Ingwer Ludwig Nommensen, Sang Peretas

33
1320


Sosok anak manusia yang memiliki keberanian, kesungguhan, ketulusan dan jiwa petualangan, ada pada diri Ingwer Ludwig Nommensen. Di besarkan di bawah budaya barat, Nommensen berani menetapkan pilihan untuk mendatangi dunia lain yang sama sekali berbeda, jauh dan penuh misteri — Tanah Batak —

Berbekal sebagai seorang theolog muda, menerima tantangan untuk mendedikasikan ilmu, iman dan pengabdiannya bagi Bangso Batak, yang hanya diketahui dari buku literatur yang terbatas dan dengar-dengaran dari sumber-sumber yang belum tentu teruji kemampuannya dalam menggambarkan sifat, sikap dan alam Batak, nun jauh di timur.

Tentu melihat ini kita diminta untuk memutar roda waktu ke tahun 1861, dengan segala keterbatasannya, tanpa kecanggihan transportasi dan alat komunikasi. Terbukti, untuk tiba di tempat yang akan ditujunya menghabiskan waktu 142 hari, yang saat ini dapat kita tempuh hanya 11 jam kurang lebih.

Perbedaan budaya, bahasa dan agama tidak menyurutkan niatnya untuk memulai “pengabdian” di tengah perlawanan dan ancaman Bangsa Batak yang belum terbiasa menerima kehadiran “orang aneh”, yang berlainan bahasa, pola hidup, warna kulit dan mata serta rambutnya.

Kesungguhan dan keteguhan Nommensen, terbukti mampu memenangkan penolakan besar Bangsa Batak yang berbuah pada dimulainya era baru bagi kehidupan sosial dan spritual, hingga berimplikasi luas pada tatanan mayoritas Batak. Pendekatan sosial religius, tidak terpungkiri mewarnai kehidupan sebagian besar di antara kita saat ini.

Nommensen, sang Peretas!

Tidak sekedar untuk dikenang, nostalgia masa lalu, tentu ada pelajaran besar dari penggalan perjalanan hidup Nommensen. Untuk kita pelajari dan ketahui.

Tahun 1834, tanggal 6 Februari
Ingwer Ludwig Nommensen lahir di Nortdstrand, pulau kecil di panatai perbatasan Denmark dan Jerman. Dia anak pertama dan lelaki satu-satunya dari empat orang bersaudara. Ayahnya Peter dan ibunya Anna adalah keluarga yang sangat miskin di desanya. Sejak kecil, dia sudah tertarik dengan cerita gurunya Callisen tentang misionar yang berjuang untuk membebaskan keterbelakangan, perbudakan pada anak-anak miskin.

Tahun 1846 pada umur 12 tahun
kedua kakinya sakit parah karena kecelakaan kereta kuda pulang dari sekolah. Selama setahun lebih tidak dapat berjalan, kakinya hampir diamputasi. Dia berjanji kepada Tuhan bahwa akan menjadi misionar apabila kedua kakinya sembuh kembali. Dia akan pergi jauh untuk membebaskan anak-anak miskin yang budak karena hutang orang tuanya, dia akan memberitakan Firman Tuhan kepada pelbegu yang sangat terbelakang sebagaimana sering diceritakan gurunya Callisen yang sangat dikaguminya.

Tahun 1847
Kedua kakinya sembuh secara ajaib, dia dapat berjalan seperti sediakala. Dia kembali ke sekolah pada musin winter (musim dingin) karena pada musin summer dia akan menjadi gembala domba untuk menerima upahan karena orangtuanya sangat miskin.

Tahun 1848, tanggal 2 Mei
Ayahnya Peter Nommensen meninggal dunia. Ingwer Ludwig Nommensen sebelumnya bermimpi akan kehilangan ayahnya, maka ia tidak terkejut ketika orang membawa ayahnya ke rumah yang meninggal di tempat kerjanya.

Tahun 1849
Pada umur 15 tahun (suatu pengecualian), dia mendapat sidi. Biasanya, orang akan diijinkan mendapat sidi pada umur 17 tahun. Namun, karena Ingwer Ludwig Nommensen sudah tidak obahnya seperti ayah dari dari segi tanggung jawab kepada keluarga maka diberi pengecualian kepadanya. Dia mendapat sidi setelah setahun belajar Alkitab.

