kalau orang-orang punya cita-cita dengan masa depannya berupa karier apa yang akan diraih, aku beda, aku pengen punya karier jadi ibu rumah tangga, yang saya anggap sebagai bentuk pekerjaan dan karier yang lebih mulia. Hihiihii! :)

Mendekati waktu wisudaku, pertanyaan itu semakin gencar hinggap di telingaku. Di mulai dari pertanyaan ang mudah, “Siapa Pacarmu Sekarang? ”, “Udah bisalah, kan udah mau wisuda?” dan banyak pertanyaan bentuk lain yang masih kategori, seperti basa-basi. Dalam hati, membathin, “Pentingkah?”

Sabarlah, emangnya aku nggak punya keinginan? Mati rasa? Kalau saja mereka tahu, bahwa pernah ada terbersit cita-cita nikah muda? Tapi, untuk punya pacar saja, menurutku butuh proses yang rumit, panjang dan berbelit, sebelit benang yang kadung kusut. Konon lagi nikah? Is not so simple.

Belakangan setelah aku dapat kerja, padahal baru, belum lama-lama amat, gaji belum seberapa, posisi di kantor masih “kuli kasar”, pertanyaan semakin menunjukkan peningkatan kualitas dan intensitas. Dan, jawabannya juga semakin sulit dan kompleks!

“Kapan kau menikah boru hasian???”
“Janganlah terlalu milih-milih!!!”
“Tak usah lama-lama lagi!!!”
“Jangan hanya pekerjaanmu yang kau pikirikan. Duit dan harta tak dibawa mati !!!”

Bah! Sakit otak kurasa. Sepertinya tak ada lagi topik pembicaraan yang lain untuk anak gadis selain kalimat seperti itu ya? Dan, mungkin bukan cuma aku saja, ini udah jadi makanan sehari-hari banyak orang (yang nasib nya sama kayak aku, belum nemu si Rongkap ni Tondi).

“Kapan kau menikah boru hasian???”
Mana aku tau among, inong, bapa uda, inang tua, amangboru (asal lah tak dibilangnya, sama anakku aja! Amang tahe, buatku marpariban bukan pilihan. Nggak tahu kenapa! Maaf ya ibanku, hehe). Kan, nggak ada yang salah kalau aku masih mau sendiri. Memang kalau aku masih sendirian itu aib? Terus, kalau aku masih sendiri bakal nambah kasus perceraian antar artis-artis sekarang? Hehehe, nggak kan?

“Janganlah terlalu milih-milih!!!”
Mak! Milih itu penting! Dulu kalau nggak mikir aku punya cita-cita nikah muda, udah pasti aku kuliah di kedokteran sekarang. Bukannya seorang analis, dengan program D3, biar aku bisa cepat dapat kerja, karena buatku, wanita itu tugas dan pengabdiannya sesuai dengan kodratnya di dapur, jadi ibu rumah tangga, bukan melawan emansipasi wanita, tp jadi ibu rumah tangga itu utama, karier juga bisa jadi pendamping bukan pokok (ini terinspirasi dari omak ku di rumah). Tapi kalau sekarang, cita-citaku kawin muda nggak kesampaian? Ya, Dia-lah yang tau…

Kalau nanti aku memutuskan untuk menikah dengan laki-laki (bukan sesama jenis) itu kan artinya aku sudah melakukan suatu proses memilih (maaf klo agak ngeri contohnya, tapi bukan nggak banyak orang di luar sana memilih kebalikannya). Kalau nanti aku memutuskan untuk menikah dengan laki-laki Batak dan bukan laki-laki suku lain, berarti aku juga sudah buat suatu pilihan, bukan?

Kalau nanti kuputuskan, untuk menikah dengan laki-laki yang mengakui Tuhan yang sama denganku dan bukan yang beda kepercayaan, berarti itu juga pilihan kan? Intinya milih itu awal dari sebuah keputusan! Itu buatku…

Rada-rada heran, bingung kalau aku tanya teman-teman, kenapa pada hoby bikin pertandingan nikah cepat-cepatan? Alasannya? Karena umurlah. Sudah didesak orang tua yang pengen punya cuculah. Ada juga yang mulai malu karena anak gadisnya nggak laku-laku. Takut dibilang perawan tua nanti. Takut sama semua alasan itu? Hallooo… Kita yang bakal ngejalanin, kok. Orang tua hanya akan mengantar kita ke gerbang pernikahan selanjutnya, taon sandiri!

