Bias dan Penyimpangan Ulaon Adat Batak

11
1230

Bagian Pertama: Adat Batak dan Pembiasannya
1. Adat
Adat yang di pakai para tetua orang Batak dahulu adalah ketentuan-ketentuan kehidupan sosial, yang di buat sebagai hasil kesepakatan bersama dari masyarakat, berdasarkan situasi dan kondisi, yang digunakan sebagai pegangan hidupp dan pengikat hubungan sosial masyarakat sehari-hari, oleh sekelompok masyarakat Batak pada suatu wilayah tertentu, sehinggga diperoleh suatu tatanan hubungan sosial masyarakat yang erat, teratur, sinegis dan memiliki ketahanan.

Bila adat Batak yang di gunakan para tetua orang Batak tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama berdasarkan situasi dan kondisi di suatu wilayah, maka akan diperoleh tatanan adat Batak yang berbeda antar wilayah tertentu, sesuai kondisi dan situasinya, atau dengan perkataan lain: penerapan adat yang dipergunakan pada suatu wilayah tertentu, dapat berbeda dengan wilayah lain yang berbeda situasi dan kondisinya. Suatu wilayah tertentu dengan tatanan atau penerapan aturan adat yang tertentu disebut sebagai wilayah adat atau suatu bius.

Dengan menetapkan suatu adat sebagai pedoman hidup dan memanfaatkannya dalam kehidupan bersama sehari-hari, maka diharapkan akan dapat di peroleh suatu poladari tatanan kearifan hidup tradisional yang adaftable bari seluruh warga populasi masyarakat di suatu wilayah atau suatu bius tertentu, baik di dalam wilayah bius itu sendiri ataupun di luar bius.

Bentuk adat yang digunakan para tetua orang Batak seperti yang dibicarakan terdahulu adalah format tatanan adat Bataka berdasarkan sifat kwalitatif, yang disebut dengan adat nataradat, Seperti kita ketahuai bahwa format adat Batak berdasarkan sifat kwalitatif dibagi atas tiga bagian utama yaitu: Adat inti, adat namaradat, serta adat naniardathon.

Jenis adat sesuai sifat kwalitatif

Pase

Sifat

Keterangan

Adat-Inti

I

· Normatif

· Sacral

· Harga mati

Merupakan format adat yang paling awal

Adat Nataradat

II

· Pragmatis

· Fleksibel

· Memasukkan unsur lain

Disesuaikan dengan adat Inti

Adat-Naniadathon

III

Adaptable dengan budaya atau adat luar (exotic)

Bertentangan adan merusak adat inti

Perkembangan adat Batak berdasarkan sifat kwalitatif yaitu dari adat inti ke adat-nataradat dan selanjutnya ke adat-naniadathon, adalah mengikuti pola perubahan tatanan kehidupan masyarakat Batak baik di wilayah Bona ni Pasogit maupun di daerah perantauan. Perubahan tatanan kehidupan masyarakat Batak di Tapanuli, juga diakibatkan oleh masuknya agama baru (Kristen), serta campur tangan yang tegas dari pemerintah penjajah Belanda dahulu.

Dahulu, sebelum campur tangan pemerintah penjajah Belanda terhadap pola dan tatanan hidup masyarakat Batak penerapan adat Batak dalam suatu wilayah (bius) dipimpin dan dibina oleh seorang Parbaringin, yang juga sekaligus sebgai pimpinan agama tradisionil Batak. Dengan masuknya agama Kristen di daerah Tapanuli, serta akibat campur tangan penjabat pemerintah penjajah Belanda (Controler) yang membatasi pelaksanaann upacara adat Batak, maka pengaruh dan wibawa Parbaringin semakin berkurang.

Di sisi lain pengaruh percampuran penduduk dari beberapa bius atau kelompok marga yang berbedan di daerah baru, yaitu di daerah perantauan ataupun daerah panombangan, yang semakin lama semakin besar populasinya, pada akhirnya memaksa mereka menyepakati penerapan adat baru. Sebagai akibat peran dari parbaringin dan aturan penerapan adat yang dibinanya menjadi sangat lemah.