Tahun 1854
Ibu Ingwer Ludwig Nommensen merestui anaknya, satu-satunya lelaki di antara empat orang bersaudara, menjadi seorang misionar.

Tahun 1857
Ingwer Ludwig Nommensen masuk sekolah pendeta di RMG Barmen setelah menunggu sekian lama.
Tahun 1858, Januari Ibunya meninggal dunia di Nordstrand.

Tahun 1859
4 orang Misionar RMG Barmen serta 3 orang isteri misionar terbunuh di Borneo, berita itu semakin menggugah hati Ingwer Ludwig Nommensen untuk pergi ke daerah pelbegu.

Tahun 1861, 7 Oktober
berdiri HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Praosorat Sipirok, sebagai permulaan Misi Kongsi Barmen di Tanah Batak. Hari itu terjadi kesepakatan 4 orang Misionar Belanda dan Jerman yaitu:
H (Heine)K (Klammer)B (Betz) danP (Van Asselt) menjadi penginjil atas tanggung jawab Rheinische Missionsgeselshaft dari Barmen, Wupertal, Jerman, yang lazim diebut Kongsi Barmen.

Tahun 1861, Oktober
Ingwer Ludwig Nommensen ditahbiskan sebagai pendeta dan langsung diberangkatkan oleh Missi Barmen menjadi misionar ke Tanah Batak, tetapi selama 2 bulan dia masih belajar Bahasa Batak dan Budaya Batak dari Dr. Van Der Tuuk di Belanda.

Tahun 1861, Desember
Ingwer Ludwig Nommensen berangkat dari Amsterdam menuju Sumatera dengan kapal Pertinar. Pelayaran itu memakan waktu selama 142 hari.

Tahun 1862, 14 Mei
Setelah mengalami banyak cobaan di lautan, Ingwer Ludwig Nommensen mendarat di Padang. Selanjutnya dia tinggal di Barus. (Kapal Pertinar kemudian tenggelam dalam lanjutan pelayaran kea rah timur di sekitar Laut Banda dekat Irian Barat).

Tahun 1862, November
Bersama beberapa orang Batak, mengadakan perjalanan ke pedalaman Sumatera melalui Barus dan Tukka. Dari Barus, Ingwer Ludwig Nommensen pergi ke Prausorat dan kemudian tinggal dengan Van Asselt di Sarulla.

Tahun 1863, November
Ingwer Ludwig Nommensen pertama kali mengunjungi Lembah Silindung. Dia berdoa di Bukit Siatas Barita, di sekitar Salib Kasih yang sekarang. “Tuhan, hidup atau mati saya akan bersama bangsa ini untuk memberitakan FirmanMu dan KerajaanMu, Amin!”

Tahun 1864, Mei
Ingwer Ludwig Nommensen diijinkan memulai misinya ke Silindung, sebuah lembah yang indah dan banyak penduduknya.

Tahun 1864, Juli
Ingwer Ludwig Nommensen membangun rumahnya yang sangat sederhana di Saitnihuta setelah mengalami perjuangan yang sangat berat.

Tahun 1864, 30 Juli
Ingwer Ludwig Nommensen menjumpai Raja Panggalamei ke Pintubosi, Lobupining. Raja Panggalamei beserta rombongannya 80 orang membunuh Pendeta Hendry Lyman dan Samuel Munson (missionar yang diutus oleh Zending Gereja Baptis dari Amerika) di sisangkak, Lobupining pada tahun 1834, bertepatan dengan tahun lahirnya Ingwer Ludwig Nommensen di Eropa.

