• horas…………………
    aka aha do bagian namasuk tu dongan tubu, hula-hula dohot boru di partuturan ni halak batak toba???
    mauliate……….

    March 16 2009
    CommentsLike

    • Horas di hamu lae rambe..
      Las situtu rohanami di siala haradeon muna laho mangurupi hami laho menuangkan ide dohot pemikiran muna taringot tu habatahonta i. Rade situtu do hami laho mangalehon kesempatan dohot space dihamu molo adong tulisan muna naeng pamasukhon muna di situs na metmet on. Dipaima hami amang tulisan muna i ate.

      Horas

      October 17 2008
      CommentsLike
      • b rambe

        st. b. rambe br56rb14
        mauliatema di namambahen situs on, molo une roha ni lae na mambahen situs on,naeng rutin nian ahu lao mangalehon buah pikiran manang na ide taringot tu paradaton khususna tu habatahon umumna. ai ndada ise na mangkaholongi sihabatahontai selain hita halak batak. Nunga marsiajar matua iba lae na mar internet on (53th) jala ndang dope sude huboto. on pe nadibulan on dope hu utak atik komputerhu di kantor, siala nunga jut rohangku. Alana dung adong komputer on nunga adong ninna program internet. Alai ganup hubuka internet selalu error. Dohot modal bahasa inggris jauh dari paspasan hucoba mangarangrangi programnai jala naget-nanget hu lapati, gabe boi dapot ahu masalahna, jala gabe boima husigat situs munaon. ala naung lancar mambuka internet on, ido umbahen nahudo naeng nian rutin ahu manuanghon aha na adong dipingkiranhon na mangonai tu si habatahon. horas!

        September 25 2008
        CommentsLike
        • b rambe

          ILMU PENGETAHUAN HILANG SEJALAN DENGAN
          “LOCAL LENGUAGE DIED”

          Seorang sejarahwan, Addrew Dalby, belakangan ini meneliti tentang kepunahan bahasa di dunia. Sekarang bahasa yang masih dipakai orang didunia ini ada 5000 bahasa. Diperkirakan 100 tahun kedepan, akan tinggal setengahnya.
          Punahnya sebuah bahasa, akan merugikan manusia, sebab banyak pengetahuan yang ditulis di dalam bahasa-bahasa minoritas yang rentan dalam kepunahan dan pengetahuan yang ada di dalamnya akan punah sejalan dengan punahnya bahasa tersebut.
          Hasil penelitian tersebut, menyentak pikiran penulis dan membenarkan hasil penelitian tersebut mengingat naskah-naskah kuno yang ada di setiap suku di Indonesia yang belakangan ini dicari orang sebagai benda antik dan dan dibeli dengan harga mahal. Dikaitkan dengan naskah-naskah yang masih dipelihara dan disimpan dengan sangat rahasia, dijadikan sebagai benda pusaka secara turun temurun oleh bangsa Batak dikenal dengan “pustaha dan tombaga holing” Benda ini terdiri dari lempengan-lempengan dari kulit kayu atau kayu yang tipis, dilipat sambung-menyambung. Setiap lembar berisi tulisan akasara Batak kuno, merupakan informasi tentang sejarah/silsilah, pengetahuan obat-obatan, Ramalan, horoscop dan lain-lain. Menyatukan beberapa wilayah dalam satu Negara, memerlukan bahasa nasional sebagai bahasa pemersatu, memicu menomorduakan bahasa local, bahkan cenderung meninggalkan. Dalam keadaan demikian, bahasa local berada pada posisi “local language diet” apabila tidak berusaha untuk memelihara bahasa/tulisan tersebut, akan mengalami kerugian besar dimasa yang akan datang. Bukan hanya bangso Batak atau keturunannya yang rugi tetapi juga sebagai asset nasional (naskah kuno asli Indonesia, yang belum terungkap isinya) Juga akan rugi. Generasi Batak juga harus sadar, bahwa “Tombaga Holing” tidak bisa hanya dibanggakan, di dalamnya terdapat pengetahuan yang harus disingkap untuk kepentingan generasi masa sekarang dan yang akan datang. Orang batak pada umumnya, memang sudah kesulitan untuk menggali pengetahuan dari naskah kuno demikian, karena ditulis dalam aksara dan bahasa batak kuno. Sedangkan bahasa dan tulisan batak yang tertuang didalam naskah kuno tersebut, berada pada posisi “local language died” sebab pada masa sekarang tidak banyak orang Batak yang memahami aksara Batak. Jangankan akasara kuno seperti tulisan pada naskah kuno Tombaga Holing, aksara batak modern pun sudah sangat langka orang Batak yang memahaminya. Masih banyak naskah kuno yang lain di daerah Batak, “Tombaga Holing” salah-satunya sebagai contoh.

