Ketika jantung masyarakat miskin di seantero Propinsi Sumut hampir berhenti menyemprotkan darah, akibat pengumuman pemerintahan SBY – JK yang akhirnya “berani” menaikkan harga BBM, hingga 28 %, Pemerintah Propinsi Sumatera Utara, megimbanginya dengan sebuah kejutan baru.
Pengumuman tender proyek APBD Tahun Anggaran 2008 di Harian SIB menuliskan PENGADAAN KENDERAAN DINAS GUBERNUR RP. 1,5 M dan WAGUBSU Rp. 900 Jt, bukannya menjadi pengobat kerisauan terhadap kenaikan harga barang-barang dan ongkos yang sudah mendahuli kenaikan BBM ala SBY – JK ini.
Lebih tragis dan kontras lagi, jika kita membuat pertimbangan lain, yaitu parahnya kondisi jalan di seluruh Propinsi Sumatera Utara, dari jalan propinsi hingga jalan kota dan kabupaten yang seolah-olah ingin menandingi kubangan kerbau itu. Sepertinya, membeli mobil mewah dengan kondisi jalan yang “kupak-kapik” menjadi suatu tontonan lucu dan kebodohan model baru.
Tentu masyarakat hanya dapat mencibir atas keberanian pemerintah daerah yang hingga saat ini dipimpin oleh Drs. Rudolf Pardede, mempertontonkan “ketidakpedulian sosialnya” terhadap penderitaan masyarakat. Sementara, kalangan “pemborong”, mulai kasak-kusuk melakukan pendekatan memenangkan tender pengadaan kenderaan yang terbilang mobil super mewah ini.
Lalu, sebagai kalangan menengah, intelektual, generasi muda, apa yang dapat kita katakan dengan fenomena “bermewah di tengah kemisikinan” ini?
Kalau saya berpendapat, eksekutif dan legislatif di Propinsi Sumatera Utara, sekali lagi gagal menjadi pelayan dan wakil rakyat. Karena tidak mampu menangkap nuansa penderitaan masyarakat yang semakin hari, semakin mengerikan.

Syamsul Tolak Mercy Rp. 1,5 M …
Memulai debutnya sebagai Gubsu, Syamsul Arifin sepertinya tidak mau salah langkah. Sebagaimana di khawatirkan dalam tulisan di situs ini, tentang “hilangnya sense of crisis pejabat Sumut”, sepertinya dapat sedikit berkurang. Hampir semua koran lokal di Sumut menuliskan penolakan Syamsul, terhadap Mercy Rp. 1,5 M.
Tinggal lagi kita menunggu realisasi Bang Syamsul menolak betul-betulan kenderaan super mahal itu dan menepati janjinya “warga Sumut tidak kelaparan, tidak sakit, dll”.
Horas…
Lebih elegan dan popular jika Bang Samsul menolak dibelikan mobil mahal. Itu pelajaran baru bagi orang lama yang pasti masih tetap ditempatnya.
Saya di Padang Bulan Medan
semoga dengan yang baru ini tidak lagi kehilangan sense of krisisnya
o iya saya juga blogger medan nich pak
medan di mana pak ?
Setuju usul moderator!
Gabe tendensius diskusi on…
Pejabat-pejabat ini lah..
Halah.. Halah..
Aha ma naeng dohononhu?
BERTOBATLAH AMANG DOHOT INANG PEJABAT!!!
TURUT BERDUKA CITA ATAS DEGRADASI MORAL PEJABAT.
yang prihatin,
yang mau membangun untuk diri sendiri, keluarga, gereja dan negara,
Lundu Simanjuntak
Hutabulu Bursok Datu 16
Mohon maaf untuk selanjutnya komentar Appara Bursok Mangalandong akan saya delete dari website ini. Dan sebelum anda menjelaskan tarombo anda secara lengkap di website ini tidak ada tempat buat anda berkomentar lagi disini. Sibahuton diskusi alani ho.