Tahun 1864 , 25 September
Ingwer Ludwig Nommensen mau dipersembahkan ke Sombaon Siatas Barita dionan Sitahuru. Ribuan orang datang. Ingwer Ludwig Nommensen akan dibunuh menjadi kurban persembahan. Ingwer Ludwig Nommensen tegar menghadapi tantangan, dia berdoa, angin puting beliung dan hujan deras membubarkan pesta besar tersebut. Ingwer Ludwig Nommensen selamat, sejak itu terbuka jalan akan Firman Tuhan di negeri yang sangat kejam dan buas. Ingwer Ludwig Nommensen pantas dijuluki “Apostel di Tanah Batak”

Tahun 1865, 27 Agustus
Pembaptisan pertama di Silindung terhadap empat pasang suami-istri beserta 5 orang anak-anaknya. Diantara keluarga yang dibaptis pertama adalah Si Jamalayu yang diberi nama Johannes dengan istrinya yang dibawa dari Sipirok sebagai pembantu Ingwer Ludwig Nommensen diberi nama Katharina.

Tahun 1866, 16 Maret
Ingwer Ludwig Nommensen diberkati menjadi suami-isteri dengan tunangannya Karoline di Sibolga. Karoline datang dari Jerman beserta rombongan Pdt. Johansen yang dikirim Kongsi Barmen untuk membantu Ingwer Ludwig Nommensen di Silindung.

Tahun 1871
Ingwer Ludwig Nommensen mengalami penyakit disentri yang sangat parah, dia pasrah untuk pergi menghadap Tuhannya tetapi dia tidak rela misinya berhenti begitu saja. Dia dibawa Johansen berobat ke Sidimpuan.

Tahun 1864
Karoline melahirkan anak pertama diberi nama Benoni, namun beberapa hari kemudian meninggal dunia.

Tahun 1872
Pargodungan Saitnihuta yang disebut Huta Dame pindah ke Pearaja. Setelah Gereja baru hampir selesai dibangun, putri pertama Ingwer Ludwig Nommensen yang bernama Anna meningal dunia. Keluarga Ingwer Ludwig Nommensen telah kehilangan dua anak pertama, sungguh suatu ujian berat bagi misionar dalam memulai misinya.

Tahun 1873
Sikola Mardalan-dalan (Sekolah dengan tempat tidak tetap) diciptakan Ingwer Ludwig Nommensen agar Orang Batak bisa secepatnya menjadi guru. Siswa mendatangi Ingwer Ludwig Nommensen di Pearaja, Johansen di Pansurnapitu dan Mohri di Sipoholon dimana para misionar tersebut bertugas. Atau, misionar mendatangi siswanya ditempat tertentu.

Tahun 1875
Misionar Ingwer Ludwig Nommensen, bersama Johansen dan Simoneit bekunjung ke Toba.
Tahun 1876Telah dibaptis lebih dari 7000 orang di Silindung.

Tahun 1876
Ingwer Ludwig Nommensen selesai menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak Toba.

Tahun 1877
Ingwer Ludwig Nommensen dan Johansen mendirikan Sekolah Guru Zending di Pansurnapitu. Tempat berdirinya sekolah tersebut adalah tempat yang dulunya dikenal sebagai Pasombaonan (tempat angker), yang sekarang tempat berdirinya STM Pansurnapitu dan Gereja HKBP Pansurnapitu.

Tahun 1877

  • Raja Sisingamangaraja ke-XII mengancam akan membumihanguskan kegiatan missioner, ancaman ini tidak menjadi kenyataan.
  • Silindung masuk kolonisasi Belanda.

Tahun 1880
Ingwer Ludwig Nommensen beserta istri dan anak-anaknya pergi ke Eropah. Mereka diantar oleh banyak orang sampai ke tengah hutan. Mereka berjalan kaki selama dua hari dari Silindung ke Sibolga, menjalani jalan setapak yang sangat sulit. Mereka menungu keberangkatan dari Sibolga ke Padang selama dua minggu.

Tahun 1881
Menjelang Natal, Ingwer Ludwig Nommensen kembali ke Pearaja. Dia kembali sendirian, isterinya tinggal di Jerman karena masih perlu perawatan. Anak-anaknya juga tinggal di sana agar bisa sekolah dengan baik.

Tahun 1881
Kongsi Barmen menetapkan Ingwer Ludwig Nommensen menjadi Ephorus pertama HKBP, dia digelari ‘Ompu i’
Tahun 1887
Karoline isteri Ingwer Ludwig Nommensen, meninggal di Jerman, sebulan kemudian baru Ingwer Ludwig Nommensen mengetahuinya.