Setiap perbedaan yang ada di diriku dan dirinya itu adalah satu hal paling penting untuk jadi bahan pertimbangan. Apa udah benar-benar yakin. Kamu itu Soulmate–melengkapi. Sama seperti perumpaman tulang rusuk. Apa aku sudah bisa menerima sifat atau karakter paling buruk yang sudah ada dan mendarah daging berpuluh tahun di dalam dirinya? Apa itu bisa hilang kayak sulap kalau nanti sudah dalam status menikah?

Kalau, menikah cuma gara-gara umur, menurutku itu bukan alasan yang baik. Tidak ada satu manusiapun yang bisa kasih jaminan atau hak paten, umur berapa kita akan mendapatkan kebahagian dalam pernikahan. Belum tentu umur 25 tahun untuk perempuan dan umur 30 tahun untuk laki-laki, sebagai usia yang tepat. Itu kan cuma pengamatan pemerintah, memang yang nikah pemerintah? Nggak, kan?

Menurutku ya, ketika emosi seseorang sudah stabil, kedewasaan dan temperamen sudah mulai terbentuk matang, dan persiapan materi udah cukup memadai, itu baru udah siap nikah. Jadi, bukan umur. Bisa saja orang di umur 21 tahun, udah dapatkan itu semua. Kita kan nggak tahu pengalaman hidup dan rejeki seseorang. Tapi, kalau kembali ke pengamatan, 30 tahunanlah usia dimana kita lebih sering melihat semua itu. Jadi bukan usia alasannya. Bukan juga pertimbangan, karena orang tua. Sebab, kita yang akan menjalani.

“Tak usah lama-lama lagi!!!”

Kita kan manusia. Punya naluri manusia, bukan hewan! Liat lawan jenis, pokoknya hajar. Tak peduli apa jadinya di belakang hari. Manusia, memiliki pribadi yang pasti berbeda (kembar aja pasti ada bedanya, apalagi lawan jenis, pasti bedalah). Pasti butuh waktu untuk saling tahu dan mengenal satu sama lain. Benar-benar tahu dan mengerti serta bisa menerima kelebihan, kekurangan pasangan. Nggak maulah mengambil keputusan kilat hanya karena hasrat sesaaat terus nyesal seumur hidup. Nggak ada salahnya habiskan waktu lebih lama buat pendekatan, pacaran, si waktu nggak bakalan marah-marah deh (ini kecuali yang udah nggak tahan dikejar target tertentu atau desakan usia).

“Jangan hanya pekerjaanmu yang kau pikirikan. Duit dan harta tak dibawa mati !!!”

Aku tidak terlalu mikirin kerjaan terus kok. Yang kupikirkan gajinya, hihihihi. Nikah itu butuh duit. Duit kan nggak bisa dipetik dari pohon, ya harus dikumpulinlah dari gaji… Lagian makan, bayar rekening listrik, air, beli susu anak, nyekolahin anak apa bisa pake selembar surat cinta? Nggak kan?

Jadi Kapan Mau Nikah?

Aku pasti pengen banget nikah, Really wait that moment. Tapi dengan alasan yang tepat…
Karena aku sadar kenapa dulu TUHAN menciptakan Adam itu diberi teman Hawa. Hidup ini pada waktunya akan terasa berat untuk dijalani sendiri, aku akan nikah karena aku sadar aku sangat butuh seseorang untuk saling mendukung dalam segala bentuk sudut pandang. Baik material maupun spiritual. Aku akan nikah karena aku kan butuh kasih sayang dan dia (pasanganku) juga butuh aku sayangi kan?

Aku akan nikah karena aku juga udah siap dengan semua hal terburuk yang akan aku alami dengan pasanganku, baik dalam hal penyesuaian dan toleransi atas semua karakter dan sifat pasanganku (begitu juga sebaliknya). Siap menghadapi masalah-masalah hidup baru yang akan datang, bukan cuma dari luar juga dari dalam (eh, tau ga, hubungan dengan mertua-menantu salah satu hal yang aku pikirin, ini masalah klasik dalam berumah tangga kayaknya ya, karena itu aku sering iri sama Adam dan Hawa, mungkin cuma mereka satu-satunya yang nggak berhadapan dengan masalah ini, hihi).