Poltak Simanjuntak on May 29th, 2008 at 9:48 pm
Horas Appara Bursok Mangalandong!—>Horas juga Appara Ir.Poltak (ga pake tanda seru)
Sangat sungkan jadinya memulai perdebatan ini. Sebab, selain diginjang ni tutur, juga belum memiliki bahan yang cukup untuk memberikan penilaian terhadap pola fikir, akibat keterbatasan informasi tentang appara secara pribadi.—>Ga usah sungkan dan ga perlu menilai pola pikir orang lain appara.
Namun, tidak ada salahnya saya kira untuk memulai suasana komunikasi dialogis yang bertujuan untuk pencerahan dan pencarian pendapat yang lebih sahih.—>Saya kurang paham maksud kalimat ini, bahasanya kecanggihan jadi sulit dimengerti (bahasa pengamat banget)
Saya memulai penilaian terhadap pendapat Appara dalam komentar saya terdahulu, berdasarkan ketidak setujuan saya terhadap tindakan saudara men-judge tiga orang penanggap dan pelontar pemikirannya dengan kata “cemooh dan cercaan‗>Saya tidak pernah men-judge, justru appara yang selalu menilai, mungkin appara juru nilai kali yah, coba baca kalimat appara di komentar ini, beberapa kali menilai lho
Atas alasan tersebut, saya bertanya, sejak kapan seseorang dapat memberikan penilaian secara salah, terhadap pendapat orang lain? Nilai kekritisan ketiga penanggap dan saya sendiri sebagai orang yang prihatin terhadap ketidakpedulian Pemda Propinsi Sumatera Utara dengan menganggarkan pengadaan mobil dinas hingga bernilai miliaran rupiah, tidaklah lebih buruk dari hanya sekedar mengerti kesulitan pemerintah dalam mengambil kebijakan seperti yang anda gambarkan—>Coba baca kembali tulisan saya terdahulu, saya tidak pernah menilai apalagi menilai secara salah. Yang mana Pemda Sumatera Utara yang tidak perduli? Apakah dengan tidak menganggarkan pengadaan mobil dinas itu bukti keperdulian?
“tidaklah lebih buruk dari hanya sekedar mengerti kesulitan pemerintah dalam mengambil kebijakan seperti yang anda gambarkan‗->Sumpeh, saya tidak mengerti arti kalimat appara ini apa.
Saya semakin meragukan kemampuan dan kekritisan anda yang menempatkan diri sedemikian rupa sebagai pemberi nasehat untuk berbuat lebih baik dan lebih banyak, tanpa berupaya memberi contoh tindakan, aksi dan pemikiran seperti apa yang pernah anda lakukan terhadap kebaikan negeri ini, untuk kami jadikan sebagai panutan.—>Nih dia nih, si appara belum-belum sudah meragukan kemampuan orang lain, jangan begitu dong ah hehehe. Saya tidak merasa tuh mengatakan sebagai pemberi nasehat; ada orang bijak yang pernah bilang, yang diberikan tangan kananmu, hendaklah jangan diketahui oleh tangan kirimu. Lagian apa untungnya saya kasih tau appara apa yang sudah saya perbuat untuk negeri ini? Mang mau kasih hadiah sama saya apa?
Sebagai pemegang NPWP pribadi Nomor : 08.001.280.0-111.000, atas Nama Ir. Poltak Simanjuntak, yang terdaftar 27-08-2004, saya merasa heran, terhadap pendapat appara, seolah-olah bukti sebagai pembayar pajak hanya dibuktikan dengan memegang kartu NPWP. Apakah appara tidak tahu ketika seseorang makan di restoran, naik bus, naik pesawat, membeli barang,menginap di hotel, parkir, telah merogoh sebagian koceknya untuk pajak?—->Syukurlah kalau appara sudah punya NPWP, wah Ir rupanya, apa arti Ir appara, bukan kepanjangannya lho….oh baru mulai tahun 2004 yah. Yang resmi sih begitu appara, adanya NPWP membuktikan kita sebagai Wajib Pajak dan inilah dokumen resmi yang digunakan.