Tahun 1890
Ingwer Ludwig Nommensen memulai misinya ke Toba, dia pindah ke Sigumpar.

Tahun 1891 bulan Mei
Christian, anak ompu Ingwer Ludwig Nommensen, mati terbunuh di Pinang Sori oleh lima orang kuli China di areal perkebunan.

Tahun 1892
Bersama Pendeta Johansen yang juga sudah menduda pergi ke Jerman untuk berlibur, menjenguk anak-anaknya, dan mencari pasangan baru untuk masing-masing misionar yang telah menduda. Ingwer Ludwig Nommensen mendapatkan jodohnya anak Tuan Harder yang bernama Christine, Johansen mendapatkan jodohnya anak Tuan Heinrich yang bernama Dora. Mereka kembali ke Tanah Batak dengan masing-masing pasangan barunya.

Tahun 1900 Permulaan Zending Batak.
Tahun 1903 Permulaan misi Zending ke Medan

Tahun 1904
Fakultas Theologi Universitas Bonn, Jerman, menganugerahkan gelar Doktor Honouris-Causa di bidang Theologi kepada Ingwer Ludwig Nommensen. Dalam pengukuhan tersebut, Ratu Wilhelmina dari Belanda ikut diundang sebagai tamu.

Tahun 1905
Berkunjung ke Eropah bersama Tuan Reitze, dia mengunjungi Misi Zending di Belanda dan berkunjung kepada Ratu Wilhelmina.

Tahun 1909
Christine Harder, isteri Ingwer Ludwig Nomensen meninggal dunia, setelah melahirkan tiga orang anak. Dia dimakamkan di Sigumpar. Dua anak perempuannya tinggal di Jerman dan belum menikah sewaktu Ompu Ingwer Ludwig Nommensen meningal pada umur 84 Tahun.

Tahun 1911

  • Pesta jubileum 50 tahun HKBP. Pesta besar di onan Sitahuru dihadiri puluhan ribu orang, di tempat dimana 47 tahun sebelumnya Ingwer Ludwig Nommensen mau dibunuh dan dipersembahkan kepada Sombaon Siatas Barita.
  • Ratu Wilhelmina dari belanda menganugerahkan Bintang Jasa ‘Order Of Orange Nassau’ kepada DR. Ingwer Ludwig Nommensen, sebuah bintang jasa yang hanya diberikan kepada orang yang dianggap luar biasa jasanya di bidang kemanusiaan.

Tahun 1912
Berlibur ke Eropah, kembali ke Tanah Batak bersama tuan Pilgram yang telah lama bertugas di Balige.
Tahun 1916Nathanael anak Ingwer Ludwig Nommensen, mati tertembak di arena Perang Dunia I di Perancis.

Tahun 1918, Tanggal 23 Mei
Pukul enam pagi Hari Kamis, Ompu Ingwer Ludwig Nommensen pergi menghadap Tuhannya di Sorga. Dia menutup mata untuk selama-lamanya setelah berdoa ‘Tuhan kedalam tanganMu kuserahkan rohku, Amin’.

Pada Jumat sore, 24 Mei 1918
Ompu Ingwer Ludwig Nommensen dikubur di Sigumpar. Puluhan ribu datang melayatnya untuk mengucapkan salam perpisahan. Ada orang berkata : Inilah kumpulan manusia yang paling banyak yang pernah terjadi di Tanah Batak.
Ringkasan ini diambil dari buku:DR. I.L. Nommensen – Apostel di Tanah Batak oleh Patar M. Pasaribu

Sumber : http://h-k-b-p.blogspot.com/2007/07/ringkas-kehidupan-nommensen.html

33 COMMENTS

  1. Tidak dapat kuungkapkan perasaanku saat membaca sebagian dari sejarah perjalanan I.L Nommensen untuk menyebarkan agama Kristen di Tano Batak. Terharu, kagum, hormat, berterima kasih dan beragam perasaan lain yang tidak dapat kuungkapkan. Walau dari kecil aku sudah mendengar sejarah I.L Nommensen tapi aku masih dapat merasakan semangat yang dia miliki untuk menjalankan misinya di Tano Batak.
    Semoga, seluruh jemaat terutama Pangula huria di gereja HKBP tidak lagi dalam perpecahan. Dame na sumurung ma di hita sude, alana Ompu i pe ido na diboan na sahat tu hita on

