Sejarah Simanjuntak

Anak pertama Raja Marsundung Simanjuntak (Simanjuntak yang pertama) lahir dari Boru Hasibuan, yaitu Raja Parsuratan Simanjuntak (parhorbo jolo). SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina adalah 3 bersaudara lahir dari Sobosihon Boru Sihotang istri yang berikutnya

Simanjuntak Sitolu Sada Ina yaitu:

  1. Raja Mardaup SImanjuntak
  2. Raja Sitombuk Simanjuntak
  3. Raja Hutabulu Simanjuntak

Mulanya sebutan ‘parhorbo jolo-pudi’ ini merupakan sindiran masyarakat karena pembagian warisan yang aneh oleh RAJA PARSURATAN terhadap adiknya. Sindiran tersebut karna parhorbo jolo sebagai anak sulung tidak adil membagi harta warisan (sawah dan kerbau) sepeninggal ayahanda di Balige. RAJA MARSUNDUNG menikah dengan SOBOSIHON Boru SIHOTANG setelah istrinya Boru HASIBUAN meninggal. RAJA PARSURATAN pernah hampir membunuh SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina sewaktu SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina masih bayi. Ketika RAJA MARDAUP lahir RAJA PARSURATAN hampir membunuhnya namun gagal berkat antisipasi Ompu-nya SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina yaitu SI GODANG ULU (SIHOTANG) maka RAJA MARDAUP selamat. Kisah itu diketahui SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina setelah mereka dewasa, namun SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina tetap tidak pernah menaruh dendam terhadap kakaknya atas pesan dari ibunda tercinta agar SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina tetap menganggap RAJA PARSURATAN sebagai pengganti ayah. Diceritakan oleh CYRUS JALA SIMANJUNTAK (1902-1975) dan Pdt.Ev. SAITUN ROBERTH HASIHOLAN SIMANJUNTAK (1946-2006)

RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK adalah anak kedua dari pasangan TUAN SOMANIMBIL dan istrinya Boru LIMBONG. Mereka mempunyai tiga anak, yitu:

  1. SOMBA DEBATA SIAHAAN, menikah dengan Boru LUBIS.
  2. RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK, menikah dengan Boru HASIBUAN lalu kemudian setelah duda menikah dengan SOBOSIHON Boru SIHOTANG.
  3. TUAN MARRUJI HUTAGAOL, menikah dengan Boru PASARIB

RAJA MARSUNDUNG menikah dengan Boru HASIBUAN lalu mereka menetap di Hutabulu (sekarang Parlumbanan). Mereka dikaruniai seorang putera bernama RAJA PARSURATAN dan seorang puteri bernama SIPAREME. Kehidupan mereka diberkati dengan banyak sekali ternak kerbau hingga orang sering menyebut RAJA MARSUNDUNG dengan sebutan ‘SIMANJUNTAK PARHORBO’.

Mautpun memisahkan dan RAJA MARSUNDUNG menjadi duda setengah umur. Suatu saat dia sakit parah bahkan dia tak sanggup mengurus dirinya sendiri. Menurut adat Batak Toba yang layak mengurus dia hanya Boru LUBIS yang adalah istri abangnya (akang boru). Kalau Boru PASARIBU yang adalah istri adiknya (anggi boru) pantang saling bicara dengan dia begitu juga menantunya (parumaen) tidak boleh berbicara dengan dia sebab begitu adatnya. Sementara puterinya sendiri, SIPAREME segan mengurusnya sampai perkara yang sangat sensitif.

Kemudian RAJA MARSUNDUNG pulih lalu SOMBA DEBATA SIAHAAN menganjurkan padanya agar dia menikah lagi supaya ada yang mengurusnya kelak apabila dia sakit. Hal ini tidak disetujui RAJA PARSURATAN dan TUAN MARRUJI HUTAGAOL namun, karena fakta dan pengalaman pahitnya, RAJA MARSUNDUNG setuju untuk menikah lagi.

Pada masa itu ada istilah kalau ingin mencari istri pengganti maka sebaiknya pergi menyeberangi danau Toba (versi asli: molo mangalului panoroni ba borhatma tu bariba ni tao Toba). SOMBA DEBATA SIAHAAN dan RAJA MARSUNDUNG pun berangkat ke daerah Si Raja Oloan. Di sana ada seorang lelaki yang agak asing rupa fisiknya. Bentuk kepalanya besar dan dia dinamai RAJA SI GODANG ULU SIHOTANG. Keanehan ini juga tampak pada anak – anaknya sehingga terkadang mereka sering dikucilkan banyak orang sampai – sampai walaupun puterinya sendiri SOBOSIHON berumur banyak belum ada laki – laki yang mau melamarnya hingga RAJA MARSUNDUNG melamarnya.

Kedatangan RAJA MARSUNDUNG melamar SOBOSIHON sangat menggembirakan hati RAJA SI GODANG ULU walaupun yang melamar puterinya adalah seorang duda yang sudah memiliki anak. Namun itu bukan persoalan baginya dan pernikahan secara adat sepenuh (adat na gok) dilakukan. Wali pengantin prianya adalah SOMBA DEBATA SIAHAAN. SOBOSIHON pun menjadi istri RAJA MARSUNDUNG. Mereka bermukim di Parlumbanan (saat narator berkunjung ke daerah Parlumbanan lokasi daerah ini merupakan persawahan).

Setelah tiba waktunya bagi SOBOSIHON untuk melahirkan, beberapa hari sebelumnya dia telah memberi kabar kepada ayahnya tentang keadaannya itu. Namun, perasaan sang calon ibu ini gelisah setelah mendapat mimpi; ketika SOBOSIHON akan mandi di Aek Na Bolon, setelah dia membuka bajunya tiba – tiba petir menyambar buah dadanya sebelah. Mimpi ini juga diberitahukan kepada RAJA SI GODANG ULU. Setelah mendengar kabar dan mimpi puterinya itu dia menyuruh menantu perempuannya (parumaen) berangkat menemui puterinya di Parlumbanan Balige. Padahal menantunya ini baru lima hari selesai melahirkan bayi perempuan namun, karena taat kepada mertuanya dia tetap bersedia pergi disertai tugas dan pesan khusus dari RAJA SI GODANG ULU. Adapun tugas dan pesan itu;

– Memberitahu SOBOSIHON bahwa akan ada bahaya yang mengancam bayinya setelah dia bersalin.

– Apabila bayi yang lahir laki – laki maka bayi itu harus ditukarkan dengan bayi perempuan menantunya ini dan bayi laki – laki itu harus dipangku dan disusui oleh menantu RAJA SI GODANG ULU ini sampai bahaya berlalu.

– Kelak apabila kedua bayi itu sudah dewasa maka mereka sebagai berpariban telah dipertunangkan sejak lahir (dipaorohon).

Sesampainya di Parlumbanan, menantu RAJA SI GODANG ULU atau yang disebut ‘Nantulang Na Burju’ oleh Parhorbo pudi ini, dia mendapati SOBOSIHON sedang bergumul dibantu dukun beranak (sibaso) untuk bersalin. Lalu kemudian lahirlah bayi laki – laki dan setelah dimandikan sang bayi langsung ditukarkan sesuai pesan tadi.

Diadakanlah acara makan bersama (pangharoanion) untuk syukuran kelahiran bayi itu. Seluruh penduduk kampung diundang. Mendengar kabar bahwa adik tirinya adalah laki – laki maka RAJA PARSURATAN menjadi benci dan ingin membunuh adiknya itu sebab menurutnya kelak akan ada pewaris harta ayahnya selain dia.

RAJA PARSURATAN pun datang ke acara itu dan dia membawa pisau penyadap pohon enau di dalam sarung yang terselip di pinggangnya. Kehadirannya membuat semua orang terharu sebab selama ini dia memusihi ibu tirinya, namun di saat kegembiraan dirasakan dan dirayakan ibu tirinya dia turut hadir di sana. itulah penilaian orang kebanyakan. Padahal RAJA PARSURATAN hendak memanfaatkan momen ini untuk membunuh adik tirinya. Lalu dia meminta supaya dia boleh memangku adiknya yang baru lahir itu. Dan bayi yang telah bertukar tadi pun dipangkunya sampai bayi itu basah atau kencing. RAJA PARSURATAN ingin mengganti kain popok adiknya.

Inilah kesempatan bagi RAJA PARSURATAN. Ketika mengganti kain popok adiknya maka dia berencana untuk menyelipkan pisau ketika kain itu dipakaikan. Dia pun meminta kain pengganti itu pada SOBOSIHON. Namun SOBOSIHON takut kalau – kalau RAJA PARSURATAN tahu bahwa bayi yang dipangkunya bukanlah adiknya. Dia mengatakan pada RAJA PARSURATAN supaya biarlah ibu yang mengganti kainnya. Akan tetapi karena RAJA PARSURATAN tetap berkeras untuk mengganti kain adiknya maka orang banyak pun menyuruh SOBOSIHON agar menurutinya.

Saat membuka kain basah bayi yang dipangkunya RAJA PARSURATAN terperanjat karena bayi yang dilihatnya bukanlah bayi laki – laki. Merasa niatnya sudah terbaca maka geramlah hatinya dan dia berdiri lalu melangkahi bayi itu dan berjalan menghampiri SOBOSIHON dan berkata; “Orang mengatakan bahwa yang lahir adalah adikku laki – laki tetapi engkau telah menipuku dengan memberi anak perempuan orang lain untuk aku pangku, inilah bagianmu” RAJA PARSURATAN menghujamkan pisau tepat di dada dan memotong buah dada SOBOSIHON lalu setelah itu lari meninggalkan acara yang dalam keadaan kacau.

RAJA PARSURATAN tidak berhasil menemukan dan membunuh adiknya tetapi buah dada SOBOSIHON ibu tirinya telah menjadi tumbalnya (daupna) maka bayi laki – laki itu diberi nama RAJA MARDAUP. Demikianlah RAJA MARDAUP diselamatkan ‘Nantulang Na Burju’ yang rela menyeberangi danau Toba demi menyampaikan pesan RAJA SI GODANG ULU. Itulah sebabnya sampai sekarang semua keturunan SIMANJUNTAK dari SOBOSIHON sangat menghormati keturunan dari SI GODANG ULU yaitu marga SIHOTANG.

SOBOSIHON melahirkan bayi perempuan. Kabar ini terdengar ke seluruh penduduk daerah Si Bagot Ni Pohan. Namun hal ini tidak meresahkan hati RAJA PARSURATAN sebab dalam tradisi Batak anak perempuan tidak berhak dalam pembagian warisan. Jadi kelahiran adik tiri yang perempuan ini turut menggembirakan RAJA PARSURATAN. Sang bayi diberi nama SI BORU HAGOHAN NAINDO.

Selang beberapa tahun kemudian SOBOSIHON melahirkan lagi. Begini ceritanya sehingga sang bayi diberi nama RAJA SITOMBUK.

Tak henti – hentinya RAJA PARSURATAN mengamati kehidupan ibu tirinya yang dia anggap bisa mengurangi jatah harta warisan untuknya kelak. Dia bertanya kepada orang pintar apa jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan ibunya. Setelah mengetahui bahwa bayi laki – laki jawabannya, dia berusaha merancang kecelakaan agar bayi itu tidak bernyawa saat dilahirkan.

Saat ayah dan ibunya tidak berada di rumah, dia bekerja keras untuk memotong kayu penghalang papan yang ada tepat di sekeliling tiang tengah rumah (tiang siraraisan) dimana setiap ibu rumah tangga yang hendak bersalin akan menyandarkan badannya di tiang itu dan kain pegangan yang dipakai untuk bersalin juga digantungkan di situ.

Adapun maksud RAJA PARSURATAN supaya ketika ibunya bersalin kayu penghalang papan itu rubuh ketika diduduki setelah itu sang bayi akan celaka terhimpit. Apa yang terjadi? Ternyata kayu itu patah sebelum sang bayi lahir dan tembuslah lantai rumah itu.Karena kaget setelah tergeletak di kolong rumah, seketika itu melahirkanlah SOBOSIHON dan bayinya selamat. Bayi itu diberi nama RAJA SITOMBUK. Tombus dalam bahasa Indonesia ‘tembus’. Papan lantai rumah telah tembus dan kejadian itu pulalah yang membuat bayi dilahirkan selamat walau tanpa bantuan dukun beranak.

Dengan bantuan dukun beranak lahirlah bayi perempuan yang kedua bagi SOBOSIHON lalu oleh RAJA MARSUNDUNG bayi itu diberi nama SI BORU NAOMPON. Sebelum proses persalinan RAJA PARSURATAN telah mengetahui dari orang pintar bahwa adiknya adalah perempuan. Hal ini tidak menjadi masalah baginya walau ketamakan akan harta warisan masih memenuhi hati dan pikirannya saat itu.