Pada masa belakangan ini, peran Parbaringin dalam upacara adat Batak diambil alih oleh seorang Raja Parhata, seperti: Parsinabung ataupun Raja Tinonggo. Dalam prakteknya pada setiap kegiatan ulaon adat Batak, Raja Parhata ditunjuk atau diangkat secara insidentil berdasarkan kelompok marga, bukan berdasarkan wilayah atau bius.

2. Penyimpangan Adat
Keberadaan Raja Parhata yang umumnya otodidak dan bersifat tidak terikat, member peluang pelaksanaan ulaon adat Batak menjadi menyimpang, terutama di daerah perantauan.

Perpaduan antara tiga factor, yaitu: Keberadaan dari naniadathon yang cenderung semakin mengikat, kemudian keberadaan daeri Raja Parhata yang bebas tidak terikat, serta sifat dinamis yang dimiliki orang Batak yang membuat mereka mudah beradaptasi dengan budaya luar sangat member I kemungkinan terjadinya pergeserah pada: pola hidup, norma-norma nilai, batasan perilaku, serta respon atau penerimaan terhadap budaya asing. Pada gilirannya ketiga factor itu akan menggeser sifat hidup masyarakat Batak untuk lebih pragmatis dan memiliki sifat fleksibilitas. Kondisi tersebut membuat peluang besar pada penyimpangan terhadap aturan-aturan adat.

Penyimpangan yang terjadi pada ulaon adat Batak akan maengaburkan makna ulaon adat Batak itu sendiri, serta dapat mempengaruhi bentuk persaudaraan masyarakat Batak, terutama bagi generasi muda. Generasi muda Batak sendiri diketahui sudah sejak lama mengalami peluruhan pada factor-faktor pendukung budaya Batak seperti: ketidakmampuan berbahasa Batak, tidak memahami partuturon, tidak mengetahui makna padan, dan yang sangat mengkhawatirkan adalah kurang berminat mendalami budaya adat Batak.
Beberapa penyimpangan yang sangat serius dalam ulaon adat Batak adalah : adanya Raja Parhata Bayaran dan Tulang Bayaran, pada upacara adat tertentu. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Batak sudah cenderung mengorbankan makna hakiki adat dengan upaya-upaya perlakuan simbolis formalitas, dengan prinsip: ambil jalan pintas, asalkan ulaon adat (hajatan) dapat berlangsung.

Keberadaan Raja Parhata Bayaran yang cenderung meningkat terutama di kota-kota besar menunjukkan lemahnya organisasi adat pada masyarakat Batak. Seandainya terdapat lembaga adat Batak yang mengurus adat Batak, maka munculnya Raja Parhata Bayaran akan sulit terjadi.

Keberadaan tulang Bayaran yang sebenarnya bukanlah suatu masalah yang sederhana. Walaupun jalan pintas ini kelihatannya sangat praktis dan mudah dilaksanakan, akan tetapi bila kita merunut terhadap asal muasal atau penyebab sampai terjadinya Tulang Bayaran, maka akan terkuak suatu tragedy dalam hubungan sosial masyarakat Batak yaitu tidak harmonisnya antara tulang dengan bere, atau terputusnya hubungan informasi antara tulang dengan bere/ibeberenya. Dengan perkataan lain: pola hubungan antara tulang dengan bere/ibeberenya sesuai aturan adat Batak sudah tidak berjalan atau kurang diacuhkan.

Penulis: St Ir. Bezazel siagian MSi
Telah dimuat di Harian SIB Tgl 22 Juni 2008

11 COMMENTS

  1. diluar suku batak,melihat orang batak sangat akur sekali,dan kuat persaudaraanya.namun dlm kenyataan hidup jauh sekali dr itu.kelihatan sekali sangat akrab dan baik,namun kenyataanya jauh drpd itu.tdk ada sosial utk saling membantu.jd adat itu hy indah dilihat,pdhal dlm menghabiskan biaya sgt byk sekali.kenapa tdk mendahulukan membantu kel terlebih dahulu.

  2. @Patar Simanjuntak,

    Ima si patureonta nian tu joloan ni ari ate. Asa gabe boi marsiurupan bangso i. Molo olo hita mangantusi Si Sada Lulu, Si Sada Lungun dohot Si Sada Las Ni Roha, huhilala boi ma muba angka pangalaho sisongoni.