          TANGGUNG JAWAB SIAPA?
          Sebagai bagian suatu bangsa yang terdiri dari berbagai suku, naskah-naskah kuno yang dimiliki suatu kelompok suku merupakan kekayaan bangsa tersebut. Oleh sebab itu Pemerintah berkepentingan memberikan akomodasi terhadap pelestarian karya buda semacamnya. Bentuk akomodasi untuk pelestarian hasil kebudayaan yang dapat dilakukan pemerintah melalui:
          Pembinaan Generasi Muda
          Pembinaan terhadap generasi muda untuk memahami, menguasai serta mewarisi bahasa lokal, dimulai dari sejak sekolah dasar sampai ke sekolah menengah tingkat atas, sebagai basic pemahaman. Lalu di dalam pengembangan selanjutnya membuka jalur di perguruan tinggi sebagai MKDK dari antropologi. Mungkin hal ini terlalu spesifik untuk diberlakukan secara universal bagi jurusan antropologi diseluruh Indonesia. Untuk itu pemerintah dapat memberlakukan aturan, bahwa mereka yang mengambil jurusan antropologi di perguruan tinggi daerah merupakan mata kuliah pokok atau wajib sebagai dasar keahlian, sehingga mereka yang sudah lulus dapat dijamin bisa membaca naskah-kuno daerah tersebut.
          Bagi generasi muda sendiri, nampaknya menekuni hal hal seperti ini kurang menarik untuk dipahami atau ditekuni. Mereka lebih tertarik untuk menekuni jurusan yang banyak marketnya, dengan harapan begitu selesai kuliah, tempat bekerja sudah menanti. Yang paling parah dari sikap generasi muda adalah berfikir instant yang dipengaruhi oleh sikap “uang adalah segalanya”. Tanpa uang kita tidak bisa berbuat apa-apa. Menekuni naskah-naskah kuno membutuhkan kesabaran dan proses yang panjang. Untuk bisa memahami, adalah sesuatu yang membosankan. Generasi muda lupa bahwa di dalam menuju suatu cita-cita perlu proses yang panjang, tekun dan sabar merupakan bagian dari proses tersebut. Gambaran ini sangat jelas kelihatan bagi generasi muda Batak (Tapanuli) sekarang ini

