Batak, Apa Artinya?

12
1110

Sudah sejak lama sebutan (perkataan) Batak sebagai nama salah satu etnis di Indonesia diteliti dan diperbincangkan banyak orang asal kata atau pengertiannya. Bahkan melalui beberapa penerbitan suratkabar pada awal abad 20 atau juga masa sebelumnya, pernah terjadi polemik antara sejumlah penulis yang intinya memperdebatkan apa sebenarnya pengertian kata (nama) Batak, dan dari mana asal muasal nama itu.

Di suratkabar Pewarta Deli No. 82 tahun 1919 misalnya, polemik yang paling terkenal adalah antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J. Simanjutak. Keduanya saling mempertahankan pendirian dengan argumentasi masing-masing, serta polemik di surat kabar tersebut sempat berkepanjangan. Demikian pula di suratkabar keliling mingguan yang di terbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920, perbincangan mengenai arti sebutan Batak itu cukup ramai dimunculkan.

Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya menyatakan diri tampil sebagai penengah di antara silang pendapat tersebut. JS dalam tulisannya antara lain mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda (alm) yang diterbitkan tahun 1903, yang pada halaman 64 cuplikannya sebagai berikut : “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : orang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak”, yang artinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan/red BONA) kepada bangsa itoe…”

keterangan serupa juga dikemukakan Dr. J. Warneck (Ephorus HKBP) dalam bukunya berjudul “Tobabataksch-Deutsche Woterbuch” seperti tertulis di halaman 26.

Menurut JS yang beralamat di Pangaribuan seperti tertulis di suratkabar Imanuel, tuan L.Th. Meyer juga menulis dalam bukunya berjudul “Maleisch Hollandsch Wordenboek“, pada halaman 37 : “Batak, Naam van een volksstamin in Sumatra…” (Batak adalah nama satu Bangsa di pulau Sumatra).

Keterangan itu dituturkan JS dalam tulisan pendeknya sebagai meluruskan adanya anggapan ketika itu seolah-olah perkataan Batak memberi pengertian terhadap suatu aliran/kepercayaan tentang agama tertentu yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak.

Citra Keperkasaan

Menyimak beragam catatan tentang topik yang sama, ternyata pada umumnya kata Batak meyiratkan defenisi-defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Sebab menurut Amborsius Hutabarat dalam sebuah catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938 menyimpulkan, pengertian Batak sebagai orang yang mahir menaiki kuda memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang memiliki jiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan dalam menghadapi bahaya/rintangan.

Drs DJ Gultom Raja Marpodang menulis adanya teori mengatakan bahwa suku Batak adalah Si-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda sekitar Asia Tenggara sekarang memasuki pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia. (Buku Dalihan Natolu, Nilai Budaya Suku Batak, hal 32 cetakan 1992).

Drs DJ Gultom dengan bersusah payah telah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak, dengan membaca sejarah, legende, mithologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat.

Beberapa perkataan “batak” antara lain dalam bahasa Batak Pakpak Dairi berbunyi : “Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn“. Maksudnya adalah bahwa mmas batak dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tapak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Penggertian kata mmas batak dalam umpasa itu disimpulkan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia. Dengan demikian pengertian batakn pada masyarakat Dairi adalah asli, sejati, murni, atau mulia. Sebutan kata Batak pada masyarakat Dairi konon sangat bermakna, tak bisa sembarangan disebut, sehingga kata batak itu seperti disucikan.

Temuan perkataan “batak” pada Batak Karo antara lain adalah : Mbatak-mbatakken jenujung si Tongat kari berngi“. Maksudnya, nanti malam akan diadakan mbatak-mbatakken jenujung si Tongat. Masyarakat Karo berpandangan bahwa seorang manusia ada jenujungnya (junjungan) yang selalu mendampingi. Jenujung adalah roh yang mengikuti seseorang, dan sering membantu seseorang itu disaat dia terancam bahaya. Apabila jenujung seseorang meninggalkan atau tidak lagi mengikutinya alamat yang bersangkutan akan mendapatkan bahaya atau sakit-sakitan. Usaha agar jenujung seseorang kembali mengikutinya harus dengan melaksanakan upacara spritual. Itulah yang disebut orang Karo mbatak-mbataken. Dengan pengertian ringkas sebutan tersebut adalah suatu usaha suci agar seseorang tetap sehat kuat selamat sentausa. Masih ada ungkapan pada bahasa Karo berbunyi “Ibatakkenmin adah nda“, artinya bentuklah tempat itu. maksudnya apabila seseorang hendak mendirikan rumah, langkah pertama adalah meratakan tanah pertapakan didahului suatu kegiatan ritual agar rumah yang dibangun menjadi tempat yang sehat sejahtera bagi penghuninya. Itu dimaksud pula untuk pembuatan pundasi yang kuat agar rumah yang dibangun kokoh. Jadi pengertian ibatakken atau batak pada masyarakat Karo adalah usaha yang suci agar sehat dan kuat.