  2. Terima kasih kepada TUHAN.
    Terima kasih Ompu Nommensen.
    Diberkatilah kita jemaatNYA…
    Amin.

    Lundu Simanjuntak
    Hutabulu bursok Datu 16

  3. Si boan Tua do Oppung ta si Nommensen
    Di podahon tu hita be ha ulion

    Si boan dame do oppung ta si Nommensen,
    Tapature ma tongtong,
    Par roha on ta be…

    Mauliate ma di Tuhan I…di lehon tu hita Ompu Nommenesen…

    Horas ma…

  4. sejak dr kandungan ibumu Aku tlh memilih kamu,.Tuhan tlh memilih Sir Nomensen.karena tuhan jg sdh memilih tanah Batak menjadi umat kepunyaanNYA.

  5. Tulisan ini beserta komentar yang ada sangat membangun saya pribadi. Ompu Ingwer Ludwig Nommensen adalah inspirasi bagi banyak orang khususnya bagi Bangso Batak. Selain aspek roh dari kehidupan, terlihat Ompu Ingwer Ludwig Nommensen juga menekankan kesehatan untuk tubuh dan pendidikan untuk jiwa. Vielen dank jala horas!

  6. Aku bersyukur karena TUHAN berkenan menyelamatkan bangsa Batak. Melalui opmu Nommensen, guru Johanssen, darah martir lyman dan Munson, dan pekabar injil lainnya, kita bangsa Batak dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa lain di dunia ini.
    “Tuhan, hidup atau mati saya akan bersama bangsa ini untuk memberitakan FirmanMu dan KerajaanMu, Amin!”.

  7. Nommensen telah memberikan kabar baik tentang keselamatan. Hanya melalui Tuhan kita Yesus Kristus manusia diselamatkan. Tuhan yang bertindak untuk manusia bukan sebaliknya. Saya bersyukur karena Nommensen menjadi penabur benih Injil di tanah Batak. Ia memberi pencerahan akan kekekalan. Saatnya kita sebagai pengikut Kristus meneruskan yang telah didahului oleh Ompu i kita ini.
    Tanpa pengabaran Injilnya mungkin semua orang Batak masuk ke neraka higga kini.

    Jalan ke surga hanya satu. Percayalah dan bertobatlah kepada Tuhan Yesus Kristus juru selamat dunia, maka engkau dapat bertemu dengan Allah Bapa! Janjinya kepada kita manusia.

    Tuhan Yesus memberkati.

  8. Salut untuk Opung Ingwer kita ini!!

    Hari Jumat, 26 September 2008, dalam rangka Parheheon NHKBP, Gereja HKBP Rawamangun mempersembahkan pagelaran drama & tari “TERPILIH UNTUK BERSAKSI”… kisah perjalanan hidup Dr. Ingwer Ludwig Nommensen selama 57 tahun menyebarkan Injil di Tanah Batak.

    Jumat, 26 September 2008
    Graha bhakti Budaya
    Taman Ismail Marzuki
    18:30-21:00

    Check it out and be blessed!

  9. catatan sejarah Indonesia menulis bahwa penjajahan belanda selama 350 tahun,jepang 3,5 tahun juga bangsa lainnya sebelum hari kemerdekaan RI 17081945.
    I.L Nommensen masuk Tano Batak Desember 1861 (Burton+ Ward 1824)
    Perang Singamangaraja XII melawan penjajah belanda 1872.
    fakta 1. orang/tanah batak lebih dulu mengenal IL Nommensen(Jerman)dari penjajah(Belanda). bila ya catatan sejarah Indonesia seharusnya menulis “kecuali tanah batak 1872” 2. dari orang batak pertama yang dibaptis Simon Siregar + Jakobus Tampubolon (31031861)s.d saat ini rata-rata baru mencapai 5 generasi yang sudah menerima hasil peretasan dari memerangi “kebodohan dan kemiskinan” dan sudah go internasional karena “biar mida Jahowa do mual ni pasu-pasu di bangsonta”
    Terima kasih Yesus, engkau mengutus I.L Nommensen untuk “mengenal dan mengandalkan Yesus saja sebagai Tuhan dan Juruselamat” kami bangso batak. amin
    Salam di dalam Kristus
    Marcyus Siahaan
    pernah numpang hidup di hutabulu