    Horas…

  3. St. Ir. B. Siagian M.Si Yth.
    Melihat perjalanan pelaksanaan adat diperantauan ini mungkin kita sama dalam pengamatan selama ini. Tetapi kesalahan siapa?
    Ada beberapa poin yang perlu kita perhatikan atau yang menjadi perhatian bagi yang bersangkutan.
    1. Seseorang yang dinobatkan menjadi raja parhata di salah satu kumpulan marga, tidak melakukan penggalian atau penelitian kenapa harus demikian. Benar apa yang dikatakan pak Siagian karena sesuatu kondisi dan situasi maka terjadi perbedaan pelaksanaan. Tetapi seorang raja parhata, harusnya melihat peristiwa yang sama tetapi perlakuan adat berbeda, harusnya seorang raja parhata mengetahui kenapa itu berbeda, bagi raja parhata minimal sebagai “basic knowledge” bagi dia Sehingga menagetahui dasar perbedaan itu. Yang paling membingungkan, keduanya berasal dari satu luat tapi berbeda dalam pelaksanaan adat,karena salah satu adalah pendatang ke luat tersebut.
    2. Seseorang Batak, tentu harus mengingat nasehat orang tuanga yang mengatakan: “Nitinggalhon ama, dapothononkon ama” ini adalah salah satu contoh. Demikian pula Tulang, seseorang harus sadar siapa dia di perantauan, sangatlah perlu mencari sisolhot dalam kategori Dalihan Na Tolu walaupun itu kenal di perantauan. Sekiranya terjadi sesuatu diperantauan duka maupun suka, tentu tidak terjadi istilah “Tulang Panoroni” dalam istilah pak Siagian “Tulang bayaran” karena memang selama ini kita sudah dekat hubungan sebagai tulang dan bere.
    3. Di sinilah kita sadari kesombongan orang batak, khususnya batak toba karena semuanya raja. seseorang berani mengatakan: “ido adat dihami unang paksa hamu hami mangulahon adat mu” pada hal berasal dari satu luat cuma beda marga. Di selatan, seseorang yang melaksanakan adat, harus mengundang raja adat dari luat asalnya (panusunan bulung) tugasnya minimal mengawasi jalannya pelaksanaan adat. sehingga siapapun dan marga apapun yang melaksanakan adat dari luat yang sama pelaksanaan adatnya harus sama. Begitu di perantauan ini. Boleh tidak mengundang asalkan bukan membawakan adat selatan. Misalnya perkawinan antara Selatan dan Toba. Yang paling nyata kitalihat dalam adat kematian, penganugrahan gelar adat. Resikanya yang mau melanggar, apapun hajatan yang akan dilakukan di kampung, tidak akan disetujui oleh raja (panusunan bulung) setempat.
    4. Pengalaman.
    Pernah suatu ketika, meninggal bere kami laki-laki marga “X” dengan meninggalkan serorang istri dan satu orang lagi anak laki-laki yang belum kawin. Oleh marga “X” diminta kepada hula-hulanya agar diberi ulos “Sappe Tua” Seorang raja adat harusnya memahami, dengan ulos sappe tua, akan membatalkan hak istrinya untuk menerima ulos passamot apabila anak bungsunya menikah. Saya sebagai tulang tentu tidak setuju siapa tau anak bungsunya manunduti oppungnya, menjadi helaku, mana mungkin saya tega tidak memberikan ulos passamot kepada ibunya. Inilah yang tidak dipahami oleh hula-hulanya sehingga menyetujui pemberian ulos sappe tua tadi.