Rupanya kali ini RAJA PARSURATAN pergi lagi bertanya kepada orang pintar perihal jenis kelamin adik tirinya yang akan lahir. Jawaban dan pemberitahuan yang diterimanya bahwa adiknya adalah laki – laki. Dia teringat akan permintaan orang Batak perihal rumah; “Jabu sibaganding tua ima hatubuan ni anak dohot boru si boan tua”. Artinya “Rumah tempat berbagai macam tuah adalah tempat lahirnya putera dan puteri pembawa tuah”.

Kali ini RAJA PARSURATAN ingin memusnahkan rumah tempat tinggal ayahnya dan ibu tirinya. Dia sendiri telah mempunyai rumah setelah menikah dan pisah rumah dari orang tuanya (manjae). Dia hanya mempunyai seorang anak laki – laki dan dia merasa posisinya kelak terancam jika semakin banyak anak laki – laki yang dilahirkan ibu tirinya. Inilah yang membuat dirinya selalu ingin berbuat sesuatu untuk melenyapkan setiap bayi laki – laki dari ibu tirinya.

Waktunya tiba dan SOBOSIHON akan melahirkan bayinya. Para ibu bersama dukun beranak telah berkumpul dan memasuki rumah RAJA MARSUNDUNG. Dari kejauhan RAJA PARSURATAN mengamat – amati mereka. Setelah melihat mereka telah masuk ke rumah maka RAJA PARSURATAN membawa sulutan api. Dia membakar atap rumah dari bagian dapur. Api menyala dan semua ornag berhamburan keluar rumah termasuk SOBOSIHON. Dia panik sambil berteriak api..api..api..api.. Dia pun berpegangan pada batang bambu yang berada di pinggir pekarangan rumahnya.

Tidak lama kemudian, orang – orang berdatangan ke sana dan berusaha bergotong – royong memadamkan api. Perhatian orang teruju pada rumah yang mulai terbakar dan pada saat itu pula di bawah pohon bambu lahirlah anak kelima dari SOBOSIHON yang kemudian diberi nama RAJA HUTABULU karena bayi itu dilahirkan di bawah pohon bambu di kampungnya.

Walaupun selalu mendapat rintangan namun SOBOSIHON tetap tabah dalam setiap proses persalinannya karena RAJA MARSUNDUNG dan keluarga SOMBA DEBATA SIAHAAN terutama Boru LUBIS sangat memperhatikan dan mengasihinya.

Usia RAJA MARSUNDUNG kira – kira telah lebih delapan puluh tahun lalu dia meninggal dunia. Kepergian suaminya sangat membuat hati SOBOSIHON sedih sementara anak bungsu mereka masih menyusui dan keempat anaknya yang lain masih belum cukup dewasa.

Bagi suku Batak Toba anak tertua adalah pengganti ayah bagi adik – adiknya. Yang paling kehilangan sosok ayah hanya anak tertua. RAJA PARSURATAN menggantikan kedudukan ayahnya dalam segala hal penting dia menjadi kepala keluarga. Situasi ini dimanfaatkan RAJA PARSURATAN untuk menguasai semua aspek kehidupan ibu tiri dan adik – adiknya sehari – hari. Dia selalu bersikap diktator terhadap adiknya terutama yang laki – laki. Namun SOBOSIHON selalu mengingatkan anak – anaknya agar mereka selalu menghormati abang tirinya yang adalah pengganti ayah.

Setelah beberapa tahun ayahnya meninggal RAJA PARSURATAN memanfaatkan tenaga keenam orang adiknya dengan anak tunggal serta istrinya untuk mengusahakan semua kebun dan sawah peninggalan mendiang ayahnya dan dikelola seefektif mungkin. Perekonomian RAJA PARSURATAN pun meningkat. Dia kemudian membangun rumah ukir (ruma gorga).

Setelah bangunan induk selesai maka proses berikutnya dalam pembangunan rumah ukir tersebut adalah pembuatan ukiran. Untuk mengukir relif rumah pada masa itu lazim digunakan darah manusia sebagai campuran pewarna relif. Hal tersebut agar rumah itu mempunyai semangat atau ada keangkerannya. Mengingat RAJA PARSURATAN bukanlah seorang yang kuat dalam berperang maka tidak mungkin baginya mendapatkan darah manusia dengan cara berperang melawan negeri lain.

Timbullah niat jahat RAJA PARSURATAN terhadap saudara tirinya. Pada suatu sore dia meliahat kedua adik perempuannya tampak akrab sebab memang SIPAREME sudah gadis dan HAGOHAN NAINDO mulai remaja. RAJA PARSURATAN ingin membunuh adik tirinya untuk diambil darahnya sebagai campuran pewarna rumah ukirnya. Kedua adik perempuannnya ini sering sama – sama tidur dengan SOBOSIHON ibu mereka. Hampir setiap malam keduanya menganyam tikar (mangaletek) dan bila sudah larut mereka tidur tanpa menyalakan lampu. Sedangkan untuk menghindari gigitan nyamuk mereka menutup badannya dengan tikar (marbulusan). kebiasaan tidur marbulusan ini sampai sekarang masih dapat kita jumpai di beberapa daerah di Tapanuli Utara. Demikianlah tiap malam cara kedua gadis ini menghabiskan waktu.

Tentang rencana jahat RAJA PARSURATAN, untuk membedakan yang mana yang harus dibunuh maka kepada SIPAREME diberikan sebuah gelang yang terbuat dari gading. Konon gelang itu merupakan pusaka pemberian dari mendiang Boru HASIBUAN, ibu kandungnya RAJA PARSURATAN. Lalu SIPAREME pun memakai gelang itu. Melihat gelang yang sangat putih dan menyala dalam gelap, HAGOHAN NAINDO tertarik akan gelang itu. Dia meminjam dan kemudian memakainya. Seperti biasanya mereka menganyam tikar setelah malam tiba mereka tidur marbulusan dan gelang tadi masih di tangan HAGOHAN NAINDO.

Malam itu menjelang subuh datanglah pembunuh bayaran ke rumah RAJA PARSURATAN dengan membawa pisau. RAJA PARSURATAN berpesan pada pembunuh itu bahwa sekarang ada dua gadis yang tidur di rumah ayahnya dan gadis yang tidak memakai gelanglah yang harus dibunuh. Pembunuh itupun melaksanakan tugasnya kemudian SIPAREME dibunuh lalu darahnya ditampung dan diberikan kepada RAJA PARSURATAN. Sementara mayat SIPAREME dibuang ke lembah yang tak dapat dituruni yaitu yang sekarang terletak di lembah Sipintu Pintu (perbatasan antara Balige dengan Siborong Borong). Matahahari pun terbit dengan air mata dan tangisan HAGOHAN NAINDO karena kakaknya telah hilang.

Demikianlah rencana jahat RAJA PARSURATAN dimana dia hendak membunuh HAGOHAN NAINDO tetapi yang terbunuh adalah SIPAREME yaitu adik kandungnya satu – satunya.

Melihat tindak – tanduk anak tirinya SOBOSIHON selalu bersusah hati, apalagi setelah SIPAREME diketahui dibunuh dan darahnya dijadikan campuran pewarna ukiran rumah RAJA PARSURATAN. Hal ini membuat SOBOSIHON jatuh sakit hingga penyakitnya parah. Saat penyakitnya semakin memburuk, dia dikelilingi kelima anaknya, sedang RAJA PARSURATAN seperti biasanya pergi ke sawah.

Saat itu SOBOSIHON berpesan:

  • Jangan lupakan apa yang telah dilakukan oleh abangmu RAJA PARSURATAN akan tetapi, jangan balaskan perbuatan jahatnya karena hanya MULA JADI NA BOLON (Tuhan) sajalah yang akan membalaskannya.
  • RAJA PARSURATAN itu adalah abangmu sebagai ganti ayah bagimu, dimana dia duduk janganlah kamu menghampiri dan jika kamu sedang duduk di suatu tempat kalau dia datang tinggalkanlah dia, karena dia adalah ganti ayah bagimu yang harus kamu hormati.
  • Jangan kamu menyusahkan hatinya walaupun dia menyusahkan kamu, bila kamu sedang menyalakan api di dapur rumahmu atau dimana saja lalu asapnya terhembus angin ke rumahnya atau ke arah di mana abangmu berada padamkanlah apimu itu supaya dia tidak mengeluarkan air mata karena asap apimu walaupun kamu harus terlambat menyiapkan masakanmu.
  • Jangan bertengkar dengan abangmu, sebab itu apabila tanamanmu ada yang condong tumbuh mengarah ke pekarangan rumahnya seumpama tanaman pisangmu sedang tumbuh dan berjantung maka lebih baik tebang saja itu dari pada setelah buahnya ada lalu diambil oleh anaknya dan kamu tidak bisa menahan emosimu dan bertengkar.

 

Setelah menyampaikan pesannya SOBOSIHON menghembuskan nafas terkahir. Pesan inilah yang kemudian sampai saat ini terus mewarnai pola hidup dari keturunan RAJA MARDAUP, RAJA SITOMBUK dan RAJA HUTABULU dan pesan – pesan tersebut sangat dihargai dan dituruti oleh seluruh keturunan SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA.

Setelah beberapa tahun SOBOSIHON meninggal, keluarga SIMANJUNTAK tiga bersaudara satu ibu ini dilanda kesedihan karena SI BORU HAGOHAN NAINDO gadis yang rupawan ini meninggal dunia dengan cara yang menyedihkan.

Suatu hari pada musim panen RAJA PARSURATAN telah menyabit sawahnya dan padinya telah dikumpulkan di sawah hanya tinggal menunggu dibersihkan dari batangnya saja. Cara membersihkannya dengan menginjak – injak batang padi yang ada bagian bulirnya (mardege). Untuk mardege biasanya dilakukan secara bergotong – royong bersama para tetangga di waktu subuh supaya ketika matahari terbit dan panas menyengat padi yang sudah dilepas dari jeraminya tinggal dijemur dan pada sore hari padi tinggal dibersihkan dari sekam dengan bantuan angin (mamurpur).

Pada pagi yang naas itu RAJA PARSURATAN beserta beberapa orang berangkat ke sawah untuk mardege. Sebelum berangkat dia berpesan pada SI BORU HAGOHAN NAINDO agar menyiapkan makan siang dan membawanya ke sawah. Makan pagi telah dibawa istri RAJA PARSURATAN. Sebenarnya ini adalah rencana jahatnya terhadap adiknya. sebab sesungguhnya bekal makan pagi tidak jadi dibawa ke sawah.

Menjelang siang semua orang yang bergotong – royong bekerja di sawah sudah bersungut – sungut karena rasa lapar dan mereka berkata; “DImana adikmu yang akan membawakan makanan pagi ini, kenapa dia belum datang juga?”. Sebelumnya RAJA PARSURATAN mengatakan pada mereka bahwa dia sudah berpesan pada adiknya agar makan pagi dipersiapkan, namun sebenarnya tidak demikian.

Sekira pukul sebelas atau menjelang teriknya panas matahari (mareak hos ni ari) datanglah SI BORU HAGOHAN NAINDO dengan membawa makanan tetapi dia disambut dengan caci maku oleh semua orang. Lalu RAJA PARSURATAN mengambil hidangan yang dijunjung di atas kepala SI BORU HAGOHAN NAINDO dan langsung mencampakkan air panas ke wajahnya. SI BORU HAGOHAN NAINDO meraung – raung kesakitan wajahnya melepuh. Saat itu pula RAJA PARSURATAN mengambil jerami dan menutupi badan SI BORU HAGOHAN NAINDO lalu menyulut jerami itu dengan api sehingga SI BORU HAGOHAN NAINDO terbakar hidup – hidup.

Demikianlah SI BORU HAGOHAN NAINDO mati dalam rasa sakitnya yang tak terperikan. Setelah tak bernyawa dia ditanam tanpa sepengetahuan saudara – saudaranya. Namun, bagaimanapun setiap perbuatan busuk akan tercium juga baunya. Salah seorang yang mengetahui pembunuhan itu berpihak kepada keturunan SOBOSIHON dan menceritakannya pada mereka. Hal ini sering membuat puteri (boru) SIMANJUNTAK yang mengetahui kisah ini merasa sakit hati terhadap Parhorbo jolo hingga kini.

