Bersyukur

2
634

AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YG KUSUKAI, NAMUN AKU SELALU MENYUKAI APA YANG KUDAPATKAN

Kata-Kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita.Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama :
Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan,bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah kita telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap,dan pasangan yang terbaik. Tapi kita masih merasa kurang. Pikiran kita dipenuhi target dan keinginan.

Kita begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang.
Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan . Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapa pun banyak yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA”dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan,tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang kita miliki, dan syukurilah. kita akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian kita pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar kita. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Kita cintai, setelah itu cintailah orang yang Kita nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah :
Kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa yang lulus sesuai kurikulum di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar bergonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar.

Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ”Lulu, Lulu.” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ”Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Jamila ndang parumaen ni pandita).” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ”Jamila, Jamila”. ”Orang ini juga punya masalah dengan Jamila?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ”Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Jmila.”

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”
Bersyukurlah !

Bersyukurlah bahwa kita belum siap memiliki segala sesuatu yang kita inginkan…. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ? Bersyukurlah apabila kita tidak tahu sesuatu … Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar … Bersyukurlah untuk masa-masa sulit … Di masa itulah kita tumbuh … Bersyukurlah untuk keterbatasan kita … Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang … Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru … Karena itu akan membangun kekuatan dan karakter kita …
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kita buat … Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga … Bersyukurlah bila kita lelah dan letih … Karena itu kita telah membuat suatu perbedaan … Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik…
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut… Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …

Temukan cara bersyukur akan masalah-masalah dan semua itu akan menjadi berkah bagi kita

Filipi 4 :6
by Edward Simanjuntak
Mardaup – Tuan Sibadogil – Ompu Raja Diam No. 16

….////////…..——–

2 COMMENTS

  1. Artikel yang sangat bagus.
    Mauliate di natua tua nami naung bersedia menulis di situs ini.
    Bagaimana dengan generasi muda yang lain? Lihat nih natua tua kita masih interst untuk berpartisipasi disini. Jangan mau kalah dong sama orang tua.

  2. Horas Amang Edward,
    Nunga leleng artikel on huida judul na, alai ndang hutorushon manjaha. Ninna rohakku, jamita na somal-somal i do ra on.
    Hape, sadarion, nanget hujaha sian ginjang, ba ditarik ibana torus tu toru, sampe sae. Ternyata, Jamita na denggan jala na kontekstual do tu ngolu siapari. Las roha, jala bersyukur, kita memiliki orang-orang yang mampu memberikan bekal moral dan spritualitas.

    Mauliate Amang Edward. Molo adong dope tikki mu, tamba i hamu, akka nauli sisongonon.

    Salam,

    Poltak Simanjuntak

LEAVE A REPLY