    Satu ketika seorang ama yang kaya meninggal dengan meninggalkan beberapa orang anaknya belum menikah, dan dan ibunya masih hidup,berada disamping mayat bersama parumaennya. Terjadilah tonggo raja untuk membicarakan bagai mana acara prosesi penguburan. Dongan tubu yang meninggal menawarkan penyambutan hulahula dengan membunyikan gondang batak danulos sappe tua (ulaon na gok)
    Yang perlu kita pahami dalamhal ini, pertama anaknya ada beberapa orang yang belum kawin. Ke dua, Ibu dari yang meninggal, “tilahaon matua”.Melihat keadaan ini saya menegor salah satuhula-hula yang berkumpul di tempat tonggo raja itu, apakah memang hal itu sudah tepat?.Jawaban yang saya terima adalah “di para-para dope pusokmu. Ndang diantusi hoi” itulah kesombongan seorang orang Batak anak ni Raja.Menurut yang saya mengerti,pelaksanaan adat seperti itu belum dan tidak bisa kepada orang yang meninggal seperti itu. Dalam pelaksanaannya sewaktu gondang sudah bunyi menyambut hula-hula ibunya yang meninggal “mangandung” mengatakan dalam andungnya; “Tilahaon matua ahu, marlasniroha hamu padenggal tangan” alhasil gondang pun batal. Pertanyaan, adakah naposo memahami kesalahan acara seperti itu? Naposo akan mengingat hal tersebut dantiba saatnya mereka menjadi pelaku adat akan melakukan hal yang sama sesuai dengan ingtannya sehingga penyimpanyan menjadi sangat jauh. Semua kita sejak dini harus peduli kepada hal tersebut.
    Songoni ma tanggapan na boi hupasahat. Horas!

  4. Jimmi Pardede, let’s your personal tobe Bataknis, donn’tobe halak hita. if you were halak hita don’t use pardede befront your name

  5. saya sebagai generasi muda batak mengakui adanya peluruhan adat batak di generasi muda batak…saya akui saya mengalami hal yang sama dengan di atas.saya tidak bisa berbahasa batak karena saya lama di Jakarta.tapi saya ingin sekali sebagai generasi muda batak bisa berbahasa batak dan tau dengan rinci adat batak.saya sangat respek dengan website ini.di Zaman ini generasi muda batak sangat tidak peduli lagi dengan adatnya.jadi saya mohon kepada lae, tulang atau nang tulang ,namboru dan amang boru,opung opung untuk dapat menghubungi saya di coconutfriends@yahoo.com untuk memikirkan bagaimana kedepannnya Generasi Muda Batak

  6. “Molo suhar bulu ditogu dongan, unang gabe dohot iba songon i, asa unang lam lunglam, pasingoton do, jala dang laos pasombuon”. Las do roha di Lae St.Siagian mengangkat masalah “Penyimpangan Pelaksanaan Adat Batak”. Martuala dolok martungkothon siala gundi, adat pinungka ni ompunta naparjolo i, angka nadenggan i ma niihuthon ni hita na dipudi (si saonari)”. Di Jakarta tong do mardalan Seminar Adat jala arahna patingkoshon, penyederhanaa alai tong do angka ruhut-ruhut i ingkon mardalan. Godang dibahen angka dongan sipata alasa dohot elek-elek tu hula-hulana na aturan “sarimatua” gabe “saurmatua”. Di Humbang mansai borat dope nang pe sude anak/boruna naung sohot jala nunga sude gabe, alai molo adong sian ianakkon nai manjoloi (meninggal lebih dulu dari orangtuanya)masih tetap dipertahankan Sarimatua. Alai molo di Toba dohot Silindung,ba parjolo-parjolo hian, ninna do, tong do i Saurmatua. Songon i nang peran ni hula-hula molo di Humbang dang hea pintor ditolopi pangidoan ni Boru/Bere nasida untuk urusan naik pangkat sian Sarimatua tu Saurmatua, jala hasuhuton pe tetap do bertahan molo dang sude dope gellengna marhasohotan dang olo mandok ulaon i ulaon Sarimatua, alai di Toba dohot Silindung mansai mura do dielek Boru/Bere na Hula-hulana dohot Tulangna asa gol permintaan nagabe Saurmatua on.Alasanna, ai angka anak-boru naso sohot i nama manarihon natua-tuaon, ai nga karejo sude.Adong do didok Sarimatua hape gellengna dang adong naggo sada diadathon. Holan empirik sian pengalaman langsung di Jakarta, Medan dohot Bonapasogit do on, dang pola huboto diinganan naasing ala so hea huida. Alai na hu ida di Medan tumagonan do didok ulaon i “partangiangan” tu angka na sulit dirumushon, daripada mamangke istilaj “mate ponggol manang tompas tataring tu naung gabe, dohot tu naung marpahompu alai dang diadathon dope anak-boruna naung sohot”. Hata on hata tambaan…Horasma.