Kematian SI BORU HAGOHAN NAINDO membuat SI BORU NAOMPON trauma untuk menjalani hidup tinggal di Balige. Dia sering menangis mengingat tragedi maut yang dialami kedua kakaknya. Dia meminta pada ketiga saudaranya agar dia diantar ke daerah Si Raja Oloan ke rumah RAJA SI GODANG ULU SIHOTANG (Ompungnya). Hal ini membuat ketiga saudaranya terharu.

Muncul persoalan. Siapa yang akan memasak makanan dan mengurus rumah apabila SI BORU NAOMPON pergi? RAJA HUTABULU berkata pada abangnya; “Bukankah dulu abang RAJA MARDAUP telah ditunangkan dengan paribannya sejak lahir? Sekarang abang ambil saja dia menjadi pendamping abang secepatnya agar ada yang mengurus rumah dan memasak makanan untuk kita”.

Perkataan ini membuka jalan pikiran ketiga saudaranya dan sekaligus membuka jalan bagi SI BORU NAOMPON untuk dapat tinggal di kampung Ompugnya. Lalu mereka berangkat ke sana. Setelah SI BORU NAOMPON diantar kemudian ketiga bersaudara ini kembali ke Balige bersama pariban yang telah menjadi istri RAJA MARDAUP, yaitu Boru SIHOTANG cucu SI GODANG ULU yang kemudian melahirkan tiga orang anak laki – laki:

1. NA MORA TANO, kemudian menikah dengan Boru SIHOTANG.

2. NA MORA SENDE, kemudian menikah dengan Boru SIHOTANG.

3. TUAN SI BADOGIL, kemudian menikah dengan Boru SIAGIAN PARDOSI.

Demikianlah kisah pertunangan antara RAJA MARDAUP dengan paribannya yang sudah dipertunangkan dari lahir dan kemudian berakhir dengan pernikahan setelah mereka dewasa.

Suatu saat terdengar kabar bahwa di Laguboti ada seorang gadis cantik puteri dari RAJA ARUAN dan cucu dari PANGULU PONGGOK. Gadis ini sangat pintar menyanyi dan merdu suaranya. Mendengar kabar itu RAJA SITOMBUK yang pintar bermain seruling bambu dan menguasai hampir semua lagu yang populer pada zamannya, datang bertandang ke Laguboti.

Setibanya di sana dia kemudian meniup serulingnya. tanpa diketuk pintu rumah para gadis di Laguboti telah terbuka untuknya bahkan kadang – kadang mereka datang melihat permainan suling itu dari dekat. Pilihan si pemuda ganteng ini jatuh pada gadis tercantik dan yang pintar pula menyanyi. Setiap RAJA SITOMBUK bertandang ke Laguboti, kehadirannya ini selalu menjadi acara hiburan bagi muda – mudi setempat.

RAJA SITOMBUK menyampaikan maksudnya ingin mempersunting Boru ARUAN pada amang tuanya yaitu SOMBA DEBATA SIAHAAN dan juga RAJA MARDAUP abangnya. Sepeninggal mendiang SOBOSIHON, RAJA PARSURATAN sudah tidak perduli lagi terhadap keturunan SOBOSIHON.

Akhirnya pesta adat sepenuh pun (adat na gok) diadakan untuk memperistri Boru ARUAN. Dari pernikahan ini RAJA SITOMBUK memperoleh seorang anak laki – laki bernama RAJA MANGAMBIT TUA.

Puteri dari RAJA MARSUNDUNG yang hidup hanya SI BORU NAOMPON. Dia tinggal bersama ompungnya di Si Raja Oloan. Suatu kali pada musim panen RAJA MARDAUP dan RAJA SITOMBUK sepakat untuk mengutus RAJA HUTABULU berangkat ke rumah ompung mereka menjemput SI BORU NAOMPON menggunakan sampan kecil (solu pardengke).

tugu

Tugu Sobosihon br Sihotang

Kemudian RAJA HUTABULU tiba di rumah ompungnya dengan selamat. Dia memberitahukan bahwa maksud dan tujuannya untuk menjemput SI BORU NAOMPON. Lalu SI BORU NAOMPON diberangkatkan oleh Tulang dan ompungnya dengan acara makan khusus disertai doa agar kiranya SI BORU NAOMPON segera menemukan jodoh (sirongkap ni tondi). Setelah itu berangkatlah mereka berdua menuju Balige.

Dalam perjalanan menggunakan sampan di danau Toba yang luas angin berhembus kencang. RAJA HUTABULU berusaha mengayuh dayungnya agar sampan bergerak menuju arah yang dikehendaki. Tiba – tiba dayungnya patah dan hanyut terbawa ombak. Dalam keadaan terombang – ambing sampan itu mengikuti arah angin dan untuk menenangkan keadaan SI BORU NAOMPON bernyanyi; “Ue..luahon ahu da parau, ulushon ahu da alogo manang tudiape taho, asalma tu topi tao”.

Mendengar ada suara wanita bernyanyi, seorang pemuda yang sedang berada di tengah danau Toba dekat bagian pantai Marom langsung mengayuh sampannya menuju sumber suara itu. Setelah mendekatkan sampannya dia melihat ada dua orang dalam sebuah sampan dan mereka tidak mempunyai dayung. Setelah mengetahui bahwa keduanya bersaudara maka pemuda itu (NA MORA JOBI SIRAIT) membawa mereka ke Marom dan beristirahat satu malam di sana.

Keesokan harinya dengan dayung baru serta dipandu NA MORA JOBI SIRAIT, mereka bertolak dari Marom menuju Balige. Inilah pertemuan antara SI BORU NAOMPON dengan NA MORA JOBI SIRAIT dan dengan senang NA MORA JOBI SIRAIT mengantar sampai ke Balige. Beberapa hari kemudian mereka berdua sepakat untuk menikah. NA MORA JOBI SIRAIT pun pulang dan memberitahukan hal itu pada orangtuanya yang sudah melihat kecantikan SI BORU NAOMPON. Dengan senang mereka setuju dan mendukung permintaan puteranya lalu berangkat melamar SI BORU NAOMPON.

RAJA PARSURATAN sudah semakin tua dan jika hendak pergi kemana – mana dia enggan pergi sendirian. Kadang – kadang dia membawa anak tunggalnya kalau bepergian tetapi sering juga bersama adik tirinya yang masih lajang yaitu RAJA HUTABULU. Suatu saat RAJA PARSURATAN pergi dan RAJA HUTABULU ikut serta sebagai pembawa kantongan (sitiop hajutna). Mereka berjalan mengikuti jalan setapak naik turun lembah. Ketika mereka berjalan di dataran tinggi Silangit tiba – tiba RAJA HUTABULU melihat segumpal benda jatuh dari atas dan dikerjarnya ke depan lalu ditangkap menggunakan ulos hande handenya kemudian dibungkusnya.

RAJA PARSURATAN melihat adiknya berlari dan berkata; “Adikku, benda apa yang tadi kamu tangkap?”. Sahut adiknya; “Abang yang kuhormati, aku belum tahu apa yang kutangkap dan bungkus ini, tetapi aku akan membukanya dan memberitahukan apa isi ulosku ini pada abang apabila kita sudah kembali ke kampung kita, asalkan abang berjanji akan membagikan harta peninggalan mendiang ayah kita”. Tanpa pikir panjang RAJA PARSURATAN pun setuju. Sebenanrnya RAJA MARDAUP dan RAJA SITOMBUK tidak pernah berani meminta bagian harta warisan pada abang mereka.

Setelah kembali ke kampung RAJA HUTABULU menceritakan pada kedua abangnya tentang apa yang dia katakan pada abangnya dalam perjalanan dan juga tentang janji abangnya yang akan membagi harta warisan.

Tibalah waktunya, tua – tua kampung diundang datang berkumpul menyaksikan pertemuan itu. RAJA HUTABULU menyatakan maksudnya pada kumpulan tua – tua itu (ria raja). “Karena ada sesuatu yang jatuh dari atas dan kutampung lalu kubungkus dengan ulos hande handeku dan ini terjadi dalam perjalanan aku dan abang yang kuhormati sewaktu di Silangit. Abang kami ini ingin mengetahui apa isi dari bungkusan ini yang aku sendiri juga belum tahu. Namun abang yang kuhormati ini telah berjanji akan memberikan bagian warisan peninggalan mendiang ayah kami apabila aku menunjukkan dan membagi benda yang akan kita lihat ini”. Perkataan tersebut dibenarkan oleh RAJA PARSURATAN dan disaksikan oleh semua orang yang berkumpul di halaman rumah RAJA MARSUNDUNG ayah mereka.

Maka dihadapan para tua – tua RAJA HUTABULU membuka bungkusan hande handenya itu dan tampaklah abu bekas sarang burung yang terbakar di dalamnya. Setelah RAJA PARSURATAN melihat dia mengatakan bahwa bukannya dia tidak mau membagi warisan dan kemudian dia berkata; “Tunggu kalianlah dapat dulu dua bulan”. Lalu kumpulan pun bubar dengan kesimpulan bahwa setelah dapat waktunya dua bulan baru akan ada pembagian warisan.

Dua bulan kemudian RAJA HUTABULU mengumpulkan tua – tua kampung untuk melakukan ria raja. Di hadapan ria raja RAJA PARSURATAN berkata pada adiknya; “Mana bulan yang sudah kamu dapat, sudahkah ada dua?”. Semua yang mendengarnya heran ternyata maksud dari ucapan RAJA PARSURATAN pada ria raja sebelumnya bukanlah mengenai tenggang waktu dua bulan, tetapi tentang mendapatkan dua buah bulan. Maka ria raja berakhir dengan mengecewakan pihak tiga bersaudara seibu.

Dua minggu kemudian malam harinya ketika posisi bulan persis berada di atas di langit, pergilah RAJA HUTABULU ke sumur tempat dimana dulu mendiang ayahnya biasa mandi. Dia menatap ke permukaan air dalam sumur dan melihat bayangan bulan di situ. Segera dia bergegas menjumpai kedua abangnya dan mengatakan bahwa dia baru saja menemukan dua buah bulan.

Dengan rasa was – was kedua abangnya dan RAJA HUTABULU kembali mengundang tua – tua kampung. Setelah semuanya hadir termasuk RAJA PARSURATAN lalu RAJA HUTABULU berdiri dan berkata; “Amang raja na liat na lalo, lumobi di ho angkang raja na malo, didokhon ho dung dapot dua bulan asa lehononmu parbagianan sian na pinungka ni amanta na hinan. On pe saonari ba nunga dapothu be alus ni hatami raja bolon. Betama hita tu parmualan paridian ni amnta an”. Artinya; “Bapak – bapak sekalian kumpulan yang terhormat, amat terlebih abang yang kuhormati, kamu berkata setelah dapat dua buah bulan barulah kamu memberikan warisan dari mendiang ayah kita dan kini aku sudah menemukannya. Marilah kita bersama – sama pergi ke sumur tempat madi ayah.

Seluruh yang hadir di situ berjalan menuju sumur. Setibanya di sana RAJA HUTABULU menunjuk ke permukaan air di dalam sumur dan terlihat ada bayangan bulan di situ, kemudian dia menunjuk ke arah atas dimana juga terlihat ada bulan. Akhirnya RAJA PARSURATAN tidak dapat lagi mengelak dan dilakukanlah pembagian warisan setelah mereka kembali ke halaman rumah.

Lalu kemudian RAJA PARSURATAN berkata; “Sekarang di hadapan tua – tua aku akan membagi warisan peninggalan orang tua kita”. Beginilah pembagiannya:

1. Mengenai sawah, karena aku adalah anak dari istri pertama ayah, maka tanah persawahan yang pertama dialiri air adalah milikku dan karena ibu kita dua orang, maka tanah akan dibagi dua luasnya.

2. Mengenai semua kerbau milik mendiang ayah kita, karena aku adalah anak dari istri pertama ayah, maka paha depan (parjolo) setiap kerbau merupakan bagianku, sedangkan paha belakang adalah bagian kamu bertiga anak istri ayah yang kemudian (parpudi).

Pembagian warisan itu ditetapkan di hadapan tua – tua kampung dan tidak ada seorang pun yang berbicara menentang pembagian itu.

Narator sendiri yang adalah keturunan SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA sudah melihat langsung lokasi sawah warisan dari RAJA MARSUNDUNG yang dibagi dua itu. Kenyataannya setelah diamati; sawah di kampung Parsuratan terletak di hulu Aek Bolon yang mengairi persawahan di daerah itu, sedangkan sawah di kampung HUTABULU berada di hilir. Sekiranya musim kemarau melanda, maka kampung Parsuratanlah yang terlebih dahulu menikmati air setelah air dipakai baru kemudian dialirkan ke hilir.

Mengenai pembagian warisan ternak, di kalangan masyarakat Batak Toba bila hendak membagi ternak berkaki empat, maka ternak itu dibagi dua dan selalu dibagi menjadi sebelah – sebelah (sambariba). Namun RAJA PARSURATAN membagi dengan cara lembu dibagi berdasarkan paha depan (parjolo) dan paha belakang (parpudi). Hal ini sangat aneh dan dibalik keanehan itu sebenarnya RAJA PARSURATAN telah mengantisipasi ke depan supaya hanya dia yang selalu memanfaatkan tenaga kerbau untuk membajak sawah dan menarik pedati makanya dia membagi dengan cara yang demikian. Jadi karna hanya satu – satunya peristiwa pembagian kerbau yang demikian anehnya, maka orang kebanyakan sejak saat itu mengejek dengan sebutan ‘Parhorbo jolo’ terhadap RAJA PARSURATAN dan keturunannya. Sedangkan kepada ketiga bersaudara seibu orang menyebut mereka dengan ‘Parhorbo pudi’.

Bagi para pembaca yang bermarga atau boru SIMANJUNTAK narator mengajak dan berpesan bila kita ditanya; “SIMANJUNTAK mana kamu?” sebaiknya kita jawab “SIMANJUNTAK PARSURATAN” atau “SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA” sebab istilah ‘Parhorbo jolo’ dan ‘Parhorbo pudi’ merupakan ejekan orang Batak Toba tempo dulu terhadap pembagian warisan ternak kerbau kita. Ejekan itu berkembang dan kini dianggap sebagai suatu istilah di kalangan orang Batak Toba padahal bagi kita keturunan SIMANJUNTAK RAJA MARSUNDUNG sudah tidak ada lagi kerbau kita, kan?

Sebelumnya telah diceritakan bahwa RAJA HUTABULU sejak remaja sampai menjadi seorang pemuda sering berkunjung ke daerah Si Raja Oloan ke rumah Ompungnya (SI GODANG ULU SIHOTANG) baik itu karna mengantar jemput itonya (SI BORU NAOMPON) maupun hanya sekedar bertandang ke sana.

Suatu ketika dia melihat seorang Boru Tulang yang sangat cantik dan boleh dikatakan gadis tercantik di seluruh daerah Si Raja Oloan. Kemudian karena RAJA HUTABULU memang seorang pemuda pintar (simak kisah bagaimana ketika dia menghadapi abang tirinya, dia selalu tampil piawai dalam pemikiran dan pembicaraan) dan hal ini terdengar sampai ke daerah Si Raja Oloan. Boru Tulangnya tadi sudah pernah berkunjung ke Balige, yaitu ke tempat amang borunya (ayahnya RAJA HUTABULU). Jadi merupakan pilihan yang tepat jika RAJA HUTABULU mempersunting paribannya itu menjadi istrinya.

Suatu saat sewaktu suami istri RAJA HUTABULU dan Boru SIHOTANG duduk – duduk di depan rumahnya, melintaslah seorang yang buruk rupa dan Boru SIHOTANG menyeletuk; “Jelek sekali orang ini seperti beruk aku lihat” (versi Toba; “Roa nai jolma on songon bodat huida”). Perkataan itu kedengaran oleh orang tadi dan dia membalas; “Aku kamu bilang seperti beruk? Biarlah lahir anakmu yang seperti beruk!” (versi Toba; “Ahu didok ho songon bodat? Ba sai tubuma anakmu na songon bodat!”). Pada saat itu Boru SIHOTANG sedang mengandung anak pertamanya dan perkataan orang tadi selalu mengiangiang di telinganya.

Pada waktu akan melahirkan Boru SIHOTANG Na Uli pernah bermimpi ada seorang tua datang padanya dan mengatakan bahwa yang akan lahir darinya adalah bayi laki – laki yang memiliki kesaktian sebab itu tidak perlu kuatir atau kecewa apabila nantinya ada yang agak berbeda pada tubuhnya. Mimpinya ini diberitahukan pada suaminya dan mereka berdua merasa was – was menantikan kelahiran anak pertama mereka.

Tibalah harinya, setelah bersalin diketahui bahwa sang bayi memiliki bentuk tulang punggung lebih panjang sekitar satu jari telunjuk dari bokongnya tampak seperti ekor yang pendek. Dan saat itu RAJA HUTABULU melirik keluar jendela rumahnya, tampak ada seorang tua berdiri di halaman rumahnya dan berkata; “Hei bapak, jangan bersusah hati karena anakmu itu adalah seorang anak sakti” (versi Toba; “He amang, unang ho marsak alana anakmi nahasaktian”). Setelah berkata demikian orang itu berubah menjadi londok dan langsung memanjat pohon enau kemudian hilang di antara pelepah enau. RAJA HUTABULU spontan berteriak; “Raja Hodong..Raja Hodong..Raja Odong..” (versi Toba; “Raja Pelepah..Raja Pelepah..Raja Pelepah..”). Setelah peristia itu bayi pertama itu pun diberi nama SI RAJA ODONG. Secara fisik SI RAJA ODONG sangat tampan rupanya sebab ibunya cantik dan ayahnya tampan dan gagah.

SI RAJA ODONG makin bertambah besar dan pada waktu dia belajar duduk ayahnya membuatkan bangku pendek yang ditengahnya dilubangi tempat tulang SI RAJA ODONG yang seperti ekor itu. Tidak banyak orang yang mengetahui keanehan ini karena masa itu belum ada celana. Pakaian orang Batak adalah ulos yang dililitkan menutupi badan yang disebut heba heba.

Menurut penyelidikan antropologi budaya Batak Toba, maka sejak keberadaannya orang Batak tidak pernah bertelanjang karena ulos Batak sama usianya sejak adanya SI RAJA BATAK (orang Batak pertama). Sebelum Belanda datang ke tanah Batak, maka ulos Batak dipakai sehari – hari sebagai berikut:

– Ulos yang menutupi badan disebut heba heba.

– Ulos yang menutupi bahu ke bawah disebut hande hande yang juga sering disandangkan di bahu.

– Ulos penutup kepala disebut saong saong dan bila diikatkan di kepala maka disebut bulang bulang atau tali tali.

Tingkat budaya berpakaian pada masa itu membuat SI RAJA ODONG tidak merasa asing atau minder jika bersosialisasi dengan orang lain. Hanya keluarga dekat saja yang mengetahui kelebihan SI RAJA ODONG ini.

Setelah beberapa tahun kemudian istri RAJA HUTABULU kembali mengandung dan selama mengandung dia selalu memohon tuah agar MULA JADI NA BOLON (Tuhan) memberikan seorang anak laki – laki lagi tetapi yang tidak mempunyai keanehan. Doanya pun terkabul dan lahirlah seorang anak laki – laki yang rupanya sama persis seperti abangnya. Bahkan setelah dewasa kedua anak RAJA HUTABULU ini sama besarnya dan banyak orang menyangka keduanya adalah saudara kembar. Begitu lahir dan ternyata bayinya laki – laki maka dia diberi nama TUMONGGO TUA yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya ‘memohon tuah melalui doa’.

Setelah kedua anak ini semakin dewasa mereka kelihatan tampan dan gagah melebihi ayah mereka. Banyak gadis yang tertarik dan jatuh cinta pada mereka. Tetapi apabila berkenalan lebih jauh dengan keduanya maka akan diketahui bahwa SI RAJA ODONG memiliki perbedaan dengan adiknya.

Setelah sekian lama saling mencinta dengan Boru SIHOTANG paribannya, TUMONGGO TUA ingin segera menikah. Namun orang tuanya menganjurkan kalau dia boleh menikah setelah abangnya menikah. Satu – satunya cara agar TUMONGGO TUA dapat segera menikah adalah dengan mencarikan seorang calon istri bagi abangnya. Lalu berangkatlah TUMONGGO TUA dengan sampan ke pulau Samosir. Di sana konon banyak gadis yang sampai berumur tua belum menikah karena ketatnya hukum bersaudara. Bagi kesatuan marga keturunan NAIAMBATON yang banyak bermukim di Samosir sampai sekarang masih tetap mempertahankan tradisi tidak boleh saling menikah antar sesama keturunan marga – marga NAIAMBATON.

Selama di atas sampan dalam perjalanannya TUMONGGO TUA selalu memohon kepada MULA JADI NA BOLON supaya dia bertemu dengan seorang gadis cantik untuk dilamar menjadi kakak ipar (angkang boru). Ketika berada di tengah danau Toba tiba – tiba angin bertiup kencang sekali (alogo lubis) dan menghantam sampannya hingga sampannya hancur. Dia mencoba sekuat tenaga berenang mencapai daratan dan berhasil. Setelah berada di tepi danau Toba dia tak sadarkan diri dan pingsan.

Ombak berdebur laksana irama musik yang menyambut kedatangan TUMONGGO TUA di situ di daerah Lontung, yaitu di Muara (sekarang persis di tempat pemandian Puteri RAJA SIANTURI). Dia terbaring hingga sore hari dia ditemukan oleh SI BORU ULI BASA Boru SIANTURI yang hendak mengambil kain cucian yang dijemur di tepi danau. Setelah melihat pemuda tampan itu BORU ULI BASA berkata; “Kalau kamu memang manusia, siapakah namamu? Kalau kamu seorang yang memiliki kesaktian maafkan aku tidak bermaksud menggangumu, tetapi kalau kamu manusia aku mau mendampingimu seandainya kamu membawaku pergi bersamamu dan aku menjadi istrimu” (versi Toba; “Molo na jolma do ho paboa ise goarmu. Molo na martua – tua do ho unangma muruk ho tu ahu ala ndang na manggugai ho ahu, alai molo jolma do ho olo do ahu mandongani ho aut tung olo ho mamboan ahu tu hutam gabe inantam”).

Samar – samar perkataan itu didengar oleh TUMONGGO TUA yang mulai siuman. Lalu dia mulai membuka matanya perlahan dan melihat ada seorang gadis cantik jelita di sebelahnya. Dia langsung mengucek matanya seakan tidak percaya akan apa yang dilihatnya kemudian dengan suara pelan dia berkata; “Apakah ini mimpi aku berada di sebelah puteri yang cantik. Sekiranya bukan mimpi apa gadis ini mau kalau aku membawanya menjadi menantu orang tuaku? (versi Toba; “Na marnipi do ahu nuaeng di lambung ni si boru na uli basa? Aut sura na so marnipi do ahu oloma nian boanonhu gabe parumaen ni damang dohot dainang”).

Mendengar ucapan itu BORU ULI BASA langsung memegang tangan TUMONGGO TUA lalu membangunkannya dan menuntun dia berjalan menuju rumah orang tua BORU ULI BASA sebab hari sudah sore. Sesampainya di rumah, keluarga BORU ULI BASA bergembira kedatangan tamu seorang pemuda yang tampan dan gagah. Dalam percakapan dengan orang tua BORU ULI BASA, TUMONGGO TUA memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa dia adalah cucu RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK dan anak RAJA HUTABULU dari Balige. Dia juga menjelaskan bagaimana dia bisa ada di sana dan apa maksud dari perjalanan jauhnya itu. Mendengar penjelasan itu BORU ULI BASA merasa gembira dalam hatinya dia terpikat akan ketampanan TUMONGGO TUA.

Setelah beberapa hari tinggal di daerah Lontung tejadi pembicaraan antara TUMONGGO TUA dan BORU ULI BASA yang intinya tentang kesediaan BORU ULI BASA agar menjadi menantu bagi orang tua TUMONGGO TUA. Jawaban dari BORU ULI BASA sangat jelas, yaitu dia mau dan bersedia. Akan tetapi sebaliknya apabila TUMONGGO TUA mendapat pertanyaan yang sama dia tidak menjawab secara jelas bersedia namun dia menjawab pertanyaan itu dengan perkataan; “Tatap wajahku dan perhatikanlah langkahku serta ketahuilah maksud kedatanganku” (versi Toba; “Berengma bohiku jala parateatehonma pardalanhu huhut antusima sangkap ni haroroku”).

BORU ULI BASA memang calon menantu RAJA HUTABULU tetapi bukan untuk menjadi istri bagi TUMONGGO TUA. Memang RAJA ODONG dan TUMONGGO TUA sangat mirip seperti saudara kembar disegala – galanya baik dilihat dari rupa, cara berjalan bahkan juga cara berbicara dan dari suara semuanya sama. Sangat sulit membedakan keduanya kecuali ini; RAJA ODONG memiliki kelebihan tulang belakang sepanjang jari telunjuk. Perbedaan mereka ini dirahasiakan TUMONGGO TUA demi harapan dia bisa direstui menikah setelah abangnya menikah.