Di satu sisi saya merasa senang bertemu dengan Simanjuntak yang mengaku Mardaup Tuan Sibadogil No. 12, namun di sisi lain, secara jujur saya ungkapkan keprihatinan saya, menemukan Marga Simanjuntak yang memposisikan diri seperti orang yang paling layak, untuk memberi nasehat!—-> Appara ga perlu prihatin sama saya, jangan-jangan malah kebalik sebenarnya…saya yang perlu prihatin sama appara hehehehe, sekali lagi, saya tidak pernah merasa mengatakan memberi nasehat ke temans, apalagi ke appara yang Ir hehehehe.
Horas—>Horas juga dari BMS
Horas Appara Bursok Mangalandong!
Sangat sungkan jadinya memulai perdebatan ini. Sebab, selain diginjang ni tutur, juga belum memiliki bahan yang cukup untuk memberikan penilaian terhadap pola fikir, akibat keterbatasan informasi tentang appara secara pribadi.
Namun, tidak ada salahnya saya kira untuk memulai suasana komunikasi dialogis yang bertujuan untuk pencerahan dan pencarian pendapat yang lebih sahih.
Saya memulai penilaian terhadap pendapat Appara dalam komentar saya terdahulu, berdasarkan ketidak setujuan saya terhadap tindakan saudara men-judge tiga orang penanggap dan pelontar pemikirannya dengan kata “cemooh dan cercaan”.
Atas alasan tersebut, saya bertanya, sejak kapan seseorang dapat memberikan penilaian secara salah, terhadap pendapat orang lain? Nilai kekritisan ketiga penanggap dan saya sendiri sebagai orang yang prihatin terhadap ketidakpedulian Pemda Propinsi Sumatera Utara dengan menganggarkan pengadaan mobil dinas hingga bernilai miliaran rupiah, tidaklah lebih buruk dari hanya sekedar mengerti kesulitan pemerintah dalam mengambil kebijakan seperti yang anda gambarkan.
Saya semakin meragukan kemampuan dan kekritisan anda yang menempatkan diri sedemikian rupa sebagai pemberi nasehat untuk berbuat lebih baik dan lebih banyak, tanpa berupaya memberi contoh tindakan, aksi dan pemikiran seperti apa yang pernah anda lakukan terhadap kebaikan negeri ini, untuk kami jadikan sebagai panutan.
Sebagai pemegang NPWP pribadi Nomor : 08.001.280.0-111.000, atas Nama Ir. Poltak Simanjuntak, yang terdaftar 27-08-2004, saya merasa heran, terhadap pendapat appara, seolah-olah bukti sebagai pembayar pajak hanya dibuktikan dengan memegang kartu NPWP. Apakah appara tidak tahu ketika seseorang makan di restoran, naik bus, naik pesawat, membeli barang,menginap di hotel, parkir, telah merogoh sebagian koceknya untuk pajak?
Di satu sisi saya merasa senang bertemu dengan Simanjuntak yang mengaku Mardaup Tuan Sibadogil No. 12, namun di sisi lain, secara jujur saya ungkapkan keprihatinan saya, menemukan Marga Simanjuntak yang memposisikan diri seperti orang yang paling layak, untuk memberi nasehat!
Horas
Appara Poltak,
Saya bukan sok penghotbah atau apalah sejenisnya…dan saya bukan kehilangan pemikiran kritis.
Saya hanya ingin mengatakan kepada teman-teman, mari posisikan diri lebih tepat, berbuatlah lebih baik dan lebih banyak. Silahkan mengkritisi apapun namun sebelumnya kita harus mengerti pasti apa yang mau kita kritisi. Kebetulan saya sendiri memang belum terlalu banyak berbuat untuk NKRI ini, hanya saya tahu pasti bagaimana seorang petinggi negeri ini harus mengambil kebijakan/keputusan untuk sesuatu.