  7. Selamat Hari Natal 25 Desember 2008
    Tahun Baru 01 Januari 2009

    Marhite umpama:
    “Pinauli sagu2, binaen tu pinggan pasu.
    Nunga salpu taon 2008, ro taon na imbaru, Debata ma mamasumasu”

    Horas Amang Siagian,
    Untuk mengurangi ke bimbangan kami generasi penerus ada beberapa kasus yang pernah kami lihat/di-ulahon angka Na-tua2 ima:
    1. Monding Sada Ama (ndang adong dope rindangna)
    Setelah pulang dari Udean langsung diboan natoras parboru?
    2. Monding Sada Ina (ndang marpahompu)
    Ulos tujung dipasahat Tulangni namabalu + buka tujung
    Ulos saput dipasahat Hula-hula
    Yang jadi unek2 ialah bilangan ni parboru na moru tetapi tidak ada lagi fungsi hula2 mulak sian udean.
    3. Apa sipasahaton molo Ama/Ina na monding Sari Matua atau Saur matua
    – Tulang
    – Hula2
    Tulang rorobot
    Sering kami lihat untuk kasus ini Ulos banyak sekali yang dipasahat sampai ke Pahompu (sedangkan ulos hanya bisa diterima oleh yang telah melakukan adat) dan apa bedanya ulos dengan parompa (karena parompa biasanya disampaikan untuk yang belum melakukan adat)

    Mauliate godang di hamu saluhutna

    St. Ir. Edward Simanjuntak/br. Silaban

  8. Horas ma di hita sude.
    Terimakasih atas konsep diskusi diatas,dan memang ada ke-tidak konsistenan dalam implementasi adat antarluat,termasuk “dang sarimatua” hape nunga marpahompu dianak dohot sian boru,didok”tompas tataring” ima fakta tingkijumolo br.Manurung ni habaluhon nimarga Silaban 6-7 taon nasalpu di Jakarta (laos sahat tu sadarion Lae Silaban i mago manang dang mulak)mungkin dang ala ni.Alai adong do na “berjuang” asa sada ulaon i “ulaon saurmatua” nang pe adong 2 ianakkonna nasosohot dope dohot dalih alani naung ganjang umurna,si radotiadat,jalatokoh doamanta on”di hami”. Adong “para individu”natua-tuanta sai tetap konsisten,alai adong na moderat “mamereng” pangullus nialogo.Molo naung marumur diatas 50 taon lahir di Jakarta diboto kasus on, hita natubu dihuta ma ditekan,dohot-dohot mai mandok “dang beres halak Batak”,ala malo namaiba mangalusi,asa”luluima disandok portibion nasongon adat Batak,holan di Batak doi adong”. Molo na “songon” antong dang adong. Alai unang ma nian dohot-dohot halak Batak “sai naeng mambangkari ulos ninna”,alai barani manghatai dipudi doi. Penyederhanaan kelihatannya “harus”. Misalna naung hea niula mambahen ulaon pangadation di jabu,nangkok sian manuruk-nuruk hian gabe adat nagok. On pe adong do angka “natua-tua”i,tong do…ao..ao..ao..ninna ingkon sai di Gedong,hape na niadopan on “holan jolma nama naso hea diseat”alai olo dope mangadati.Ulaon namet-met nang na balga dos doiadat na gok,molo naung dipenuhi sude angka sintuhu ni paradaton. Horas.

  9. Seandainya tidak ada adat maka saya tidak bisa bayangkan apakah orang Batak itu masih ada sekarang ini.Adat ditemukan diciptakan dilaksanakan supaya masyarakat itu teratur( ada dalihan na tolu),saling tolong menolong,saling memperkuat ( masiamin aminan,masi tungkol tungkolan )
    Soal ada kelemahan kekurangan pasti ada,ini yang harus disempurnakan dikembangkan sesuai dengan tuntutan jaman.Mari kita perkuat adat kita.Perlu dilembagakan kajian adat dsb

LEAVE A REPLY