Adapun temuan perkataan “batak” pada bahasa Batak Simalungun, antara lain ” Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon“. Artinya, tinggikanlah batohan agar bagus sawah kita ini. Sawah yang terletak di pinggir sungai atau di lereng gunung sering rusak karena banjir. Untuk mencegahnya, maka di pinggir sawah dibuat benteng yang kuat penahan serangan banjir. Itu sebabnya, ada ungkapan “patinggi ma batohan i, ase dear sabahtaon”. Jadi pengertian Batahon pada masyarakat Simalungun adalah tumpuan kekuatan untuk menahan bahaya serangan.

Di Pilipina konon ada satu pulau yang bernama Batac (huruf “c” dibelakang). Di pulau itulah terdapat masyarakat yang banyak memiliki persamaan budaya dan bahasa dengan orang Batak Toba di Sumatera Utara. Konon pengertian kata “batac” di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Seperti pernah diturunkan dalam satu tulisan di media Liputan Bona Pasogit beberapa waktu lalu, orang Pilipina terutama yang berasal dari kawasan daerah Batac di sana, merasa berada di negaranya saat berkunjung ke Sumatera Utara. Mereka menemukan pula sejumlah perkataan yang sebutan dan artinya sama dengan yang ada di negaranya. Misalnya kata “mangan” (makan), “inong” (inang), “ulu” (kepala), “sangsang” (daging babi cincang dimasak pakai darahnya) dan banyak lagi.

Apakah ada pula hubungan kata Batak dengan “batu bata” atau batako (batu yang dibuat persegi empat memakai semen) yang digunakan untuk bangun-bangunan? Belum diketahui persis. Tapi arti kata “batu bata” dari “batako” juga dilukiskan sebagai bermaknaa kuat, kokoh, tahan lama. Sehingga bisa juga mendekati pengertian Batohan pada bahasa Simalungun.

Catatan yang penulis uraikan ini mungkin belum tentu sudah menjadi pengertian final tentang arti sebutan /kata Batak. Tapi berdasarkan berbagai catatan yang dikemukakan diatas, barangkali satu sama lain cukup mendekati untuk dirumuskan menjadi suatu kesimpulan. Apabila sebutan Batak itu berasal dari perkataan “mamatak” (penunggang kuda) kita mungkin bisa membayangkan kedekatan sejarah nama itu dengan karakter dan gaya hidup para leluhur di masa lampau yang diwarnai perjuangan, pertarungan, pertempuran, keberanian menghadapi berbagai tantangan demi mempertahankan eksistensinya.

Kuda selalu di ilustrasikan menjadi simbol keberanian, keperkasaan, keuletan dan jiwa kejuangan. Di jaman dulu, siapa tahu, orang Batak menggunakan kuda dalam merintis perkampungan ke daerah-daerah pedalaman, atau saat bertarung dengan musuh-musuhnya. Mungkin karena itu pula, lukisan Sinsingamagaraja XII oleh Agustin Sibarani dibuat menunggang kuda sehingga nampak lebih menekankan keperkasaan seorang tokoh pejuang. Sementara hingga saat ini di berbagai pelosok daerah terpencil di Tanah Batak, masih banyak penduduk yang menggunakan jasa kuda meskipun hanya sebatas pengangkutan barang.

Mungkin diantara pembaca masih ada yang memiliki catatan atau dokumen yang masih bisa memperkaya wacana seputar asal kata atau pengertian sebutan Batak, tentu akan sangat bermanfaat untuk melengkapi tulisan yang sifatnya masih terbatas ini.

(Dari berbagai sumber).

12 COMMENTS

  1. Batak adalah sebutan orang eropa terhadap orang2 yang tinggal di pegunungan. Di Eropa tengah ada juga suku Batak yaitu orang2 yang tinggal di kaki gunung Alpen. Demikian juga di Filipinan orang2 pegunungan disebut suku Batak. Batak itu berasal dari bahasa Belanda dan juga Inggris. Nenek moyang saya di Sipirok hanya tahu orang Mandailing, Orang Toba, Orang Padang Polak, orang Hasundutan, orang Karo, orang Fakfak, orang Daret (Minang), orang Melayu, orang Gayo, Orang Aceh, orang Nias. Kami orang Sipirok masuk golongan orang Toba. Masih ingat dulu kata2 ompung bapak saya, kalau orang2 dari Toba datang menjual kuda, baju, parang ke Sipirok, kami berbisik2 he diam itu sudah datang halak Toba. Ompung kami marah sama kami tidak boleh menjelekkan orang Toba karena kita juga halak Toba katanya.

