Kebudayaan Batak di Antara Putik yang Berkembang

6
804

Ir. Sahala Simanjuntak (Tinggal di Balige)

Arti Kebudayaan Batak

Yang dimaksud dengan kebudayaan Batak, yaitu seluruh nilai-nilai kehidupan suku bangsa Batak di waktu-waktu mendatang merupakan penerusan dari nilai kehidupan lampau dan menjadi faktor penentu sebagai identitasnya. Refleksi dari nilai-nilai kehidupan tersebut menjadi suatu cirri yang khas bagi suku bangsa Batak yakni : Keyakinan dan kepercayaan bahwa ada Maha Pencipta sebagai Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta segala sesuatu isinya, termasuk langit dan bumi.

Untuk mewujudkan keseimbangan dalam menjalankan nilai-nilai kehidupan sebagai mahluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, Tuhan Maha Pencipta sebagai titik orientasi sipritualnya, alam lingkungan sebagai objek integritasnya suku bangsa Batak telah dinaungi Patik.

Patik berfungsi sebagai batasan tatanan kehidupan untuk mencapai nilai-nilai kebenaran. Patik ditandai dengan kata Unang( Jangan), Tongka (Pantang), Sotung (Jangan Sampai), Dang Jadi (Tidak Bisa).

Sebagai akibat dari penyimpangan tatanan kehidupan yang dimaksud dibuatlah Uhum atau Hukum. Uhum (Hukum) ditandai oleh kata; Aut (jikalau), Duru (Tersingkir),
Sala
(Bersalah), Baliksa (Kecuali), Hinorhon (Akibat), Laos (lewat batas), Dando (Denda), Tolon (Sumpah), Bura (Serapah), dsb.

Di dalam menjalankan kehidupannya, suku bangsa Batak terutama interaksinya antar sesama manusia dibuatlah nilai-nilai, etika maupun estetika yang dinamai Adat. Suku bangsa Batak mempunyai sistim kekerabatan yang dikenal dan hidup hingga kini yakni Partuturon. Peringatan untuk tidak melanggar Patik itu ditegaskan dengan kata Sotung (Jangan Sampai). Dan, mengharamkan segala pelanggaran terhadap aturan, yang dikenal dengan kata Subang (Pantangan).

Makna Kebudayaan Batak

Tata nilai kehidupan suku Batak di dalam proses pengembangannya merupakan pengolahan tingkat daya dan perkembangan daya dalam satu sistim komunikasi, yang meliputi :

a. Sikap Mental (Hadirion) :

Sikap mental ini tercermin dari pepatah :

Babiat di Harbangan, Gompul di Alaman. (Harimau di Gerbang Kampung, Beruang di Halaman)

Anak Sipajoloon Nara tu Jolo (Anak yang didaulat menjadi pemimpin, adalah orang yang siap di posisi terdepan).

b. Nilai Kehidupan (Ruhut-ruhut Ni Parngoluon) :

Pantun marpangkuling bangko ni anak na bisuk. (Patut dalam berbicara, tanda orang bijak).

Donda marpangalaho, bangkoni boru na uli. (Santun dalam peringai, tanda perempuan yang cantik).

Pantun hangoluan, tois hamagoan. Kapatutan menjamin keselamatan hidup, hidup sembarangan, alamat celaka.

Cara Berpikir (Paningaon)

Raja di jolo sipatudu dalan hangoluan. (Raja di depan,penunjuk jalan kehidupan)

Raja di tonga pangahut pangatua, pangimpal, pangimbalo. (Raja di tengah, perangkul tokoh, pengikat dan pemersatu.

Raja di pudi siapul natangis sielek na mardandi (Raja di belakang, penghibur bagi yang bersedih, dan pembujuk.)

Cara Bekerja (Parulan)
Mangula sibahen Namangan (Bekerja sumber rezeki)
Maragat bahen siinumon
(Menderes sumber minuman)

Logika (Ruhut, Raska, Risa)
Aut so ugari boru Napitupulu na tumubuhon au, dang martulang au tu Napitupulu

Kalau tidak boru napitupulu yang melahirkanku,, maka aku tidak memanggil paman kepada Marga Napitupulu.

Etika (Paradaton)
Tinintip sanggar bahen huru-huruan (Sanggar di arit, buat sangkar burung)
Nisungkun marga asa binoto partuturon (Tanya marga, supaya tahu kekerabatan).

Estetika (panimbangion) Hatian sora monggal, ninggala sibola tali

Rangkuman

Pandangan Umum.:

Budaya berasal dari bahasa sanskerta yaitu Budhayah, bentuk jamak dari budi dan akal. Sedangkan kata budaya ialah perkembangan majemuk dari budidaya yang berarti daya dan budi.

Hakekat budaya adalah hasil daya dari budi berupa Cipta, Karsa, Rasa.

Defenisi kebudayaan adalah sejumlah kepandaian dan pengalaman-pengalaman generasi-generasi angkatan manusia, yang telah dipelajarkan pada tiap-tiap generasi baru dan yang tersusun dalam masyarakat.

Salah satu aspek kebudayaan adalah ADAT. Adat ialah segala sesuatu kebiasaan-kebiasaan generasi-generasi angkatan manusia, yang telah dipelajarkan pada tiap-tiap generasi baru; telah tersusun rapi dalam masyarakat dan dibatasi oleh norma-norma tertentu.

Pandangan Khusus

Pemahaman suku bangsa Batak tentang mikro kosmos dan makro kosmos, dimana hubungan manusia Batak dengan Tuhannya, hubungan manusia Batak dengan manusia lainnya, manusia Batak dengan alam lingkungannya selalu di batasi oleh patik dan uhum. Itu berarti tatanan kehidupan suku Batak dari dulu hingga sekarang ini telah diatur oleh suatau sistem yaitu Budaya, dalam bahasa Batak lebih diartikan sebagai UGARI.

Logika

Budaya Batak mencerminkan nilai-nilai peradaban yang tinggi sehingga suku bangsa Batak mengakui Tuhan Maha Pencipta sebagai orientasi spritualnya. Suku bangsa yang tidak mempunyai budaya adalah suku bangsa yang tidak mengenal Tuhan dan disebut biadab.

Sudah dimuat sebelumnya di : http://tanobatak.wordpress.com/

Seijin penulis : melalui pembicaraan telepon Poltak Simanjuntak dengan Penulis.

6 COMMENTS

  1. keren ya budaya batak,,,aku orang jawa tapi tertarik bgt sama budaya batak,,,
    hehehehhhehehehe

  2. I think the culture of batak it’s unique…

    Di kebudayaan Batak ini memang tidak pernah terpengaruh dengan berkembangnya zaman,mereka tetap menjaga keaslian dari budayanya itu.Ya yaitulah Batak

  3. memang suku batak sangat kuat persaudaraannya dimana pun berada kalau ketemu orang batak,rasanya seperti di kampung halaman sendiri (huta). hidup orang batak tetap sukses………….

LEAVE A REPLY