Setelah berjanji bahwa mereka akan kembali bertemu, TUMONGGO TUA pamit dengan keluarga BORU ULI BASA untuk pulang ke Balige dan nanti dia akan kembali datang bersama orang tuanya melamar BORU ULI BASA.

Setibanya di Balige TUMONGGO TUA menceritakan perjalanannya kepada abang dan orang tuanya. Kemudian mereka menyusun rencana:

– TUMONGGO TUA dan orang tuanya segera melamar puteri RAJA SILALA LASIAK yaitu BORU ULI BASA dan selama mereka di sana sepanjang pembicaraan tidak boleh memanggil TUMONGGO TUA dengan namanya tetapi dengan nama SIMANJUNTAK.

– Pesta pernikahan diadakan di rumah pihak pengantin wanita (dialap jual) dan yang mendampingi BORU ULI BASA dalam acara adat sepenuh itu (ulaon na gok) adalah TUMONGGO TUA hingga dalam perjalanan di danau Toba sampai Balige. Bila sudah tiba di dermaga maka TUMONGGO TUA turun dari perahu besar (solu bolon) dan mengikatkan tali perahu di dermaga. Bersamaan dengan itu RAJA ODONG sudah siap dan sesuai tanda RAJA ODONG langsung menggantikan posisi adiknya naik ke perahu untuk menuntun BORU ULI BASA dan seterusnya mendampinginya menjadi suami bagi BORU ULI BASA.

– Pakaian yang dikenakan kedua abang beradik ini harus dibuat sama persis. Setelah mengikatkan tali perahu di dermaga maka TUMONGGO TUA harus menghilang untuk sementara waktu dan pergi ke daerah Si Raja Oloan dan tinggal di sana di rumah Tulangnya sampai BORU ULI BASA melahirkan anak pertamanya bagi RAJA ODONG.

Setelah rencana itu disepakati maka ditentukanlah kapan mereka akan berangkat. Rencana pun dilaksanakan dan pesta pernikahan meriah di daerah Muara berlangsung mulus sesuai rencana. Setelah itu mereka bertolak pulang menuju Balige melalui danau Toba. Sesampainya di dermaga di Balige yaitu tepatnya di Lumban Bul Bul sekira jam tujuh malam dan keadaan seperti ini dalam bahasa Batak Toba disebut urngum (jarak pandang mata tidak lagi memungkinkan melihat orang di kejauhan).

Di dermaga RAJA ODONG telah menunggu kedatangan rombongan keluarganya bersama BORU ULI BASA. Setelah perahu besar itu tiba dan merapat ke dermaga, turunlah TUMONGGO TUA untuk mengikatkan tali perahu lalu langsung pergi menghilang di kegelapan dan kemudian RAJA ODONG langsung naik ke perahu menjemput BORU ULI BASA serta berjalan berdampingan sampai ke rumah RAJA HUTABULU. Malam itu diadakan acara penyambutan (pangharoanion). Mulai saat itu RAJA ODONG yang mendampingi BORU ULI BASA, sedangkan adiknya sudah pergi sesuai rencana ke rumah Tulangnya.

Begitulah kisah pernikahan RAJA ODONG dengan BORU ULI BASA Boru SIANTURI sehingga ada sindiran seperti ini:

“Si RAJA ODONG papiu piu tali, tali ijuk sian bagot. Anggina manandangi, alai ibana diharoani jala mandapot”

Pekerjaan sehari – hari RAJA ODONG adalah memintal tali yang dibuat dari ijuk pohon enau. Konon pada masa itu, tali buatan RAJA ODONG ini paling baik kualitasnya dan harga jualnya tinggi di pasar Balige dan Laguboti bahkan sampai ke Porsea dan Siborong Borong. RAJA ODONG selalu duduk di bangku khusus yang berlubang di tengahnya dan kemanapun dia pergi bangku itu selalu dibawanya.

Sejak menikah dengan RAJA ODONG, BORU ULI BASA tidak pernah bekerja di sawah. Pekerjaannya adalah menggembalakan kambing. Ternak kambingnya gemuk – gemuk dan jika beranak sering sampai tiga atau empat sehingga keluarga RAJA ODONG memiliki banyak sekali ternak kambing.

Kemudian bayi pertama lahir bagi keluarga RAJA ODONG dan anak pertama mereka ini diberi nama RAJA BOLAK HAMBING atau RAJA PARHAMBING. Demikianlah seterusnya mereka dikaruniai tujuh orang anak laki – laki:

1. RAJA BOLAK HAMBING (RAJA PARHAMBING)

2. TUAN NAHODA RAJA

3. MAHARIA RAJA (MANGORONG BAHUT)

4. RAJA MARLEANG (MARLEANG BOSI)

5. RAJA MANORHAP (RAJA SITUNGGAL)

6. RAJA MAEGA gelar Ompu TOGA OLOAN

7, DINGKIR ULUBALANG gelar PARTAHI OLOAN (DATU MAEGA)

Namun sampai sekarang baru keturunan RAJA PARHAMBING dan TUAN NAHODA RAJA saja yang sudah mengetahui bahwa mereka adalah keturunan dari RAJA ODONG.

Tentang TUMONGGO TUA, setelah berita kelahiran anak pertama RAJA ODONG abangnya sampai kepadanya, betapa bahagianya dia dan paribannya. Lalu setelah mendengar kabar baik itu mereka berdua datang berkunjung ke Balige dan memastikan bahwa rombongan RAJA HUTABULU akan pergi melamar Boru SIHOTANG (pariban TUMONGGO TUA tersebut).

Sumber : http://simanjuntaks.blog.friendster.com/?p=57

285 Replies to “Sejarah Simanjuntak”

  1. setelah membaca tulisan ini, aku malah jadi tidak simpatik dengan sitolu sada ina yang dikepala nya cuma ada pembagian harta warisan, sehingga harus mencari cara2 dangkal untuk mengelabui parsuratan.

    topik ini langsung atau tidak langsung ingin menyudutkan pihak parsuratan. dalam narasi nya, “yang baik” dan “yang jahat” begitu gampangnya dipisah:
    1)yang baik itu sitolu sada ina, yang jahat parsuratan.
    2)parsuratan tukang bunuh, sitolu sada ina penyabar, dll.

    kalaulah cerita ini memang benar (karena tingkat keakuratan nya pasti hanya 60%, habis dimakan waktu dan subjektivitas pencerita) harusnya ada sedikit kata penutup yang mampu menjelaskan posisi parsuratan di marga simanjuntak agar parsuratan tidak merasa terbuang. bagaimana jika gara-gara tulisan ini seorang parsuratan yang tidak tahu apa-apa harus menerima kebencian dari simanjuntak lain hanya karena beban sejarah. Sangat disayangkan.

    hal ini wajar saja dilakukan pihak yang merasa dipermalukan oleh sejarah, karena hari ini jumlah keturunan sitolu sada ina berlipat-lipat dari keturunan parsuratan. Tapi harusnya tulisan ini mampu memberi formula bagi REKONSILIASI yang mendasar bagi simanjuntak.

    Sehingga, kalau ada yang bertanya: Simanjuntak apa?, Jawabannya:SIMANJUNTAK SAJA, atau PARHORBO TENGAH, atau SI EMPAT SATU BAPAK.

  2. Saya pernah membaca tentang sejarah Simanjuntak di majalah Tempo (masih ada saya kliping), sajian ceritanya ada yang mirip tapi banyak juga yang beda.Nanti bisa saya kirimkan ke web kita ini untuk perbandingan dalam kerangka meluruskan, mana yang baku mana yang tidak. Dibanding tulisan yang ada di web ini, saya kira banyak hal yang terdapat di majalah Tempo itu yang perlu klarifikasi. Banyak persamaan, tapi banyak juga perbedaan mendasar.Tapi apapun soalnya, sejarah yang dituliskan di web kita ini sangat berharga untuk dijadikan referensi, terutama untuk Simanjuntak Sitolu Sada Ina generasi penerus. Mauliate
    (Leonardo Simanjuntak MDP)

  3. Sebutan klasik Simanjuntak Parhorbo Jolo Parhorbo Pudi itu sebenarnya sudah disepakati dalam sebuah pertemuan raya di Senayan Jakarta beberapa waktu lalu. Untuk eufemisme (penghalusan) sebutan itu sebaiknya dibiasakan saja menyebut Simanjuntak Parsuratan (untuk pomparan boru Hasibuan) dan Simanjuntak Sitolu Sada Ina (untuk [pomparan Sobosihon br Sihotang).Sebenarnya antara keduanya tak terlalu bermasalah dalam pergaulan sehari-hari, kecuali dalam hal adat memang belum ada kesepakatan bisa bersama. Yang jelas kalau pomparan SSI (Sitolu Sada Ina) menyapa Parsuratan harus panggil “abang” atau “amang”, karena mereka siangkangan (sulung) dari Raja Marsundung. Justru marga di luar Simanjuntak yang kerap “meresep” dikotomi (perbedaan/pemisahan) antara keduanya, sehingga terkesan semakin “parah”.Banyak Simanjuntak Parsuratan bergaul akrab di pasaran dengan pomparan SSI, kayaknya biasa saja, karena bisa saling memaklumi sejarah. Yang penting janganlah selalu diverpolitisir. Mauliate!
    (Leonardo Simanjuntak MDP-M-16)

  4. Buat Ompung/Bapak/Abang atau Ampara Leonardo Simanjuntak MDP
    Saya Simanjuntak Hutabulu No.16
    Untuk menambah pengetahuan tentang Sejarah Simanjuntak, kalau Ompung/Bapak/Abang atau Ampara tdk keberatan, mohon di share dunk Tarombo Simanjuntak versi Majalah Tempo ke email saya
    epontas@yahoo.com.sg
    Trims ya atas kesediaannya.
    Horas3x

  5. Pinompar ni Simanjuntak Raja Hutabulu adong 2 halak, ima :
    Si Raja Odong, jala adong 6 tubuna baoa, ima :
    1. RAJA BOLAK HAMBING (RAJA PARHAMBING)
    2. TUAN NAHODA RAJA
    3. MAHARIA RAJA (MANGORONG BAHUT)
    4. RAJA MARLEANG (MARLEANG BOSI)
    5. RAJA MANORHAP (RAJA SITUNGGAL)
    6. RAJA MAEGA gelar Ompu TOGA OLOAN
    7, DINGKIR ULUBALANG gelar PARTAHI OLOAN (DATU MAEGA)

    Anak paidua ni Raja Hutabulu ima Tumonggo Tua, anakna adong 3 (tolu) :
    1. Bursok Ronggur
    2. Bursok Datu
    3. Bursok Pati

  6. ok ampara sidoli saya akan kirim setelah saya rewrite dulu sesuai aslinya. Mauliate di perhatian ni ampara.

  7. horas!
    makasih buat ceritanya.sekarang jadi ngerti sejarah simanjuntak.bangga deh!besok2 jadi bisa pamer ke papa klo dah tau sejarah ompung.hehehe….
    aq br juntak mardaup no 15

    salam

  8. Ndang sa marga hita ala lomo do rohakku mambege sarit2 ni halak Batak, mauliate godang di hamu.
    Saya ad pertanyaan kalau boleh dijawab ya?
    1. Hutabulu dengan Hutajulu itu sama tidak ya?
    2. Sibagot ni Pohan ada hubungan marga tidak dengan marga POHAN?
    Sekali lagi terima kasih…

  9. Sejarah Simanjuntak adalah sejarah yang tidak boleh dilupakan oleh generasi simanjuntak. Generasi simanjuntak tahun 60-an mungkin banyak yang belum tahu bahkan ada yang tidak mau tahu. Bagi Generasi Muda Simanjuntak harus mengetahui sejarah simanjuntak ini. Terutama kami dari generasi simanjuntak perantau yang banyak tidak bisa berbahasa batak perlu memahami tentang sejarah simanjuntak. Bagi generasi 90-an sebagai anak-anak kita yang dimodifikasi budaya-budaya modern sehingga melupakan budaya batak harus dimulai dengan memahami sejarah simanjuntak.Generasi Simanjuntak yang cerdas dan berbudaya adalah generasi yang tahu akan budaya silsilah marganya yang merupakan kekayaan budaya dari orang batak yang tidak dimiliki oleh suku bangsa lainnya.Oleh karena itu, tugas yang penting saat ini bagi marga simanjuntak adalah bagaimana mencerdaskan generasi muda simanjuntak sehingga menjadi generasi muda yang berguna bagi bangsa dan negaranya.