Jadi, Aku tidak tahu kalau ditanya kapan mau menikah? Bisa cepat, bisa lama. Bisa bulan depan, bisa tahun depan, tergantung Dia sang pencipta segalanya. Termasuk “Rongkap”. Jadi, nggak usah ditanya-tanyalagi ya. Kalau sudah waktunya pasti ada pengumuman resmi. Kan capek nanya, tapi nggak dapat jawab. Dan, Aku capek selalu ditanyain pertanyaan yang sama. Membosankan. Jawabnya, hanya Dia yang tahu. Sebab, segala sesuatu ada, waktunya. Segala sesuatu, indah pada waktunya.

By : almeryna boru juntak, hutabulu, tumonggo tua, bursok pati no. 15.

25 COMMENTS

  1. pertanyaan dan pernyataan yg sama yg paling sering ku dengar setaun terakhir ini…

    cape de… 😀

  2. “Kapan kau menikah boru hasian???”
    “Janganlah terlalu milih-milih!!!”
    “Tak usah lama-lama lagi!!!”
    “Jangan hanya pekerjaanmu yang kau pikirikan.

    Sudah dibahas dari sisi si boru. Supaya lengkap, ya dibahas juga dari sisi penanya, yang biasanya ortu.
    Kenapa sih Inong sampai nanya-nanya gitu. Kok Among bilang jangan terlalu milih-milih.

    Bah, para ortu juga kan mesti ada sesuatu alasan .

  3. setuju !!!!!!!!!!!!!!!!!

    ditunggu ya among, inong, bapa uda, inang tua, amang boru (soalnya itu yg paling sering nanya, hihi)

  4. Ditanya soal kapan menikah, oleh “sekeliling” sebenarnya merupakan bentuk atensi dan kalau boleh dikatakan sudah mejadi bumbu pembicaraan yang pas khusus bagi orang (laki atau perempuan) yang sudah menginjak usia dewasa. Secara bertahap, pertanyaan ini akan disikapi semakin menjemukan seiring pertambahan usia. Semakin tua usia seseorang, maka pertanyaan terntang menikah semakin sensitif.

    Ketika udah menikah, tentu pertanyaan seperti ini tidak mungkin lagi dilontarkan, tetapi anehnya banyak laki-laki (yang sudah beristri bahkan beranak pinak) mengharapkan pertanyaan ini dialamatkan padannya. Amang… Angka bandit lapa-lapa on. :)

  5. Bou mau nikah ya ???
    Kok takut di tanyaiin kapan menikah ?
    Jawab aja !
    Mau nikah sama siapa ,
    Wong pacar aja ngak punya alias jomblo.
    Yang pasti bou sedang milih milih khan !
    Jangan lupa bou kalo mau nikah undang angel ya
    Untuk nyanyi…

  6. pasti lah, hasian, angel yang nyanyi teruz pun, 1 album ya?
    makanya bantu seleksi calon amangboru itu, blm ada lampu hijo dr opung, sm uda pom pom, ito mayor, sm eda2 tercinta, jd masih belum, nanti klo udh ada angel pst dapat info, OK? Siapin aja lagunya mulai sekarang ya?
    Baik2 ya di sidikalang, bou kangen angel,,,,
    GOD BLESS,,,,,

  7. Setuju……………….

    Sepertinya ngak ada lagi topik pembicaraan yg lain.
    Kawin muda .. Salah // Kawin tua .. juga salah.
    Yg namanya SOULMATE kan ngak tau kapan datangnya.
    Hehehe, horas ma hu hita saluhutna..

  8. kapan menikah??????
    pertanyaan itulah skrg yg sll saya terima.
    soalnya, itu jg yg sdg aku alami skrg ini.
    bs di blg 2 thn blkgan ini. heeeheee. lama jg bertahan ya.
    apalg kl dlm keluarga itu, tinggal kita sendiri yg belum nikah,
    aduh benar2 pusing. stiap nlpn ama ortu (boru adigan pe ho muli?) ktm ama keluarga “Ivana kpn nikahnya?”
    yg ditanya itu2 aja.
    pusiiiing.!!!!!!!!
    heeehee……..

  9. Pertanyaan yang juga sering kudengar….Bosan kadang jadinya…
    Kayaknya umurku udah 40 tahun aja, sehingga di todong supaya menikah.. Bah, nikmati dulu masa muda dan berkarya. Aku bayangkan, udah menikah harus urus suami dan anak, juga pekerjaan sendiri (prinsip yang satu ini ga boleh ditawar, biar menikah harus bisa berkarir)… Kapan lagi aku bisa melakukan hobi ku untuk melanglang buana ke tempat mana aja yang mau kukunjungi ??? (rasa egois masih kuat dalam diriku)
    Sekarang, aku sedang giat-giatnya “memaksa” kakak ku untuk secepatnya menikah, supaya sedikit aman dulu… Kan alasanku nanti, “kakak baru nikah, masa aku langsung nyusul.. Kasih waktu dulu sama keluarga ngumpulin kado pernikahan ku nanti, hahahahah”
    Seandainya orang tua dan handai taulan tahu isi hatiku, sebenarnya aku pun pengen menikah tapi… NANTI….

  10. perkenalkan:
    Ahu si Enta boru juntak,,,umur (sensor: tiiiit), sitombuk no. 16. cukup ya perkenalannya, bagi yang berminat via japri aja;)

    kutipan: “Menurutku ya, ketika emosi seseorang sudah stabil, kedewasaan dan temperamen sudah mulai terbentuk matang, dan persiapan materi udah cukup memadai, itu baru udah siap nikah. Jadi, bukan umur.”

    wah,,,susah juga ya kriteria siap nikah,,,pake faktor cukup materi lagi,,,pantesan aku ga nikah2,,,brati emang blum siap:)

    mengenai indah pada waktunya, itu benar sekali, tapi mnurutku ada usaha dari kita ndiri donks. masa berdoa aja nunggu sang pangeran ngetok pintu trus ngajak merit and happy ending, kan ga,,,nah apa upaya2 dari kita selain doa banyak2??? diantaranya (terutama untuk wanita) adalah: perluas pergaulan (masuk naposo greja adalah upaya yang paling gampang, hihihi), pandai2 untuk menarik perhatian pria, tapi ingat jangan murahan!!! (setidaknya buat para pria itu melirik kita, ups!!), trus jangan ketawa kenceng2 (sedikit jaim lah, tapi jangan kebanyakan, nah ini yang sering gagal!), deelel,,,wadooow teori si udah lulus, prakteknya yang NOL, hahaha,,,, Horas!

  11. horas…
    salam kenal selalu… mantap kali topik ini bah….
    sekalian info nih..aku juga lagi jomlo..siapa yang mau sama aku bah… siap nikah nih…hehehehehehehe

  12. topik yang seru juga ternyata, ayo comment teruz,,,, hhihihihi (malah jadi pada curhat yach, seepp, topik ini juga curahan hati kok, huahuahua)

  13. kapan iy?
    lom ada yg mau seh…
    makanya kenalin dunk..ama kita
    sapa tau jodoh

    hehehehe….

    tks

  14. Wak topiknya seru juga…
    Kapan kau menikah inang………??? inilah Pertanyaan yang buat kepala pusing……..rasanya mau pecah… dijawab salah,ga di jawab juga salah, jadi kayak makan buah simalakama,kalau di jawab,idia do hamlet mu,kalau ga di jawab,dirippu naung mate rokkap…:D hahahaaaaaaaaa capedeehhhhhhhh

  15. Dear all,

    Topik ini memang termasuk di pertanyaan yg ga ada abis nya itu (setelah kapan nikah, kapan punya anak, jgn di tunda2 dst padahal ga nunda jg siy hehehehe), memang ortu & keluarga mengingatkan si boru hasian supaya jgn terlena dengan karir tapi tanpa mereka sadari si boru hasian begah juga ditanyain ini terus dan akhirnya setiap ada pertemuan atau pesta keluarga jadi males menghadiri atau siapin mental dulu karena bakal menghadapi pertanyaan itu dan bagaimana menjawab diplomatisnya hehehe…