  2. Yang jelas, di Indonesia Identitas kita adalah orang Batak.

    Terimakasih atas tulisan ini dan keterangan tambahan dari komentator. Semua itu ada benarnya juga, dan telah menambah pengetahuan bagi saya.

    Salam !

  3. di Philipina dekat palalawan ada juga suku BATAC. saya mengambil kesimpulan bahwa mereka ada hubungan dengan BATAK di indonesia. BATAC di philipina mempunyai sebutan Diwata utk roh yang baik. Bandingkan dengan Debata utk makna yang hampir sama pada kosa kata BATAK TOBA. Dibata (BATAK KARO).
    TUh khan ada kemiripan????

  4. trimakasih atas infonya. sekalipun saya belum puas. kalau disebut sebagai penunggang kuda,memang saya setuju sebab dalam budaya primal Toba juga menunjukkan ciri khas itu. bahkan memuncak pada pengakuan adanya Hoda Debata na nimiahan. kata penunggang kuda sendiri kita harus cari dalam bahasa yang dekat dengan kata Batak (proto-melayu?). ini masih tugas berat ya bagi pencinta budaya Batak. Mauliate ma

  5. Orang Batak menyebutnya Batak; Orang Batak (ejaannya b-a-t-a-k) ada juga salah satu suku di daerah pegunungan di Bulgaria dan sejarahnya hampir sama dengan Batak di Tanak batak sekarang, karena mereka hampir dipunahkan juga oleh Orang Turki; Orang Batak (ejaannya b-a-t-a-k) ada di pulau Palawan Pilippina dan mereka hanya tinggal sekitar 500 orang terpinggirkan dan sudah masuk program penyelamatan dunia. Para nenulis Eropah menyebut Batak yang ada di Tanah Batak sekarang dengan sebutan: Bata, Batta, Battas, Battech, termasuk Batak. Pada awalnya para penulis Eropah ini tidak menyebutkan Mandailing, Angkola, Toba, Silingung, dll. melainkan hanya “Batak”, tetapi setelah abad-18 seperti William Marsden mengelompokkannya menjadi Batak Mandailing, Batak Angkola, Batak Padang Bolak, Batak Silindung, dll. Kalau ada sub-bangsa Batak yang tidak mengakui Batak berarti mereka pendatang ke Tanah Batak

  6. horas jala gabe….
    nama batak memang unik dan sangat mendalam artinya, trimah kasih juga atas tulisan yg di buat menjadi berkembang buat keturunan-keturunan Batak di dunia. Nama Batak itu sangat indah dan bersahaja, Batak sulit di mengerti dalamnya. Batak adalah nama yg Mulia dan menyentuh jati diri yang suci dan penuh kearifan. Batak atau Raja Batak memberikan kepeda keturunan-keturunannya yg mulia dan sangat mendalam dengan luhur budi suatu saat kelak pada keturunan Raja Batak yg ada di dunia. Di dalam jati diri batak ada jati diri yg agung dan mulia adalah Pengetahuan, welas kasih, kepemimpinan. Tetapi dalam diri batak itu sendiri sudah tidak lengkap lagi tiga dimensi.horas tondi madingin…..

  7. horas…

    it’s very interesting to know batak history. terimakasih dengan informasi yang telah dikongsi bersama. saya berminat untuk mengetahui bagaimana hutan [forest] mempengaruhi kehidupan komuniti batak; dari segi pakaian tradisi, pertanian, cara hidup, kepercayaan dan sebagainya.

    is there anyone can help me where to find these informations…

    thank you and peace to all!!

  8. Banyak sekali tulisan saat ini yang mendiskreditkan arti kata batak, seperti yang lagi marak dibicarakan sehubungan dengan penelitian Ichwan Azhari sebagaimana tertera di blog berikut:
    http://nbasis.wordpress.com/2010/11/21/seputar-kontroversi-tentang-sebutan-batak-sebaiknya-azhari-%E2%80%9Cdilawan%E2%80%9D-dengan-data/.

    Terus terang, saya pribadi belum begitu puas dengan apa yang saya baca di sini. Saya kira para ahli-ahi sejarah terlebih dari orang batak tulen perlu melakukan penelitian yang lebih mendalam, agar kata batak ini tidak lagi menjadi polimek di kemudian hari, yang bisa saja sengaja diisukan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengganggu kehidupan orang batak.
    Istitusi seperti geraja HKBP, saya kira juga sangat diharapkan bisa memberi peranan yang lebih mendalam, mengingat gereja ini memakai kata batak untuk namanya dan mempunyai keterkaitan yang dalam dengan negeri asal-muasal misionaris Jerman.

LEAVE A REPLY