          PARADIGMA GENERASI MUDA TAPANULI

          Priode tahun 1980 ke bawah, generasi muda tapanuli banyak muncul sebagai pioneer baik didalam pemerintahan maupun di segmen kalangan pengambil keputusan. Pada masa itu, bangsa Batak terkenal disegala segmen kehidupan masyarakat, dan banyak orang belajar dari bangsa Batak. Setelah tahun 1980-an hingga sekarang, image masyarakat terhadap keperkasaan bangsa Batak merosot drastis bahkan mulai menghilang, solah-olah orang batak/tapanuli sudah selesai masanya. Orang Batak (tapanuli) yang masih dikenal orang sekarang pada segmen-segmen kehidupan tertentu di Negara ini adalah merupakan sisa-sisa generasi 80-an.
          Ternyata kalau kita amati, telah terjadi suatu pradigma baru dikalangan generasi muda dan orang tua. Mereka lebih mementingkan apa yang bisa didapatkan sekarang, yang penting jadi uang. Kalau dahulu, para orangtua menanamkan pemahaman proses menuju suatu cita-cita kepada anak-anaknya misalnya, “kamu harus pintar bersekolah dan tekun belajar sampai setinggi-tingginya sehingga kamu nantinya mendapatkan pekerjaan yang baik yang besar gajinya dengan demikian hidup kamu enak” walaupun dalam kenyataanya ada faktor lain yang menentukan keberhasilan seseorang, tetapi dari nasehat yang demikian, memperlihatkan bahwa keberhasilan itu tidak akan didapatkan dengan begitu saja secara instan, tetapi mempunyai suatu proses yang sangat panjang. Sehingga generasi muda tapanuli tekun menghadapi suatu proses, bahwa segala sesuatunya itu berproses menuju ke cita-cita yang diinginkan. Keinginan-keinginan generasi muda pada jaman sebelum 80-an juga sudah ada keiginan atau pikiran instan yang dolontarkan kepada tokoh sebelum nya, akan tetapi keinginan itu menjadi mentah akibat jawaban tokoh tersebut atas pertanyaan generasi muda seperti demikian; “Bagaimana kita agar bisa menjadi penunggang kuda yang baik ?” jawaban tokoh tersebut: “kita harus bisa menjadi kuda lebih dahulu.” Sepintas, jawaban tersebut tidak mengena dan lari dari kontek pertanyaan. Tetapi maksudnya semuanya adalah berproses. Karena penunggang yang baik, harus mampu mengendalikan kuda dengan baik. Kalau kita tidak mengerti sifat dan kemauan kuda tentu tidak akan bisa menjadi penunggan kuda yang baik Dengan memahami sifat kuda, maka orang tersebut mengerti bagaimana cara agar kuda tersebut tidak melawan tali kendali kita yang kita pegang, sebagai penunggang.
          Perobahan paradigma sekarang ini, yang tinggal di kampung maupun di perantauan. Sering dipicu oleh pernyataan-pernyataan orang tua dan tokoh masyarakat. Para orang tua sering melemparkan statemen di depan umum, terukir melekat di hati generasi muda seperti:
          “yang paling utama adalah uang. Dengan uang hidupmu enak, dengan uang kamu bisa berbuat apa saja”,
          Dari Statemen tersebut, sama sekali tidak ada sedikitpun yang menggambarka suatu proses. Tanpa memberi tahukan bagaimana mencari uang yang benar dan tidak bertentangan dengan norma. Pandangan dan sikap para tokoh yang dianggap maju , baik yang tinggal di kampung maupun dari perantauan, juga merobah paradigma generasi muda dengan statemen
          ”Jaman sekarang, bagaimana memiliki uang karena uang, kita bisa mengatur negara ini”
          Pernyataan seorang tokoh yang demikian adalah munafik. Sebab beliau bisa besar, bisa kaya, bisa terkenal pasti mengalami suatu proses yang panjang kearah yang beliau sudah dapatkan. Tentu statemen ini mengesampingkan proses befikir untuk mengatur sebuah negara. Seolah-olah kalau ada uang, otomatis semua semua bias kita atur.
          Adanya ungkapan seorang tokoh di depan para generasi muda “Hepeng Mangatur Negara on”, membuat pemikiran dan sikap generasi muda tapanuli mengesampingkan proses. Dia tidak mau berfikir suatu proses panjang yang hasil akhirnya adalah uang. Tetapi yang dipikirkan bagaimana sesuatu usaha itu langsung menjadi uang, tidak perduli apakah itu recehan.
          Paradigma generasi muda, lebih memilih seratus perak hari ini dari pada sepuluh ribu, dengan proses satu bulan. Akibatnya jadilah menjadi kondektur atau sopir angkot, calo, bahkan copet. Bagi kalangan pemborong atau rekanan, jadilah sebagai perusahaan pendamping saja yang segera menerima limaratus ribu sampai satu juta, dari pada duapuluh juta, dengan berproses mulai dari penghitungan bahan, biaya, upah, jangka waktu dan keuntungan dalam mengerjakan pekerjaan proyek.
          Bagi pekerja di perusahaan, jadilah menjadi security, karena setiap mobil keluar mengeluarkan seribu dari pada mengatur lalulintas uang dan barang di dalam perusahaan tersebut.
          Paradigma tersebut juga dipicu oleh sikap yang lebih menghargai yang punya uang walau tidak sekolah, dari pada sarjana tapi tidak segera punya uang.
          Kalau keadaan seperti ini berlanjut terus maka pada sepuluh tahun ke depan, sumber daya manusia dari tapanuli tidak akan dapat diharapkan sebagai sumber daya manusia berkualitas, seperti sumber daya manusia sebelum tahun 80-an.