Boleh kita ngedumel mengenai kekurangan pemerintah, tapi kita lihat dulu diri kita sendiri, apakah kita sudah berbuat sesuatu bagi negeri ini? Jangan-jangan yang punya pemikiran kritis itu belum pernah punya NPWP hehehehehe…
Jadi, jangan taunya hanya mengomentari…berbuat, jauh lebih baik
warm regards
BMS
Tung naso adong be rasa prihatin agia otik?Dalan ima nian dipadenggan jo.Boha do baenon ni akka mobil mewah na i lewat sian akka parguluan ni horbo i?Dohot muse ma annon biaya tu perawatan ni sipikkiran.ai tung na rarat ma akka pejabat on.So ala ni lobi ni hepeng.Dang sala nian manuhor na attar mewah, alai dang tepat waktuna sonari, hamuna.
Mauliate
Horas Amang Bursok Mangalandong!
Saya Poltak Simanjuntak, Hutabulu, Tumonggo Tua, Bursok Ronggur, No. 15.
Denggan hian molo paboaon muna nian Tarombo mu, asa binoto partuturan, paling tidak sebutan yang sesuai dengan norma kita sebagai Simanjuntak. Barangkali, lain waktu bolehlah memperkenalkan diri ate.
Menanggapi tanggapan “muna” tentang “Hilangnya Sense of Crisis Pejabat Sumut”, yang merupakan tanggapan atas tanggapan beberapa dongan tubu dan boru kita, saya tertarik untuk melibatkan diri dalam diskusi ini.
Selain, merasa bertanggungjawab sebagai pencetus/penulis topik tersebut, saya juga ingin mendebat “hamu” yang menempatkan diri menjadi “pengkhotbah yang moralis” yang cenderung kehilangan pemikiran kritis. Dengan, menempatkan para penanggap yang lebih awal (Farida, Gihon dan Pahala) sebagai orang yang hanya “mencela dan mencemooh” tanpa pengertian yang cukup, saya tidak sependapat dengan “hamu”. Justru, “hamu” memposisikan diri lebih tahu, lebih santun dan lebih paham, soal urusan pengadaan kenderaan.
Apakah “hamu”, tidak melihat yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang Walikota dan wakil walikota Kota Medan, dalam pengadaan Mobil Pemadam Kebakaran, ternyata terjadi dan berhasil menyeretnya ke penjara? Lalu, ketidakmungkinan apa yang tidak mungkin akan dilakukan seorang gubernur menjelang hari sore jabatannya? Untuk menyimpulkan, bahwa itu tidak mungkin, ternyata anda salah! Sebab pengumuman tender pengadaan kenderaan Dinas Gubernur Sumut yang dimuat di harian SIB itu resmi, dan jumlahnya, wah… 1,6 Miliar dan 900 juta untuk wagubsu!
Kalau “hamu” mengatakan ini, cemoohan dan celaan, saya jadi meragukan ketulusan pemaafan yang anda tawarkan kepada ketiga penanggap sebelumnya. Sikap “permisif”, seperti ini justru merupakan bentuk dukungan terhadap “ketidakpedulian sosial” pejabat akan nasib rakyat yang saat ini sedang menghadapi beban yang tidak ringan.Kalau “hamu”, bertanya apa yang sudah dilakukan terhadap rakyat, kenapa susah menjawab, sebab uang yang diperuntukkan dalam pengadaan mobil super mahal itu, bersumber dari kita, yaitu pajak.
Nah, pemikiran yang dilontarkan oleh Farida, Gihon dan Pahala, menurut saya bukanlah cemoohan dan cercaan, tetapi lebih sabagai tanggungjawab pembayar pajak dan warga negara yang berfikir kritis, positif dan konstruktif. Supaya, si gubernur yang menurut anda sudah menjelang sore itu, tidak perlu terpenjara, seperti nasib Abdillah dan Ramli, di hari tuanya. Kan begitu??? Mengingatkan, orang lain agar tidak melakukan “dosa” merupakan ibadah yang hidup…
Horas!