    Iya jadi curhat ya… kemaren siy aku nanya mama ku kenapa siy pertanyaan itu2 lagi dan jawaban mama ku dari segi kesehatan, wanita yg menikah di atas 30 rata2 bisa punya anak 1 sampai 2 orang atau bahkan susah punya anak karena ada beberapa saudara ku juga jadi susah punya anak, salah satu nya ada yg udah nikah 4 tahun waktu nikah umur nya 32 tahun, udah ke dokter mana2 pun disambangin, masih tetap belum hamil, trus ya klo ngelahirin rata2 caesar gitu…

    Padahal si boru hasian juga ga mau lah itu terjadi tapi macam mana lah klo blon ketemu rokkap nya itu hehehehehe…. selalu wrong man in the right place ;p

    Horas,

    Borjun no. 14

  16. enak dianya kapan menikah, aku sakit kalau ditanya kalau soal bicara pernikahan, soalanya aku trauma, ga jadi nikah gara2 ga punya uang buat pesta pernikahan adat batak yang begitu ruet dan mahal. jadi aku beranggapan kalau setiap orng batak harus punya banyak uang biar bisa nikah. si boru kabur……..

  17. enak masi ditanya kapan nikah, aku gabakalan nikah, habis ga punya uang buat nikahin boru batak yang mahal banat harganya. tak sanggup aku belinya, lalu ditinggal awak…………………

  18. Wah jangan putus asa gitu donk,masa karna boru batak mahal harganya jadi ga nikah nikah……….
    kan masih ada boru sileban naso marmarga,,,,,,,,,hahahahahahaaaaaaaa

  19. Kagak ngarti dah…
    Dijalani ajah,kalo jadi yah jodoh kalo kagak berarti ga jodoh.
    Hehehe….
    Lieur euy…

  20. aku juga pernah ngasih bulletin sejenis (tapi gak disini)
    judulnya : ‘don’t push me to get marry soon’
    isi nya kurang lebih sama lah dek ,,,

    yup,
    aku juga mendapat banyak kritikan dari tulisan seperti ini
    intinya, keep on going of what you believe
    and also involve God in it

    manusia yang berencana
    Tuhan yang menentukan
    gitu aja kok repottttt ???

  21. kebanyakan memang kita akan selalu ditanyain seperti itu..
    dan ortu ingin melihat kita menikah kali ya atau ingin melepas tanggung jawab!
    karena saking jengkelnya dengan pertanyaan seperti itu, pernah aku jawab demikian ” Kalau aku nggak menikah memangnya kenapa? “.
    setelah itu mulailah berkurang pertanyaan yang sama..
    Bosan memang ya di tanyain begitu. Kalau bisa kita yang nentuin mungkin udah dari dulu kali yah?
    so Biarkan semuanya terjadi indah pada waktunya…
    Karena tidak ada kuali yang diturunkan Tuhan tanpa tutup.
    Salam hangat dari Junita buat semuanya yah..

  22. Kita harus memahami budaya Batak tentang Nama. Ada tiga nama yang hendaknya disandang seseorang dengan lengkap. Baru seorang orang tua Batak senang dalam menghadapi kematiannya. nama tersebut adalah nama diwaktu kecil hingga dewasa. Nama setelah punya Anak (Amani…) dan Nama ketiga adalah Nama setelah tua (Oppungni….)Nama ketiga inilah yang paling tinggi dan tidak adalagi lebih tinggi dari nama Oppungni. Kaitan nama ketiga ini mempengaruhi dua peristiwa penting dalam keluarga tersebut. yaitu
    1. Anak ke dua dan ketiga dst akan terkendala dalam menentukan langkah penikahan selanjutnya.
    2. Apabila si orang tua meninggal maka acara adatnya menjadi acara adat kematian yang tidak diinginkan oleh orang Batak. Jadi generasi muda batak yang diperntauan atau lahir diperantauan jangan lah menjadi benci kepada yang mengingatkan anda untuk menikah.Sebab itu adalah kepedulian keluarga terhadap orang tua kita maupun terhadap diri kita sendiri dan terhadap keluarga orang tua kita. Masih panjang dan luas yang harus di jelaskan di sini kenapa harus demikian. Dapat kita lanjutkan kemudian.

LEAVE A REPLY