  10. Horas,,

    saya mau menanyakan sesuatu,,

    karna saya siregar(siregar dongoran nomor 18),saya mau bertanya,,dari buku Nomensen yang pernah saya baca,,bahwa Sisingamangaraja XI (kesebelas)Mati karna dipenggal oleh Marga siregar..

    apakah hal ini benar kemungkinan??

    karna yang saya tahu,bahwa siregar dan keluarga Marga sisingamangara tidak pernah berselisih,,..

    Mauliate.

    uNang Lupa Bona..

    Horas..

  11. Dang adong na sahat tu Ama I,Ia so marhite sian Ahu,,(Joh.14:6),,
    sian omputtai Si Nomensen dipasahat Debata Jamitana tu hita bangso batak,,
    sai di parngoluhon hita angka halak batak sude na niajarhon ni omputtai..

    Horas,,

    sian Ahu Samuel Parlindungan Siregar dongoran pa sampulu waluhon..
    anak ni Pdt.Leonard Siregar Dongoran..

    Sai gabe ma di hita sasude jala sai ta ingot marsi pature hut ta be..

    Horass

    Lihat saya di ZamuelixZ_SHINOBI@yahoo.co.id

  12. Aku bersyukur ada orang seperti si Nommensen.. karena dia,, sekarang aku bisa kenal Tuhan Yesus.. Terima kasih Tuhan..

  13. NOMMENSEN, AKU MERINDING BACA BIOGRAFI MU…. KAMU MEMANG DAHSYAT… TAPI PENGORBANANMU GAK SIA2, HKBP MENJADI SALAH SATU GEREJA TERBESAR DI DUNIA…. GBU NOMMENSEN…

  14. salam kenal juga..
    tinggal dmn Ito?! jakarta ap daerah?!
    jarang ku dengar marga nahulae yang Kristen..

  15. saya kemaren emosi banget ada orang batak yang memaki maki oppu DR I.L.Nomensen di facebook saya katanya oppui adalah seorang penjajah.
    sampe mengancam segala lalu saya bilang mungkin anda belum sepenuhnya mengetahui kisah Nomensen.
    saya merasa terinjak injak sebagai seorang yang sangat mengagumi oppu ini.buat teman2 tolong dong kasih solusinya.

  16. Tuhan punya cara yg luar biasa Tuk mlawat org batak …
    siapa yg mau jd penerus ompui??…keep on fire…JBU.

  17. Ah ompui Nommensen sejak dari saya baca biografi secara lengkap sekitar lima tahun yang lalu telah membangkitkan semacam cita-cita yg terpendam sampai pada akhirnya Panggilan ini akan dipertegas dalam diri saya. Masih banyak suku terasing di Kalimantan dan Papua sana yg belum mengenal Kristus. Banyak tuain tapi sedikit penuai.

  18. Salam sejahtera bagi kita semua.

    Hari ini, persis 91 thn yl, Ompui Dr.I.L. Nommensen kembali ke rumah Bapa di sorga, yaitu pada tgl 23.5.1918.

    Syukur kepadaNya atas pelayanan beliau selama 57 thn, sejak diutus oleh missi Barmen ke tanah Batak pada thn 1861. Itu berarti, ketika itu beliau masih relatif muda, baru berumur 27 thn (lahir 6.2.1834). Dengan demikian, untuk menjadi berkat dan terang bagi sebuah suku bangsa yang sedemikian besar seperti suku Batak, tidak harus menjadi orang yang sudah lanjut usia. Demikian juga, tidak harus menjadi orang kaya. Ompui Nommensen dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana (miskin). Itulah sebabnya, dia sebagai satu2nya anak laki2 harus berjuang bersama tiga saudara perempuannya untuk memenuhi kehidupannya. Saya teringat hal ini karena dalam ibadah Paskah Bonapasogit yl, yang sudah diadakan empat kali, ada saja yang mempertanyakan siapa saja orang kaya dan pejabat di balik kegiatan itu.

