Renungan Santai

0
375

Penulis : Markus B S Simanjuntak

Taufik melamar pekerjaan sebagai pegawai bagian penjualan di sebuah Toko Serba Ada (salah satu anak perusahaan dari sebuah perusahaan konglomerat) di Super Mall yang sangat besar. Ketika tes wawancara, Pak Agus, kepala bagian penjualan, sedang banyak pekerjaan sehingga tidak ingin ber-lamaª wawancara. “Kamu masuk saja besok dan kita lihat ketrampilanmu dalam menjual
barang”,kata Pak Agus.

Keesokan harinya waktu berlalu sangat lambat bagi Taufik. Ketika jam kerjanya berakhir, dengan semangat dia pergi menemui bosnya di ruangan kantornya.
Bagaimana? Kamu berhasil menjual barang kepada berapa orang”? tanya Pak Agus.
“Satu”, jawab Taufik.
“Satu…???. Semua pegawai di sini biasa menjual kepada 10-20 orang.
Berapa nilai transaksinya? ”
“Dua setengah milyar rupiah secara total group perusahaan” jawab Taufik. “Hah, bagaimana mungkin?” tanya Pak Agus.
“Seorang lelaki setengah baya masuk, kemudian saya menawarinya mata kail. Dia membeli ketiga macam ukuran; kecil, medium dan besar, karena itu dia membutuhkan tiga kail juga. Ketika saya tanya mau kemana mancingnya, dia bilang di laut, berarti dia butuh perahu boat. Kebetulan di Super Mall kita sedang mengadakan PAMERAN TRANSPORTASI, maka saya bawa dia ke bagian penjualan perahu dari Marine Division group kita dan dia memilih boat besar dengan dua mesin. Dia berkata bahwa mobilnya tak akan mampu membawa boat tersebut ke pantai. Jadi saya bawa dia ke bagian penjualan dari Automotive Division dan dia membeli “Deluxe Cruiser model terbaru”.
“Gila!. Kamu menjual semua itu kepada orang yang mulanya hanya ingin membeli mata kail?” “Nggak juga sih, Bos. Pada awalnya dia mau beli pembalut wanita buat istrinya…. , Lalu saya bilang, ‘Malam Minggu Anda pasti menyebalkan, kenapa enggak pergi
memancing saja?’…”

Bola Ping Pong & Tahu Pong
Apa bedanya bola ping pong dan tahu pong?  Tentu jawabnya tahu pong bisa dimakan, sedangkan menelan bola ping pong bisa bikin terdesak. Yang mau kita soroti adalah perbedaan ketika tahu pong dilempar ke lantai segera berubah menjadi tahu gejrot, hancur berantakan, sedangkan bola ping pong memantul

kembali. Semakin kuat bola ping pong dilempar kelantai, semakin tinggi daya pantulan baliknya.

Dalam hidup ini, kita kadang bertemu dengan orang bermental tahu pong, ketika ditimpa kesulitan dan kegagalan hidup, ia hancur berantakan dan tidak sanggup balik kembali. Ia berubah jadi tahu gejrot yang tenggelam dalam kekecewaan hidup dan meratapi nasib sial hidupnya. Sebaliknya, kita kagum dan heran ada segelintir orang hidup bagaikan bola ping pong yang justru ketika dihempas oleh tekanan dan kegagalan hidup, mereka justru mampu berbalik kembali. Bola ping pong memiliki kemampuan bounce back.
Inilah yang kita sebut dengan semangat tahan banting. Semangat tahan banting adalah kemampuan untuk pulih kembali dari kegagalan, kekecewaan dan tantangan kehidupan; kemampuan untuk menang atas tekanan dan stres; kemampuan untuk merubah hal yang tidak baik menjadi positif dan berharga dalam hidupnya. Banyak orang tua keliru dalam mendidik anak yakni dengan segala usaha melindungi anak dari infiltrasi racun budaya dan hanya memberikan dunia yang aman.

Dibalik sikap ini tersembunyi sikap yang terus menerus mempersalahkan dunia sekitar. Ini tidak menolong. Sebab semua studi ilmiah menyatakan bahwa anak-anak menghadapi tantangan didalam hidup mereka. Dengan hanya memberikan suatu safe environment, orang tua telah merebut hak anak untuk memiliki semangat tahan banting yang ditimbulkan dari hasil pengalaman mereka menghadapi tantangan dan perlawananan dalam hidup ini.

Orang yang bermental tahu pong adalah orang yang selalu menyalahkan dunia sekitarnya, ketika ia menghadapi tantangan dan kegagalan hidup. Orang yang akhirnya menjadi tahu gejrot adalah orang yang selalu berpikir ia harus mendapatkan segala yang baik dan diperlakukan baik dalam hidup ini. Sebab ia dari kecil telah dirusak oleh didikan orang tua yang keliru yang tidak melatih semangat tahan banting.

Untuk memiliki semangat tahan banting, adalah ketika ada tantangan dan kegagalan terjadi, jangan lihat itu sebagai hal yang fatal, tetapi belajarlah dari kesalahan. Mungkin sebenarnya anda tidak gagal, namun anda merasa gagal karena anda menaruh suatu ekspektasi yang tidak realistis. Jangan pernah takut pada kegagalan, sebab yang membuat orang tidak bisa bangkit kembali adalah anggapan bahwa ia tidak boleh pernah gagal dalam hidup ini.

Orang yang memiliki semangat tahan banting adalah orang yang sudah duga kegagalan bisa datang suatu ketika maka ia sudah siap. Kemampuan untuk menyelesaikan problema dan pengambilan keputusan yang
benar adalah komponen yang penting dalam hidup mereka yang memiliki semangat bola ping pong.
Orang tua sering berpikir anaknya masih kecil untuk membuat keputusan, akhirnya segala sesuatu diselesaikan oleh orang tua. Nampaknya baik sebab sangat praktis dan efisien, tetapi efeknya dikemudian
hari, anak itu kurang memiliki semangat juang dan tahan banting, anda perlu belajar (& latihlah anak kita) mendefinisikan problem dengan jelas, memikirkan segala aspek langkah-langkah yang bisa ditempuh dan segala konsekuensi yang mungkin timbul, sebelum mengambil keputusan. Jadilah bola ping pong yang tahan banting dalam hidup ini.

Jangan Dipendam

Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan- hutan Afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan sipemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab,monyet- monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya, agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup. Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya,mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa? Tentu kita sudah tahu jawabnya. Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet
mengenggam kacang.

Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf… Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut. sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepas semua “rasa tidak enak” terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya
dengan senyum. Dan, kita pun tahu surga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang hatinya bersih.Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasan tidak enak itu?

Kisah Penebang Pohon

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya.

Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin. Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa!
Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”. Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon.

Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawab kan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh
tidak mengerti  apa yang telah terjadi. Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.
“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja?
Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

Istirahat bukan berarti berhenti Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola.

Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual.

Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

Salam sukses luar biasa!

aw

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY