Beberapa Catatan Ringan Tentang Adat Batak

1
639

Tulisan ini berdasarkan apa yang penulis lihat dan dengar serta saksikan dalam upacara perkawinan di Daerah Tanjung Barat Pasar Minggu, yang saya goreskan dalam bentuk catatan-catatan berikut tentang dan sekitar Adat Batak.

Soal Waktu

Lepas dari pertanyaan siapa/marga apa yang berpesta, dan siapa hasuhuton, tetapi ketika penulis bersama keluarga tiba di tempat upacara/tempat acara perkawinan dilaksanakan, yakni kurang lebih 30 menit lewat waktu yang telah di tetapkan dalam surat undangan (Gokkon dohot Jou-jou), ternyata acara adat sudah dimulai. Berarti upacara sudah dimulai TEPAT PADA WAKTU-nya, sesuai waktu yang tercantum dalam undangan.

Melihat keadaan ini, maka penulis bicara dalam hati : “Ini suatu kemajuan!”. Sebab cukup banyak upacara adat perkawinan yang penulis telah ikuti. Banyak yang baru mulai setelah lewat waktu, kadang-kadang sampai 1 jam, bahkan lebih. Alasan-alasan sehingga sesuatu upacara adat baru dimulai setelah lewat satu jam itu, bermacam-macam adanya, mulai dari : acara di gereja terlambat dimulai atau atau acara gereja sebenarnya sudah dimulai tepat pada waktunya, tetapi kemudian dilanjutkan dengan ambil foto dengan keluarga ini dan itu; ada kalanya makanan tertentu (-apalagi kalau “namargoarna”, yang punya nama itu) belum tiba, maka acara belum bisa dimulai; ada kalanya makanan sudah siap semuanya, tetapi harus menunggu tibanya “keluarga yang menentukan, seperti hula-hula atau tulang rorobot, entah apalagi namanya.

Maka seringkali upacara adat dimulai setelah lewat waktu sekian jam dari waktu yang ditetapkan dalam surat undangan. Surat undangan itu sendiri, sudah merupakan suatu kemajuan, dalam arti di bona pasogit, dalam suasana asli Adat Batak undangan tertulis bukanlah suatu kebiasaan!

Masih dalam rangka “WAKTU”, di samping saat memulainya, maka tidak kurang pentingnya adalah lamanya pelaksanaan sesuatu upacara adat. Perlu kiranya diperhatikan dan diusahakan agar pelaksanaan upacara adat itu jangan terlalu banyak memakan waktu. Di samping masalah “jam karet”, maka masalah yang tidak kurang mendesaknya adalah “agar pelaksanaan Adat Batak itu jangan sampai bertele-tele”. “Time is Money”, kata pihak sana, yang maknanya agaknya sudah (mulai) terasa oleh (banyak) pihak di kalangan masyarkat Adat Batak itu sendiri.

Penulis dalam hal ini hanya melontarkan saja dulu ke permukaan masalah yang dimaksud, yakni masalah WAKTU dalam pelaksanaan Adat Batak. Bagaimana menghadapi dan mengatasinya, mari kita sama-sama mengusahakannya. Pasti memerlukan tenaga, waktu dan kesabaran!

Pemberian Kado (Cadeau) di Samping Ikan (Dengke)

Ketika penulis memasuki ruangan tempat upacara Adat Perkawinan yang memberikan bahan-bahan untuk catatan-catatan ringan ini, maka telah tersedia Daftar Buku Tamu, dan petugas (parhobas) pun sudah siap untuk menerima dan mencatat nama dan alamat pemberi Kado dan atau pemberi Ikan (Dengke), masing-masing secara terpisah.

Selesai mencatat dan tanda tangan, maka kepada si pemberi diberikan tanda “ucapan terima kasih” atas nama pengundang dan penganten. Nama pemberi ikan (dengke), kemudian diumumkan ketika makan, sedang yang member kado tidak. Agaknya, hanya ikan (dengke) yang ber-Adat (dalam arti merupakan bagian yang integral dari pada upacara adat), sedangkan kado tidak (atau belum?). Kado, pemberian kado pada adat perkawinan Batak, kita catat sebagai suatu bentuk perkembangan dalam pelaksanaan upacara adat perkawinan, yang sepanjang pengetahuan penulis, tidak ada pada aslinya di bona pasogit. “Ikan yang ber-Adat” dalam arti diberikan pihak-pihak yang ada hubungan kekeluargaan tertentu dengan penganten yang bersangkutan, akan latar belakang motivasi pemberiannya perlu kiranya diselidiki untuk kejelasan. Kebapa harus Ikan/Dengke? Jika sekedar sebagai bentuk partisipasi dalam suasana gotong royong kekeluargaan, maka “mamboan dengke” (membawa ikan) itu pada saatnya bolehlah berupa “mamboan manuk” (membawa ayam), atau bentuk lain lagi(?!).

Kita tidak tahu persis kapan pemberian Kado itu dimulai, dan siapa yang memulainya. Tetapi apabila ingin ditelusuri sejarah/latar belakangnya, yakni pemberian Kado dan bukan Ikan itu, agaknya ia bermula dari seseorang yang ingin memperlihatkan rasa simpatinya kepada keluarga yang berpesta serta ingin ikut sekedar berpartisipasi sosial kekeluargaan pada keluarga yang baru. Ia sudah diundang, maka di samping waktunya nanti akan mengundangnya (-azas resiprositas/timbal balik-), maka diberikanlah Kado, yang merupakan bukti rasa turut berpartisipasinya. Terutama dari pihak-pihak non-Batak, yang dari suku lain, maka pemberian Kado tersebut memang ada dasar pembenarannya (justification-nya).

Mungkin suatu ketika nanti, entah kapan… yang memberikan Kado-pun, sama seperti yang membawa Ikan (Dengke), akan diumumkan pula secara resmi dan terhormat! Pemberian Kado “yang terorganisasi dan yang berdasarkan kebutuhan nyata”, … jika perlu dengan menanyakan lebih dulu apa yang diperlukan/diprioritaskan sebagai rumah tangga (penganten) yang baru…, kita menyongsong timbulnya keadaan yang demikian. Akan tercatat sebagai perkembangan yang (lebih) baru lagi!

Kursi Meja, Sendok Garpu

Memasuki ruang/gedung uapcara, maka telah tersedia kursi meja, makanan dengan segala macamnya dan bahkan sensok garpunya seperlunya. Para undangan partisipan upacara Adat Perkawinan di kota-kota besar, seperti Jakarta, sudah menerima keadaan itu sebagai seuatu yang biasa, dan bahkan sudah seharusnya. Padahal kalau diingat keadaan di bona pasogit, maka Tikar (Lage), makan tanpa sendok garpu, adalah merupakan gambaran umum kebiasaan, yang dilakukan bukan dalam gedung melainkan di halaman dan di alam terbuka.

Jelas upacara adat perkawinan, pelaksanaannya telah terbukti lagi mengalami perkembangan, karena katakanlah “perkembangan zaman”. Orang di bona pasogit yang pekerjaannya pada umumnya adalah bersawah, berladang dan sebagainya, tidaklah memerlukan sepatu. Maka kalau dalam upacara adat, “hundul di lage dan di halaman”, merupakan kebiasaan yang biasa dan normal. Sedangkan orang kota, yang kalau keluar rumah untuk bekerja di kantor atau kemana pun, maka bersepatu merupakan kebiasaan kalau bukan keharusan. Maka… bermunculanlah gedung-gedung pertemuan dengan meja kursi, garpu dan sendoknya, bahkan sampai pada AC dan TV-nya segala!

Makanan pun tidak dipersiapkan lagi secara “gotong-royong kekeluargaan”, tetapi perusahaan-perusahaan “catering” sudah memberikan jasa-jasanya, secara “zakelijk komersial!” Kembali kita catat… perkembangan dalam pelaksanaan upacara Adat Perkawinan Batak!

Pemberian Marga dengan Dokumen Tertulis

Kebetulan pesta Adat Perkawinan yang penulis hadiri yang jadi bahan uraian bagi catatan-catatan ringan karangan ini, penganten perempuanya adalah berasal dari bukan suku Batak, yang tidak bermarga. Bagian pertama pesta ini merupakan “upacara pemberian marga” bagi penganten wanita. Dan, marga yang diberikan adalah marga sesuai dengan marga ibunya penganten laki-laki. Seperti biasa “upacara pemberian marga” ini berlangsung dengan kata-kata sambutan dari berbagai pihak terkait. Yang paling mengesankan bagi penulis adalah, bahwa pada bagian akhirnya oleh keluarga yang member marga diberikan dan dibacakan suatu PIAGAM TERTULIS perihal pemberian marga itu. Suatu peristiwa yang baru pertama kali ini penulis saksikan. Entah gagasan (ide) siapa ini. Kita patut mencatatnya sebagai suatu perkembangan dalam pelaksanaan Adat Batak. Sungguh suatu peristiwa yang bersejarah.

Penutup

Demikian beberapa catatan ringan mengenai pelaksanaan/upacara Adat Batak. Adat Batak itu tidak statis. Ia berkembang terus, mengikuti perkembangan zaman. Para pelakunya patut dengan sadar menyadarainya.

Jakarta, Mei 1988

Di sadur dari : Bulletin PARSAORAN PSSSI & B Jakarta Raya dan Humaliangna, Edisi Juli 1988
Oleh : DR. Mr. J.C.T. Simorangkir

1 COMMENT

  1. Ada yang harus kita pernyatanyakan dalam adat Batak ini.

    Pelaksanaannya sedimikian rumitnya, kadangkala menekan orang yang punya pesta, membutuhkan biaya yang tidak sedikit dibanding jika tidak pake adat. memakan waktu yang tidak seebntar jika dibanding orang lain yang hanay pemberkatan dan resepsi saja.
    Adat lebih penting daripada pemberkatan hanya seharusnya adalah hal yang lebih sakral, karena disitulah kedua mepelai sah menikah dihadapan Tuhan, tapi sering dianggap tidak penting. Acara pemberkatan bisa hanya 2 jam, tapi acara adat bisa seharian bahkan masih ditambah lagi tetek bengek setelah adat.

    Ada hal-hal yang ganjil juga, ulos harus sejumlah angka tertentu, dengke harus ganjil. ANEH. Benarkah Tuhan YESUS mengajarkan seperti itu.

    Adakalanya orang melakukan pesta adat dengan menguras biaya yang besar, biar SANGAP dimata orang, tapi setelah selesai pernikahan, keluarga yang pesta berutang, padahal YESUS menghendaki, cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.

    Adat istiadat Bapat sebenarnya adalah warisan Ugamo Batak ketika Injil belum sampai ke Tanah Batak. Waktu itu yang disembah orang Batak adalah Debata Mulajadi Nabolon yang tentunya bukan Tuhan.
    Sampai sekarang, meskipun orang Batak sudah mengaku pengkut YESUS, namun perangkat pemujaan kepad Debata (sembahan animis, atau Parmalim) masih diikuti oleh orang Batak. Untuk pernikahan misalnya, sebenarnya perangkat yang digunakan lebih banya perangkat dari Agama Batak, sementara acara Kekristenan hanya lebih/kurang 2-3 jam. Walapun dalam upaca adat, ada doa, tapi sebenanrnya doa itu sudah dibungkus oleh kemasan upacara Agama Batak.

    Sekian ratus tahun orang Batak mengaku pengikut YESUS, tapi masih mengikuti upaca agama animis.

    Renungkan lah hal itu.

LEAVE A REPLY