    Lalu di mana rahasia kesuksesan pelayanan Ompui Nommensen?
    Penyertaan Allah menjadi kunci keberhasilan pelayanan Nommensen.
    Karena itu, walau pun hidupnya masih muda, hidup dan pendidikannya pun sederhana, namun bersama Allah, beliau dapat melakukan hal-hal yang luar biasa sebagaimana kita saksikan. Seberapa besarkah pengaruh beliau bagi orang Batak, khususnya umat Kristen? Sangat besar. Sulit membayangkan bagaimana orang Batak tanpa penyerahan, kehadiran dan kerja keras beliau untuk memenangkan orang Batak.

    Mari kita doakan agar buah pelayanan dan perjuangan beliau terus semakin nyata di Republik ini.
    Mari kita bekerja sama dan bekerja keras untuk melanjutkan hasil perjuangan beliau, yaitu membangun kerohanian dan hidup bangso Batak.
    Sehubungan dengan itu, mari kita bersyukur untuk ribuan orang Batak yang hadir pada ibadah paskah akbar, Paskah Bonapasogit IV di Istora pada tgl 3.5.09 yang lalu. Mari kita doakan 2384 orang yang menyerahkan lembar keputusan, lengkap dengan pokok2 doa mereka. Kiranya, doa dan kerinduan Nommensen di masa hidupnya, terus semakin menjadi kenyataan. Dengan demikian dimunculkan orang-orang Batak yang memiliki kerohanian yang sejati, semakin dewasa, dan menjadi berkat bagi masyarakat dan bangsa ini. Soli Deo gloria.

    Salam hangat,
    http://www.mangapulsagala. com
    (Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. Why.2:10)

  19. mauliate ma di Tuhanta di salahut asi ni roha Na. anggiat ma lam martamba jala lam togu haporseaonta dung ta jaha biography ni ompui I.L Nommensen.

  20. salam kenal andre, tinggal dimana?
    Jarang yang marga Nahulae
    kenal siapa saja yg marga nahulae

  21. aku HANYA mau tanya adakah yang tahu silsilah Raja siregar dongoran dari sigumpar

  22. bang Samuel Siregar dari sigumpar,abang tahu dengan raja nagabe siregar dongoran dari sigumpar ? kasih tahu kalau ada tarombony terimakasih

  23. buat banag G.Ricardo Siregar,,Sejarah silsilah Siregar dongorang daro Sigumpar sebenarnya sangat sedikit,,karena yang saya tahu,,bahwa siregar Dongoran pada masa dulu banyak yang pindah ke arah Sipirok dan menjadi muslim..(itulah kenapa banyak Dongorang yang muslim),,tapi kalau yang dari sigumpar masih kurang tahu..terima kasih untuk masukannya..akan saya coba untuk menelusurinya..
    Mauliate jala Horas..
    😉

  24. mauliate godang tu ompung Nommensen, ala imanama umbotosa Tuhan Debata-ma!

  25. Terima kasih kawan, sangat menginspirasi, kalau ada teman yang mepunyai informasi Keturunan Nommensen ini sekarang dimana saja dan apa professi mereka. Saya mau melihat janji Tuhan sebagai mana tercatat di Kel 34:7. Sepanjang info yang saya dapat cicitnya 2 orang pernah datang ke Medan 2009 lalu. thanks tuhan memberkati

  26. Bersyukur karena rencana TUHAN dahsyat untuk tanah Batak. Melalui Ingwer Ludwig Nommensen banyak orang batak diselamatkan.

    Setiap pulang kampung di SIGUMPAR, selalu menyempatkan mengunjungi makam Ingwer Ludwig Nommensen sekeluarga, yang memang letaknya di belakang rumah Opung. Jadi setiap hari selalu melihat makamnya.

    Semuanya masih terawat dan didepan makam itulah ada Gereja HKBP Nommensen. Sebagai generasi muda, sudah selayaknya kita meneruskan semangat dari Opung Ingwer Ludwig Nommensen.

    Keep praying.. ^^

    GOD Bless you all..

    Regards,
    Desy Simanjuntak.

LEAVE A REPLY