          September 25 2008
          CommentsLike
          • b rambe

            Mauliate ma diangka dongan na olo mangalehon rohana parate-atehon angka paradatontai. Sintongdo angka komentar ni dongan, alai lam masibaen dimana do nuaeng paradaton i, alani sude mambaeh buku nagabe boi songon tuntunannangkining. molo jompa ditingkina adong na berpedoman tu buku ni si A nasada nari berpatokan tu buku ni si X, jala ganup nasida manghatindangkon hasintonganna. tung nasusa do nihilala molo dung jumpang sisongon on tingki mangulahon adat iba. Adong sada perasaan ingkon nagabe pataluhon diri, na menyangkut tu harga diri ni parhata. Sabotulna molo tarimang-rimangi manang adong rohani angka parhata adat i lao manangkasi sude angka adat marluat-luat naung diulahon be lumobi di tano parserahan on ikkon nagabe fleksibel do nian angka raja parhata, jala unang tubu hata “ido adat di huta nami” molo nagabe asa adong acuan, jadi ahata ni raja adat nakining mengacu tu dia? Molo di jaman saonarion asa unang be nian angka raja hata “marsiajar, mahir dungi terjun tu paradaton” alai ikkon ma nian adong sada pangantusion/pemahaman bahkan pengamatan dan penelitian. astuanna “boasa didok marhusip hape gogo do soara? diluat naasing ndang adong masa marhusip langsung do marhatasinamot.
            Molo dipamasa marhusip acuanna tu dia? molo ndang dipamas marhusip tu dia musema acuan ni on jala sudei masa doi diulahon di sihabatahon. Tung godang dope na taulahon diparadaton, manang diulahon raja adat sasintongna ndang ta antusi dasar filosofina. Maksud ni panurat on, godang do muncul nuaeng on angka panurat bukku adat ndang didasari pemahaman tentang filosofi nadibagasanna, mungkin ala hea ibana manang nunga gabe raja adat ibana dimargana pintor mambaen bukku. dang na anggap meremeh panulis on tu sude na olo mambukuhon adat batak alai unang majolo pintor gabe acuan. alai gabe bahan memperluas wawasan ni panjaha manang raja adat manian asa unang sego sogot artanta naummargai. horas !!!

            September 25 2008
            CommentsLike

            • Horas lae A. Stefani
              Adong do nian lae rencana songon i alai alani tikki ma ndang marna sae dope tulisan on, sipata iba pe hurang ringgas do. Boha ma lae mangantusi ma hamu alana iba tung mansai poso dope. jadi godang dope tikki niba i nipake laho tu angka na asing. Jala muse umbahen na mangalului parngolu-ngoluon on iba di pangarantoan on. Alai na pasti torushononku do laho mambahen tulisan on.

              Mauliate ma di kunjungan muna tu situs nami on ate. Dohot di komentar muna na mansai membangun tu situs on.

              Horas

              November 01 2007
              CommentsLike
              • Ama ni Steffani

                Horas lae.
                Denggan situtu do na binahen muna on, alana otik hian dope referensi taringot tu paradaton ni halak hita di internet. Buku na pe lam maol do dilului saonnari di toko. Molo tung adong pe di pasar buku bekas na ma. Pangidoan nian, molo boi, baen hamu ma jolo artikel na hombar tu ulaon na spesifik. Lapatanna boha do patupaon molo adong ulaon mangalap boru, ulaon manjalo sulang-sulang pahompu. ulaon sari matua, ulaon saur matua, dohot na asing. Alana godang dope na so umbotosa, nang pe angka natua-tua, terutama na tinggal di kota besar. Mauliate ma di hamu lae. Sahat-sahat ni solu ma sahat tu bontean, sai godang ma di hamu pasu-pasu, sai sahat ma tu parhorasan jala panggabean.

                November 01 2007
                CommentsLike