Adat Parjuji…

3
457

“Manang na boha pe, ingkon martulang do au tu Simanjuntak” (Biar bagaimana pun, saya harus panggil Tulang ke marga Simanjuntak. Kalimat ini sudah beberapa kali diungkapkan amang Panjaitan kepada Amang Simanjuntak bila mereka melakukan “sidang tertutup” mengelilingi meja bundar yang menjadi arena tarung “marjokker”. Bahkan bisa dikatakan terlalu sering.

Dan kalimat ini kembali terulang saat mereka asyik dalam konferensi sore itu. Amang Simanjutak berada di sebelah kiri Amang Panjaitan, dan yang berhadapan arah dengan amang Panjaitan adalah Sitorus yang katanya jarang kalah dalam pertarungan.

“Dari Oppung, Tulang, bahkan Hula-hula, semua marga Simanjuntak”, kata Amang Panjaitan mempertegas. “Jadi anak ni hambing ni Simanjuntak do hami” (jadi kami ini anak kambing marga Simanjuntak), lanjutnya lagi. (Sebutan anak ni hambing menunjukkan pertalian hubungan darah dari pihak ibu yang sudah terulang beberapa kali)

“Aha do maksudmu, asa leanonna do masuk ho?” (Maksudmu apa, biar dikasi masuk kartumu?) , Sitorus menyela. Kebetulan amang Panjaitan dan Amang Simanjuntak dalam posisi kalah.

“Ndang songon i antong. Molo markartu, ba markartu ma, ianggo Hula-hula i ingkon hormatan do” (Nggak gitulah…, main kartu ya main kartu, hula-hula tetap harus dihormati – maksudnya harus dipisahkan antara kegiatan di atas meja dengan adat), Panjaitan menanggapi dengan santunnya.

“Antong, pas dua ma” (Suatu trik untuk memenangkan sebuah game dengan resiko gambling tinggi dalam permainan Jokker karo), Sitorus meletakkan kartunya untuk dilihat lawan lain. Permainan ini diikuti dengan memberi kesempatan kepada semua pemain untuk mengganti salah satu kartunya dengan mengambil dari tumpukan tengah atau bekas buangan orang dari sebelah kiri. Kemungkinan mati bila nilai di bawah 75 atau bisa bertahan bila nilai sudah di atas 75.

“Ah, mate bah…”, (kartuku mati bah) kata Simanjuntak dengan loyo melemparkan kartu cabutan dari tumpukan tengah ke kanan dan meletakkan kartu-kartu di tangan ke atas meja. Tapi belum sempat Panjaitan bereaksi…:

” E so jo…, tahan do hape.” (E  tunggu dulu, ternyata tahan), katanya sambil mengambil kartu Queen Heart yang tadi sudah dibuang dan disusun kembali. ” Nih, dua mata..” katanya melanjutkan.

Sitorus dapat menerima karena kartu-kartu dari tangan amang SImanjuntak masih rapih di atas meja.

“Ndang boi songoni, ai molo tu au si Queen i tahan do ahu…” (Nggak bisa gitu, kalau kartu Queen itu ke saya, kartuku juga bisa bertahan…..) SImanjuntak protes dengan marahnya. Maklum, kalahnya sudah mampu menggoyahkan akal sehatnya.

“Haru na mar pas so keberatan, gabe hamu mangamuk..” (Yang melakukan trik aja gak keberatan – maksudnya SItorus – koq jadi kamu yang ngamuk), Simanjuntak juga membalas dengan tak kalah geramnya.

“Baba ni amam ma ” (maaf), Panjaitan menghempaskan kartu-kartu di tangannya ke atas meja hingga menerbangkan abu dan puntung rokok dari asbak menerpa amang SImanjutak hula-hulanya………

“Ala ni parjokkeron i ma …” (Gara-gara jokker) Sitorus berdendang menirukan irama lagu Eddy Silitonga Ala ni parendeonki sambil memasukkan setumpuk uang kemenangan ke saku jaket ….

“Marlea Tulang, so ni hilalaaaaa……….., da inang”

Sumber :http://rapmengkel.wordpress.com/

3 COMMENTS

  1. hahahaaaa…gabe taringot iba di tikki marjuji dohot angka dongan…hampir sarupama..:D

LEAVE A REPLY