  10. HORAS tu hamu, pariban nami BORU HOTANG….

    Hari ini, 22 April 2009, aku dikejutkan dengan panggilan ITO sian hamu, sahalak yang katanya punya Marga SIMANJUNTAK-Hutabulu…
    Bisa jadi memang aku dipanggil ITO jika dia berasal dari SIMANJUNTAK lainnya…

    Kenapa baru sekarang menuliskan koment tentang ‘SEJARAH SIMANJUNTAK’ ini??
    yaaa jawabnya gara2 panggilan ITO tersebut kepada ku…hehehe…

    Gara2 dialah (pariban hu tersebut) LINK SEJARAH SIMANJUNTAK ini ku berikan (copy-paste) padanya agar dapat diketahui dan dibaca olehnya…

    Maka dengan adanya Link Sejarah SIMANJUNTAK ini, aku mengucapkan Mauliate Godang yaaa…

    peace & love
    ~ds
    (Diana boru SIHOTANG-Pardabuan)

  11. Lae Manik,
    Simanjuntak Sitolu Sada Ina yang ibunya br. Sihotang, anaknya ada 3 (tiga), salah satu diantaranya HUTABULU. Jadi HUTABULU itu adalah sub marga dari Simanjuntak, yang hingga kini tidak digunakan sebagai marga tersendiri sebab dalam Simanjuntak Sitolu Sada Ina ada prinsip Si Sada Anak, Si Sada Boru. Artinya, hingga sekarang di antara keturunan Simanjuntak (Mardaup, Sitombu dan Hutabulu) tidak diperbolehkan saling menikahi.

    Hubungannya dengan Hutajulu, tidak ada.

    Sibagot Ni Pohan adalah rumpun marga yang lebih tinggi, salah satu sub rumpunnya adalah Tuan Somanimbil yang anaknya ada 3, yaitu SIAHAAN, SIMANJUNTAK dan HUTAGAOL. Pada orang tertentu, ada yang memakai Marga POHAN. Nah jika bertemu dengan mereka maka sebaiknya pertanyaan diajukan “Pohan Mana Lae atau Ito?”.

    Songoni ma jolo sian ahu, ditambai angka dongan…!

  12. Denggan ajari Pariban mi. Unang pintor muruk ho. Atik na tubu di Jerman ibana. Tu kedan ni ba na mandok Ito tu boru Sihotang, si dohononhu, godang ho marsiajar. Jala jot-jot ho marpanunghun di web site ta on.

    Halleta (baca : Pariban) do Boru Sihotang di sude luat portibion. Molo so mangoli dope ho, jala molo adong Boru Hotang, pintor boan ma…!

  13. marsogot haduan, dung hujaha sejarah ni simanjuntak on, las dang be husukkun simnajuntak aha hamu? horbo jolo/horbo pudi…”seperti yg selama ini saya tanyakan….(kentara sekali yaa, gak ngerti …hehehe) saut ma diparekkeli halaki sukkun2 i ate… Jadi mauliate ma tutu…

    Horas

    agnes br pane

  14. Horas ….

    Senang sekali membacanya dan mengenal sejarah Simanjuntak.
    Terima kasih atas waktu dan jerih payahnya dalam melestarikan budaya batak khususnya sejarah Simanjuntak.

    Salam kenal, au Simanjuntak No.16, Hutabulu, BursokPati, Boksa Raja sian Siatandohan alai nungga tubu di tanah rantau.

    Peace…

  15. syalom…!

    Begitu ceritanya yah….
    Trus ada yang bilang kalau simanjuntak parsuratan n sitolu sada ina itu ga boleh gabung dalam acara-acara tertentu ( Pesta, dalam satu bus. dan memang pengalaman saya, jika berkenalan dengan simanjuntak parsuratan (saya simanjuntak mardaub 16)mereka enggan mendekatkan diri, padahal saya menggangap bahwa itu kan ga perlu dipersoalkan. kita kan sama-sama simanjuntak. jadi saya harus gimana…….?

  16. Antara Simanjuntak Parsuratan dan Sitolu Sada Ina tidak perlu ada pelestarian konflik. Sesama Simanjuntak, sesama cipataan dan sesama penghuni bumi tidak ada yang harus saling menyisihkan.

    Secara organisatoris dan Paradaton, kedua pihak bermarga Simanjuntak ini telah memilih menjalani masing-masing, tanpa harus saling membenci satu sama lain. Anggap saja, ada kebebasan kita memilih organisasi yang berbeda walau merek kita sama.

  17. Horas…
    Hutabulu hubungannya dengan Hutajulu???

    Kalo dengan Sitorus ada, Mardongan tubu ma Sitorus dohot Hutajulu, jadi paribanku lah Tubu ni Br Hutabulu ehh Hutajulu… (sengaja… asa marpariban he ahu dohot Hutabulu???? :))wkwkwkwkwkwk)

    Just for laugh…Peace

  18. Horas…

    mauliate tulang bah…gabe asik iba manjaha sejarah ni marga simanjutak on…

    huingot doi bah pesan ni amang molo jumpangonku anon marga simajuntak..

  19. mantap kali ceritanya, cukup seru.
    yang pasti menambah khazanah ke-simanjuntak-anku karena mamanya anak2ku boru simanjuntak sitombuk no 17.

    syallom buat semua tondongku sedunia!
    salut buat web-nya simanjuntak!!

  20. Salam kenal buat kel Simanjuntak
    Saya Rally Simanjuntak Hutabulu no 15, Parjabu Br Sitanggang
    Tempat tinggal : Jl Sudirman Bagan Batu Riau

    Saya tertarik dgn pesan Appara Biller ( Ama Taruli) untuk belajar dan konsultasi ttng perkebunan dan pupuk. Mungkin saya akan menghubungi abang melalui hp ke 0811626476 ato 081263286070

    Parjolo hupasahat mauliate godang

    Rally Simanjuntak

  21. halo angka dongan samargakku, au na margoar JEFTA SIMANJUNTAK mandok MAULIATE tu penulis cerita on
    HORAS ma di hita sude !
    Semoga SIMANJUNTAK semakin maju dan dikenang. TUHAN memberkati !

  22. bru tw aq…
    bangga ahu marga simanjuntak…

    HORAS….
    HORAS….
    HORAS….

  23. HORAS..!!

    Horas ma di hita simanjuntak…!!!
    manurut Au masalah na di sejarah i dang pola porlu permasalahon onta be,alana i kan permasalahan najolo do.jadi hita simanjuntak sude ikkon marsada do.memang porlu do ingot on tai, alai dang pola boan onta i tubagas niroha.songon na ni dok dihata ni Debata(Unang Balas kejahaton dohot kejahaton),jadi agia pe songoni permasalahan na jolo,dang pola porlu tiruonta i.
    OKEY…SAUDARA-SAUDARAKU SEMUANYA..!!!!
    MAULIATE…!

  24. HORAS….
    tung mansai las do rohakku dung hujahai
    alana godang marga na asing manungkun lapatanni horbo jolo dohot horbo pudi
    saonari nga boi be huboto
    Alai tu marga simanjuntak molo adong namalo mambahen lagu ba dibaen ma jolo da lagu mengenai margatta asa boi manambai holong ni roha di marga i jala hera sada lagu pemersatu tu angka simanjuntak nahurang mangantusi
    Mauliate/Terima kasih/Thank you.

  25. Horas amangtua Narasumber,

    Baru saya tahu persis urutan ceritanya dan saya kira perlu juga diketahui oleh Generasi Muda Simanjuntak untuk menarik nilai – nilai positif dari perjalanan sejarah Simanjuntak Sitolu Sada Ina ini dimasa mendatang dan menghilangkan sisi negatifnya dengan demikian Simanjuntak Sitolu Sada Ina menjadi bangsa yang besar serta sisada lulu sisada lungun dohot sisada las niroha.

    Salut untuk Bapa Tua dapat mengemas cerita ini relatif baik jika dihubungkan dari banyak cerita dari sesepuh Simanjuntak termasuk almarhum ayah saya (seorang pendeta) serta almarhum Bapa Uda (Sintua) saya yang lebih seram.

    Cerita ini menyiratkan hati yang tulus dan penuh daya juang dalam menghadapi dinamika hidup mempunyai sifat leadership dan tanggung jawab dalam menjaga dan mengembangkan harmonisasi serta keutuhan keluarga dengan tidak pernah mempersoalkan latar belakang dan trauma kejadian yang dialami namun menjadi inovasi dalam menyambut masa depanya.

    Ompung Sobosihon benar dalam tonggonya (doa) ke mula jadi nabolon (Tuhan Allah pencipta alam semesta) karena kita sampai sekarang dapat hidup berdampingan sesuai ajaran kasih dari Tuhan Yesus Kristus.

    Sukses selalu buat kita semua terutama buat penulis sehat selalu.

    Elfis P.Simanjuntak
    Hutabulu 15

  26. Cerita tentang Simanjuntak ini sudah pernah saya dengar dari Bapak saya waktu saya berumur 9 tahun( 1976 ), tapi karena kemampuan saya untuk memahami cerita ini sangat terbatas pada umur tersebut maka saya hanya mengerti sedikit cerita ini (kurang lebih 30 %)
    Saya bersyukur bisa membaca tulisan ini sehingga dapat memperjelas yang dulu masih samar tentang simanjuntak dalam pengertian saya.Mauliate godang
    Saya Mardaup no 15, Na Mora Sende
    Salam untuk semua saudaraku Simanjuntak, Kiranya Tuhan senantiasa beserta kita semua.
    Horas….!

  27. Horas, Tabenauli ma dihamu sude, Tulisan sejarah Siamanjuntak ini sangat bermanfaat bagi kami generasi pomparan Simanjuntak. Semoga Tuhan memberkati seluruh pomparan Simanjuntak, Amin! Salam hormat, tabenauli sian hami sekeluarga (Esty Yuliana br Simanjuntak : Hutabulu no 15 – Bursok Pati / suami : Timbul Siregar ; 3 orang anak ) **Alamat: Pesona Khayangan Blok CG No. 2 Depok.

  28. Horas buat kita semua pompararan Simanjuntak:)Saya sendiri boru Juntak Hutabulu no 18. Senang sekali bisa mengenal dengan lebih lengkap tentang sejarah marga Juntak disini.
    Walaupun kedua pihak bermarga Simanjuntak telah memilih menjalani masing-masing tanpa harus saling membenci satu sama lain, tetapi tidak bisa ditampik juga bahwa sampai sekarang masih banyak Juntak Pudi khususnya yang tetap jaga jarak dengan Juntak Parsuratan. Saya pikir kalau memang ada kerinduan dari kedua belah pihak untuk “mardomu” tentu ada kemungkinan punguan marga Simanjuntak akan memiliki tugu yang dapat menjadi peringatan untuk menjaga persatuan marga seperti pada marga-marga lain. Beberapa marga lain ada yang menganggap bahwa ketidakdekatan antara Juntak Jolo dan Pudi adalah suatu kebodohan. Untuk menanggapinya, saya hanya berharap dari Juntak manapun kita semoga tidak akan tinggal di dalam kebodohan itu. Tetaplah kiranya kita mengenakan KASIH sebagai pengikat untuk mempersatukan & mempererat tali persaudaraan.
    Salam buat semuanya.
    MAULIATE GODANG!:)

  29. Horas buat semua pomparan Simanjuntak:)Saya boru Juntak Hutabulu 18. Senang sekali bisa dengan lengkap mengetahui sejarah Simanjuntak disini.
    Kedua pihak bermarga Simanjuntak ini memang telah memilih menjalani masing-masing tanpa harus saling membenci satu sama lain, tetapi kita juga tidak bisa menampik bahwa masih banyak Juntak Pudi yang menjaga jarak dengan Juntak Parsuratan. Kalau memang ada kerinduan dari kedua belak pihak untuk “mardomu” tentu ada kemungkinan punguan marga Simanjuntak memiliki tugu yang akan menjadi peringatan persatuan seperti pada marga-marga lain.
    beberapa marga lain menyatakan bahwa ketidakdekatan antara Simanjuntak Parsuratan dengan Horbopudi merupakan suatu kebodohan. Untuk menanggapinya,saya hanya berharap darimanapun asal Simanjuntak kita semoga tidak akan tinggal dalam kebodohan itu. Kita kenakanlah KASIH sebagai tali pengikat yang mempersatukan dan mempererat persaudaraan.
    Salam buat semuanya.
    MAULIATE GODANG:)

  30. horas, mejuah juah

    kalok bisa di ceritakan juga mengenai simanjuntak sitombuk, karena parnijabu br juntak sitombuk no. 13

    mauliate, bujur

  31. Terima kasih terhadap pemberitaun terhadap saya,krena berkat informasi ini,saya jadi tau cerita ttg marga saya.
    buat opung Sihotang,Bapa Tua,Bapa Uda,Namboru,Ito dan Apara saya.
    Tolong bantu aku dalam pencarian masalah pekerjaan ini,aku sangat buntu karena tidak mendapatkan kerja.
    jd aku meminta mohon kepada PUNGUAN DONGAN TUBU saya agar sudi kiranya membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan baik DOA maupun INFORMASI br saya mendapatkan pekerjaan yg sesuai dgn profesi saya,
    aku anak dari bapak A.SIMANJUNTAK dan IBU S BR SINAGA.saya ALUMNI dr UNIV.HKBP NOMENSEN MEDAN,ALAMAT TINGGAL JALAN KEMIRI NO 23 A PARLUASAN P.SIANTAR.NO HP 081264230128
    Terlebih dahulu saya ucapkan terhadapDONGAN TUBU saya ucapkan TERIMA KASIH SEDALAM-DALAMNYA.
    HIDUP PUNGUAN SI TOLU SAQ DA INA
    ANGGIAT SIMANJUNTAK SI TOMBUK(DATU MIRA) NO 16

  32. terima kasih bapa tua,atas informasi yang saya terima dari bapa tua,aku yang bentuk dlu SI TOLU SADA INA di nomensen,bapa tua gimana punguan kita bs gak membantu saya yang lagi buntu mencari pekerjaan sana sini.
    tolong aku bapa uda aku alumni dr nomensen medan Hukum,jadi hanya pada punguan kitalah aku bisa minta tolomg bapa tua selagi DONGAN TUBU SAYA.
    bantu aku dgn doa dan informasi agar aku bs dapat pekerjaan yang sesuai dengan profesiku.Agar generasi muda si TOLU SADA INA berguna bagi nusa dan bangsa.
    saya anak dari A simanjuntak(+) dan S br Sinaga,aku kasian lihat ibu saya bapa uda,terlebih dahulu ku ucapkan banyak terima kasih
    tak lupa juga aku nitipkan no hp ku agar aku dapat informasi dari PUNGUAN MARGA SAYA SI TOLU SA DA INI.NO HP 🙁 081264230128 )
    MAJU TERUS SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA.

  33. Permusuhan sepanjang segala zaman ialah antara dosa dan kebenaran! Dua ribu tahun lampau Kristus Yesus telah mati untuk mendamaikan manusia dengan Bapa di sorga sehingga kita manusia berdosa berdamai dengan Dia! Kita dibenarkan oleh karena kebenaranNya sendiri, oleh karena tidak ada satu pun manusia di bawah kolong langit ini yang benar selain Dia yang adalah kebenaran itu sendiri!
    Sehubungan dengan pertikaian antara Juntak belakang dengan Juntak depan, itu adalah peristiwa masa lampau ketika Injil belum hadir di tanah Batak! Sekarang kita telah menerima terang Injil dan lebih daripada itu menerima pembenaran, pengampunan, pengudusan oleh Darah Kristus yang telah tercurah di kayu salib!

    Apakah kita hanya mau menerima pembenaran, pengampunan, pengudusan, juga penebusan Kristus atas hidup kita dari dosa? sementara itu pada sisi lain kita mempertahankan kemarahan, permusuhan, kebencian pada saudara kita oleh karena peristiwa sejarah pahit masa lampau? Kalau pun peristiwa itu semua ada kebenarannya, apakah kita harus “menyulutkan api kemarahan” kepada generasi berikut? Ingatlah: ini semua hanya siasat si iblis untuk menghancurkan kehidupan bermasyarakat, yang seharusnya lebih baik daripada masa lampau!Terutama karena kita telah hidup dalam terang kasih kristus, siapa pun kita, khususnya dari para pemimpin Juntak belakang, adakah inisiatif yang didasarkan Kasih, memprakarsai REKONSILIASI dengan saudara kita Juntak Depan?
    Ingatlah, suatu hari nanti Tuhan akan menuntut pertanggung-jawaban dari kita yang telah menerima kasih dan terang Kristus!
    Semoga Tuhan menjamah hati kedua belah pihak untuk menolak semua tipu daya si iblis yang mencoba terus menimbulkan pertikaian dan kebencian diantara kita!!!

  34. Horas di hamu anggi doli Okto Pungu Simanjuntak.
    Jumolo mandok mauliate hami amang tu hamu ala di lehon hamu tingki muna laho mangalehon masukan tentang tulisan on alai amang adong sungkun sungkun sian hami tu hamu.

    1. Apakah menurut amang ada permusuhan antara Simanjuntak Sitolu Sada Ina dengan Parsuratan?

    2. Apakah tulisan ini menyulut api kemarahan pada amang sehingga ada statement menyulut kemarahan pada generasi berikutnya?

    Saya sendiri tidak pernah membenci saudara kita Parsuratan. Kalaupun ditanya satu persatu Simanjuntak Sitolu Sada Ina apakah mereka membenci Parsuratan? Jawabannya mungkin sama. TIDAK. Tetapi Simanjuntak Sitolu Sada Ina tidak akan pernah menjadi “SI SADA ULAON DENGAN PARSURATAN”

    Mauliate

  35. Ceritanya .. sama seperti alm. Bapakku pernah ceritain ke aku. Mauliate godang ya ..!!

  36. Horas..!!!!

    Maaf jika aku langsung to the point saja.

    Mengutip dari pernyataan bapak Bungaran Simanjuntak (M14) tentang pemisah antara Simanjuntak Parsuratan dan Simanjuntak Si Tolu sada Ina, sbb:

    “Saya sendiri tidak pernah membenci saudara kita Parsuratan. Kalaupun ditanya satu persatu Simanjuntak Sitolu Sada Ina apakah mereka membenci Parsuratan? Jawabannya mungkin sama. TIDAK. Tetapi Simanjuntak Sitolu Sada Ina tidak akan pernah menjadi “SI SADA ULAON DENGAN PARSURATAN” ”

    Satu pertanyaan yang mendasar, kalau memang tidak membenci, mengapa tidak bisa berada dalam satu ulaon dengan Simanjuntak Parsuratan?

    Apakah bukan kebencian dan jurang pemisah yang semakin dipupuk apabila tetap ditanamkan doktrin tersebut kepada generasi penerus bangsa?

    Komentar saya ini bebas apakah mau diposting atau tidak oleh moderator, itu hak anda. Tetapi ingat, setiap manusia diperlengkapi dengan akal budi dan hati nurani untuk melihat mana yang benar dan mana yang salah. Jika tidak cukup berani untuk melihatnya, silahkan buang jauh-jauh akal budi anda.

    Banyak kesombongan yang diliputi oleh rendah diri, bukan rendah hati.

    Mauliate.

    Horas

  37. Okto Pungu Simanjunta (H14) says:

    Semoga Tuhan menjamah hati kedua belah pihak untuk menolak semua tipu daya si iblis yang mencoba terus menimbulkan pertikaian dan kebencian diantara kita!!!
    Mohon maaf apabila saya klarifikasi,
    Benarkah Okto Pungu Simanjuntak Hutabulu No.14?, kalau benar berarti saya panggil Ompung, krn saya Simanjuntak Hutabulu No.16 (Bursok Ronggur).

    Sebagai sundut yg masih diatas kami, seharusnya Ompung Do Something,kalau menurut Ompung salah, mengapa Ompung tdk prakarsai aja untuk mardomu.

    Kami tunggu effort Ompung.
    GBU

  38. Terimakasih banyak saya ucapkan untuk informasinya, saya sungguh senang dan bangga menjadi orang batak khususnya sebagai keturunan simanjuntak hutabulu. Horas ma di hita sude, HIDUP BATAK, JAYA SIMANJUNTAK. Horas….

  39. ide bagus itu appara
    aku simanjuntak mardaup no 15 namora sende

  40. “Cerita Tentang Konflik Turunan Raja Marsundung Simanjuntak”
    Raja Marsundung Simanjuntak adalah salah satu cucu dari Sibagot Ni Pohan, Sibagot Ni Pohan ini mempunyai empat orang anak:
    1. Tuan Sihubil.
    2. Tuan Somanimbil.
    3. Tuan Dibangarna.
    4. Raja Sonakmalela.

    Tuan Somanimbil mempunyai tiga orang anak, yaitu:
    1. Somba Debata (Siahaan).
    2. Raja Marsundung (Simanjuntak).
    3. Tuan Maruji (Hutagaol).

    Raja Marsundung mempunyai istri pertama yang bernama Taripar Laut boru Hasibuan. Dari isteri pertama ini Raja Marsundung mendapatkan satu orang anak yaitu Raja Parsuratan.
    Beberapa tahun setelah Taripar Laut boru Hasibuan meninggal, Raja Marsundung mengambil isteri dari negeri Sihotang (dekat Pangururan Samosir) yang bernama Sobosihon boru Sihotang. Dengan demikian sejak itu Si Raja Parsuratan memiliki ibu tiri (panoroni). Dari isteri yang kedua ini lahirlah Raja Mardaup, Raja Sitombuk, Raja Hutabulu dan dua orang anak perempuan. Salah satu dari dua anak perempuan Raja Marsundung kemudian kawin dengan marga Sirait.
    Rupanya hubungan antara Raja Parsuratan dan ibu tirinya Sobosihon boru Sihotang kurang harmonis. Hal ini dapat dimaklumi karena di orang Batak, antara anak tiri dengan ibu tirinya sering tidak ada kecocokan/kerukunan, juga karena si Bapak selalu lebih memihak kepada isteri keduanya. Karena kondisi yang tidak menyenangkan ini, Raja Parsuratan meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kampung Tulangnya di Sigaol, desa Marga Hasibuan.
    Menurut cerita orang-orang tua, Raja Parsuratan cukup lama tinggal di Sigaol, bahkan sampai-sampai orang di sana mengira dia bermarga Hasibuan. Kemudian Raja Parsuratan mengawini boru tulangnya yakni Boru Hasibuan. Beberapa lama kemudian Raja Parsuratan mendengar berita bahwa bapaknya, Raja Marsundung telah meninggal dunia. Raja Parsuratan kemudian kembali pulang ke kampung halamannya di Parsuratan, Paindoan Balige. Di Balige inilah kemudian Raja Parsuratan menetap dan hidup berdekatan dengan ibu tirinya, Sobosihon boru Sihotang dan anak-anaknya yaitu Raja Mardaup, Raja Sitombuk dan Raja Hutabulu serta dua orang anak perempuan.
    Salah satu keturunan Raja Marsundung dari isterinya Sobosihon boru Sihotang, yaitu anak yang tertua (anak perempuan) sangat dekat dengan ibunya. Sebagai anak yang tertua, maka dialah yang selalu gigih membantu ibunya sementara adik-adiknya masih kecil-kecil.
    Karena Raja Parsuratan magodang (artinya besar) di kampung tulangnya, maka dia tidak memiliki hubungan yang dekat dengan bapaknya, sehingga setelah meninggal, tidak ada pesan dari Raja Marsundung kepada Raja Parsuratan terutama mengenai harta yang ditinggalkan. Raja Parsuratan menganggap bahwa harta yang berupa satu ekor kerbau merupakan anak dari kerbau-kerbau yang dipungka Raja Marsundung dengan Taripar Laut boru Hasibuan. Disinilah malapetaka itu berawal (bonsir ni parbadaan i), yang disebabkan hanya karena memperebutkan seekor kerbau saja.
    Tidak ada bukti maupun petunjuk (keterangan), yang dapat menjelaskan bahwa persengketaan disebabkan oleh harta¬ harta yang lain seperti sawah atau benda tidak bergerak lainnya. Sekali lagi sumber perselisihan hanya karena seekor kerbau.
    Selanjutnya karena kedua belah pihak yaitu Raja Parsuratan di satu pihak dan Sobosihon boru Sihotang dan anak-anaknya di lain pihak, memiliki sawah masing-¬masing, kepemilikan kerbau menjadi sangat penting (untuk membajak sawah). Sulit bagi kedua belah pihak untuk memanfaatkan tenaga kerbau yang hanya seekor itu secara bergiliran. Sampai saat ini tidak jelas ceritanya apakah kerbau yang satu ekor itu secara de facto berada dalam penguasaan Raja Parsuratan atau dalam penguasaan Sobosihon boru Sihotang dan anak-anaknya.
    Akhirnya timbullah emosi (hona mara) Raja Parsuratan (konon kabarnya) yang berakibat meninggalnya putri sulung dari Sobosihon boru Sihotang. Tidak jelas kapan dan apa yang mengakibatkan putri sulung tersebut meninggal. Namun meninggalnya putri tercinta inilah yang menjadi sebab dari pertikaian/perselisihan antara Raja Parsuratan (yang kemudian dikenal dengan Parhorbo Jolo) dengan Raja Mardaup-Raja Sitombuk-Raja Hutabulu (yang kemudian dikenal dengan Parhorbo Pudi) yang berlangsung hingga saat ini. Perselisihan ini sebenamya sudah pernah dicoba untuk diselesaikan oleh saudara-saudara Raja Marsundung yaitu Siahaan dan Hutagaol, bahkan oleh keturunan Si Bagot Ni Pohan. Namun sampai saat ini belum terjadi penyelesaian.
    Menurut pendapat Penulis, peristiwa meninggalnya putri sulung itu sengaja didramatisir oleh orang-orang tertentu yang ingin membuat perpecahan di antara turunan Raja Marsundung Simanjuntak hingga dewasa ini. Bahkan cerita tersebut sudah meluas karena dengan sengaja, cerita mengenai kematian putri sulung tersebut disebarkan ke marga-marga lain yaitu kepada marga-marga yang mempunyai kaitan perkawinan dengan marga Simanjuntak, terutama pihak boru.
    Demikianlah salah satu contoh yang menunjukkan betapa tingginya kadar konflik pada orang Batak. Konflik yang disebabkan oleh faktor kultur yaitu konflik hubungan sosial (social conflict), ditambah lagi dengan ketidakcocokan diantara para pemimpin non-formal, diantara kedua belah pihak.
    Konflik diantara marga Simanjuntak semakin memanas setelah adanya perbedaan kepentingan pada masa Orde Lama, yaitu pada tahun 1963. Pada waktu itu dilakukan pembuatan tugu Sobosihon boru Sihotang di Balige yang tujuannya adalah untuk kepentingan golongan tertentu yang ingin mengumpulkan massa. Pihak ini menggalang solidaritas di antara turunan dari nenek moyang Sobosihon boru Sihotang yang jumlahnya cukup banyak. Marga Simanjuntak adalah salah satu marga terbesar dikalangan suku batak hingga terkenal istilah Simanjuntak na solot di ri (Simanjuntak Ri) yang artinya dimana ada rumput (ri), disitu ada Simanjuntak. Pendirian tugu ini dilaksanakan oleh tokoh-tokoh dari turunan Raja Mardaup, Raja Sitombuk, dan Raja Hutabulu di bawah pimpinan Alm. Drs. Parlagutan Simanjuntak, yang pada waktu itu menjabat sebagai Bupati Tapanuli Utara. Pendirian tunggu ini tidak mengikutsertakan atau mengundang turunan Raja Parsuratan. Tidak lama sesudah peresmian tugu, terjadi pemilihan Bupati Kepala daerah Tk II Tapanuli Utara dan pada saat itu Drs. Parlagutan Simanjuntak yang juga menjadi calon bupati secara tiba-tiba meninggal dunia. Oleh karena Drs. Parlagutan Parlagutan Simanjuntak meninggal dunia maka calon Bupati lainnya yaitu Kolonel Sinaga terpilih menjadi Bupati. Setelah tugu Sobo Sihon boru Sihotang didirikan, maka sejak itulah terbentuk perkumpulan Simanjuntak Sitolu Sada Ina.
    Pada tahun 1968 telah dibentuk pula perkumpulan persatuan Raja Marsundung Simanjuntak yang anggotanya terdiri dari turunan dari Raja Marsundung Simanjuntak yang lengkap, yaitu Parsuratan, Mardaup, Sitombuk, dan Hutabulu. Perkumpulan persatuan Raja Marsundung Simanjuntak merupakan suatu perkumpulan yang menyatukan seluruh keturunan dari Raja Marsundung Simanjuntak baik keturunan dari istri pertamanya, Taripar Laut boru Hasibuan, maupun dari istri keduanya, Sobosihon boru Sihotang.
    Banyak lagi perselisihan-perselisihan di antara orang Batak yang membuat pergaulan sehari-hari menjadi tidak harmonis, antara lain marga Silalahi dengan marga Sihaloho, marga Panggabean dengan Marga Hutabarat, juga perselisihan di antara turunan Si Raja Lontung. Tetapi perselisihan tersebut tidak separah perselisihan diantara keturunan Raja Marsundung Simanjuntak.
    Sebenarnya, jika teliti lebih jauh, semua masalah yang menjadi penyebab timbulnya konflik tersebut relative sepele (tidaklah prinsipil), namun akibatnya jelas terasa di dalam upacara-upacara adat Batak. Persoalan marga-marga ini sepertinya susah/sulit diselesaikan. Kurang harmonisnya pergaulan di kalangan orang Batak dapat mengakibatkan tidak optimalnya Dalihan Na Tolu. Oleh karena itu, pada jaman reformasi dan era globalisasi ini, perlu disosialisasikan paradigma baru Dalihan Na Tolu dengan melaksanakan prinsip sinergi dan prinsip win-win solution untuk mengefektifkan Dalihan Na Tolu membawa orang Batak menuju kesatuan dan persatuan.
    Untuk menyelesaikan konflik/perselisihan perlu diaktifkan peranan Dalihan Na Tolu seperti misalnya musyawarah mufakat, runggun partukkoan (dialog, kompromi, rekonsiliasi) atau membuat Padan atau Janji, dengan berpegang pada prinsip win-win solution. Peranan Gereja juga penting untuk memfasilitasi usaha rekonsiliasi diantara marga-marga yang masih ada perselisihan diantara sesamanya.
    diposkan oleh tobaputra di 05:25 pada 2008 Mar 31

    Bang Juntak berkata..

    Hmm… cerita yang di putar balikan. Kata siapa parhorbo pudi membenci parhorbo jolo? Trus pernahkah parhorbo jolo meminta maaf secara resmi pada adik2nya parhorbo pudi sehingga parhorbo pudi harus mau memaafkan abangnya parsuratan? Menurut penulis cerita ini sengaja di dramatisir? apakah gampang menyebarluaskan berita ini di kala informasi tidak secepat sekarang? Sudah adakah usaha parsuratan untuk menyatukan keturunan raja marsundung?
    2008 Juli 12 07:11
    tobaputra berkata…
    Bang Juntak, sebagai orang beragama, kita kalau mau meminta maaf tentunya tidak perlu lagi mencari mana yang benar dan mana yang salah. Kejadian ini sudah berlangsung ratusan tahun yang lalu, sulit untuk mencari bukti siapa yg benar dan siap yg salah. Pahorbo jolo maupun pudi tidak harus saling memaafkan dalam arti orang/kelompok, tetapi mari kita memaafkan masa lalu yang ternyata tidak menguntungkan bagi parhorbo jolo, maupun parhorbo pudi…
    Untuk pertanyaan yg terakhir, jawabannya adalah Punguan Ni Raja Marsundung ini terdiri dari Simanjuntak yg dulunya adalah parhorbo Jolo dan parhorbo pudi yang telah memafkan sejarahnya dan kemudian bersatu menatap masa depan yang lebih baik….
    2009 Januari 7 23:49

    natal ia berkata…
    Salom, saya baru membaca cerita legenda atau apaun namanya dari Parhurbo jolo dan Parhorbo pudi dan saya sangat terkejut karena dikatakan disitu seolah-olah si raja parsuratan yang di tindas padahal adalah sebaliknya, dan penulis perlu ketahui sebenarnya yang paling keberatan dalam hal ini adalah tulangta RAJA SIHOTANG SIGODANGULU karena bagaimana namboru mereka diperlakukan tidak manusiawi oleh keturunan Raja Parsuratan, orang tua mengatakan jolo ni dilat ninna bibir asa mangkatai, memang dalam hal agama keadaan ini sudah menyalahi tapi perlu diketahui bahwa Parhorbo pudi tidak pernah menaruh dendam kepada keturunan Parhorbo jolo hanya sampai sekarang kita tidak satu dalam paradaton, saya adalah kebetulan yang lahir pada pesta Tugu Sobosihon br Sihotang yang mana waktu itu orang tua saya Rudolf Simanjuntak dan Hermina br Tampubolon yang manghasuhuthon dan saya lahir tanggal 21 September 1963 atau hari kedua pesta tersebut, dan diberi nama MARSUNDUNG SIMANJUNTAK.
    2009 Juli 9 06:05

    christison berkata…
    Hebat kali cerita versi om yang satu ini…yang jelas… kami tidak akan pernah sahundulan di peradatan dengan kalian par horbo jolo…kami tidak dendam dgn kalian..kalau kami dendam, tentunya udah banyak kasus di negeri ini SIMANJUNTAK MEMBUNUH SIMANJUNTAK.., itu alasan kalian aja parhorbo jolo bahwa kami de ndam…Silahkan kalian bangga bisa dirikan punguan marsundung..tapi punguan kalian di Semarang hidup segan mati tak mau…dan kurasa ditempat lainpun demikian. Viva PSSSI&BB.
    2009 Juli 12 07:11

    parlin berkata…
    Horas….Saya sudah baca Cerita tentang Sejarah Simanjuntak, yang mana perlakuan Simanjuntak Parsuratan terhadap Simanjuntak PSSSI ( Parhorbo Pudi ) memang diluar Prikemanusian..,Tetapi perlu kita ingat bahwa itu sejarah dan kejadiannya sdh ratusan tahun yg lalu…dan sdh saatnya Kita Sebagai Manusia yg beragama utk bisa saling memaafkan dan tdk mewariskan kebencian dan demdamm kepada Anak Cucu kita, Karena Tuhan tdk pernah Menyukai Manusia yg tdk bisa memaafkan kesalahan Orang lain…Jadi kepada Seluruh Poparan Simanjuntak, marihlah kita saling bergandeng tangan Utk membawa Simanjuntak agar lebih besar,lebih sukses dan Sejahtera.Tuhan Memberkati.

    PSSSI.
    2009 Juli 16 20:11

    ompung sim berkata…
    Opung Berkata:

    yang memanipulasi sejarah adalah Psssi anggar kekuatan pada zaman orde lama memaksakan pembuatan /pembangunan tugu Ompung br Sihotang sehingga salah ambil tidak musjawarah dgn Pomparan ni Raja Marsundng tentang dimana sebenarnya makam br Sihotang .cerita dari pihak psssi sepihak mengandalkan torop ni partubu tidak pernah bertanya kepada pihak lainnya metang2 kita lebih banyak.Terlepas dari siapa yg salah pada ratusan tahun yg lalu saya kira tidak perlu turunannye minta maaf.cerita tetang jaman dahulu belum tentu semua benar.banyak cerita bohong apalagiadanya pihak ketiga yang mengadu domba agar Simanjuntak naboloni pecah jangan lupa pengaruh Pem Belanda selalu memecah suku,marga itulah sfat penjajah kemudian ditambah lagi pada zaman orde lama thn 1960 a/d1965 pengaruh pki selalumembuat kacau dengan ajaran pertentangan kelasnya sengaja membangun tugu Ompunta brSihotang menjadi situasiagak panas karena terungkit lagi peristiwa lama yang tadinya sudah mulai dingin. Saya himbau gerasi muda khususnya generasib Simanjunttak :Belajar Silsilah 2:sekarang abad Internetbercomunikasilah untuk persatuan karena persatuan syarat utama untuk,kekuatan dalam pembangunandisegala bidan HORAS TONDI MADINGIN PIR TONDI MATOGUoou
    2009 November 12 23:35

  41. Di abad internet on porlu berfikir positip [positiv thingking] molo pendidikan timbo marpikkir jala berbicaralah akademis/ilmiah masuk akkal didok ndang adong perselisihan ,hape dipaboaboa haroaon ni donganna bahkan tu luat portibion sahat tu negeri China,ulaon ni ise doi ndang ulaon ni pomparan ni Rajai Raja Marsundung iatehe ndang kecil be antong permainan ni angka anak ni Raja apa lagi kaum intelektual ndang adong parbadaan dht parsalisian ninna hape diparoaroa tu halak kan munafek doi ,santabi da diangka pomparan ni Raja ima jolo taringot tusi HORAS MA DI HITA sude Marga Simanjuntak Boru dht Berena..

  42. OMPUMG BERKATA; Tanggapan untuk Christon jangan dilihat di Semarang lihat di semua marga Batak lebih populer Raja Marsundung drp Simanjuntak lain PSSSi selalu membuat masalah pada Marga lain,marga lain yg mengawini br Juntak menjadi ikut “parhorbo jolo dan parhorbo pudi” jadi menjadi “VIRUS” kepada marga lain jadi marga lainpun menjad parhorbo ingat ya parhorbo jolo dht parhorbo pudi punya konotasi negatip menanamkan pertentangan.menjadilah anda parhorbo LENGKAP ok ?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.